TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 144. PERTOLONGAN.


__ADS_3

"Mas, rasanya pengen makan yang pedes pedes deh," rengek Dara pagi itu sambil meletakkan dagu lancipnya di atas kedua tangannya.


 Si kembar sudah berangkat sekolah dengan Elis, jadi suasana rumah terasa sepi karna hanya ada Zaki dan Dara saja.


"Kamu yakin mau makan yang pedes, sayang? Nanti kalo sakit perut lagi kaya pas makan rendang di nikahannya Halim sama Laila kemarin gimana?" cetus Zaki sembari menghabiskan nasi goreng yang jadi menu sarapannya pagi itu.


"Ya gimana, Mas. Namanya yang pengen anaknya kok bukan aku," rajuk Dara sambil meletakkan kepalanya ke atas meja dengan wajah merengut.


Zaki terkekeh.


"Ya udah, mau bakso dimana? Tapi pagi pagi begini apa udah ada yang buka sih?" tanya Zaki pula.


 Dara mengangkat kepalanya dengan bersemangat.


"Ya kita cari, yuk sambil jalan jalan.".


 Zaki tersenyum kecil. "Bilang aja mau jalan jalan kenapa sih?"


"Nyari bakso, Mas." Dara merengut.


"Iya iya," sahut Zaki memilih mengalah, bisa habis riwayatnya jika sampai berani melawan kehendak ibu ratu di rumah itu nanti.


"Ya udah, aku ganti baju dulu ya. Tunggu di sini sebentar." Dara beranjak dari tempat duduknya hendak menuju kamar.


"Loh, emang Mas nggak di suruh ganti baju juga?" timpal Zaki.


 Dara menggeleng. "Nggak usah, takut ganteng."


 Zaki hanya geleng-geleng kepala saja mendengar alasan sang istri, namun di turutinya juga karna tak ingin sang istri jadi ngambek sepanjang hari lagi.


 Cukup lama Zaki menunggu hingga dia hampir saja menghabiskan sebakul nasi goreng yang memang sangat enak di hadapannya itu.


"Astaghfirullah, bisa auto gemuk ini perut kalo tiap hari di masakin kaya di resto Padang begini. Ternyata ini alasannya para pengusaha sukses itu perutnya buncit tapi istrinya cantik cantik itu. Pantes jarang denger isu kalau mereka selingkuh, wong enak begini hidupnya," kekeh Zaki seorang diri sambil memandangi perutnya yang mulai berisi itu.


 Tak lama setelah mencuci tangan juga mulut setelah sebelumnya membereskan meja makan dan mencuci sekalian piring kotornya, Zaki beranjak hendak menuju kamar sebab Dara tak kunjung keluar padahal sudah hampir setengah jam dia menunggu.

__ADS_1


"Sayang, sudah be ...."


"Mas," sela Dara dengan tatapan tegang.


"Ada apa? Kenapa muka kamu tegang begitu?" cecar Zaki panik sambil ikut duduk di sebelah istrinya yang tampak baru saja selesai menelpon itu.


"Indi ... Indi ...."


"Apa? Indi? Mau apa lagi mereka? Apa mereka menyusahkan kamu lagi, sayang? Bilang sama Mas, Mas nggak akan biarkan kalau sampai mereka bertindak nekat lagi." Zaki mulai menggeram kesal.


 Dara menggeleng cepat sambil memegang tangan suaminya.


"Nggak, Mas. Bukan itu."


"Lalu apa, sayang? Jangan bikin Mas cemas," ujar Zaki menatap lekat mata istrinya.


"Indi harus di operasi, Mas. Katanya ketubannya sudah pecah dan bayinya sungsang."


"Lalu? Apa hubungannya sama kita?" dengus Zaki yang tampak masih menyimpan dendam pada mantan istrinya yang tidak sampai satu hari itu.


 Zaki menarik nafas dalam lalu memegang ke dua pundak istrinya erat, di bawanya dagu sang istri ke atas hingga tatapan mereka pun saling bertemu.


"Kamu yakin mau bantu mereka? Mereka selama ini sudah jahat loh sama kamu."


 Mata Dara tampak berkabut, namun tak tampak sama sekali kilat kebencian di sana saat Zaki membahas kejahatan Indi dulu padanya.


 Dara menggeleng. "Insyaallah aku nggak menyimpan kemarahan apapun sama mereka, Mas. Karna walau bagaimanapun mereka masih keluargaku walau kenangan kami mungkin buruk."


 Zaki meneteskan air matanya begitu menyadari betapa mulia hati istrinya, Zaki mengangguk lalu memeluk Dara erat sekali.


"Sungguh mulia hati kamu, sayang. Mas bersyukur sekali bisa menikahi dan menjadi suami kamu, nggak ada anugrah yang lebih indah ketimbang ini, memiliki kamu dan anak anak juga calon bayi yang sebentar lagi akan bertemu kita di dunia. Mas bersyukur sekali punya istri sebaik kamu, sangat bersyukur."


"Sama sama, Mas. Dara juga bersyukur sekali bisa mendapat suami sebaik dan sepengertian Mas, semoga semua kebaikan Mas di balas sama Gusti Allah SWT ya."


 Zaki mengangguk, melerai pelukannya dari tubuh Dara yang mulai berisi dan mengecup keningnya lama.

__ADS_1


"Semoga Gusti Allah SWT merodhoi kamu, sayang. Karna Mas ridho sepenuhnya sama kamu.".


 Binar mata Dara memancar terang. "Jadi ... boleh Dara bantu Indi sekarang?"


 Zaki mengangguk menyetujui permintaan istrinya, yang terpenting tidak melanggar aturan agama.


 Dengan senang hati Dara kembali menelpon nomor telepon Indi yang saat ini di pegang Bu Maryam, lalu menyampaikan kalau dia bisa meminjamkan uang untuk biaya operasi Indi.


 Di sebrang sana terdengar Bu Maryam mengucapkan hamdalah dan terima kasih berulang kali sambil terisak, dan mengatakan kalau saat ini mereka sudah di perjalanan untuk menuju ke rumah sakit di kota tempat tinggal Dara.


"Bagaimana, sayang?" tanya Zaki setelah sambungan telepon dimatikan oleh Dara.


"Alhamdulillah, mereka sudah berangkat ke kota, Mas. Mungkin tengah hari nanti sampai, kita tunggu saja semoga saja mereka tidak mendapat kendala selama perjalanan supaya Indi bisa cepat di tangani. Kasihan, tadi Dara dengar dia nggak berhenti merintih." Dara menjawab dengan raut sesal tergambar jelas di wajah cantiknya, padahal dalam hal ini bukan dia yang bersalah.


"Kamu wanita berhati malaikat, sayang. Bahkan pada orang yang sudah menyakiti hati kamu dengan begitu parahnya pun kamu masih bisa mengkhawatirkan dia. Memang nggak salah Mas memilih kamu menjadi pendamping sehidup sesurga," gumam Zaki sembari menatap takjub bidadari berwujud manusia yang kini tersipu di sisinya itu.


"Ya udah, ayo sekarang kita berangkat, Mas. Sekalian nunggu Indi sampe ke kota, kita makan bakso dulu ya." Dara bangkit dari duduknya dan menarik Zaki keluar dari rumah menuju ke mobil.


****


"Gimana, Bu?" tanya Fatan setelah sang mertua tampak memutuskan sambungan teleponnya.


 Bu Maryam mendesah. "Alhamdulillah, Dara bersedia meminjamkan uang untuk biaya operasi Indi."


 Fatan yang tengah memangku kepala Indi terlihat mendesah lega, setidaknya sekarang satu masalah teratasi terlepas bagaimana nantinya mereka akan membayarkan hutang itu pada Dara setelah operasi.


 Indi masih merintih, wajahnya tampak semakin pucat sambil terus memegangi perutnya yang tak hentinya menegang.


 Bu Maryam yang duduk di kursi depan membalik tubuhnya dan mengelus lembut perut sang anak dengan tatapan tak tega.


"Sabar ya, nduk. Sebentar lagi kita sampai ke rumah sakit, kamu bertahan ya demi anak di kandungan kamu," ujar Bu Maryam menyemangati Indi.


 Indi membuka mata dan mengangguk-angguk lemah.


"Iya, Bu. Nanti tolong sampaikan permintaan maaf dan terima kasih indi sama Mbak Dara ya, Bu. Indi menyesal sekali sudah pernah berbuat curang sama Mbak sebaik Mbak Dara." Indi berkata lemah sambil sesekali meringis menahan sakit.

__ADS_1


"Yah, andaikan dulu kita tidak egois mungkin sekarang ceritanya akan berbeda." Fatan menimpali dengan raut wajah seolah menunjukkan penyesalan.


__ADS_2