TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 170. KADO DARI MERTUA 2.


__ADS_3

"Hah, akhirnya pulang juga. Capek sih nungguin ibu di sana. Mana pake delay penerbangannya, kan aku juga yang jadinya nggak bisa pulang," keluh Halim sembari keluar dari mobilnya dan tak lupa menenteng sebuah kantong plastik berisi bakso jumbo yang di pesan Laila via telepon tadi.


 Halim menghidu aroma bakso itu, dan tersenyum membayangkan betapa senangnya sang istri di berikan bakso itu, dan sudah tentu dia akan mendapat jatah yang banyak jika berhasil menyenangkan istrinya.


" Assalamu'alaikum, Dek la. Mas pulang!" seru Halim di depan pintu sembari membuka sepatu ketsnya dan meletakkannya di rak.


Ceklek


"Wa'alaikumsalam, eh udah pulang Mas. Mbak Laila lagi ke warung sebentar tadi katanya," ucap Elis yang membukakan pintu untuk Halim.


"Mau beli apa katanya, lis?" Halim melangkah masuk mengikuti langkah Elis.


"Beli pembalut, Mas." Elis langsung ngeloyor ke kamarnya lagi setelah menjawab demikian.


 Halim langsung lemas seketika mendengar jawaban Elis, semangatnya yang tadi membara karna tak sabar menunggu jatah dari istrinya kini langsung padam bak api tersiram air seember. Lemas seperti tak bertulang.


 Halim mengangkat bungkusan bakso itu ke atas dan menatapnya dengan nanar.


"Hah, kayaknya masih harus beli bakso lagi minggu depan."


 Setelah itu Halim meletakkan bungkusan bakso itu diatas meja begitu saja dan meninggalkannya menuju kamar mandi setelah mengambil handuk lebih dahulu.


 Mengguyur tubuh dan kepalanya dengan air berharap suhu panas yang semula naik di tubuhnya bisa mereda. Tidak mungkin juga dia hendak memaksa istrinya jika memang keadaannya yang tidak memungkinkan. Halim juga bukanlah seorang pria yang buta agama hingga hal sepele begitu saja ingin di terabasnya, dia tak ingin keturunannya nanti mendapat imbas dari perbuatan tidak sabarannya.


 Setelah selesai dengan ritual mandinya, Halim merasa tubuhnya lebih ringan tidak seperti tadi yang seakan menuntut untuk ya ... begitulah. Halim keluar dari kamar mandi dan melangkah cepat menuju kamarnya karna dia tak ingin sampai terpergok Elis saat tengah tidak memakai pakaian seperti sekarang.


"Mas," sapa Laila yang ternyata sudah berada di dapur dengan segelas kopi yang masih mengepul di tangannya.


 Senyuman manis istrinya membuat Halim terpukau sesaat, entah sejak kapan namun sepertinya dia baru menyadari kalau wajah sang istri menjadi lebih glowing dan terawat belakangan ini berbeda dengan saat sebelum mereka menikah.


"Mbak, makan yuk." Suara Elis terdengar memasuki dapur, Halim tersadar dan langsung gegas berlari menuju kamarnya. Di iringi tawa dari Laila.


 "Kenapa, Mbak?" tanya Elis setelah dirinya sampai di dapur dan mendapati Laila masih tertawa seorang diri.


 Laila menggeleng. "Ah nggak, ya udah kamu makan duluan aja, Mbak nungguin Mas Halim dulu."


 Elis mengangguk dan duduk di kursi meja makan, sedangkan Laila bergegas menyusul suaminya ke kamar.


"Mas kenapa lari?" tanya Laila setelah menutup pintu kamar dan mendapati suaminya sudah rapi dengan pakaian santainya.

__ADS_1


 "Ah nggak papa, cuma malu aja di lihat Elis kalau cuma pakai handuk. Biarpun dia adik kamu kan bukan muhrim, sayang." Halim menatap istrinya dengan tatapan sendu, gelora yang tadi sudah mereda tiba tiba kembali begitu saja tanpa aba aba.


"Kita makan dulu ya, Mas. Makasih loh sudah di belikan baksonya," ucap Laila lembut.


 Halim mengangguk dan menurut saja saat laila menarik tangannya untuk menuju meja makan dan makan bersama.


 Dengan telaten Laila menyiapkan makanan untuk suaminya, tak lupa menuang segelas air dingin ke gelas dan meletakkannya di hadapan Halim.


"Mbak tunggu," sela Elis saat Laila hendak membuka bungkusan bakso miliknya.


"Kenapa, Lis?" Laila mengerutkan keningnya.


 Elis nyengir dan menyodorkan mangkuknya ke hadapan Laila. "Makan ini aja dulu, Mbak Elis nggak sanggup ngabisin nya. Nanti punya Mbak yang utuh di simpan dulu aja, bisa di makan besok."


 Laila mendesah dan tersenyum kecil menatap adik sepupunya itu. Selalu saja setiap makanan yang dia makan tak habis akan di berikan pada Laila. Namun Laila tidak masalah, mereka sudah biasa berbagi makanan sejak kecil jadi tak ada rasa jijik sama sekali memakan makanan sisa Elis begitupun sebaliknya.


"Ya udah, tapi besok kalo mbak nggak habis juga kamu bantu juga ya."


 Elis mengangguk. "Ya udah Elis duluan ya, Mbak di suruh Mbak Dara ke rumahnya nih."..


"Iya hati hati, kalau ada apa apa kabarin ya."


Elis menghilang di balik pintu, meninggalkan Laila dan Halim yang masih menikmati makanannya di meja makan.


*


"Dek," panggil Halim setelah mereka berada di dalam kamar berdua.


Laila yang sedang bercermin langsung menoleh dan mendekati suaminya dengan senyum manis tersungging di bibirnya.


"Kenapa, Mas? Dari tadi Laila perhatikan mukanya muram sekali?" tanya Laila sembari memijit pelan kaki Halim yang berselonjor di atas kasur.


"Kamu lagi pada tamu ya?" Halim balik bertanya sembari menekuk wajahnya lebih dalam, hampir saja Laila kelepasan tertawa melihat wajahnya.


"Eh siapa bilang?"


"Elis, katanya kamu ke warung beli pembalut."


 Laila terkekeh kecil sambil menepuk pundak suaminya.

__ADS_1


"Ya ampun, itu pembalut buat Elis, Mas. Dia nitip tadi sekalian aku mau beli mie instan buat stok kalo laper malam," terang Laila menerbitkan binar di mata Halim.


 Serta merta Halim menegakkan tubuhnya, menatap istrinya dengan senyum lebar dan jantung berdegup kencang.


"Kalau begitu ... Mas ... boleh ...."


 Halim meneguk ludahnya, tercekat dengan kata katanya sendiri, atau lebih tepatnya malu untuk mengungkapnya.


.


 Laila tersipu malu mendengarnya, namun pada akhirnya mengangguk juga.


"Tapi sebentar ya, Mas. Ada yang mau Laila tunjukkan dulu."


"Apa, sayang? Jangan lama lama, Mas sudah nggak sabar," rajuk Halim dengan wajah memelas.


"Cuma sebentar, Mas. Tunggu dan lihat ya," sahut Laila dengan suara pelan dan mendayu, membuat Halim semakin marasa tubuhnya memanas.


 Laila berjalan ke arah lemari mereka, membukanya dan berkutat di sana beberapa saat.


Syuuttt


Bruk


Gamis yang tadi kenakan Laila melayang ke atas lantai dan teronggok di sana, di susul dengan jilbab besar yang tadi di kenakannya, dan tak lupa kacamata pengaman dengan busa dan segitiga Bermuda berwarna pink yang menjadi barang terakhir yang terlempar.


Glup


Halim meneguk ludahnya kasar, dengan mata melotot dan keringat dingin yang keluar dari pori pori kulitnya.


"Bagaimana, Mas? Apa kamu suka? Ini kado dari ibumu."


 Laila keluar dari balik pintu lemari kayu itu, sebuah lingerie berwarna hitam yang tampak sangat cocok dengan kulit putihnya yang jarang terlihat itu melambai seolah memanggil Halim untuk menja mahnya.


Mata Halim seakan ingin terlepas dari tempatnya, melihat bagaimana sang istri dengan lihainya berlenggak lenggok berjalan menuju ke arahnya.


Tubuhnya yang sejak tadi sudah panas dingin semakin menjadi jadi melihat bagaimana beraninya istrinya naik ke atas tubuhnya dan menduduki perutnya. Laila mencondongkan tubuhnya ke depan membiarkan rambut panjangnya terurai menutupi wajah Halim.


"Ayo beri ibumu cucu, Mas."

__ADS_1


__ADS_2