TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 83. PERINGATAN UNTUK INDI.


__ADS_3

 Di kampung.


Pagi itu sudah menyapa, suasana kampung yang dingin membuat Indi masih saja setia bergelung dengan selimutnya. Padahal fatan sudah bangun dan kini tengah menikmati udara pagi di ayunan di bawah pohon mangga depan rumahnya sambil menyeruput kopi yang di buatnya sendiri. Toh ibu dan anak itu sama saja, keduanya sama sama belum bangun, kebiasaan sekali walau sudah di peringati berulang kali namun namanya sifat sangat susah di rubah.


"Mas Fatan, ngapain di situ sendirian?" sapa Intan yang ke betulan lewat dengan mengendarai sepedanya.


 Gadis manis berwajah teduh dengan rambut sepinggang terurai itu memamerkan senyum manisnya hingga matanya hilang karna pipinya yang tembam, di tambah lesung pipi di kiri dan kanan wajahnya membuat siapa saja pasti betah memandang wajahnya.


"Eh, Intan. Iya nih, Mbak Indi belum bangun jadi ya sendiri aja di sini. Intan sendiri mau kemana?" Tanya Fatan.


"Mau ke rumah Pak kades, Mas. Anterin pesenan jahitan Bu kades, kemarin ada pesen baju seragaman sama Pak kades buat acara katanya."


 Intan turun dari sepedanya dan malah mendekat ke arah pagar rumah Fatan yang hanya berupa pagar beton dengan atasan datar kareena dulu Fatan suka sekali memanjat pagar makanya almarhum ayahnya tidak membuat pagar dengan ujung runcing karna takut Fatan terluka.


"Loh, kok nggak lanjut, Intan? Nanti sudah di tungguin loh?" seloroh Fatan saat melihat intan justru duduk di atas pagar rumahnya dan mengayunkan kakinya ke depan ke belakang.


"Nanti aja, Mas. Janjiannya jam sembilan kok, cuma intan lagi bosen aja di rumah makanya keluar dari jam segini." Intan menjawab sambil mengibaskan rambutnya ke belakang seperti iklan sampo.


 Fatan terpana sejenak melihat keindahan rambut intan yang tak berubah sejak dulu saat mereka masih kecil, namun dia cepat memalingkan wajahnya karena Sadar tak seharusnya dia begitu, dia sudah beristri sekarang walau kini hubungannya dan Indi dan semanis dulu saat pertama mereka mengecap indahnya perselingkuhan.


"Mas, kok melamun sih?" tanya intan terkekeh sambil mengibaskan tangannya di depan wajah Fatan.


"Hah, apa?" Fatan menggeragap. "Oh, nggak ... saya ... saya cuma ...."


Inta tergelak. "Saya, saya kayak sama presiden aja kamu ngomongnya, Mas ... Mas."


 Fatan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil membuang pandangannya ke arah lain, merasa malu sekaligus tidak enak.


"Mas, intan mau tanya sesuatu?" seloroh Intan tak lama kemudian.

__ADS_1


 Fatan menoleh cepat. "Ya? Apa itu?"


"Apa ... Mas Fatan ... mencintai istri Mas?"


 Deg


 Rasanya jantung Fatan mau copot, bukan karena pertanyaan Intan. Melainkan karna teriakan Indi yang tiba-tiba dari arah teras.


"Mas! Ngapain kamu di situ sama perempuan itu hah?" serunya berkacak pinggang.


 Intan turun dari pagar dan berbalik menatap Indi dengan tajam.


"Siapa maksud Mbak perempuan itu?"


 Tampak mata Indi memerah, antara geram dan baru bangun tidur.


 Fatan kebingungan karna tak bisa menangani dua perempuan yang bertengkar, sangat sulit sepertinya untuk melerai mereka.


"Hei, Mbak! Kamu itu yang gatal, sembarangan sekali mengatai orang. Ingat di tanah mana kamu berpijak!" sahut Intan lagi sambil balas menuding Indi.


"Hilih, kenapa jadi balik mengatai kamu? Bilang aja kamu itu luarnya saja gadis tapi ternyata nggak laku karena sudah jebol ya kan?" ejek Indi semakin keterlaluan.


"Indi!" sentak Fatan tak suka.


 Indi beralih menatap Fatan, dan berdiri lah bulu kuduknya melihat tatapan mata Fatan yang seakan ingin menelannya hidup hidup.


"Mas, tolong ajari istri mu bagaimana cara bersikap yang baik pada orang lain. Intan takut kalau sampai orang lain yang di perlakukan begitu olehnya. Intan nggak bisa jamin apa yang bisa terjadi, Mas tahu sendiri bagaimana kampung kita ini sejak dulu." Intan kembali menaiki sepedanya dan berlalu pergi, sebelumnya dia sempat menatap pada Indi dingin dan sedikit membuat Indi merinding.


 Fatan tertegun sesaat, setelah sadar maksud ucapan Intan, Fatan segera menarik tangan Indi untuk masuk ke dalam rumah dan menutup pintunya.

__ADS_1


"Mas, lepas! Ini sakit tahu!" omel Indi sambil menarik paksa tangannya yang ada di cengkraman Fatan.


"Berhenti bersikap seperti anak anak, Indi. Sudah waktunya kamu bersikap dewasa. Jangan selalu memandang rendah orang lain, di sini bukan tempat kamu. Mas hanya takut kalau perbuatan dan perkataan kamu nantinya membawa malapetaka sendiri untuk kamu." Fatan berusaha menjelaskan pada Indi situasinya, namun Indi malah melengos dan seolah tidak peduli.


"Ngomong apa sih kamu, Mas? Pasti kamu sudah terpengaruh sama perempuan tadi kan? Mentang mentang dia masih muda dan cantik seenaknya saja kamu lebih percaya dia dari pada aku. Semua aja ucapannya kamu terima mentah mentah begitu," marah Indi lagi.


"Berhenti menuduh, Indi!" bentak Fatan menggelegar.


 Suaranya yang nyaring membuat Indi seketika menciut, dia terdiam sambil menatap Fatan tak percaya sedang di sudut sana terdengar suara pintu di buka dengan kasar.


Brakkk


"Ya Allah, Indi!" Bu Maryam berlari kecil mencapai tubuh Indi yang bergetar pelan.


 Dengan perlahan di bimbingnya Indi duduk di kursi ruang tamu, wajah Bu Maryam masih tampak sembab sepertinya dia pun terbangun karna mendengar suara bentakan Fatan.


"Ada apa ini, Fatan? Indi? Ada apaa? Ini masih pagi kenapa sudah teriak teriak? Kalian itu masih pengantin baru, malu kalo di dengar tetangga pagi pagi sudah ribut." Bu Maryam memberi nasehat seakan dialah orang yang paling benar, padahal yang di maksudnya pagi sekarang itu sudah terik. Matahari sudah bersinar dengan gagahnya sedangkan dia dan anaknya yang berada di dalam pelukannya itu baru saja bangun.


 Fatan membuang muka tak ingin menjawab, dia membiarkan Indi yang menjawab semua pertanyaan ibunya.


"In, ini ada apa? Apa kamu bikin kesalahan sampai suamimu marah? Kalau iya segera minta maaf, Nak. Karna ridho suami itu sama dengan ridhonya Gusti Allah SWT." Bu Maryam memberi nasehat kembali, tumben sekali kata katanya benar.


 Fatan saja sampai menyeringai mendengarnya bahkan hingga geleng-geleng kepala.


"Indi nggak ngapa ngapain, Bu. Tadi Indi cuma mergokin Mas Fatan di luar sana perempuan anaknya Pak Sukri yang masih gadis itu. Makanya Indi marah, Indi cemburu, tapi sama Mas Fatan indi malah di marahin," adu Indi pada Bu Maryam dengan air mata yang di buat buat.


 Bu Maryam tersentak kaget dan langsung memeluk Indi, ibu satu ini memang selalu lebih percaya anak perempuan kesayangannya itu ketimbang mendengar kesaksian dari semua pihak yang terlibat. baginya apa yang di katakan oleh Indi semua adalah benar dan mutlak, hingga dia kadang tak sadar sudah di setir oleh anaknya sendiri.


"Berhentilah membela dan membenarkan diri kamu sendiri terus, Indi. Kalau sifatmu terus begitu, kamu akan tau bagaimana warga kampung ini mengambil tindakan atas sikap tidak sopanmu itu. Dan saat itu terjadi jangan cari aku, dan jangan menyesal," ucap Fatan sebelum berlalu meninggalkan Indi dan Bu Maryam yang terpaku di tempat, bertanya tanya tentang maksud perkataan Fatan.

__ADS_1


__ADS_2