
Dara tersentak dari lamunannya, saat merasa tubuh Fatur bergetar. Di tatapnya lekat punggung anaknya itu, dan benar saja ternyata bahu Fatur berguncang hebat di iringi suara isakan yang terdengar memilukan.
"Lis, kamu tolong bawa Farah main di luar dulu ya. Saya mau bicara dulu sama Fatur," titah Dara pada Elis yang tengah menemani Farah bermain dengan bonekanya.
"Iya, Mbak. Yuk Farah, kita main di depan yuk." Elis menggandeng tangan Farah yang menurut saja itu, sedang sebelah tangannya lagi membawa boneka beruang kesayangannya.
Setelah Elis dan Farah keluar, Dara kembali fokus pada sang putra yang kini terlihat lebih leluasa menyuarakan tangisnya terdengar dari isakannya yang semakin santer terdengar.
Dara meletakkan nampan yang berisi makanan itu ke atas nakas, lalu beralih memeluk tubuh putranya dan mengelus punggungnya.
"Maafin Mama ya, Nak maafin Mama karena sudah maksa kamu. Maafin Mama karena sudah nggak mau dengerin kamu, jangan lari lagi ya Mama nggak bisa bayangin kalau yang ketabrak mobil tadi itu benar-benar Fatur. Mama takut sekali," gumam Dara mengatasi tangisan Fatur yang terdengar mulai mereda.
"Kenapa? Kenapa Mama lebih memilih belain Tante Indi yang jelas jelas sudah jahat sama kita ketimbang dengerin Fatur? Fatur memang masih anak kecil, Ma tapi Fatur juga mau di dengar. Fatur tahu apa yang terjadi, semuanya!" isak Fatur terdengar semakin pilu.
Dara ikut meneteskan air matanya mendengar protes dari sang putra, di kiranya Fatur hanya anak berumur enam tahun biasa yang tak akan mengingat apa yang tak penting baginya. Namun rupanya dia salah, Fatur lebih pintar dan bijak ketimbang usianya.
"Maafin Mama, Mama mohon maafin Mama, Nak. Mama salah, Mama nggak kasih kesempatan Fatur buat bicara, Mama minta maaf ya, sayang. Fatur mau kan maafin Mama?" tanya Dara sembari menarik kepalanya dari lengan sang putra yang dia jadikan tumpuan tadi.
Fatur mengelap air mata yang jatuh di wajahnya, beranjak bangun dari tempat tidurnya dan duduk menatap sang ibu dengan lekat.
"Untuk apa Mama minta maaf? Bukan kah orang tua selalu benar?" tanyanya benar benar menohok hati Dara.
Kata kata sederhana yang entah di dapatnya darimana, tapi dampaknya benar benar mengena di relung hati Dara.
Dara bahkan sampai termangu, tak tahu harus berkata bagai mana menjawab pertanyaan anaknya.
"Fatur hanya tidak mau harus serumah dengan Tante Indi lagi, Fatur trauma, Ma Fatur nggak mau hal yang dulu terjadi sama Papa nanti terjadi lagi sama Papa Zaki. Fatur nggak mau, sudah cukup kami kehilangan Papa Fatan, jangan Papa Zaki juga."
Air mata Fatur mengalir seiring dengan rentetan protes yang dia layangkan pada Dara. Sungguh sepatah katapun Dara tak sanggup menjawab setiap kata katanya.
Faturnya, bayi yang dulu begitu dia sayangi dan terus ingin menempel padanya sejak bayi kini sudah pandai menyampaikan rasa kecewanya dengan sangat baik. Entah Dara harus merasa senang atau sedih saat ini, namun yang jelas dia tidak ingin jauh atau sampai kehilangan buah hatinya itu hanya karna masalah sepele.
" Kalau Mama masih bersikeras Tante Indi buat tinggal di sini walau cuma sementara, biar Fatur yang mengalah. Biar Fatur tinggal sama Oma Ambar saja kalau begitu, " ucap Fatur lagi, menghapus sisa air mata yang masih ada di pipinya dan beringsut hendak turun dari ranjangnya.
Dara masih tercenung di tempatnya, hingga saat Fatur mendekati lemari pakaiannya dan mengeluarkan tas sekolahnya dari sana Dara tersadar, dia berlari memeluk sang putra dan memeluknya sangat erat.
__ADS_1
"Tidak! Jangan pergi, sayang Mama nggak sanggup kalau harus berjauhan dari Fatur. Rumah ini nggak akan nyaman kalau nggak ada Fatur, Fatur jangan tinggalin Mama ya."
Fatur baru akan membuka mulutnya, namun dengan segera Dara langsung menyelanya.
"Tante Indi sama nenek sudah nggak ada di rumah ini."
Tampak kerutan di dahi Fatur, matanya tak lepas menatap sang ibu.
" Oh ya? Memangnya kemana? Bukannya Mama mau Tante indi sama nenek tetap di sini?"
Lagi lagi Dara terhenyak, faturnya sangat pintar bukan hanya pandai menyampaikan perasaannya tapi juga pandai memutar balikkan kata kata yang sebelumnya sudah di katakan Dara padanya.
Tapi dengan cepat Dara menggeleng, dia raihnya tangan putranya itu dan menciuminya bertubi tubi.
"Tidak, Nak. Tidak ada yang lebih penting untuk di pertahankan selain anak anak Mama. Mama sayang sekali sama kalian tolong jangan tinggalkan Mama ya," pinta Dara dengan mata berkaca-kaca.
"Mama serius?" Fatur mulai goyah.
Dara mengangguk cepat, dan menempatkan telapak tangan Fatur di pipinya.
Dara menggeleng, lalu mengangkat dua jarinya ke atas.
" Mama serius."
Fatur akhirnya percaya, dan tanpa aba-aba dia menubruk tubuh Dara dan balas memeluknya erat.
"Kita cuma bakalan tinggal sama sama kan , Ma? Mama, Fatur, Farah, Mbak Elis, Papa Zaki, sama Oma Ambar saja?" gumam Fatur di sela pelukan mereka.
Dara melerai pelukannya dan menatap sang putra dengan senyum di wajahnya.
"Ada yang Fatur lupa satu."
"Hum? Siapa?" tanya Fatur bingung.
"Opa Jat? Fatur tidak ingat?"
__ADS_1
Fatur menggeleng dengan wajah polosnya yang lucu. "Opa Jat rumahnya jauh, Mama. Lagipula opa nggak mau tinggal di sini, katanya Opa mau cari Oma baru buat Fatur sama Farah."
Sontak mata Dara kembali membelalak di buat Fatur.
"Apa? Oma baru?" serunya tak habis Fikri.
****
Beberapa waktu setelahnya.
"Pak Jamal, Bu Zaenab saya benar benar minta maaf dan berterima kasih sebesar-besarnya sama bapak dan ibu. Kalau bukan berkat bapak, mungkin saat ini Fatur yang akan terbaring di sini. Saya tidak tahu lagi harus berterima kasih bagaimana pada bapak dan ibu.". Dara menundukkan kepalanya saat bicara pada pak Jamal dan Bu Zaenab saat ini, rasa bersalah merongrong batinnya di barengi dengan rasa syukur yang tiada henti.
Bu Zaenab tampak mendesah berat, sedangkan Pak Jamal yang di hidungnya terpasang selang oksigen itu hanya mengulas senyum tipis.
"Sama sama, Mbak Dara. Saya tidak apa apa kok, jangan khawatir. Yang penting anaknya Mbak Dara selamat," gumam Pak Jamal dengan suara serak.
"Mbak Dara lain kali pintu pagarnya di kunci saja, biar anaknya nggak sembarangan nyebrang lagi. Kan jadi orang lain juga yang kena batunya kalau sudah begini," sambar Bu Zaenab yang memang terkenal judes itu.
Pak Jamal memberi kode pada istrinya, dan Bu Zaenab hanya bersungut-sungut melihatnya.
"Sudah, Mbak Dara. Jangan di masukkan ke hati omongan istri saya, dia memang begitu suka khawatir berlebihan tapi cara penyampaiannya emang agak kurang menyenangkan," timpal Pak Jamal dengan tak enak hati.
Dara tersenyum tipis.
"Lagi pula saya juga tidak apa apa kok, cuma sakit sedikit. Saya kan kuat, seperti Samson," imbuh Pak Jamal yang kini sudah bisa tertawa senang. Padahal masih terbayang di benak Bu Zaenab bagaimana suaminya sampai menangis keras saat tim dokter menjahit luka di kepala dan lengannya tadi siang.
Bu Zaenab hanya mencebik tanpa ingin ikut ikutan lagi.
Dara bangkit dari duduknya dan merogoh tas tangan yang di bawanya, mengeluarkan seseamplop yang isinya lumayan tebal lalu di selipkannya di tangan Pak Jamal.
"Kalau begitu saya pamit dulu ya, Pak Jamal saya mau menemani anak anak di rumah takutnya nyebrang sembarangan lagi. Ini tolong di terima ya Pak, Bu maaf kalau tidak seberapa semoga bapak lekas sembuh. Sekali lagi saya mohon maaf dan terima kasih yang sebanyak-banyaknya, insyaallah besok suami saya akan ke sini lagi sampai Pak Jamal boleh pulang."
"Eh, apa ini Mbak Dara. Tadi sudah di bayarkan rumah sakit sama Pak Zaki, ini lagi nggak usah, nggak usah. Saya nggak mau, Mbak." Pak Jamal berusaha mengembalikan amplop berisi uang itu pada Dara, namun Dara menolak dan tiba tiba saja amplop tersebut berpindah tangan ke tangan Bu Zaenab yang menyambarnya cepat.
"Kalau nggak ada yang mau biar buat saya aja!" ketusnya lalu berbalik membelakangi Dara dan Pak Jamal.
__ADS_1
Pak Jamal hanya bisa tersenyum kecut melihat tingkah istrinya yang mata duitan itu, sedangkan Dara meneruskan niatnya untuk berpamitan.