
Hampir satu jam lamanya mereka menunggu di depan ruang operasi, Zaki sudah pamit untuk pulang karna sebentar lagi adalah jam pulang sekolah si kembar dia tidak mau saat pulang anak anaknya mendapati rumah kosong.
Jadilah kini hanya Dara, Bu Maryam dan Fatan yang menunggui Indi yang kini entah bagaimana kondisinya di dalam sana.
"Dara." Bu Maryam memeluk Dara. "Terima kasih," katanya lirih.
Dara balas memeluk Bu Maryam, di rasakannya tubuh tua itu bergetar.
"Sudah, Bu. Yang sudah berlalu tidak perlu lagi di kenang, sekarang kita hanya harus fokus pada Indi semoga dia bisa bertahan dan kembali sehat," pungkas Dara yang terdengar bagai angin sejuk di telinga Bu Maryam.
"Kenapa kamu baik sekali, nduk? Padahal dulu kami sudah begitu keterlaluan sama kamu." Bu Maryam mengangkat wajahnya menatap Dara.
Dara terlihat mengulas senyum. "Karna ibu masih ibu Dara, dan Indi masih adik Dara."
Bu Maryam tergugu mendengar pernyataan Dara, hatinya terenyuh menyadari selama ini orang yang telah dia zolimi malah menjadi orang yang membantunya di saat kesulitan.
Tak berapa lama setelahnya, pintu ruangan operasi tampak terbuka, seorang dokter laki laki keluar dari sana sambil membuka masker hijaunya.
"Bagaimana kondisi anak saya, Dok? Dia baik baik saja kan? Lalu anaknya? Bagaimana juga kondisi anaknya, dok?" cecar Bu Maryam bertubi-tubi.
Dokter itu mengangkat tangan, meminta Bu Maryam untuk tenang. Dara mendekat dan merangkul Bu Maryam dalam dekapannya.
"Sebentar ya, ibu. Biar saya jelaskan dulu." Dokter itu berkata.
"Silahkan, dokter," sahut Dara mempersilahkan.
Dokter muda itu tampak membuang nafas berat sesaat, lalu kembali menatap ke arah Dara dan Bu Maryam yang berdiri tepat di hadapannya.
"Seperti yang kita ketahui, kandungan pasien itu belum waktunya untuk lahir dalam artian kurang bulan. Kondisi bayinya prematur, dengan tubuh yang sebenarnya belum siap untuk bertahan hidup sendiri, jadi kita akan memasukkan ke inkubator sampai nanti kondisi dan berat badannya stabil. Sedangkan ibunya ...."
__ADS_1
Dokter itu menggantung ucapannya membuat Bu Maryam cemas karenanya.
"Ibunya kenapa, dokter? Anak saya kenapa?" seru Bu Maryam tak sabar, jantungnya sudah tak bisa di kontrol hingga dadanya kini terasa sakit akibat terlalu cemas.
Kembali dokter itu menghela nafas berat. "Pasien kondisinya kritis, selain karna kondisinya yang sudah lemah saat tiba di rumah sakit, pasien juga kehilangan banyak darah saat proses operasi. Untuk itu kami memerlukan donor darah untuknya, secepatnya."
"Apa golongan darahnya, dok?" tanya Dara pula.
"Golongan darah pasien, AB. Apa dari keluarga ada yang mempunyai golongan yang sama?"
Bu Maryam dan Dara saling pandang, lalu mereka kompak memandang Fatan yang sejak tadi hanya berdiam diri.
"Ah, eh kenapa melihat aku?" tanyanya pura pura tidak tahu.
Dara berdecak. "Golongan darah kamu kan AB, Mas. Kamu pikir aku lupa?"
"Ta- tapi, tapi aku ... aku ...."
"Fatan! Indi itu sekarang istri kamu! Dia baru saja melahirkan anak kamu, darah daging kalian! Dia bertaruh nyawa untuk itu! Dan sekarang hanya untuk mendonorkan darah kamu ke dia saja kamu nggak mau? Kamu keberatan? Terbuat dari apa hati kamu itu, Fatan?" cerca Bu Maryam dengan berlinang air mata.
Fatan menyugar rambutnya kasar. "Lalu kenapa nggak ibu sendiri saja yang mendonorkan kalau begitu? Kan Indi itu anak ibu!" balas Fatan tampak tak ikhlas jika di minta mendonorkan darahnya untuk sang istri yang kini tengah terbaring lemah di antara hidup dan mati di atas meja operasi.
Bu Maryam menatap Fatan berang. "Kalau golongan darah ku dan Indi sama, tidak perlu kamu berkata seperti itu, dasar suami tidak bertanggung jawab! Kamu hanya mau enaknya saja ternyata bersama Indi, sekarang saat dia butuh bantuan kamu seolah tidak tahu apa apaa, dasar biad*b!"
Fatan mendengus kesal, namun anehnya dia tak lagi berani membantah karna saat itu Dara turut menatap dirinya tajam, seakan mengingatkan dia pada anak buah ayahnya yang psikopat itu.
"Ya ya, baiklah! Biar aku yang donorkan, menyusahkan saja," gerutu Fatan.
"Baik, kalau begitu silahkan ikuti saya," ujar dokter tadi yang ternyata masih setia menyaksikan drama keluarga itu, lumayan kan tontonan gratis buat jadi bahan gosipan sama teman teman dokternya yang lain.
__ADS_1
Bu Maryam bisa menarik nafas lega setelah akhirnya Fatan memasuki sebuah ruangan yang tak jauh dari ruang operasi, dan tak butuh waktu lama akhirnya sekantong darah sudah di bawa seorang suster menuju ke ruang operasi untuk di berikan pada Indi.
"Dok, apa kami sudah boleh menjenguk bayinya Indi?" tanya Dara saat dokter lelaki tadi kembali hendak melewati mereka menuju ruang operasi.
"Ah, bisa sebenarnya. Tapi ... hanya bisa dari luar ruangan, karna kondisinya yang belum sempurna bayinya jadi sangat rentan," terang dokter itu.
Dara terlihat mengangguk setuju, dan Bu Maryam juga tampak sama senangnya.
Setelah itu sng dokter langsung membawa Dara dan Bu Maryam menuju ke ruang khusus bayi, dari sebuah jendela kaca besar mereka di perbolehkan melihat bayi kecil mungil dengan kulit tubuh yang memerah sekali itu, sebab kulit yang yang masih sangat tipis. Bayi itu tampak tertidur, namun pergerakan nafasnya yang naik turun begitu kentara membuat Dara agak takut melihatnya.
"Ya Allah, bayinya kecil sekali," lirih Bu Maryam sambil menyentuh kaca yang berdekatan dengan inkubator si bayi, matanya tampak berkaca-kaca karna tak tega dengan kondisi bayi mungil yang adalah cucunya itu.
"Kita doakan semoga ibu dan bayinya lekas membaik ya, Bu. Supaya bisa segera pulang dan bermain sama ibu," sahut Dara ikut meneteskan air mata karna juga tak tega melihat kondisi bayi Indi.
Bu Maryam mengangguk, setelah itu cukup lama mereka berdiri di sana melihat bayi mungil itu dan hanyut dalam pikirannya masing-masing.
"Dara," panggil Bu Maryam setelah beberapa saat diam dan puas memperhatikan sang cucu.
"Iya, Bu?"
"Sudah berapa bulan kandungan kamu, Nak?"
"Sudah masuk empat bulan, Bu." Dara mengelus perutnya yang agak membuncit itu.
Bu Maryam terlihat menatap perut Dara dengan tatapan nanar.
" Semoga nanti dia terlahir sempurna tanpa kurang apapun ya, kamu punya suami yang baik, semoga bisa mendampingi dan selalu mengerti kamu. Maafkanlah dulu jika dulu Indi pernah sangat menyakiti kamu, mungkin ini teguran untuknya dan ibu," terang Bu Maryam kembali meneteskan air matanya.
"Tentu saja Indi dan ibu mendapat teguran, karena bukan hanya Dara yang dirugikan. Tapi juga aku!"
__ADS_1