
Pagi harinya Bu Ambar datang dengan wajah marah, untungnya anak anak sudah berangkat ke sekolah bersama Elis hingga tak perlu menyaksikan bagaimana kemarahan Omanya, walau orang yang menjadi sasaran kemarahnnya pun tidak ada di sana.
"Memang dasar keluarga kurang aj ar! Bisa bisanya mereka masih belum kapok juga, malah sekarang mau mencelakai cucuku. Benar benar, minta di kirim ke neraka mereka itu." Bu Ambar tampak marah marah di meja makan dengan Dara yang tampak sibuk mengaduk dua gelas teh hangat di atas meja.
"Dara juga nggak habis pikir, Bun. Kok bisa Hans berpikir ingin menculik anak anak lagi, demi membebaskan ibunya," sahut Dara turut merasa geram.
Dara menyuguhkan segelas teh hangat itu ke hadapan Bu Ambar, sedangkan satunya lagi untuknya sendiri.
Bu Ambar tampak menahan emosi. "Hah, bener bener minta di jatuhi bom mereka itu. Entah kapan kapoknya bikin masalah sama keluarga."
"Sudah, Bu minum dulu tehnya biar agak tenang." Dara menyarankan.
Bu Ambar menuruti saran dari menantunya itu, menyeruput teh dan membiarkan aliran hangat mengaliri tenggorokan hingga ke lambungnya.
"Hah, bagaimana menurut kamu kalau bunda minta Zaki buat laporan tambahan untuk mereka? Supaya hukuman mereka semakin berat, biar kapok sekalian?" tanya Bu Ambar meminta pendapat Dara.
Tampak berpikir sejenak sembari mencelupkan roti biskuit ke dalam gelas tehnya dan memakannya perlahan.
"Apa bunda yakin? Kenapa ... Dara malah kasihan ya, Bun? Biar bagaimanapun kan Bu Leha sama Hans itu juga keluarga Dara sekarang?"
"Ya ampun Dara, Dara kamu itu jangan terlalu baik kenapa sih, Nak? Sudah kamu bantu adik kamu yang nggak tahu diri itu, bayarin kontrakan buat mereka yang katanya kabur dari rumah suaminya , biayain operasi sesarnya, sekarang kamu mau ngeringanin hukuman orang yang bahkan sudah dua kali hampir bikin anak kamu celaka? Kamu itu manusia apa malaikat sih, Dara?" dengus Bu Ambar tampak kesal dengan sifat menantunya itu, tapi bukan berarti Bu Ambar membenci Adara justru beliau bersikap demikian karna mengkhawatirkan keselamatan menantunya dan juga cucu cucunya itu.
Dara yang naif dan polos membutuhkan sosok yang tegas untuk bisa melindunginya dan anak anak.
__ADS_1
"Maaf, Bun." Hanya itu yang mampu Dara ucapkan, dia tahu dia terlalu simpati pada orang lain hingga semua orang bisa dengan muda menindasnya.
Tapi dara tidak bisa menghilangkan sifat peduli dan simpati dari dalam dirinya, dia tahu itu tidak baik di beberapa situasi seperti saat ini. Tapi sifat yang sudah mendarah daging akan lebih sulit di ubah jika tanpa ada yang mengarahkan.
"Sudahlah, pokoknya kamu jaga diri kamu dan anak anak sebaik baiknya. Urusan yang yang lain biar bunda dan Zaki yang urus, bagaimana?" tanya Bu Ambar melunakkan nada bicaranya.
Dara mengangguk pasrah. "Baiklah, Bun. Dara percayakan semuanya sama bunda dan Mas Zaki, Dara yakin apapun keputusan yang kalian ambil pastilah yang terbaik."
Bu Ambar mengangguk lalu mengulas senyum kecil pada Dara.
"Bagus, bunda melakukan semua ini juga demi kamu, Nak. Kamu tahukan betapa bunda sayang dan peduli sama kalian? Tolong jangan pernah sakit hati karna kata kata bunda yang sering marah marah ini ya. Semua ini bunda lakukan semata mata karna bunda sayang sama kalian, kamu dan anak anak."
"Iya, bunda. Dara paham, Dara mengerti dan Dara mengucapkan terima kasih yang sebanyak-banyaknya sama bundaa dan Mas Zaki yang sudah menerima Dara dan anak anak dengan tulus."
Bu Ambar mengangguk. "Sama sama, sayang. Oh ya satu lagi yang mau bunda sampaikan sama kamu."
Bu Ambar menarik nafas sejenak, lalu berkata. "Ini mungkin agak riskan, tapi ... bunda ingin kamu mempertegas sikap kamu. Terlebih, saat ini ada Indi yang tinggal di dekat sini. Bunda tahu dia sudah berubah, mungkin. Tapi tetap saja kamu harus waspada , Nak. Dia pernah menjalin hubungan dengan Zaki, dan dia juga pernah merebut Fatan dari kamu. Bukan bermaksud suudzon, tapi ... alangkah baiknya kalau kamu bisa tegas dan tanyakan sampai kapan dia akan berada di sini. Paling tidak tegaskan bagaimana hubungan dia dan suaminya sekarang. Kamu ... pasti paham kan, Nak maksud bunda?"
Dara mendesah lirih dan mengangguk. "Iya, bunda Dara paham. Tapi ... rasanya Dara masih sungkan untuk menanyakan hal hal pribadi seperti itu Bunda."
Bu Ambar mencoba mengerti. "Baiklah, kalau kamu tidak enak. Nanti biar bunda yang temani kamu kesana, kita butuh kepastian Dara. Walau Zaki mungkin tipe lelaki setia tapi belum tentu dengan Indi, jangan terlalu mudah percaya dengan orang lain walau mereka keluarga sendiri."
Dan lagi lagi, ketegasan yang di tampilkan Bu Ambar membuat Dara menurut tanpa ada penolakan.
__ADS_1
****
Siangnya, seusai makan siang bersama dengan Zaki yang selalu menyempatkan pulang untuk menikmati masakan istrinya. Bu Ambar mengajak Dara untuk pergi ke rumah kontrakan yang di tempati Indi dan Bu Maryam.
"Jalan kaki begini bagus loh buat memperlancar persalinan , Dar. Tapi nanti sebaiknya di rutinkan waktu sudah masuk sembilan bulan saja. Jangan terlalu di paksa kalau kamu tidak kuat," ujar Bu Ambar sembari memegangi tangan Dara.
Dara tersenyum simpul. "Iya, Bun. Rasanya sudah nggak sabar mau ketemu si utun, pasti nanti kalau laki laki mirip sama Mas Zaki ya Bun?"
Bu Ambar mengangguk. "Iya, dan kalau perempuan cantik kayak kamu dan Farah."
Senyuman di wajah Dara tampak semakin lebar, perlahan dia melantunkan syukur di hatinya karna telah di berikan keluarga suami yang begitu baik dan perhatian padanya dan anak anaknya. Terlebih karna Zaki maupun Bu Ambar tak pernah membedakan anak anaknya dengan bayi yang kini tengah dia kandung, yang merupakan darah daging mereka. Bagi Zaki dan Bu Ambar, si kembar juga adalah bagian dari keluarga mereka dan bukan anak sambung semata.
Tak berapa lama berjalan dan melewati dua blok kompleks perumahan, akhirnya Dara dan Bu Ambar pun sampai ke depan rumah Bu Leha yang dulu. Tapi yang membuat mereka terheran-heran adalah ada sebuah mobil yang saat ini terparkir rapi di garasi rumah tersebut.
"Loh, ada mobil? Punya siapa ya, Dara? Memangnya Indi sama ibunya punya mobil?" bisik Bu Ambar.
Dara menggeleng bingung. " Entahlah Bun, tapi sepertinya nggak ada. Pas datang kemarin pun Indi sama ibu pakai travel kok."
"Jadi ini mobil siapa? Ah, jadi penasaran ya sudah kita langsung masuk aja yuk. Toh rumah ini kan sewanya kamu yang bayar, jadi ya kamu punya hak dong buat masuk ke sini," ujar Bu Ambar lalu menarik tangan Dara untuk melangkah ke teras yang pintunya terbuka itu.
Terdengar suara tangisan bayi dari dalam rumah, sudah bisa di tebak kalau itu adalah bayi indi.
Namun baru saja menginjakkan kaki di teras rumah, Dara di kejutkan dengan suara seorang perempuan yang terdengar asing di telinganya dari dalam rumah tersebut.
__ADS_1
"Aahhh, berisik banget sih? Bisa ngurus anak nggak sih? Berisik tahu nggak! Jangan tahunya bikin aja nggak bisa ngurusnya! Nangis mulu kayak kaset rusak!"
Dara dan Bu Ambar saling pandang. "Loh, suara siapa itu?"