TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 207. PENIPU.


__ADS_3

Ke esokan harinya.


"Mas, mau kemana?" tanya Dara yang tengah menyirami bunga bunga tanamannya di teras saat melihat Zaki terburu buru memakai sandalnya seperti hendak keluar.


"Mau ke sebelah, ke rumah bu Zaenab. Mau tanya langsung sama dia buat apa dia minta uang lagi ke kamu, sementara dua hari lalu udah aku kasih sepuluh juta," timpal Zaki dengan wajah terlihat kesal.


 Dara mendesah, lalu mendekati Zaki dan memegang tangannya.


"Sudahlah, Mas nggak perlu. Mungkin memang benar Bu Zaenab lagi butuh karna Pak Jamal belum bisa kerja, sudah biarkan saja dulu itu. Nanti, semisal dia datang lagi dan minta uang lagi dengan alasan yang mengada ada baru kita selidiki lebih jauh sebenarnya uang itu dia gunakan untuk apa," bujuk Dara yang tak ingin suaminya terlibat keributan pagi pagi begini, apalagi suasananya sedang adem tidak cocok sekali semisal harus cecok di pagi yang indah ini.


 Zaki akhirnya mengalah, kembali melepas sandal dan naik ke teras. "Hah, ya sudah terserah kamu saja, sayang. Tapi nanti kalau sampai Bu Zaenab datang lagi harus di tanya betul betul ya uang yang kemarin buat apa, dan kalau dia mau minta lagi sebaiknya jangan di kasih. Sudah kelewatan itu namanya," omel Zaki lagi.


 Dara mengangguk sembari tersenyum kecil. "Iya, iya. Ya sudah kita masuk yuk, mau bikin sarapan buat anak anak."


 Zaki mengangguk, mengikuti langkah Dara yang beranjak masuk ke dalam rumah.


"Dara, Zaki!"


 Sebuah seruan mengagetkan Dara dan Zaki yang baru saja melewati pintu, sontak keduanya berbalik dan mendapati wajah sumringah Bu Ambar yang datang dengan masih mengenakan pakaian olah raga, seperti wanita paruh baya yang sudah menjadi nenek itu baru saja mengikuti senam yang kerap di adakan ibu ibu komplek mereka.


"Assalamu'alaikum," ucap Bu Ambar sembari naik teras.


"Wa'alaikumsalam," sahut Zaki dan Dara bersamaan.


"Bunda habis dari mana? Tumben pagi pagi udah ke sini?" tanya Dara sembari menyalami tangan ibu mertuanya itu, di ikuti Zaki setelahnya.


"Biasa, habis senam. Sudah lama nggak olah raga rasanya badan pada kaku, oh iya ini ada kue kue sama nasi uduk tadi bunda beli di warungnya si Indi, adik kamu. Tahu nggak kalo dia sekarang buka warung kecil gitu, jualan sarapan pagi," papar Bu Ambar menggebu gebu.


 Dara yang memang baru mendengar berita tersebut tampak terkejut, lalu mengambil kantong plastik berisi kue dan bungkusan nasi uduk yang di bungkus kertas nasi yang di sodorkan Bu Ambar padanya.


"Wah, Alhamdulillah kalau begitu ya, Bun. Sekarang Indi sudah bisa mandiri, dengan begitu dia nggak akan perlu bergantung lagi sama Mas Fatan yang nggak jelas itu," timpal Dara lagi sambil melangkah menuju dapur rumahnya, sedang Zaki sudah lebih dulu duduk di meja makan.


"Iya, dan lagi kan dengan begitu dia nggak akan ngerepotin kamu lagi kalau ada apa apa. Sudah biarin aja dia, toh kayanya dia seneng kok jualan bisa jadi kesibukannya juga kan? Kita bantu doa dan bantu beli dagangannya aja," imbuh Bu Ambar lagi sembari mengambil tempat duduk tak jauh dari Zaki.


 Dara mengulum senyum, tak lagi ingin menanggapi ucapan ibu mertuanya. Sebab Bu Ambar masih sedikit sensitif jika membahas tentang Indi, mungkin masih ada rasa kesal yang tersisa perihal peristiwa dulu, entahlah mungkin saja.


  Dara menyiapkan piring dan seteko teh hangat untuk semuanya, tak lama anak anak bangun dan langsung di ajak sarapan bersama oleh Bu Ambar.


"Dara, anak anak bunda ajak ke rumah ya hari ini kebetulan lagi senggang juga. Nanti Elis suruh nyusul ke rumah bunda aja ya," ucap Bu Ambar setelah menghabiskan sarapannya dan membantu Dara menbereskan piring kotor dan sampah bekas bungkusan nasinya.


"Boleh saja, Bun asal nggak ngerepotin bunda," sahut Dara yang masih sibuk mencuci piring padahal sudah di larang oleh Zaki, tapi masih saja di lakukan Dara karna berdalih ingin banyak bergerak.


"Nggak lah, mana ada ngerepotin. Wong si kembar ya cucu Bunda sendiri kok." Bu Ambar tersenyum melihat si kembar yang tampak lahap memakan menu sarapan yang di beli di tempat Indi, tapi tak ada yang membahas tentang itu karna khawatir Fatur jadi enggan makan karna masih tak menyukai Indi.


 Setelah si kembar menghabiskan sarapannya, Elis datang dan langsung di minta memandikan si kembar oleh Bu Ambar agar bisa lekas bersiap siap dan menuju rumahnya.

__ADS_1


Tok


Tok


Tok


"Assalamu'alaikum, Mbak Dara! Assalamu'alaikum, Mbak! Mbak Dara! Ooh, Mbak!"


 Seruan di pintu dengan membuat Dara langsung menghela nafas, bukan karena apa tapi dia sudah hapal dengan suara siapa yang tengah memanggilnya dengan sangat bersemangat sepagi itu.


"Mas," ucap Dara sembari menatap Zaki yang juga tengah mendengarkan panggilan dan ketukan yang setiap gedoran di pintu rumahnya.


"Biar Mas aja," jawab Zaki sambil beranjak menuju pintu depan.


 Namun baru saja melangkah sampai ke ruang keluarga tampak pintu depan sudah terbuka, rupanya Bu Ambar lah yang membukanya karna sejak tadi ketukannya memang berisik sekali sudah seperti anak buah rentenir yang datang menagih hutang.


"Wa'alaikumsalam, eh? Zaenab? Ngapain kamu gedor gedor rumah menantu saya?" tanya Bu Ambar dengan nada tak suka, apalagi melihat kelakuan Bu Zaenab yang seperti tak punya adab, bertamu tapi maksa kesannya. Untung saja engsel pintu rumah Dara tidak lepas karenanya.


 Bu zaenab cengengesan, apalagi kala tahu yang menyambutnya bukankah Dara tapi ibu mertuanya yang lumayan dia segani.


"Siapa, Bun?" tanya Zaki dari belakang tubuh Bu Ambar, sebenernya dia sudah tahu kalau yang datang adalah Bu Zaenab tapi sengaja bertanya sebab ingin melihat ekspresi Bu Zaenab kala itu.


Dan benar saja, Bu Zaenab tampak semakin salah tingkah. Beberapa kali dia tampak memandangi gerbang yang terbuka seolah ingin terbang ke sana melipir dari hadapan dua orang yang sedang menatapnya tajam itu.


"Ini, Bu Zaenab tumben sekali ke sini pagi pagi. Biasanya juga nggak pernah, gimana suamimu? Sudah sehat? Kemarin saya dengar sudah keluar dari rumah sakit, dan biayanya juga sudah di bayar oleh anak saya kan?" cecar Bu Ambar yang sepertinya mulai tau tujuan Bu Zaenab datang sepagi ini ke rumah menantunya.


"Pak Jamal sudah pulang dari rumah sakit dari kemarin, Bun. Sudah satu minggu ini ada di rumah kok, oh iya gimana kalau kita jenguk saja, Bun? Kebetulan Zaki belum sempat jenguk," tutur Zaki sambil menatap wajah Bu Zaenab yang mendadak pias.


"Boleh juga, gimana kalau sekarang aja kita ke rumah bu Zaenab jenguk Pak Jamal?" imbuh Bu Ambar pula, semakin membuat Bu Zaenab salah tingkah mendengarnya.


"Eh eh eh , jangan! Eh, ma- maksud saya ... emmmm, jangan di jenguk sekarang," sela Bu Zaenab tiba tiba.


 Zaki dan Bu Ambar langsung saling pandang, sudah mereka duga tanggapan Bu Zaenab akan seperti itu.


"Loh, kenapa nggak boleh, Bu? Kan suaminya sudah keluar dari rumah sakit, masa nggak boleh di jenguk? Pak Jamal ada di rumah kan? Tapi katanya kemarin masih pusing dan belum bisa kerja," sambar Zaki semakin memanas manasi keadaan.


"Ah, eh i- iya iya memang benar kok. Suami saya memang belum kuat buat kerja dan masih istirahat di rumah. Makanya itu saya datang ke sini lagi," jawab Bu Zaenab cepat.


"He? Suami masih belum sembuh benar kok hubungannya jadi ke sini, Bu Zaenab?" tanya Bu Ambar menatap lekat wajah wanita yang suka memamerkan barang barang yang dia punya itu, tak dapat di lupakan Bu Ambar kala dulu dia dengan bangganya memamerkan tanaman janda bolong yang pada akhirnya rusak dan mati karna di tabrak motornya Hans.


 Bu zaenab gelagapan ,terlebih karna selama ini Bu Ambar tak pernah tahu mengenai uang yang kerap dia minta pada Dara dan Zaki dengan dalih untuk nafkah mereka selama suaminya belum bisa bekerja.


"Eh, anu itu ... duh gimana ya, itu loh bu Ambar ... anu ... hmmmm," gugup Bu Zaenab tak kunjung mendapatkan kata yang tepat untuk mengatakan niatnya pada Bu Ambar yang menatapnya semakin sinis.


"Kenapa malah jadi gugup, Bu Zaenab? Apa karna tujuan ibu ke sini itu karna mau minta uang sama anak menantu saya ya? Ibu msh morotin mereka begitu?" sambar Bu Ambar dengan mata melotot kesal .

__ADS_1


 Bu Zaenab tampak menelan ludahnya dengan susah payah, namun sejurus kemudian langsung mengulas senyum seolah tak terjadi apa apa.


"Ah ehmmmm, iya Bu ambar. Kan Bu Ambar tahu sendiri suami saya belum bisa kerja, jadi nggak ada yang cari nafkah buat kami. Sedangkan setiap hari kebutuhan selalu harus di beli kan? Jadi setidaknya saya ke sini pengen minta sedikit dari Dara dan Zaki sebab suami saya jadi begitu kan karna nolong anak mereka juga, saya nggak salah kan Bu Ambar kalau minta tolong Dara dan Zaki mencukupi kebutuhan kami sampai suami saya bisa kerja lagi?"tutur Bu Zaenab mengeluarkan kata kata pamungkasnya, berharap Bu Ambar pun bisa terpengaruh seperti Dara sebelumnya.


 Zaki menggeleng jengah, menyadari betapa liciknya tetangganya ini. Selalu ingin mengambil kesempatan dalam kesempitan dengan menjual nama suaminya yang bahkan saat di rumah sakit menolak pemberian Zaki dan Dara karna merasa sudah seharusnya saling menolong. Entah Pak Jamal itu dapat dimana istri modelan Bu Zaenab ini, bahkan Zaki yang hanya sebagai tetangganya saja malu dengan sikapnya.


"Nggak, Bu Zaenab nggak salah." Bu Ambar tersenyum miring, dan juga menerbitkan senyum di wajah Bu Zaenab yang sebelumnya tengah berakting sedih.


 Kini sorot mata itu tampak berbinar membayangkan lagi lagi akan mendapatkan uang dari keluarga Dara yang menurutnya sangat mudah di bodoh bodohi.


"Kalau begitu, berarti saya bisa dong minta dua juta lagi buat saya dan suami saya selama seminggu, Bu? Kebetulan semua barang kebutuhan di rumah saya sudah pada habis, dan saya juga harus beli obat lagi buat suami saya supaya cepat sembuh," lontar Bu Zaenab dengan entengnya, sama sekali tak mengindahkan Zaki yang kini menatapnya dengan tatapan tak percaya.


"Oooohhhhh," timpal Bu Ambar seolah tak peduli, tapi Bu zaenab sepertinya belum menyadari itu bahkan kini dengan santainya dia menadahkan tangannya di hadapan Bu Ambar.


"Apa, saya bisa dapat uangnya sekarang, Bu? Biar saya langsung ke belanja dan beli obat lagi buat suami saya, kasihan dia dari semalam kayak kesakitan di bekas jahitan di kepalanya karna obatnya dari semalam sudah habis," pungkas Bu zaenab yang lebih serupa rengekan.


 Zaki tak tahan lagi dengan semua drama yang di buat Bu Zaenab, jadi dengan nafas memburu dia merangsek maju dan menarik tangan Bu zaenab yang terapung di udara tepat di hadapan ibunya.


"Sebelum itu jelaskan dulu kemana uang sepuluh juta yang dua hari lalu ibu minta padaku dengan alasan yang sama, dan kemana juga uang dua juta yang ibu minta pada Dara, istriku dengan alasan yang sama. Lalu, sekarang dengan menjual alasan yang lebih dramatis lagi ibu berusaha mengelabui bundaku? Mau ibu itu apa sih?" sentak Zaki dengan mata memerah karna amarah yang di tahannya.


 Sedang Bu Ambar tampak terkejut dengan nominal yang baru saja di katakan Zaki, dia baru tahu kalau rupanya wanita di hadapannya itu sudah berhasil memoroti uang anak dan menantunya lebih dulu sejak kemarin.


 "Ah, itu emmm itu ... anu, anu ... hmmmm." Bu Zaenab tampak salah tingkah, terlebih sebenarnya memang dia hanya berniat memanfaatkan keadaan untuk keuntungannya semata bukan karna benar benar di desak kebutuhan.


"Jadi sebenernya kamu itu hanya mau memanfaatkan kebaikan anak dan menantu ku saja ya, Zaenab? Dasar Li cik kamu!" bentak Bu Ambar kesal, dia menunjuk wajah Bu zaenab yang pias hingga wanita berjilbab hitam itu tertunduk malu.


"T- tidak kok, saya mengatakan yang sesungguhnya. Saya memang benar-benar butuh uang buat kebutuhan rumah dan beli obat suami saya," ucap Bu Zaenab dengan suara pelan tapi masih jelas di dengar.


 Zaki menepuk jidatnya dengan sebelah tangannya yang bebas, sedang sebelah tangannya lagi masih dia gunakan untuk memegangi tangan Bu Zaenab yang sejak tadi memberontak mencoba kabur.


"Oooh, jadi itu yang sebenarnya ya? Suami kamu benar benar nggak bisa bangun sekarang? Dan belum bisa bekerja juga?" sergah Bu Ambar dengan wajah merah.


 Bu Zaenab mengangguk cepat membenarkan.


"Kalau begitu sekarang jelaskan pada kami siapa itu?" imbuh Bu Ambar lagi sembari menunjuk ke arah pagar rumah yang terbuka.


 Bu Zaenab menoleh dan betapa terkejutnya ia kala mendapati wajah marah suaminya sudah menunggunya di sana.


"Dasar istri tak tahu malu!" desis Pak Jamal dengan wajah merah padam menahan malu dan amarah. Sedang Bu Zaenab tampak gemetar di tempatnya seolah baru saja melihat setan.


"Bagaimana Zaenab? Alasan apa lagi yang mau kau buat sekarang?" ucap Bu Ambar dengan sinis .


 Bu Zaenab segera melepas pegangan tangan Zaki di pergelangan tangannya, dan berlari menuju suaminya yang telah berlalu meninggalkan halaman rumah Dara sejak Bu Zaenab melihatnya tadi.


"Pak tunggu, Pak tolong dengarkan penjelasan ibu dulu!" pekik Bu Zaenab memburu suaminya.

__ADS_1


"Hei! Jangan lupa kembalikan uang anak dan menantu ku, penipu!" teriak Bu Ambar pula, yang dia yakin pasti di dengar oleh Bu Zaenab walau tak di jawab.


__ADS_2