
Pak Jatmika dan Bu Ambar berlari tergesa-gesa menuju ke arah yang di tunjuk Fatur, sedangkan Dara dan Zaki berjalan pelan di belakangnya. Kebetulan sudah waktunya untuk berganti kostum pengantin lagi, jadi tak akan ada kehebohan seperti sebelumnya yang harus di lihat oleh orang lain lagi.
"Mba, buka dulu bajunya ini. Saya mau ke belakang sebentar." Dara meminta asisten sang MUA yang sudah siap sedia di kamar pengantin untuk membantunya melepas kostum khas Jawa itu.
"Hati hati, sayang. Pelan pelan saja," ujar Zaki memperingatkan karna tak ingin Dara sampai terluka karna terburu buru.
Apalagi hiasan hiasan pakaian itu sangat banyak dan beberapa tampak tajam karna terbuat dari Kuningan.
Dara mengangguk dan berusaha lebih hati hati saat asisten MUA membuka satu persatu hiasan di kepalanya. Sedang Zaki sendiri membuka pakaiannya sendiri dan menyisakan sebuah kaos oblong putih di tubuhnya dengan sebuah sarung yang dia temukan di dalam kamar itu karna Zaki tidak membawa celana untuk salin.
"Mas ,udah?" tanya Dara yang tampak sudah tak sabar untuk menemui Elis.
Zaki mengangguk dan gegas mengikuti langkah Dara menuju garasi.
"Biar! Biar saja perempuan itu mati! Dia sudah berani menghalangi saya untuk menemui Dara anak tidak tahu diri itu. Hah! Dia pantas!" suara Bu Maryam mulai terdengar nyaring seiring langkah Dara dan Zaki yang semakin mendekat ke arah garasi. Di sana ada sebuah ruangan kecil seperti kamar yang sepertinya di gunakan para bodyguard tadi untuk mengurung Bu Maryam. Namun sayangnya mereka tidak berjaga semuanya, hanya satu orang yang saat kejadian rupanya tengah ke kamar kecil.
"Dasar wanita gi la?" umpat Pak Jatmika sambil menuding Bu Maryam yang kini berada di cengkraman Halim dan seorang bodyguard yang tadi ke kamar kecil.
"Mana Elis, Pak?" cecar Dara saat tak mendapati Elis di sana. Matanya liat menatap ke sana kemari mencari keberadaan Elis, namun nihil gadis manis itu tak ada di sana.
"Sudah di bawa ke rumah sakit barusan, wanita gila ini memukulnya dengan tang sampai kepalanya bocor." Bu Ambar mewakili pak Jatmika untuk menjawab.
Dara terkesiap dan menutup mulutnya dengan tangan, air matanya perlahan menganak sungai mengkhawatirkan kondisi gadis manis yang selalu setia bekerja padanya itu.
__ADS_1
"Gadis itu pantas mendapatkannya, salah sendiri dia menghalangi jalan untuk ku lewat." Bu Maryam mendengus tanpa rasa bersalah sama sekali, bahkan kedua tangannya terlipat di dada seolah tak melakukan kesalahan-kesalahan sama sekali.
"Dan kalian? Apa yang kalian lakukan di sini hah? Kenapa kalian biarkan ibu melakukan itu pada Elis hah? Apa kalian buta?" amuk Dara pada Indi dan Fatan yang tertunduk diam di sudut ruangan, tak berani mengangkat wajahnya sama sekali.
"Heh! Kamu tidak berhak menuding anakku!" sergah Bu Maryam berang.
Dara menepis kasar tangan Bu Maryam yang mencekal tangannya, dan dengan tangan yang sama dia menuding Bu Maryam tanpa mengingat lagi siapa wanita itu.
"Jika dia anakmu! Maka gadis yang sudah kau lukai adalah adikku! Dia adik yang baik dan seribu kali lebih baik untuk di anggap saudara ketimbang benalu seperti kalian!"
"Oh, jadi begitu mau kamu sekarang? Baik, kamu sendiri yang bilang ya. Jangan menyesal karena sudah tidak menganggap kami saudara, jangan lupa siapa yang sudah ...."
"Apa? Apalagi yang mau kau ungkit, Bu? Apa masih pantas wanita seperti mu ku panggil ibu? Kau lebih pantas berada di penjara setelah apa yang kau lakukan pada adikku. Lihat saja, tidak akan ku biarkan kau lolos, Bu." Dara mengancam Bu Maryam dengan mata yang memerah menahan amarah.
Sungguh, Dara tidak ikhlas sama sekali Bu Maryam melukai Elis yang selama ini selalu membantunya dan mendukungnya, tidak seperti dia dan anaknya yang malah menusuk Dara dari belakang.
"Jadi kau mau melaporkan aku ke polisi? Tcih! Begitulah orang kaya, apa apa akan langsung di bawa ke jalur hukum mentang mentang punya uang. Tak peduli walau uang itu dia dapatkan dari menjual hak orang lain," ejek Bu Maryam seolah tak takut sama sekali walau kini hatinya terasa ketar ketir.
Tangan Dara mengepal erat, giginya bergemeletuk menahan amarah yang rasanya siap meletus di ubun ubunnya saat ini.
"Ka- kau ...." Dara mengangkat telunjuknya yang tampak bergetar menunjuk Bu Maryam.
"Apa? Benar kan apa yang aku bilang?" Bu Maryam menyeringai.
__ADS_1
"Sungguh kau sendiri yang sudah membuat aku lupa kalau kau ibuku, Bu. Lihatlah, setelah ini bersiaplah untuk mendekam di penjara karena melukai Elis dan mengakui harta yang bukan milikmu sebagai milikmu, tanpa bukti!"
Tak ada yang menahan ataupun menyela Dara, mereka semua diam dan hanya mendengarkan. Mereka semua sama geramnya pada Bu Maryam yang seolah tak merasa bersalah sudah membuat kekacauan di acara penting orang lain.
Tapi di tengah ketegangan itu tiba-tiba Indi menjatuhkan dirinya tepat di depan kaki Dara dan memohon.
"Mbak, tolong maafkan ibu, jangan penjarakan ibu, Mbak. Ingat dia ibu kita," isak Indi mencoba meluluhkan hati Dara.
Tapi Dara bergeming tanpa sedikit pun melirik pada Indi, walau kini Indi memeluk kakinya erat sambil menangis.
"Indi! Apa apaan kamu! Tidak pantas kamu memohon pada wanita tak tahu diri ini seperti itu!" amuk Bu Maryam sambil berusaha menjauhkan tubuh Indi dari kaki Dara.
Tapi Indi malah menepis tangan Bu Maryam dengan sedikit menyentak tubuh Bu Maryam sampai terhuyung ke belakang.
"Sudah, Bu! Ibu juga sebenarnya tahu kan kalau memang sebenarnya semua warisan peninggalan bapak itu memang hal milik Mbak Dara? Kenapa ibu malah kekeh untuk mengakuinya? Ibu mau di penjara?"
"Indi! Ngomong apa kamu! Jangan mengada-ada kamu ya, itu harta kita! Bukan milik wanita ini!" Bu Maryam berteriak seperti kesetanan sambil menarik terus tubuh indi yang sedang hamil itu. Indi meringis sambil memegangi perutnya yang terasa nyeri karna tarikan tangan ibunya yang terlalu kencang, akhirnya dia melangkah dan melepaskan kaki Dara kemudian mundur sampai ke dekat ibunya .
"Berhenti bicara begitu, Bu. Harta Bapak itu bukan milik kita! Itu milik Mbak Dara karna Pak Jatmika ini sudah membeli semua tanah dan kebun itu sejak menitipkan Mbak Dara pada bapak, Bu. Apa ibu lupa waktu itu ibu sakit keras dan butuh biaya besar, itu juga sebabnya bapak sampai harus menjual semua kebun miliknya ke Pak Jatmika,Bu. Untuk pengobatan ibu dulu! Bahkan Pak Jatmika dengan baik hati melebihkan uang pembelian itu untuk biaya Mbak Dara dan Indi supaya bisa sekolah tinggi. Pak Jatmika juga mengirim uang setiap bulannya untuk Mbak Dara, tapi malah ibu ambil semuanya demi bisa ikut arisan sosialita itu kan? Jujur saja, Bu. Indi sudah capek di setir terus begini sama ibu! Indi capek, Bu! Punya ibu seperti ibu!" Indi berteriak sambil menangis tersedu sedu.
Fatan mendekatinya dan memeluk tubuh ringkih istrinya di depan Dara, tapi matanya sama sekali tak ingin bersitatap dengan Dara. Rasa malu masih menguasai hati Fatan hingga kini jika teringat perlakuannya dulu pada mantan istrinya itu.
"Indi! Bicara apa kamu hah?" jerit Bu Maryam dengan mata menatap ketakutan pada Dara dan keluarganya.
__ADS_1
Semua mata memandang Bu Maryam dengan tajam, tak ada pemakluman. Semua tingkahnya ini sudah sangat cukup untuk menyeretnya ke meja hijau.
"Apa semua yang di katakan Indi itu benar, Bu?" desis Dara menggeram.