
Bu Leha tampak berjalan tergesa masuk ke dalam rumahnya, meninggalkan Hans yang tengah memarkirkan motor di garasi rumah mereka yang kotor penuh dengan debu dan barang tak terpakai yang di biarkan menumpuk saja menjadi sarang nyamuk.
"Hah, apes banget sih ngikutin kemauan Mama tuh! Lihat sekarang, hape aku udah nggak ada, Ma di ambil si nenek peot itu!" omel Hans saat melangkah ke rumah bahkan tanpa mengucap salam.
Bu Leha yang baru saja kembali dari dapur untuk mengambil pisau hanya berdecak.
"Halah, hape murahan gitu aja kok di rengekin sih, Hans? Nanti beli lagi aja kalau si nenek peot itu nggak mau kembalikan. Segala sok Sokan nyita hape orang pula dia, huh sok paten," omel Bu Leha sambari membuka bungkusan berdiri mangga yang tadi dia ambil dari rumah Dara.
Hans menghenyakkan tubuhnya di atas kursi sofa lalu menyandarkan kepala dengan rambut gondrong itu di sana.
"Mau beli pake apa, Ma? Mama aja tadi ke sana nggak dapat pinjamannya. Ngadi Ngadi aja sih Mama ini, Mama kalau mau halu di depan orang lain boleh, Ma. Tadi kalo sama Hans nggak bakal bisa, Hans yang tiap hari sama Mama, jadi Hans yang paling tahu Mama," ucap Hans dengan nada setengah mengejek.
Bu Leha mencebik.
"Alah, gaya sekali kamu itu segala ngatain Mama. Kamu kira kalau Mama nggak begitu kamu nggak malu kalo sampai warga komplek ini tahu kalau sebenarnya Mama kamu banyak hutang tapi berlagak jadi rentenir?" dengus Bu Leha sambil memasukkan sepotong mangga yang sudah di kupasnya ke mulut.
"Ah, sudahlah Hans nggak peduli, yang jelas Hans mau hape Hans balik atau nggak Mama harus beliin Hans yang baru gimanapun caranya titik!" bentak Hans keras lalu langsung berlalu menuju kamarnya di lantai dua dan menutup pintunya dengan kasar.
Brakkk
"Huh, dasar anak kurang ajar. Mimpi apa aku bisa dapat anak kayak begitu ya? Udahlah pengangguran, muka juga ga ganteng ganteng amat, tukang marah marah, hobinya makan sama tidur doang, bawa cewe nggak pernah eh lagi pula apa ada cewe yang mau sama bocah itu paket lengkap buat jadi tumbal begitu kok," gumam Bu Leha lagi tanpa mempedulikan sang anak yang juga bersungut-sungut masuk ke kamarnya.
Yah, begitulah kehidupan dua ibu dan anak itu, setiap hari hanya bertengkar tentang hal hal yang tidak penting saja. Nanti saat tiba butuh uang atau apapun barulah akan mulai bertengkar hebat tentang siapa yang seharusnya bekerja.
__ADS_1
Saat tengah menikmati mangga ke tiganya, Bu Leha tiba tiba di kejutkan dengan suara berisik di depan pagar rumahnya seperti ada banyak orang yang mencoba menjebol pagar yang tadi di kunci dengan rantai hewan itu. Mungkin Bu Leha takut pagarnya main ke rumah tetangga.
"Leha! Juleha! Keluar kamu! Keluar ku bilang! Jangan kabur lagi kau ya, Leha!" teriak orang itu yang membuat Bu Leha seketika terlonjak dari tempat duduknya saking terkejutnya.
Matanya membelalak lebar dengan wajah yang mendadak pucat pasi.
"Mampus aku," gumamnya lalu Bu Leha bangkit hendak segera kabur namun sayang belum sempat dia berdiri kini orang itu sudah berdiri di ambang pintu rumahnya yang memang tidak di tutup tadi.
"Mau kemana kamu hah? Sampai ke ujung neraka pun kau lari, aku akan kejar sampai kau minta ampun!" umpat orang itu lagi.
Bu Leha bergetar kedua lututnya terasa lemas dan tak bisa di gerakkan.
"Am- ampun, Hana. To- tolong jangan penjarakan aku," desisnya menghiba.
Hans yang mendengar suara ribut di lantai bawah rumahnya gegas turun untuk melihat tanpa peduli saat dia hanya memakai handuk saja untuk menutupi bagian pentingnya karna baru saja dia berniat untuk mandi, dan malas sekali rasanya untuk memakai kembali pakaian yang sudah di lepasnya.
"Ada apa ini?" seru Hans dari atas tangga lantai dua, handuk yang di pakainya berkibar karna hembusan angin dari bawah namun dia tidak peduli walau orang orang yang ada di bawah mulai tak nyaman melihat penampilannya.
Bu Leha tampak menelan ludahnya dengan susah payah, berkali kali dia menatap Hans dan Bu Hana bergantian. Karna bukan hanya yang berdiri berang di sana tapi juga ada Pak RT, pak lurah, pak camat, pak bupati, Pak presiden eh ngawur, ralat maksudnya di sana juga sudah ada Halim, Elis, Laila dan juga beberapa anak buah Pak Jatmika yang sengaja di bawa Halim untuk mengantisipasi jika ada perlawanan tak mengenakan dari pihak lawan yaitu Bu Leha anaknya yang terkenal toxic dan sombong tingkat RT.
"Ma, ada apa ini? Siapa mereka itu, Ma? Apa orang yang mau minjam uang sama Mama ya?" tebak Hans asal jeplak saja.
.
__ADS_1
Bu Hana tampak semakin berang mendengar ucapan ngawur Hans, lalu dengan langkah tegap dia mendekati Bu Leha dan menarik tangannya hingga Bu Leha hampir saja jatuh tersungkur jika tidak berpegangan pada meja.
"Jaga bicaramu ya, bocah ingusan! Bukan aku! Tapi ibumu ini yang sudah berhutang padaku bertahun tahun lamanya dan malah sengaja menghilang seolah tidak ingat jika masih punya sangkutan!" amuk Bu Hana lagi sambil menunjuk nunjuk wajah Bu Leha.
Hans yang tak terima sang ibu di perlakukan demikian langsung saja turun dari tangga dan berlari menuju ibunya sambil memegangi handuknya yang kapan saja bisa melorot itu.
"Jauhkan tangan kotor anda dari Mamaku!" serunya marah.
Merasa mendapat pembelaan Bu Leha langsung menyuruk ke bawah ketiak sang anak yang saat ini berkacak pinggang seperti layaknya super Hero kesorean.
"Astaghfirullah, kamu makan apa, Hans? Bau badanmu kayak ****** biawak." Bu Leha menutup hidungnya dan langsung menjauh dari sang anak.
"Ma! Bukan waktunya buat muji muji aku ya, kita sekarang harus berperang melawan fitnah yang kejam ini," tukas Hans tidak nyambung.
Karna tak sabar Halim langsung saja maju dan membekap Hans agar tidak bisa bergerak. Hans bergerak liar mencoba melepaskan diri namun sayangnya dia lupa kalau saat ini hanya memakai handuk saja di tubuhnya.
"Mas! Itu handuknya!" jerit Laila sambil menarik Elis untuk menjauh dari sana agar mata mereka tidak ternoda sesuatu yang tidak seharusnya.
Halim tersadar, lalu lekas langsung melepaskan pegangannya pada Hans. Membuat pemuda itu langsung ambil langkah seribu melarikan diri dari sana sambil menutupi bagian bawahnya dengan handuk yang sudah terbuka.
"Kurang ajar! Kau sudah membuat anakku ternoda!" marah Bu Leha sambil menunjuk Halim yang kini Yaya terbengong melompong karena otaknya baru saja blank karna melihat sesuatu yang dia juga memilikinya walau bentuknya agak berbeda sedikit.
Bu Hana yang tak terima pula anaknya di persalahkan langsung maju dan menangkap tangan Bu Leha yang menunjuk Halim lalu memelintirnya.
__ADS_1
"Aaaawwww, sakeeeettttt!" seru Bu Leha mengaduh sambil berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman Bu Hana. Namun semakin dia berusaha semakin erat pula Bu Hana memelintir tangannya.
"Diam! Sekarang juga kembalikan yang seratus juta ku yang kau pinjam itu atau aku patahkan tangan mu yang gembrot ini!" ancam Bu Hana tak main main membuat Bu Leha langsung terbelalak ngeri mendengar ancamannya.