TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 136. PERISTIWA TAK TERDUGA.


__ADS_3

"Saya terima nikah dan kawinnya Laila binti almarhum Gunawan, dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan perhiasan emas seberat 20 gram di bayar tunai."


"Bagaimana saksi?"


"Sahh!"


Halim menangkup tangannya di wajah, usai sudah perjuangannya mendapatkan sang pujaan hati yang kini duduk tersipu di sampingnya.


Halim menyodorkan tangannya pada Laila dan perempuan manis yang tampak sangat cantik dengan riasan ala pengantin di wajahnya itu menyambut tangan Halim lalu menciumnya takzim. Perlahan Halim pun mengecup kening wanita yang sudah sah dan halal menjadi istrinya itu.


Setelah itu penghulu mulai memulai proses selanjutnya, dan akhirnya Halim dan Laila sah menjadi pasangan suami istri di mata agama dan negara.


Namun saat baru saja hendak memulai acara selanjutnya yaitu mendengarkan ceramah dari seorang ustadz yang di undang untuk mengisi acara, terdengar jeritan tertahan dari arah belakang pengantin.


"Ya Allah! Jeng Hana! Jeng bangun, jeng. Tolong bantu angkat, jeng Hana pingsan." Bu Ambar tampak panik sambil meminta bantuan orang orang untuk mengangkat tubuh Bu Hana menuju ke dalam rumah Laila.


Laila tampak panik, sejak tadi pikirannya memang tak tenang dengan sikap Bu Hana yang berbeda sejak melihat foto orang tuanya tadi sore.


"Mas, Laila mau lihat ibu dulu ya." Laila mengangkat bagian bawah gaunnya sudah hendak beranjak masuk ke dalam rumah mengikuti orang orang yang mengangkat ibu mertuanya.


"Tunggu, dek." Halim menahan tangan Laila membuat perempuan itu berhenti dan menatap pria yang baru saja sah menyandang gelar suaminya itu.


"Tapi, Mas ...."


Laila baru akan melayangkan protes saat Halim meletakkan telunjuknya di bibir dan menarik tangan Laila lagi agar duduk kembali di sebelahnya.


"Kamu di sini saja, ibu sudah ada yang ngurus di sana. Kamu tenang saja ya, sayang." Halim berkata dengan setengah berbisik.


Laila menarik nafas dalam dan terpaksa menuruti perkataan Halim, karna walau bagaimanapun sekarang Halim lebih berhak atasnya dan atas semua urusan yang boleh dan tidak boleh dia lakukan.


"Laila khawatir, Mas." Laila kembali menyampaikan perasaannya pada sang suami.


Halim mengelus punggung istrinya pelan, sembari tersenyum manis. Sedangkan acara kembali di lanjutkan oleh sang pemandu acara.


"Insyaallah ibu nggak akan kenapa kenapa, sayang. Mungkin ibu cuma terlalu terharu melihat pernikahan kita, makanya sampai pingsan."


Laila mengangguk, membenarkan apa yang di katakan Halim bisa jadi ada benarnya. Terlebih memang Bu Hana sudah lama mengharapkan pernikahan Halim dan Laila. Jadi bisa saja beliau terlalu senang hingga akhirnya pingsan.


Sementara itu di dalam rumah Laila.


"Baringkan di sini saja, supaya tidak mengganggu jalan," titah Bu Ambar sambil menunjuk sebuah sudut ruangan yang tampak lega dan jauh dari tempat lalu lalang orang.

__ADS_1


Orang orang yang membantu menggotong tubuh Bu Hana menurut, dan perlahan meletakkan tubuh lemah itu ke tempat yang di tunjuk Bu Ambar. Elis datang tergesa-gesa sambil membawa sebuah bantal dan memberikannya pada Bu Ambar, si kembar yang terus membuntutinya tampak kebingungan.


"Lis, kamu ajak si kembar. Biar di sini saya yang urus ya," titah Bu Ambar lagi, Elis mengangguk dan langsung menggandeng tangan si kembar dan menbawa mereka keluar untuk mengambil panganan hidangan yang ada di tempat acara.


Setelah beberapa saat mengoleskan minyak angin dan memijat beberapa bagian tubuh Bu Hana, akhirnya Bu Hana mulai sadar, matanya memindai sekitar dengan tatapan buram. Perlu beberapa saat untuk dirinya bisa menyesuaikan diri dengan cahaya lampu di sekitar yang menyilaukan matanya.


"Jeng, sampean baik-baik saja?" tanya Bu Ambar dengan wajah cemas, sambil mengusap usap punggung Bu Hana yang sudah bangkit dan duduk.


Melihat banyaknya orang yang kini mengelilinginya, Bu Hana hanya mengangguk dan memilih untuk tak buka suara.


Seakan mengerti, Bu Ambar menatap para ibu ibu tetangga yang tadi membantunya mengangkat Bu Hana dan tersenyum kecil.


"Ibu ibu, terima kasih ya sudah membantu saya. Sekarang karna Bu Hana sudah sadar, silahkan kalau ibu ibu mau pergi ke depan kembali kebetulan acara sudah di mulai kembali itu."


"Ya sudah, nanti kalau butuh apa apa lagi panggil saja ya, Bu. Kita ini akan tetangga, tidak usah sungkan ya." sahut salah satu ibu ibu dan di setujui oleh yang lainnya. Setelah itu mereka semua pun bubar dan kembali ke depan rumah dimana acara sudah kembali berjalan dengan ceramah agama yang di sampaikan oleh ustadz muda nan menawan idola ibu ibu untuk jadi menantu.


"Terima kasih ya, Jeng." Bu Hana mengelus tangan Bu Ambar dengan tatapan nanar nan tulus. Sisa jejak air mata masih tampak di ke dua kelopak matanya.


Bu Ambar balas menepuk pelan tangan Bu Hana, dan tersenyum lebar padanya.


"Sama-sama, Jeng. Sudah seharusnya sebagai tetangga kita saling membantu," sahut Bu Ambar lembut.


Bu Hana mengangguk pelan dan kemudian terdiam, matanya tampak menatap kosong ke arah tembok di hadapannya.


Bu Hana menoleh dan tersenyum kecil .


"Hanya masalah kecil, bukan apa apa."


Bu Ambar mengangguk, sadar kalau Bu Hana sepertinya enggan mengungkapkan kegelisahannya. Dan bukan ranahnya juga untuk turut campur.


Saat tengah saling diam sambil mendengarkan ceramah sang ustad yang terdengar hingga ke dalam rumah. Tiba tiba Zaki masuk pula ke dalam rumah Laila sambil memapah Dara yang terlihat lemas.


"Lololoh, Zaki. Ini Dara kenapa?" tanya Bu Ambar sambil menyongsong kedatangan anak dan menantunya itu dan membantu membaringkan Dara tak jauh dari tempat Bu Hana.


Dara tergolek lemah dengan mata tampak basah.


"Mual lagi, Bun. Tadi semua yang ada di meja di makanin, eh pas lihat orang lewat bawa soto langsung mual terus muntah muntah di irigasi," adu Zaki sambil mengusap usap tangan Dara yang terasa dingin.


Bu Ambar mengambil minyak angin yang tadi di gunakan untuk Bu Hana dan mengoleskannya pula di bawah hidung, juga telapak tangan dan kaki Dara. Dara tampak mengerang sambil memegangi perutnya.


"Mas ...," lirihnya dengan suara tertahan.

__ADS_1


Zaki lekas mendekat dan memangku kepala istrinya.


"Kenapa, sayang? Ada yang tidak enak?" tanyanya sabar.


Dara perlahan membuka mata, dan sontak tangannya langsung menutupi mulut.


"Kamu bau, Mas," keluh Dara sekenanya.


Zaki terkesiap dan langsung menciumi kedua keteknya, lalu memasang wajah kesal.


"Kamu bohong ya, Sayang? Mas wangi gini kok, kan tadi kamu yang pakein Mas parfumnya, kamu juga yang pilih parfum ini kan?" rajuk Zaki.


Dara bangkit dan melipat kedua tangannya di dada.


"Jadi Mas nggak percaya sama aku, bunda lihat ini Mas Zaki." Dara malah mengadukan sang suami pada ibu mertuanya, dan sontak saja Bu Ambar memelototkan matanya pada sang putra.


Zaki mendengus sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Hah, nasib urusan sama perempuan ya begini. Semoga aja itu pengantin baru nanti nggak stress," gumam Zaki mulai mencemaskan nasib Halim yang akan di kelilingi  wanita setelah ini.


"Kamu bilang apa, Mas?" sentak Dara dengan raut wajah kesal.


"Eh, nggak kok, sayang. Ya sudah sekarang kita pulang aja ya, nanti malah mual lagi kalau masih di sini. Makanya tadi Mas larang kamu mau ikut itu ya karna nggak mau begini kejadiannya, maksa sih." Zaki mulai berani protes.


Dara langsung cemberut mendengar protes Zaki dan langsung berdiri sambil menghentakkan kakinya.


"Ya udah deh! Kita pulang tapi bungkusin dulu dodol yang ada di depan itu ya. Anak kamu mau itu loh, Mas."


Zaki lagi lagi mendesah, namun jika di jawab akan semakin panjang nanti urusannya. Jadi Zaki memilih menurut saja.


"Buruan ambilkan Zaki, bunda nggak mau calon cucu bunda nanti ngences!" titah Bu ambar pula, sukses membuat Zaki semakin tertekan di ujung malamnya.


Sambil menahan malu, Zaki memasukkan potongan potongan dodol jenang ala nikahan adat Jawa itu ke dalam plastik yang tadi di mintanya pada Elis. Walaupun tuan rumah mengizinkannya namun tatapan mata aneh para tamu undangan lain sukses membuat Zaki menahan malu walau tak di akui.


"Duh Gusti, semoga nanti anakku sikapnya nggak seribet Mamanya, amin." Zaki berdoa sambil menyuapkan sepotong dodol ke mulutnya.


"Loh kok rasa dodolnya aneh?" gumam Zaki sambil mengunyah isi mulutnya.


"Loh, Mas? Kamu ngapain makan sisa lengkuas di piring itu? Itu kan bekas makan rendang si kembar tadi?" ucap Elis yang terheran-heran dengan tingkah Zaki.


Sontak Zaki melotot dan mengeluarkan sesuatu di dalam mulutnya yang ternyata memang lengkuas itu.

__ADS_1


"Ini siapa yang naruh piring dodol dekatan sama bekas makannya si kembar sih?" keluhnya sambil meratapi nasib sialnya.


__ADS_2