
"In, Indi ... In! Kamu nggak apa-apa?" Fatan menggoyangkan tangannya di depan wajah Indi yang tampak melamun.
Deg
Indi gelagapan, bingung dengan apa yang baru saja terjadi. Tapi perih di kakinya mampu mengendalikan kesadarannya.
"Eh, apa Mas?" tanya Indi setelah sadar.
'yah, cuma haluku rupanya. Kirain ....' batin Indi merutuki otaknya yang kotor.
Fatan membereskan peralatan p3k yang tadi dipakainya, dan meletakkannya kembali ke tempat asalnya.
"Mas pergi jemput si kembar dulu ya, kamu nggak papa kan di rumah sendiri?"
Indi mengangguk. "Iya nggak papa, Mas."
"Kalau gitu Mas pergi dulu, kamu jangan lupa ganti baju nanti masuk angin," ujar Fatan sambil berlalu keluar rumah.
Tak lama deru mobil terdengar menjauh dari rumah, Indi beranjak dan melangkah gontai menuju kamarnya.
Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian Indi membaringkan tubuhnya di atas kasur.
"Aduh ..., bisa gila aku kalo kayak gini terus! Mas Fatan! Bisa nggak sih jangan terus-terusan lari-lari di kepalaku? Damage mu nggak nahan Mas, tapi sayangnya kamu milik Mbak ku," omel Indi sambil bergulingan di atas kasur.
Indi berhenti sejenak untuk menarik nafas, tak sengaja matanya tertumpu pada tas yang selalu di bawanya jika ke kampus.
Sreett
Tas itu kini berpindah ke pangkuan Indi, perlahan Indi mengeluarkan kotak ponsel yang tadi pagi di berikan Fatan padanya.
Indi memeluk kotak itu erat, sambil membayangkan kalau dia bisa memiliki orang yang memberikannya sama seperti dia memiliki ponsel itu sekarang.
"Andai aja ya, Mas? Tapi sayangnya cuma bisa andai ..., takdir kita nggak sejalan. Dan aku nggak tau harus gimana dengan perasaan aneh ini sekarang," desah Indi.
Indi mulai membuka kotak ponsel itu dengan hati-hati, senyumnya terkembang sempurna saat sebuah ponsel mata tiga terpampang nyata di hadapannya.
"Waawww! Ini kan mahal banget! Seriusan ini Mas Fatan beliin buat aku?" pekik Indi senang.
Bahkan tubuhnya sampai melonjak-lonjak di atas kasur sambil memeluk ponsel berwarna putih itu dengan riang.
"Tapi tunggu-tunggu, ini hape kan pasti mahal banget kan ya? Masa iya Mas Fatan ngasih ini secara cuma-cuma buat aku? Apa jangan-jangan ...?"
****
__ADS_1
Keluarga Dara tengah menikmati makan malam yang menyenangkan bersama.
Indi sudah tampak bersemangat, membuat Dara turut lega di buatnya.
"Seneng banget kayaknya, Dek?" tanya Dara penasaran.
Senyum Indi yang sejak tadi terkembang menjadi semakin lebar saat Dara bertanya.
"Nggak papa kok, Mbak," sahutnya sambil melirik Fatan sekilas.
Merasa dilirik Farah hanya tersenyum tipis dan kembali sibuk membantu si kembar makan.
"Oh iya In, nanti kamu ke kamar Mbak ya. Ambil aja laptopnya di dalam lemari, abis ini Mbak mau ke tetangga dulu ada urusan sedikit," titah Dara sembari membereskan piring makannya yang sudah kosong isinya itu.
"Wah, jadi beneran ya Mbak? Asiik aku kira tadi cuma mau nyenengin aku aja," kekeh Indi seraya berdiri dan beranjak membantu Dara membereskan meja makan.
Fatan dan si kembar sudah selesai makan dilanjutkan dengan dongeng malam dari Fatan untuk si kembar.
"Nanti ambil aja ya, inget jangan di berantakin lemari Mbak. Tas laptopnya warna pink jangan salah ambil ya, yang hitam punya Mas Fatan soalnya." Dara mengelap tangannya sembari memberitahu Indi.
"Siap nyonya besar," ledek Indi sambil tertawa.
Dara hanya tersenyum simpul sambil geleng-geleng kepala melihat tingkah polah adik bungsunya itu.
Khimar lebarnya berkibar saat dia berjalan, menguarkan aroma wangi dari pewangi pakaian yang dipakainya. Tampak elegan dan anggun di mata Indi walau hanya melihat kakaknya dari belakang.
"Mbak Dara bisa cantik banget sih? Padahal bajunya kayak ibu-ibu pengajian loh," celetuk Indi sambil terus memperhatikan Dara yang sudah menghilang di balik pintu keluar.
Setelah Dara pergi, Indi bergegas masuk ke dalam kamarnya dan membuka lemari untuk mencari laptop yang dimaksud Dara.
"Nah, ini dia," gumam Indi tersenyum.
Setelah menutup kembali pintu lemari Indi hendak langsung keluar, namun ....
Brugh
"Aww." Indi memegangi kakinya yang kembali terasa perih setelah bertabrakan dengan Fatan di depan pintu.
"Eh, maaf maaf In, Mas nggak sengaja. Kamu ngapain di sini? Mbak Dara mana?" tanya Fatan bertubi-tubi.
Indi meringis sambil berusaha bangkit berdiri kembali. Untung saja laptopnya berada di pelukannya, jadi saat Indi jatuh tadi tak langsung membentur lantai.
Fatan mengulurkan tangannya membantu Indi berdiri.
__ADS_1
"Aku mau ambil laptop yang di suruh Mbak Dara tadi, Mas. Mbak Dara udah berangkat ke rumah tetangga tadi katanya, eh pas mau keluar malah dicium pintu," keluh Indi menahan sakit di kakinya.
"Ya udah kalau gitu, saya mau ambil laptop juga kebetulan. Mau nemenin anak-anak di kamar mereka, permisi," ujar Fatan sambil melewati Indi dan mengambil laptopnya di atas meja dan kembali keluar kamar.
Indi membuntuti Fatan dan kemudian berbelok menuju kamarnya sendiri.
" Yeyyy punya laptop, minjem dulu nggak papa lah. Lumayan buat nonton oppa-oppa suamiku," gumam Indi sambil mulai menghidupkan laptop dan mencari-cari film drakor kesukaannya.
Cukup lama menonton, Indi mulai merasa tak nyaman di kamarnya karena terasa gerah.
"Duh, sumuknya. Pindah ke depan ah." Indi berganti pakaian dengan daster payung selutut miliknya dan membawa laptop yang masih menyala itu ke ruang keluarga.
Setelah menghidupkan kipas angin yang ada di sebelah meja tv, Indi kembali membaringkan tubuhnya di karpet bulu dan fokus menonton menggunakan headset.
(Fyi: Indi nggak tahan AC, jadi bisanya pake kipas angin.)
"Uuhh imutnya oppa," ucap Indi sambil membuat ekspresi seperti ingin menerkam ke arah layar laptop.
Indi berganti posisi, mengambil bantal sofa dan meketakkanya di antara pahanya dan satu lagi di bawah dagunya.
Menit demi menit berlalu, cukup lama sudah Indi menonton drakor di laptop itu. Wifi yang kencang di rumah Dara membuat kualitas video dan kecepatannya luar biasa. Membuat Indi betah browsing lama-lama.
Film yang ditontonnya belum habis, tapi Indi sudah mulai menguap beberapa kali. Matanya mulai sayup dan beberapa kali tampak terkantuk-kantuk sampai mukanya tersungkur ke atas bantal.
"Kapan ya? Punya suami kayak mereka? Atau nggak yang kaya mas Fatan aja udah bersyukur banget," gumam Indi mulai mengigau.
Bertepatan dengan itu Fatan baru saja keluar dari kamar si kembar sambil menenteng laptopnya. Matanya tertumbuk pada Indi yang tertidur dalam posisi miring dengan bergulingkan banyak sofa, kipas angin yang mengarah padanya membuat bagian bawah dasternya tersingkap dan menampakkan pahanya yang putih mulus.
Fatan meneguk ludahnya dengan susah payah, tak dipungkiri walau Fatan tipe lelaki setia dan penyayang namun tetap saja melihat hal seperti itu bisa saja membuat imannya goyah.
"Astaghfirullah, astaghfirullahaladzim," desah Fatan menutup matanya sambil berjalan cepat menuju kamar dan menutup pintunya rapat-rapat.
Tidak menegur tidak pula membangunkan Indi, dia sudah cukup gerah hanya dengan melihat posisi ketiduran Indi saat ini.
Tak lama kemudian, terdengar motor Dara memasuki garasi. Disusul dengan bunyi kunci pintu utama yang di buka.
"Astaghfirullah Indi!" pekik Dara saat melihat Indi tertidur dalam posisi yang tidak seharusnya.
Rupanya saat Fatan menutup pintu kamarnya tadi, Indi sempat terganggu dan mengubah posisi tidurnya.
Dengan cemas Dara langsung melempar sesuatu ke arah Indi.
Blugh
__ADS_1
"Awww sakit," rintih Indi mengaduh.