
"Nggak bisa di tunda besok ya, Mas? Ini urgent soalnya," tolak Indi halus.
Zaki mendesah lirih. "Ah, hanya lima menit. Saya pikir itu tak akan mengganggu kegiatan kamu."
Melihat jam di tangannya akhirnya Indi mengalah dan kembali ke tempat duduknya.
"Ada apa, Mas? Kok kayaknya penting banget?" tanya Indi lagi.
Zaki mengelap keringat dingin yang tiba-tiba muncul di keningnya, jari jemarinya saling meremas karna gugup.
"Ah, sa- saya ... saya ...."
"Apa, Mas? jangan gugup gitu dong." Indi menyentuh tangan Zaki dan meremasnya perlahan, tapi hal itu justru membuat Zaki semakin gugup.
"Sa- saya ... saya ... suka sama kamu Indi!" seru Zaki sambil memejamkan mata karna malu.
Indi menutup mulutnya menahan tawa melihat ekspresi Zaki saat menyatakan suka padanya.
"Iya tau kok," celetuk Indi membuat mata Zaki langsung terbuka lebar-lebar.
"A- apa? Maksudnya? Kamu udah tau kalau saya suka sama kamu?" cecar Zaki tak percaya.
Indi mengangguk mantab. "Yah, bisa di bilang begitu."
Zaki menggenggam tangan Indi dengan kedua tangannya, kemudian menatapnya lekat.
"Kalau begitu ... apa kamu mau jadi istri saya?
Indi membelalakan matanya terkejut karna kali ini benar-benar tak menyangka akan langsung di lamar oleh Zaki.
"Ap- apa, Mas? Istri? Bukannya harusnya jadi pacar dulu ya?"
Zaki terkekeh dan kini dia tampak lebih rileks. "Nggak, saya nggak suka pacaran. Cuma nambah dosa aja, lebih baik kalau sudah yakin langsung lamar aja dan pacarannya nanti setelah nikah. Gimana? Kamu mau jadi istri saya?"
Indi tampak berpikir sejenak, lalu dengan malu-malu dia mengangguk mengiyakan.
"Alhamdulillah, secepatnya saya akan temui orang tua kamu untuk melamar," ucap Zaki yakin.
Dan pertemuan mereka senja itu, menjadi akan terikatnya sebuah akan komitmen sampai mati. Yang entah akan benar terealisasi atau hanya akan hanyut terbawa mimpi.
****
Indi berjalan tergesa di lobi sebuah hotel yang lumayan jauh dari rumah Dara. Setelah bertemu dengan Zaki tadi Indi memutuskan pulang sendiri tanpa di antar karna hendak menemui seseorang lebih dulu di hotel itu.
"Kamar berapa, Mas?" tanya Indi melalui sambungan telepon.
Seseorang yang di telpon Indi menyahut dengan menyebut sebuah angka dan lantai berapa dia berada. Indi gegas naik dan dengan semangat mulai mencari-cari nomor kamar tersebut.
"Aku di depan," bisiknya mesra dengan ponsel masih berada di tangannya.
Ceklek
__ADS_1
Pintu kamar terbuka dan dengan sekali tarikan Indi masuk ke kamar tersebut.
"Kamu habis jalan sama Zaki?" cecar Fatan sedikit kesal.
Ya, orang itu adalah Fatan. Yang dengan tega sudah membohongi istri dan anak-anaknya di rumah dengan mengatakan kerja keluar kota namun nyatanya malah menginap di hotel pinggir kota.
"Iya? Mas cemburu ya?" ucap Indi dengan gaya centilnya yang tak pernah dia tunjukkan pada siapapun, kecuali Fatan tentunya.
Fatan menggeleng. "Ah, nggak."
"Nggak usah bohong, Mas. Keliatan jelas loh kalo kamu cemburu," ledek Indi menoel hidung Fatan.
Fatan hanya melengos dan menjatuhkan diri ke kasur. Indi menyusul dan ikut duduk di sebelah Fatan.
"Mas kok bisa di sini? Mbak Dara nggak nyariin?" tanya Indi bingung, karna setahunya tadi saat pergi Fatan masih belum pulang kerja.
Fatan menarik Indi masuk dalam pelukannya. "Rahasia dong."
Indi terkekeh sambil menepuk pelan perut Fatan yang penuh roti sobek.
"Haha, berarti kita bisa sepuasnya dong di sini?"
"Yah, seperti yang kamu lihat. Mas punya waktu seminggu untuk ada di sini, karna Mas bilang sama Dara kalau Mas kerja keluar kota," sahut Fatan yang entah di sengaja atau tidak terdengar begitu senang.
Indi bangkit dari atas dada Fatan dan mulai membuka satu persatu pakaiannya. Lagi dan lagi entah ke khilafan atau ke sengajaan itu terjadi lagi antar ipar itu.
Hati-hati saat membawa keluarga tinggal bersama di rumahmu, terkadang hancurnya rumah tangga itu bukan karna orang luar ... tapi karna keluarga sendiri. Ingat, untuk tidak membawa masuk ular ke dalam rumahmu jika tidak ingin mati karna bisanya.
****
"Mbak," sapa Indi sembari duduk di sebelah Dara yang tengah sibuk dengan ponselnya, memantau butiknya dari jauh tanpa ada seorangpun yang tau.
"Kenapa, Dek? Mukamu seneng gitu? Ada berita bagus apa?" cecar Dara langsung mengalihkan perhatiannya pada Indi.
Indi tersipu malu dengan wajah memerah. "Itu ... anu ... hummm Mas Zaki ... Mas Zaki ...."
"Duuuhh, buruan ngomongnya, Dek. Ada apa? Zaki kenapa?" seru Dara tak sabar.
Indi balas menepuk paha dara dengan bibir mengerucut. "Sebentar ihhhh, grogi nih."
Dara meletakkan tangannya di pangkuan dan mencondongkan tubuhnya lebih dekat ke Indi.
"Ya udah cepetan, kamu kebiasaan deh bikin Mbak penasaran akut tau nggak."
Indi terkekeh kecil sembari mengambil bantal sofa dan meremasnya untuk melepaskan grogi.
"Itu, Mbak. Mas Zaki ... dia ... ngelamar aku."
"Apa!" seru Dara terkaget-kaget.
Indi menepuk lagi paha sang kakak dengan kesal. "Ih apa sih? Kaget tauk!"
__ADS_1
"Kamu serius?" Dara melotot sembari memegangi ke dua bahu Indi.
"Iya, udah dari beberapa hari lalu sih. Cuma ... Indi baru sempet ngomong sekarang, kan kemarin-kemarin jarang di rumah soalnya sibuk kuliah dan kerja," ujar Indi yang sebagiannya adalah bohong, tentu saja.
Selama beberapa hari terakhir tentu saja Indi lebih intens mendatangi Fatan dan lebih memilih bolos dari kampus dan tidak masuk kerja dengan alasan sakit.
"Kok baru ngomong sekarang sih, Dek?" sesal Dara tanpa rasa curiga sedikitpun.
"Iya, Mbak. Aku baru keingetan soalnya barusan Mas Zaki telpon katanya minggu ini mau ke rumah ibu buat ngelamar aku."
"Apa? Minggu ini?" Dara kembali di buat terkaget-kaget.
Indi mengangguk pelan.
"Berarti tinggal dua hari lagi dong?"
Lagi Indi mengangguk.
"Terus kamu kok nggak ada persiapan sama sekali sih? Udah nyiapin make up dan bajunya belom? Masa lamaran kamu mau pake sweater sama kulot sih?" cecar Dara antusias.
Indi tampak cengengesan. "Hehe, Indi nggak ngerti, Mbak."
Dara menepuk jidatnya, dan langsung menarik tangan Indi untuk pergi keluar.
"Lis! Elis!" seru Dara memanggil Elis yang kini menjadi pengasuh tetap di kembar karna si kembar sendiri yang memintanya.
"Iya, Mbak?" sahut Elis yang tampak sedang mengajari si kembar menggambar di atas karpet ruang keluarga.
Dara berhenti dan menatap Elis. "Saya mau keluar sebentar sama Indi, kamu tolong awasin anak-anak ya."
Elis mengacungkan jempolnya begitu pula si kembar. "Siap, komandan!"
Dara tertawa melihat tingkah mereka dan kembali melanjutkan langkahnya menuju keluar rumah dan langsung naik ke motornya yang biasa di pakai Indi untuk kuliah dan kerja.
"Kita mau kemana sih, Mbak?" tanya Indi tak mengerti juga.
Dara yang membonceng Indi menoleh sekilas. "Udah diem aja dan nurut situ di boncengan. Nggak usah banyak nanya!"
Indi manyun, namun akhirnya dia menurut juga ketika Dara mulai membawanya ke jalan raya dan berakhir di sebuah butik yang sama dengan tempatnya dulu di belikan pakaian oleh Zaki.
"Rainbow boutique"
Mereka masuk bersama dan sekali lagi Indi kembali di buat takjub dengan tatanan dalam butik yang sudah berubah mengikuti tren yang sebentar lagi akan memasuki bulan Ramadhan. Nuansa Ramadhan sangat kental terasa di dalam butik membuat Indi sangat betah di dalamnya.
Dara berjalan pelan sambil mengagumi desain butik yang dia buat sendiri untuk butiknya itu, khusus untuk menyambut bulan suci Ramadhan.
Seorang karyawati tampak berjalan tergesa menghampiri Dara.
"Assalamu'alaikum, Mbak Dara. Mbak datang mau visit?" ucapnya spontan tanpa memperhatikan kalau ada Indi di sana.
Mata Indi membulat mendengar ucapan karyawati itu, begitu pula Dara yang tampak cemas.
__ADS_1
"Visit? Memangnya Mbak Dara yang punya tempat ini?"