
Tergopoh-gopoh Elis dan Zaki berlari ke depan, betapa kagetnya mereka saat mendapati di depan pagar rumah yang terbuka tampak ramai kerumunan di sana. Raut wajah cemas terlihat dari semua orang di sana.
Elis dan Zaki dan mendekat, terlebih saat mendengar suara tangisan Dara dari sana, membuat keduanya tak bisa tak merasa khawatir berlebih.
" Ya Allah kasihan sekali, sampe berdarah."
"Iya, orang tuanya gimana sih masa di biarkan saja anaknya ke jalan?"
"Harusnya punya anak kecil itu di jaga baik baik, jangan lengah."
"Tahu tuh, setelah anaknya celaka nanti baru menyesal."
Suara suara sumbang mulai terdengar, namun sebisa mungkin di abaikan oleh Zaki. Baginya saat ini lebih penting untuk melihat kondisi di tengah kerumunan sana dimana suara Dara masih terdengar sesenggukan.
"Permisi, permisi." Zaki mendesak orang orang yang ada di depannya agar dapat memberikan jalan, orang orang yang berjubel itu tampak sinis menatap Zaki dan Elis yang mendorong tubuh mereka.
"Pelan pelan dong, bukan kamu saja yang mau lihat. Bantuin juga nggak segala kau ngedeket lagi!" hardik salah satu ibu ibu yang tak terima tubuhnya di dorong Zaki.
Zaki naik pitam, sejak tadi dia sudah menahan sabar karna ingin memastikan kalau yang celaka bukanlah anaknya. Namun ada saja orang orang toxic yang tidak mengerti situasi seperti ini.
"Terus ibu sendiri ngapain disini? Sama aja cuma lihat doang kan? Bantuan apa yang sudah ibu kasih selain komentar di sini hah?" bentaknya kesal sambil mendorong pundak ibu ibu lagi dan merangsek maju tanpa mempedulikan nya yang bersungut-sungut.
"Mas! Mas Zaki tolong, Mas!" seru Dara yang terdengar dari tengah tengah kerumunan itu, Zaki yang sudah dekat langsung menerobos sisa manusia yang hanya memenuhi tempat saja itu dan tak memberi bantuan apapun.
"Sayang, sayang kamu dimana? Kamu nggak apa kan?" cecar Zaki sambil menatap ke sana ke mari mencari keberadaan sang istri dan anaknya.
"Mas! Aku di sini," seru Dara terdengar dari arah bawah, tepat di depan sebuah mobil hitam yang berhenti di depan rumahnya.
Tampak sedikit percikan darah di badan mobil bagian depan, membuat Zaki merinding melihatnya. Memang tidak besar, namun membayangkan saat darah itu keluar dari tubuh si empunyanya membuat Zaki merinding.
Zaki mendekat bersama Elis, tampak di sana Dara tengah menangis sembari memeluk tubuh kecil yang mereka ketahui sebagai tubuh Fatur, tubuh itu diam tak bergerak dengan luka lecet di kakinya.
__ADS_1
"Mas," panggil Dara tergugu sambil mengulurkan tangannya pada Zaki, Zaki meraihnya dan langsung menjatuhkan diri di sebelah istrinya.
"Ya Allah, Mbak Fatur kenapa, Mbak? Fatur nggak papa kan?" cecar Elis cemas, sembari memindai tubuh Fatur yang terlihat dari sela pelukan Dara.
Luka di kaki Fatur cepat di balut oleh Elis dengan bajunya yang dia robek sedikit bagian bawahnya, dan tak lupa membersihkannya terlebih dahulu.
"Sayang, Fatur kenapa? Apa mobil ini menabrak Fatur? Katakan, sayang? Supaya kita bisa menindak lanjuti nya," cecar Zaki sembari memeluk tubuh Dara yang sedikit terbungkuk karna memeluk Fatur erat sekali.
Dara tak menjawab, hanya isakan yang terdengar dari bibirnya sambil sesekali menggeleng pelan.
"Permisi permisi, biarkan saya memeriksa korban."
Suara seorang pria terdengar memecah kerusuhan di depan rumah Dara itu, tak lama seorang dokter dengan stetoskop di lehernya tampak mendekat.
"Ya Allah, Pak Zaki?" ucapnya terkejut.
" Mas Halim? Tolong selamatkan anak saya, Mas. Tolong dia," pinta Zaki dengan mata basah karna terlalu mencemaskan kondisi sang anak yang dia sendiri tidak tahu kenapa bisa ada di tengah jalan. Jika tertabrak mobil kenapa Dara malah memeluknya saja tanpa berinisiatif cepat memanggil ambulan?
Saat itulah Dara melepaskan pelukannya, dan tampak oleh mereka kalau Fatur hanya pingsan dan tak ada luka berarti di tubuhnya.
Zaki terkesiap, menatap bercak darah di depan mobil dan kembali menatap Fatur. Tidak ada tanda tanda kalau Fatur berdarah atau terluka di kepala atau tubuh bagian atasnya, sedangkan bercak darah itu tidak mungkin jika berasal dari luka di kaki Fatur yang hanya berupa lecet. Lalu luka siapa yang begitu parahnya hingga muncrat dan mengotori bagian depan mobil?
"Dokter, dokter! Tolong ini ada pasien satu lagi, lebih parah dari yang itu!" seru salah seorang warga sambil menunjuk ke arah rumah warga yang berada di sebrang rumah Dara dan Zaki.
Halim mendongak. "Ya ya, sebentar. Saya obati yang ini dulu," tukasnya.
Orang itu kembali ke tempatnya semula, setelah selesai mengobati luka di kaki Fatur. Halim lekas bangkit dan membereskan peralatannya.
"Pak Zaki, ini baik baik saja kok. Tidak ada yang patah, atau luka serius tapi lebih baik di selidiki lagi apa penyebabnya supaya bisa di tangani lebih lanjut. Takutnya ada luka dalam," titah Halim cepat.
Zaki mengangguk lalu mengucapkan terima kasih dan mengambil alih tubuh Fatur dari pelukan Dara. Membawanya ke rumah agar lebih nyaman.
__ADS_1
Zaki membaringkan tubuh Fatur diatas sofa ruang tamu, di sana rupanya sudah ada Bu Maryam yang menunggu dengan cemas.
"Ya Allah, Fatur cucuku. Cucuku kenapa ini? Ya Allah, bangun le kamu kenapa?" cecarnya tak dapat menyembunyikan kecemasannya.
Dara masih tergugu dan duduk di sebelah Fatur berbaring, tubuhnya terasa sangat lemas hingga tak sanggup untuk bercerita apa yang sudah terjadi.
Sementara di luar sana kerumunan masih ramai, orang orang menceritakan apa yang terjadi sesuai apa yang mereka lihat atau apa yang mereka dengar dari warga yang lainnya. Dan tentu saja kabar itu tak akan sama sepenuhnya, hanya sekedar simpang siur semata.
Tak lama suara sirine ambulan terdengar nyaring memasuki perumahan yang biasanya sunyi itu, beberapa petugas tampak turun dan mengangkat tubuh seorang yang bersimbah darah.
Zaki yang kebetulan melihatnya langsung terenyuh.
"Ya Allah, kasihan sekali," bisiknya.
Mendengar itu Dara pun semakin tergugu terlebih saat menangkap tubuh orang yang penuh da rah itu di angkat menuju mobil ambulan.
"Mbak, minum dulu." Elis menyodorkan segelas air putih ke hadapan Dara, dan langsung di tenggaknya hingga habis tanpa sisa.
Nafas Dara tampak terengah-engah, dan langsung menjatuhkan dirinya memeluk sang putra yang tengah di coba bangunkan oleh Bu Maryam dengan menggosok minyak angin ke hidung dan telapak kakinya.
Setelah bunyi sirine menjauh, kerumunan orang orang yang berdiri di depan rumah Dara sudah mulai berkurang. Hanya tersisa beberapa orang saja yang tampak masih bercerita sembari sesekali menunjuk ke arah rumah Dara, dengan tatapan kurang mengenakkan.
Nampak pula beberapa orang yang tengah menyiramkan air ke jalanan depan sana, mungkin saja membersihkan sisa darah yang masih tergenang di jalanan. Begitu yang sempat tertangkap penglihatan Zaki tadi sebelum membawa Fatur masuk ke rumah.
Tak lama, tampak beberapa orang pria berjalan menuju ke halaman rumah Dara. Dengan sigap, Zaki berdiri menyambut mereka namun entah mengapa perasaannya malah tidak enak.
"Assalamualaikum, permisi Pak Zaki." Seorang pria yang Zaki ketahui sebagai ketua RT di perumahan tersebut naik ke teras dengan wajah pias.
"Wa'alaikumsalam, ada apa ya, Pak RT?" tanya Zaki sembari mempersilahkan pak RT dan beberapa warga lainnya naik dan duduk di terasnya.
Wajah mereka sama, tampak pias dan kesal di waktu bersamaan.
__ADS_1
"Jadi begini, Pak Zaki ...."