TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 64. HUJATAN NETIJEN.


__ADS_3

"Loh, Mas? Kamu ngapain?" tanya Dara begitu melihat Fatan berlarian dengan masih mengenakan sarung yang terlilit di lehernya, sangat kentara kalau laki-laki penikmat ************ itu baru saja bangun.


 Bu Ajeng sendiri urung melangkah pulang dan kembali mendekat untuk mencari bahan gosipan tentunya.


"Dara, Mas bareng ya? Mas mau pergi ke pengadilan juga," rengek Fatan terdengar sangat memuakkan dengan wajah yang di buat sememelas mungkin.


 Namun yang ada malah membuat Dara ingin menampolnya.


"Nggak! Lagipula ngapain kamu mau ke pengadilan juga? Bukannya kita semua sudah sepakat kalau kamu nggak bakal datang supaya kita bisa lekas berpisah tanpa banyak drama?" rutuk Dara yang moodnya tiba-tiba rusak.


"Tapi ... Tapi setelah Mas pikirkan lagi rasanya Mas masih belum rela pisah sama kamu, Dara." Fatan menatap dengan mata memohon.


 Dara melengos, hatinya sudah sangat kesal sekarang dan kini Fatan malah akan menambah beban di pundaknya dengan rengekannya dan janji palsunya itu.


"Nggak usah drama, nggak mempan lagi sama aku. Lagi pula siapa yang masih mau Nerima kamu balik hah? Udah jijik aku sama kamu ya, Mas. Kamu dengarkan? Jijik!"


"Dan sekali lagi aku tegaskan sama kamu ya, Mas. Kamu nggak perlu dateng sama sekali dengan alasan apapun. Tolong, Mas! Aku lelah, aku capek sama semua ini, tolong biarkan aku mundur, Mas. Aku menyerah dengan hubungan ini, silahkan kamu lanjutkan hidupmu sesuai yang kamu mau, tapi aku minta ... jangan persulit jalan ku berpisah dari kamu." Dara mengembuskan napas kasar setelah mengungkap semua isi hatinya yang selama ini dia pendam sendirian.


 Fatan terdiam di tempatnya, matanya panas rasanya hatinya pun kini patah berkeping-keping. Dia sadar dia salah, namun semua sudah terlalu terlambat sekarang. Dan jalan untuk sebuah kesempatan kini sudah tertutup sepenuhnya.


"Jalan, Mas." Dara menepuk pundak pria muda di depannya yang sejak tadi hanya diam mendengarkan.


"Ah, iya baik, Mbak," sahutnya terperanjat.


 Dara menutup kaca mobil seiring kendaraan itu yang mulai melaju perlahan dan semakin lama semakin menjauh.


Tes


.

__ADS_1


Setetes demi setetes air mata berhamburan keluar dari netranya yang kini mulai sering mengenakan softlens itu. Dara tampak sangat cantik, namun itu semua tak ada gunanya jika kini dia tak lagi punya siapa-siapa. Sampai kini, begitulah yang dia tau.


 Tapi sepasang mata yang sejak tadi mengawasinya dari dalam sebuah mobil sedan hitam yang parkir tak jauh dari tempatnya dan kini juga ikut berjalan di belakang mobil Dara, mata yang sama dengan yang mengawasinya terus selama beberapa hari terakhir.


"Bos, hari itu akhirnya datang. Target menuju ke pengadilan agama hari ini."


****


 Melihat mobil yang membawa Dara sudah semakin menjauh, Fatan memilih masuk kembali dengan langkah gontai menuju rumah. Rumah yang dia berikan pada Dara saat pernikahan mereka, bahkan rumah tersebut pun atas nama Dara.


"Huh, udah tau punya istri cantiknya kayak bidadari surga begitu. Malah kegatelan maen serong sama adik iparnya sendiri. Rasain dah tuh, sebentar lagi di buang kalian itu sama si Dara." Bu Ajeng yang sejak tadi masih berada di sana mulai menyindir, mulut nyinyirnya bahkan sampai tak berhenti bergerak saking geramnya dengan tingkah Fatan dan Indi yang dia lihat langsung saat acara pernikahan sehari Indi kemarin.


"Sok sokan mau punya istri dua kayaknya, haha sayangnya si Daraa pinter ya mana mau lah dia berbagi bekasan sama adiknya. Bagus dia nyari sendiri yang lebih lagi dari si itu, haha kena batunya kan kalian sekarang. Rasakan!" omelan Bu Ajeng bahkan masih tetap terdengar walau kini dia sudah berjalan meninggalkan rumah Dara tentu saja itu karena dia sengaja bicara keras agar semua orang yang di lewatinya mendengar dan kepo. Dan kemudian berakhir menggosip ria sebelum pulang.


"Heh, Jeng! Ada apa sih?" panggil ibu kacamata sambil memakai sandal jepitnya dan berjalan mendekati Bu Ajeng.


"Woy! Berisik!" maki Indi yang rupanya mendengar semua ucapan Bu Ajeng dari arah rooftop atas karna dia sedang menjemur baju yang sudah dia cuci sebelumnya.


 Bu Ajeng dan ibu kacamata yang bernama Sundari itu mendongak dan melihat Indi yang kini tengah bersiap menyiramkan air bekas cucian ke arah mereka.


"Lariii!" jerit Bu Ajeng sambil cepat ambil langkah seribu.


 Dia selamat namun naas menghampiri Bu Sundari, dia yang memang dasarnya lemot itu malah hanya melompong saja saat air itu mulai jatuh mengguyur tubuhnya hingga basah kuyup.


"Aahhhhhh!" jeritnya yang sebenernya sangat amat terlambat.


"Ahahah, makanya jangan sukanya ngomongin orang aja! Sana masak! Nggak usah heboh nyiyirin hidup orang. Kayak hidupnya sendiri udah lurus aja!" maki Indi dari atas rooftop.


 Bu Sundari mengibaskan rambutnya ke belakang, dan dengan congkak menunjuk Indi di atas sana.

__ADS_1


"Halah berisik banget sih lu, pelakor!" balasnya sambil cepat-cepat masuk ke dalam rumah dan menutup pintunya rapat-rapat.


"Huhhh, penakut aja sok keras!" ledek Indi sambil berlaku turun ke bawah karna semua baju basah sudah selesai di jemur.


 Sesampainya di bawah ternyata Fatan tengah duduk di meja makan, menatap kosong pada gelas berisi air putih yang tinggal separuh isinya itu.


 Sedangkan tak jauh dari sana terdengar sayup suara tawa si kembar yang memang hari ini di minta Dara untuk tetap di rumah karna sepulangnya dia dari pengadilan mereka akan di ajak jalan-jalan seperti janji Dara sebelumnya.


"Mas, kamu kenapa?" tanya Indi sambil meletakkan keranjang pakaian yang sudah kosong dan duduk di sebelah Fatan. Tak lupa dia juga meminum sisa air yang ada di gelas Fatan hingga tandas.


 Fatan diam tak bergeming, bahkan tubuhnya saja seakan tak bernafas saking diamnya.


Indi mengkode Bu Maryam yang tengah mencuci piring tapi yang di tanya malah mengangkat bahu tanda tak tahu.


"Mas?" panggil Indi lagi, kali ini sambil menggoyang tubuh Fatan pelan.


  Fatan terkesiap. "Hah, apa? Kamu ngomong apa?" tanyanya cepat seakan baru tersadar dari tidur yang panjang.


"Kamu kenapa, kok dari tadi aku perhatikan kamu melamun. Terus juga berkali-kali di panggil kamu diem aja, kalau ada masalah cerita dong, Mas. Jangan diem," bujuk Indi dengan suara di buat semanis mungkin dan selembut mungkin.


 Fatan menggeleng lemah. "Nggak, Mas nggak papa kok. Kamu nggak usah khawatir."


"Gimana aku nggak khawatir sih, Mas? Kalau kamu ...." Indi tiba-tiba berhenti berkata.


 Suara cekikikan si kembar kembali terdengar kali ini bahkan lebih keras dari yang sebelumnya. Di tambah suara percakapan yang ikut mendominasi suasana di sana. Sepertinya mereka berdua sedang asik bermain dan bercerita dengan Elis.


"Nanti om baik ini bakalan jadi Papaku, aku sama Papa baruku nanti mau jalan-jalan ke mall sama Mama sama Mbak Elis juga." suara Fatur santer terdengar, membuat Indi seketika paham apa yang membuat Fatan menjadi diam sebelum nya.


"Tapi nanti Om ganteng Papanya Farah juga ikut kok, jadi nanti di mall Fatur sama papanya Fatur, Farah sama papanya Farah. Yeeeyyyy, kita punya Papa lagi! Semoga kali ini nggak ada yang bakalan ambil Papa kita lagi ya. Semoga Papa baru kita nggak kayak Papa Fatan yang malah maunya sama Tante Indi." ucap Farah yang serasa menghujam tepat di jantung Fatan. Perih, tapi itulah kenyataannya.

__ADS_1


__ADS_2