
Pagi menyapa, riuhnya suasana pagi di desa dan dinginnya udara membuat indi yang sebenarnya sudah terbangun malah kembali merapatkan selimutnya ke kepala. Sambil menggeram rendah Indi kembali meringkuk nyaman di balik selimut miliknya yang dia bawa dari kota.
Kukuryuyuuuukkk
Ciap ciap ciap
Cit cit cuittt
Berbagai bunyi hewan peliharaan yang ada di sana menyemarakkan suasana pagi itu, di luar bahkan belum terang namun sudah terdengar suara seperti orang memberi makan ayam di halaman samping tepat di sebelah kamar tempat indi menginap.
"Pak, kamar belakang belum kebuka?" tanya seseorang yang Indi tidak tahu siapa, namun dari suaranya sepertinya seorang gadis belia. Dan mereka sedang membicarakan kamar yang dia tempati bersama ibunya ini.
"Mungkin si Mbaknya teh masih tidur, Neng. Sudah biarkan saja, ini masih awal bagi orang kota, lagi pula mereka baru sampai kemarin maghrib sudah biarkan mereka istirahat lebih lama," tukas sebuah suara berat pria yang Indi tau sebagai suara Pak Sukri.
"Oohh, iya Abah. Dedek masuk dulu, mau masak air."
Tak lagi terdengar suara percakapan setelah itu, suara Pak Sukri yang tengah menberi makan ayam peliharaannya pun tak terdengar lagi. Sepertinya sudah selesai atau Pak Sukri sengaja pindah karena tak ingin mengganggu waktu istirahat tamu tamunya.
Mendengar itu, Indi langsung kembali membenamkan dalam dalam kepalanya ke bantal empuk di bawahnya dan kembali menyelami lautan mimpi yang tadi sempat terputus.
Tak jauh berbeda dengan Indi, di sampingnya Bu Maryam pun tampak masih meringkuk tidur. Mereka tidur saling membelakangi dengan selimut masing-masing menutupi tubuh hingga ke kepala. Udara di desa itu benar-benar masih dingin di jam jam seperti ini. Wajar saja karena waktu subuh baru setengah jam yang lalu berlalu.
Tok
Tok
Tok
Terdengar pintu kamar yang di tempati Indi dan Bu Maryam di ketuk. Indi yang masih malas keluar malah semakin mengatupkan matanya acuh seakan suara itu tak ada berharap si pengetuk bisa sadar dan segera pergi meninggalkan kamar.
Tok
Tok
__ADS_1
Tok
Lagi, ternyata pengetuk itu tidak puas dan memang menginginkan salah satu dari mereka bangun dan menemuinya. Indi masih pura-pura tak tahu, agar sang ibu lah yang bangun dan membukakan pintu untuk meminta pengertian pengetuk itu untuk kembali lagi satu jam kemudian. Tapi sepertinya isi pikiran Indi sama dengan Bu Maryam di sampingnya.
Tok
Tok
Tok
"Indi, kalau kamu nggak bangun juga Mas tinggal!"
Srett
Ucapan singkat itu langsung otomatis mengangkat Indi dan Bu Maryam dari pembaringan dengan mata memerah karena masih mengantuk parah.
"Nggak bangun juga beneran Mas tinggal ya, In." Lagi suara Fatan terdengar menekan walau datar dan pelan.
"Indi!" seru Fatan lagi karna tak kunjung mendengar sahutan dari Indi.
Bruk
Gedubruk
Indi bangkit dengan tergesa dan berjalan menuju pintu walau masih malas malassn dan malah menubruk tas miliknya yang dia letakkan sembarangan di bawah ranjang.
Ceklek
Pintu kamarnya terbuka, di depan sana Fatan yang semalam menginap di sofa ruang keluarga tampak sudah rapi dengan air yang masih menetes dari rambut kelimisnya.
"Bangun juga rupanya," desah Fatan yang tadi hampir saja menggetok kepala Indi yang muncul secara tiba-tiba di depan pintu.
"Apaan sih, Mas? Ini masih pagi buta dan kamu udah maksa aku bangun? Jahat banget sih kamu, Mas? Harusnya kamu itu tau kalau aku ini capekkk habis perjalanan kemaren butuh istirahat lebih, malah jam segini udah di suruh bangun. Mana segala ngancem lagi," gerutu Indi sepanjang jalan kenangan.
__ADS_1
Bibirnya maju berpuluh puluh senti, apalagi melihat ke dalam dimana ibunya malah semakin nyenyak tertidur.
"Dara itu bahkan bangunnya lebih lagi dari ini loh, In. Malah subuh, kata kamu bisa jadi lebih baik dari Dara kok sekarang malah mau bangun siang? Terus siapa dong nantinya yang bakalan ngurus kebutuhan aku kalau jam segini aja kamu masih minta tidur lagi?" sanggah Fatan datar namun dalam.
Mata Indi yang tadinya sepet dan berat sekali untuk terbuka seketika langsung menjadi melebar dan melotot demi mendengar bagaimana Fatan mulai membandingkan dia dan Dara.
"Kenapa harus bawa bawa Mbak Dara sih?" omel Indi sambil melangkah melewati Fatan menuju kamar mandi yang letaknya tak jauh dari posisi mereka berdiri.
Sembari menunggu Indi selesai di kamar mandi, Fatan duduk di meja makan dimana sudah tersedia segelas teh hangat dan sepiring pisang rebus. Sarapan sederhana khas orang desa yang harganya sangat mahal di luar negeri sana.
Ceklek.
Pintu kamar mandi terbuka, Indi yang sudah menyegarkan wajahnya di dalam sana langsung menuju meja makan. Seperti biasa saat dulu di rumah Dara setiap bangun tidur dia hanya harus melangkah ke meja makan dan perutnya akan segera kenyang.
"Loh, ini apa, Mas? Mana sarapannya?" dengus Indi sambil mengangkat piring berisi pisang rebus dan kembali membantingnya kasar ke atas meja makan yang terbuat dari kaca itu hingga menimbulkan bunyi berdenting yang cukup keras.
Mata Fatan membelalak marah, pisang yang tengah di kunyahnya sambil melihat pemandangan di luar dapur rumah Pak Sukri langsung di buangnya begitu saja.
Indi mundur, karna merasa takut di tatap demikian oleh Fatan. Sebenarnya dia pun sadar kalau kelakuannya adalah salah, apalagi ini rumah orang lain yang tidak dia kenal, namun ya namanya juga Indi dimana ada dia harus selalu ada masalah bukan?.
"Apa yang kamu lakukan, In? Bicara apa kamu tadi hah?" dengus Fatan sambil menekan Indi ke belakang.
Indi terus mundur hingga tubuhnya menabrak tembok dan tak bisa kemana mana lagi. Tatapan Fatan semakin mengintimidasi membuat Indi takut bukan main, inilah sisi Fatan yang bahkan dia pun baru tau. Betapa takutnya Indi kini bahkan hingga bahunya bergetar hebat.
"Ingat siapa kamu di sini, Indi. Ini bukan rumah kamu. Kamu tidak bisa seenaknya memerintah orang untuk melayani kamu di sini. Kamu bukan ratu dan mereka bukan dayang dayang kamu. Paham itu? Sekarang bangunlah, dan lakukan tugasmu sebagai mana mestinya, tidak ada yang memintamu jadi nyonya di sini," desis Fatan tepat di samping telinga Indi.
Deru nafas panas itu pun terasa begitu menghangat di tengkuk dan wajahnya.
Indi memejamkan matanya dan berkali kali menggelengkan kepalanya panik. Indi ingin berteriak minta tolong tapi suaranya seolah tercekat di tenggorokan.
Indi mencoba mendongak, dan betapa terkejutnya ia ketika melihat seorang gadis melangkah gemulai di sisi Fatan, dan menggelendot manja di lengan lelaki tersebut. Dan parahnya lagi, gadis itu membawa sebilah pisau yang tampak berkilat lalu dia serahkan pada Fatan. Indi bahkan tak sempat mengambil nafas saat melihat bilah pisau itu mulai melesat ke arahnya.
"Aaaaahhhhhhh tidakkkk!"
__ADS_1