TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 20. MENUTUPI


__ADS_3

 Suara berisik dari luar kamar rupanya membuat Dara terganggu dalam tidurnya, dia meraba-raba ke samping dan tak mendapati tubuh suaminya di sana.


"Kemana Mas Fatan?" gumamnya sambil beranjak duduk sembari mengucek mata yang masih terasa berat.


"Hhoooaammm." Dara menguap seraya merenggangkan kedua tangannya.


 Dara melirik jam dinding di sampingnya dan mengernyit.


"Udah lewat tengah malam, kemana Mas Fatan? Oohhh, apa jangan-jangan bandel makan mie malem lagi? Dasar kaum pejantan! Padahal sering banget ngeluh kekenyangan kalo di ajak sarapan pagi gara-gara kekenyangan makan tengah malem. Awas aja kalo besok ngeluh BB nya naik lagi, tak kutuk jadi kodok kamu Mas," omel Dara sambil beranjak turun dari kasur dan menuju keluar kamar.


 Suasana di luar kamar tampak gelap seperti biasa, Dara menghidupkan lampu dan berjalan pelan menuju ruang keluarga.


Brugh


 Terdengar suara orang terjatuh dari arah dapur, di ikuti dengan gumaman-gumaman lirih yang tak begitu terdengar.


"Mas Fatan! Kamu ngapain?" seru Dara seraya berjalan menuju sumber suara.


Jarak dari ruang keluarga menuju dapur tidak begitu jauh, namun karena tersekat dengan beberapa ruangan dan belokan Dara perlu waktu beberapa menit untuk sampai ke meja makan di dekat dapur.


" Kalian ngapain di sini berduaan?" tanya Dara heran saat melihat suami dan adiknya tampak sedang duduk berhadapan di meja makan, dengan masing-masing menghadap semangkuk mie instan.


 Fatan tersenyum kikuk, begitu pula dengan Indi yang bingung hendak menjawab apa.


"Eh, Sayang. Kamu kebangun ya? Aku tadi laper, jadi masak mie. Eh Indi kebangun juga gara-gara nyium bau mie, jadi deh dia ikutan masak," sahut Fatan menutupi fakta yang sebenarnya.


 Indi menatap Fatan tak percaya, namun lekas kembali menunduk dan menyendok mie ke mulutnya saat Dara berjalan mendekati mereka.


 Dara memasang wajah datar nan dinginnya, dengan pelan berjalan mendekati suaminya. Aura dingin yang dipancarkannya membuat Fatan langsung merinding.


"Kalian fikir, bisa segampang itu membodohi aku?" desis Dara di telinga Fatan.


 Indi menatap Dara dengan tatapan ngeri, begitu pula Fatan yang tampak menelan ludah dengan susah payah. Keduanya tampak sama-sama panik, dengan wajah pias tak berani menjawab Dara sepatah kata pun.


"S ... sayang, m ... maaf ini nggak kayak yang kamu pikirkan, Mas berani sumpah," gugup Fatan mencoba membela diri.


 Di dalam fikiran mereka, pastilah Dara sudah mengetahui skandal yang tadi mereka berdua lakukan. Dan merasa tak ada celah lagi untuk mengelak.


 Tangan Dara bergerak cepat, menarik telinga Fatan sampai Fatan mengaduh kesakitan.


"Kamu ya, Mas! Bisa-bisanya kamu ngajarin Indi buat makan mie terus malem-malem? Kamu nggak tau kalo Indi itu punya asam lambung! Nggak boleh makan mie sering-sering! Dasar nakal!" marah Dara terus menarik telinga Fatan.

__ADS_1


 Fatan dan Indi yang tadinya sudah berpikir akan ketahuan, kini menghembuskan nafas lega. Walau Fatan kini tampak meringis karena kesakitan.


"Sayang, Sayang udah dong. Bisa copot ini telinga Mas kalo kamu tarik terus ini, iya iya Mas minta maaf. Janji ini terkahir kali makan mie malem-malem. Besok-besok makan toppoki aja," gurau Fatan sembari memeluk pinggang ramping istrinya itu.


 Dara melepaskan telinga suaminya dan beralih berjalan menuju Indi, dengan tangan teracung siap menarik telinga Indi.


"Ini juga anak gadis satu! Kan udah di kasih tahu kalo di rumah ada Mas Fatan bajunya jangan kayak kekurangan bahan gini. Rumah ini dingin, kamu mau masuk angin tiap hari pake baju sependek itu?" omel Dara sembari mengarahkan tangannya ke telinga Indi.


Namun Indi dengan cepat mengelak sambil tertawa lepas.


"Ampuuunnn, singa betina ngamookkkk!" teriaknya sambil berlari menjauh dan menghilang di balik pintu kamarnya.


 Dara yang kesal karna sasarannya lepas kini kembali menatap Fatan persis seperti singa lapar hendak menerkam.


 Fatan mengangkat kedua jarinya membentuk huruf V, sambil nyengir lebar dia perlahan mundur dan turut berlari menuju kamar.


"Kabooorrr!" jerit Fatan sambil berlari kecil menuju kamar.


 Namun belum sampai di pintu kamar, kerah baju kaosnya sudah di tarik oleh Dara. Membuatnya otomatis tercekik.


"Hahahah, lari kemana kamu suami nakal?" tawa Dara sambil menggiring suaminya masuk ke dalam kamar dan mengunci pintunya rapat-rapat.


****


 Pagi menjelang, di iringi rintik hujan yang sejak semalam belum mau berhenti membasahi bumi.


 Dara yang sudah sibuk berkutat dengan berbagai bahan masakan di dapur tidak sama sekali terpengaruh dengan angin dingin yang di bawa sang hujan, yang melewati jendela kaca yang terbuka di depannya. Malah dahinya tampak berkeringat, karena tengah menggoreng berbagai jenis naget dan sosis kesukaan anak-anaknya di tambah pula dengan ikan dan ayam untuknya dan suaminya.


"Pagi istriku," sapa Fatan yang sudah rapih dengan setelan kantornya, senyum manisnya terpancar terang. Mungkin asbab perang semalam.


 "Pagi suamiku," sahut Dara tak kalah senang, senyumnya bahkan sudah selebar *kuchisakeonna mungkin.


(* Sejenis hantu jepang yang mempunyai senyum sampai ke telinga, dan selalu memakai masker. "Apa aku cantik?")


"Pagi, Mas. Pagi, Mbak," sapa Indi sambil bergabung dengan Fatan duduk di meja makan.


"Pagi," sahut Fatan mengangguk dan tersenyum pada Indi, sedang Dara hanya menoleh sekilas karena tengah sibuk membawa makanan yang sudah matang untuk di tata di meja.


 Si kembar belum bangun, mungkin karena hari ini mereka libur jadi Dara tidak membangunkan mereka lebih awal seperti biasa.


 "Kamu gimana sama Zaki, Dek?" tanya Fatan tiba-tiba saat mereka mulai sarapan.

__ADS_1


"Nggak gimana-gimana, ya gimana ya Mas. Masa dia minta aku jadi pacar pura-puranya sih, aneh banget kan?" kekeh Indi.


 Fatan turut tertawa kecil sambil geleng-geleng kepala.


"Mas kira dia beneran mau ngelamar kamu, padahal biasanya keluarga dia itu kalau bawa perempuan ke keluarga ya pasti bakalan di lamar,"


  Fatan dan Indi tampak sangat bersemangat bercerita berdua, tanpa mempedulikan tatapan penuh tanya dari Dara yang ada di antara mereka.


 Padahal Dara ada di sebelah Fatan, tapi kali ini rasanya dia seperti tidak terlihat.


"Ilfil aku sama dia, Mas. Masa telat satu menit doang ngomelnya sepanjang jalan kenangan," ucap Indi lagi sembari menyuapkan sesendok penuh makanan yang tadi di masak Dara.


 Bahkan Indi sama sekali tidak membantu Dara memasak atau sekedar membawa makanan matang ke meja, bersikap seperti nyonya karena sejak kecil selalu di manja oleh Bu Maryam.


"Mama," panggil Farah dengan suara serak karena baru saja bangun tidur.


Dara mendekati Farah dan menggendongnya kembali ke meja makan.


"Sayang, aku berangkat dulu ya. Udah siang," pamit Fatan sambil mencium pipi Farah yang kini merebahkan kepalanya di pundak Dara.


"Iya Mas, hati-hati." Dara memaksakan senyumnya walau hatinya tengah gundah.


"Mbak, Mas. Aku berangkat juga ya, hari ini kuliah pagi soalnya," ujar Indi turut memundurkan kursi dan menyambar tasnya. Bahkan Indi tidak membawa lebih dulu piring kotornya ke wastafel.


 Dara hanya menatapnya datar, tapi Indi yang dasarnya anak manja itu sama sekali tak sadar arti tatapan Dara.


"Masih hujan loh, In. Yakin mau berangkat?" tanya Dara akhirnya, karena enggan ribut pagi-pagi hanya karena sebuah piring.


"Bareng Mas aja, In. Kebetulan pagi ini ada meeting sama klien nggak jauh dari kampus kamu," tukas Fatan sambil mengambil tas kerjanya dan memperbaiki dasinya.


 Fatan menatap Dara, seakan meminta persetujuan. Dara mendesah pelan, kembali mensugesti diri kalau tidak akan ada apa-apa. Dia mengenal suami dan adiknya, jadi seharusnya aman. Begitu pikir Dara yang selalu di sugestinya setiap dia mulai curiga.


"Ah, iya Dek. Bareng Mas Fatan aja daripada kehujanan, pake mantel kadang juga masih bisa basah juga," tandas Dara mengalah.


 Indi menatap Fatan dan Dara bergantian, kemudian mengangguk.


"Oke, ya udah ayo berangkat Mas. Keburu telat," Tukas Indi sambil berjalan mendahului Fatan ke mobilnya.


 Fatan mengangguk, dan melangkah pula hendak berangkat.


"Papa semalam ngapain sama Tante?" celetuk Fatur yang tiba-tiba sudah ada di depan Fatan dengan mengacungkan telunjuk menuding Fatan.

__ADS_1


__ADS_2