TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 63. MATA TETANGGA.


__ADS_3

 Hari jatuhnya sidang pertama putusan perceraian Dara dan Fatan akhirnya tiba, hari ini Dara sengaja memilih gamis sederhana namun elegan yang dia punya dan memoles wajahnya yang sebenarnya sudah cantik itu dengab sapuan make up tipis yang membuat penampilannya semakin sempurna.


 Dara mematut dirinya di cermin. "Hah, bismillah. Semoga ini jalan yang terbaik."


 Kringg


Kringg


Kringg


 Ponsel yang Dara letakkan di atas nakas berbunyi nyaring, nama Vania tertera di sana.


"Assalamu'alaikum, gimana Nia?" tanya Dara to the point.


"Wa'alaikumsalam, Mbak yang semalem Mbak minta udah Nia atur sesuai permintaan." suara manis Nia terdengar begitu ceria.


 Dara tersenyum kecil. "Ah, baiklah. Kamu memang bisa di andalkan."


"Iya dong, Vania gitu loh. Pokoknya Mbak Dara harus tampil luar biasa hari ini, bikin orang yang sudah macam-macam sama Mbak itu terbengong melompong sama pencapaian Mbak. Hummm ... yakin sekali Nia kalo mereka pasti bakalan mengemis iba sama Mbak nantinya," oceh Nia dengan gaya bicaranya yang cerewet.


 Sepertinya bawaan terbiasa melayani orang butik, yang semakin harinya semakin ramai saja.


"Haish, mulai deh ngelanturnya. Ya udah Mbak siap-siap dulu ya," ucap Dara sebelum mengakhiri teleponnya.


 Masih terdengar suara ceria Nia si sebrang telepon sana, bercampur suara berisik yang menandakan anak itu menelpon saat berada di jalan.


Tut


 Dara menutup telepon, tapi belum sempat meletakkan ke dalam tas benda pipih persegi itu kembali berbunyi.


Kring


Kring


Kring


"Duh, siapa lagi sih?" gumam Dara dan melihat layar ponselnya, namun hanya ada sebuah nomor tidak di kenal di sana.

__ADS_1


"Hmmm, nomor siapa ya?" gumam Dara lagi, merasa enggan menerima panggilan dari nomor yang tidak tertera di daftar kontaknya.


 Panggilan itu berhenti dan Dara meletakkan ponsel itu ke dalam tasnya, sembari kembali memindai penampilannya di cermin.


"Hah ... sayang sekali wanita cantik ini sebentar lagi akan menjadi janda. Padahal apa yang kurang sih? Di bawa kondangan juga nggak bakal malu-maluin kan aku? Dasar emang si Fatan aja yang kadal buntung. " Dara menggerutu sembari mengambil tasnya dan hendak keluar menuju pintu.


Kring


Kringg


Kringg.


Lagi, ponselnya berbunyi dan karna penasaran Dara pun mengangkatnya.


"Assalamu'alaikum," ucap Dara sembari menunggu jawaban dari si pemilik nomor.


"Wa'alaikumsalam, Mbak Dara?" tanya suara di sebrang sana, suaranya seperti seorang pria muda yang Dara sendiri merasa asing.


"Iya saya sendiri, dengan siapa ya?" ulang Dara sambil melanjutkan niatnya membuka pintu dan keluar dari kamarnya.


"Kami dari showroom X mau mengantarkan pesanan mobil baru Mbak, rumahnya yang mana ya, Mbak? Maaf mapsnya agak macet ini," ujar pria muda itu yang nafasnya terdengar agak tersengal, mungkin karena kelelahan.


 Kepalanya dia longokkan untuk bisa memindai kondisi sekitar.


 Pria muda itu menjelaskan sebuah posisi dan Dara langsung mengarahkannya menuju rumahnya dari posisi pria itu sebelumnya.


 Tak lama, dari kejauhan tampak sebuah mobil sedan berwarna alpukat bergerak mendekat. Kebetulan saat itu tetangga Dara yang memakai emas sebanyak yang di jual di toko itu baru saja kembali dari warung, tampak dari belanjaan seperti sayur mayur dan juga gula dan minya goreng di dalam sebuah kantong plastik.


"Mbak Dara ngapain celingak-celinguk di sini?" sapanya ramah sambil berjalan mendekati Dara dari posisi sebelumnya di sebrang jalan.


 Dara tersenyum canggung, ternyata beginilah sungkan membeli sesuatu yang baru jika terlanjur terlihat seperti ini.


"Ah, saya ... saya ...." Dara berusaha mencari alasan yang sekiranya pas untuk dia utarakan. "Saya lagi nunggu temen, Bu Ajeng."


 Ibu toko emas berjalan itu manggut-manggut namun masih tak ada tanda-tanda dia akan segera pergi, malah dengan santainya duduk di tepian pagar Dara yang bagian luarnya di bentuk sedemikian rupa untuk bisa menjadi pot bunga.


"Lha Bu Ajeng ngapain di situ? Bukannya mau masak?" seru Dara kaget karna bukannya pulang ibu-ibu satu ini malah santui tak ingat anak suaminya yang mungkin saja saat ini tengah menunggu sarapan untuk mereka datang.

__ADS_1


"Ah, nggak. Saya cuma suntuk aja di rumah Mbak Dara. Pengen ngadem sebentar di sini masa nggak boleh sih? Ah, Mbak Dara sejak suaminya ketahuan selingkuh sama adeknya malah jadi galak gini sih? Padahal dulu loh Mbak itu paling ramah dan nggak pelit di komplek ini," ujar Bu Ajeng yang malah jadi curhat.


 Akhirnya Dara pun pasrah, ingin mengusir Bu Ajeng agar tak melihat mobil barunya juga tidak mungkin. Karna ibu-ibu bandel satu itu tak akan pernah mau pergi jika bukan kemauannya sendiri.


Drrrkkkk


 Mobil yang ditunggu pun tiba, dengan mata membulat sempurna Bu Ajeng turut mendekat dan mulai mengelus pelan bodi mobil baru tersebut.


"Waah, ini mobil baru kamu, Dara?" celetuk Bu Ajeng takjub.


 Dara mendesah berat. "Bukan, Bu. Ini mobil temen Dara, itu orangnya."


 Dara menunjuk ke kursi kemudi dimana pria muda yang tadi menelponnya menanyakan posisi rumahnya kini duduk dengan kikuk.


  Bu Ajeng mendekat ke kaca kemudi dan memindai wajah pria itu dari dekat walau masih terhalang kaca mobil. Dan tak lama kemudian Bu Ajeng bangkit dengan wajah bersungut-sungut.


"Ah, kamu itu pasti bohong deh. Nggak mungkin banget temen kamu modelannya begini. Pasti dia ini ... supir taksi online kan?" tunjuk Bu Ajeng pada pria muda yang kini hanya cengar cengir saja di balik kemudi.


 Dara mengangguk mengiyakan, dari pada makin panjang urusannya nanti.


"Ah, iya,Bu. Saya pesan taksi online soalnya mau pergi keluar," tukas Dara mencari aman.


'haish, tumben banget jadi ribet? Padahal baru kemaren dia bantuin aku ngebuli Indi. Masa sekarang udah lupa sih? Apa jangan-jangan dia baik selama ini karna sandro ya?' monolog Dara dalam hatinya.


 Bu Ajeng masih menatap takjub mobil berwarna alpukat tersebut, takjubnya karna warga mereka belum ada yang punya mobil warna seperti itu. Sangat langka. (Gayanya)


 Dara tak begitu memperhatikan dan memilih langsung masuk ke dalam mobil yang sudah dia beli cash dari uang tabungan yang selama ini dia kumpulan dari nafkah Fatan.


"Bu Ajeng, saya pergi dulu ya." Dara membuka kaca mobil di sebelahnya dan berpamitan pada tetangganya itu.


 Pria muda dengan seragam sebuah showroom ternama di kota itu hanya sesekali melirik kikuk karna bingung apa yang harus dia katakan. Takutnya nanti salah bicara dan malah jadi berabe.


"Kamu yakin cuma mau keluar aja pake baju kayak begitu, Dara?" celetuknya tiba-tiba.


 Dahi Dara berkerut. "Memangnya kenapa, Bu Ajeng?"


 Bu Ajeng menggeleng dan segera menjauh pergi. Tapi baru beberapa langkah sebuah suara mengagetkan mereka semua.

__ADS_1


"Dara, tunggu!"


*Nb: (langsung ke sebelah, ceritanya nyambung. Jangan komen julid kalo nggak mau hidupnya menjadi sulit. Jadi author itu nggak mudah. Aku sayang kalian)


__ADS_2