
Di dalam kantor Tuan Miko.
"Apa?" pekik Sarah yang terdengar begitu kaget.
Matanya bahkan sampai melotot keluar saking kagetnya mendengar penjelasan sang Bapak tentang semuanya.
"Ya, kamu nggk salah denger kok," sahut Pak Jatmika tersenyum penuh arti
Mata Dara semakin membulat. "Bisa-bisanya ya Bapak nyamar pakai nama Miko, Miko siapa lagi coba. Udah tua bau tanah juga."
Pak Jatmika tergelak. "Hahah siapa yang nyamar tho? Bapak kan pake nama asli. Jat -- Miko, bener tho?"
Dara mencebik, sambil memutar tubuhnya untuk melihat si kembar yang tampak asik bermain dan bercanda dengan Halim yang menurut pengakuan Pak Jatmika adalah asisten pribadinya.
Tampak di sana si kembar tertawa cekikikan karna di ajak nonton kartun lucu di TV besar yg ada di ruangan tersebut.
"Gaya sekali tho, Pak? Segala pake Tuan lagi? Biar apa coba?"
Lagi, Pak Jatmika hanya terkekeh.
"Ya biar kamu nggak tau kalo ini kantor Bapak, sekian tahun lamanya Bapak mencoba bangkit sendirian. Tertatih tatih Bapak merangkak naik kembali setelah meninggalnya simbokmu. Semua pahit dan sedih sudah Bapak alami bersama Halim, yang waktu itu Bapak temukan terusir dari rumah orang tuanya. Kami bersama-sama bahu membahu membangun perusahaan ini selama bertahun-tahun sampai akhirnya bisa sebesar yang kamu lihat sekarang."
Dara menarik nafas dalam-dalam, ada haru yang menelusup di rumah kalbunya. Membayangkan semua perjuangan sang Bapak untuk bisa bangkit dari keterpurukan setelah kematian simboknya.
Ingatan tentang simbok berkelebat di benak Dara, seorang yang sejak dulu sangat menyayangi dan memanjakannya. Beliau harus berpulang karna sakit jantung yang di deritanya. Tak terkira sakitnya hati Dara saat dulu simboknya di turunkan dan di masukkan ke liang lahat.
"Hei, kenapa malah nangis? Bapak ngundang kamu ke sini itu bukan buat nangis lagi, kita harus bahagia selalu setelah ini. Bagaimana kalau kalian pindah dan tinggal saja sama Bapak? Toh kamu sudah bercerai dari mantan suamimu, di sana juga kalian hanya sendiri lebih aman kalau kalian bersama Bapak." Pak Jatmika menepuk pundak Dara.
__ADS_1
****
"Mama, tadi asik banget deh Farah sama Fatur main banyak permainan sama km ganteng itu, orangnya baik, pinter dan ramah juga. Kayaknya Fatur juga suka," celetuk Fatur saat mereka kini dalam perjalanan pulang.
Dara menyetir mobil berwarna alpukat miliknya sendiri, sambil tersenyum simpul dia menanggapi ocehan anak-anaknya.
"Jadi Fatur juga mau om itu yang jadi Papanya kalian?" goda Dara menatap mata bening anak-anaknya yang tampak berbinar senang.
Kompak si kembar mengangguk, Dara hanya mendesah sesaat begitu cepat mereka melupakan Fatan hanya karena satu kesalahan yang pernah di lakukannya.
"Aku tidak pernah mengajari apapun pada anak-anak untuk membencimu, Mas. Tapi lihatlah kelakuanmu sendiri lah yang menyebabkan semua ini," gumam Dara kala dia teringat akan Fatan.
Si kembar masih asik berceloteh tentang apa saja yang tadi mereka lakukan bersama Halim, semua tentang Halim terasa begitu menyenangkan bagi mereka tanpa tau kalau apa yang mereka rasaa bisa menyakiti hati pria dewasa lainnya, yang ini memutuskan untuk tinggal jauh dari mereka.
****
"Bang, ini gimana? Masih lama travel penggantinya?" omel Indi setelah lama menunggu dan belum ada tanda-tanda akan travel pengganti yang dijanjikan supir ugal-ugalan itu.
"Ya tunggu ajalah udah, Mbak. Nanti juga sampe," cetusnya acuh matanya tetap fokus ke layar ponsel yang sejak tadi tak pernah lepas dari tangannya.
Indi mendesah berat, hari sudah menjelang senja dan mereka masih terjebak di tempat antah berantah itu. Bahkan sejak tadi tak ada kendaraan yang lewat sama sekali seperti desa mati. Sepanjang mata memandang hanya hamparan luas pepohonan akasia yang menyebarkan aroma khasnya.
"Sejauh apa lagi sih rumah peninggalan orang tua mu itu, Fatan? Kenapa rasanya malah kayak desa mati?" celetuk Bu Maryam yang tengah duduk di dalam mobil karna bingung akan melakukan apa.
Fatan yang duduk di rerumputan yang terhampar di pinggir jalan hanya mendesah berat, dia menyugar rambutnya kasar dan beranjak berdiri.
"Tempatnya nggak begitu jauh lagi, Bu. Cuma travel ini aja yang bikin lelet, harusnya udah sampe daritadi malah santai santai di sini. Dasar makan gaji buta!" maki Fatan yang di tujuksn pada supir travel itu.
__ADS_1
Yang bahkan tidak sadar kalau dia tengah menjadi bahan omelan.
"Iya, iya sebentar lagi Abang sampai ini, Sayang. Tunggu dulu ya, masih nunggu kawan Abang jemput penumpang ini, cerewet kali orangnya. Sabar dulu aja ya, nanti Abang beliin martabak deh," ucap si supir yang tampak masih asik menelpon selingkuhannya itu.
Darimana bisa tau yang di telpon selingkuhan? Lha wong jelas sekali dia memberi nama di ponselnya itu selingkuhan dengan emot love di ujungnya. Ya siapa yang nggak bisa langsung nebak.
"Hih, apaan bawain oleh-oleh kok martabak, emas berlian permata batu Rubi dong. Masa martabak, apaan itu nggak berkelas banget." Indi melancarkan aksinya sengaja mengeraskan suaranya agar si selingkuhan yang sedang di telpon itu mendengar.
Indi mendengus kesal karna sejak tadi seakan di gantung oleh supir aneh itu, yang bahkan tidak peduli kenyamanan penumpangnya padahal sudah di bayar mahal malah sikapnya kayak penjahat.
Kalo tidak ingat hukum mungkin sudah indi gantung itu supir di dahan akasia biar paham.
Tapi supir itu malah anteng saja teleponan, seakan selingkuhannya pun yang mendengar teriakan Indi ttadi. Indi semakin kesal, jadi melampiaskan nya dia keluar dari mobil dan menendang badan samping mobil hingga penyok.
Dan supir aneh masih juga tidak sadar, dan malah tertawa tawa dengan telepon masih stay di tangannya.
"Sabar, In. Sini minum dulu, bentar lagi juga Dateng ini mobil penggantinya." Bu Maryam mencoba menenangkan Indi yang mencak mencak sendiri.
Bu Maryam menyodorkan sebotol air mineral untuk Indi, saking kesalnya Indi sampai menghabiskan seluruh isi botol itu hingga tandas tak bersisa. Nafasnya masih naik turun menahan emosi, namun untunh saja tak lama kemudian tampak dari kejauhan sebuah mobil sedan berwarna putih mendekat ke arah mereka.
"Atas nama Fatan ya?" seru si supir yang memakai kacamata itu.
Fatan menoleh dan mengangguk cepat, Indi dan Bu Maryam tampak sama sama bernafas lega.
Singkatnya, akhirnya mereka langsung melanjutkan perjalanan menuju ke tujuan, meninggalkan di supir aneh sendiri di tempat sepi tadi. Namun tampak supir aneh itu tidak peduli karna bahkan saat Fatan dan yang lain mengangkut semua barang mereka pindah ke mobil sebelah supir itu masih sibuk dengan ponselnya seakan tidak menyadari kalau penumpangnya sudah pergi.
"Supir yang tadi itu kenapa sih, Bang? Kok kayaknya aneh banget?" tanya Fatan setelah mereka berada cukup jauh dari tempat sebelumnya.
__ADS_1
"Entahlah, Bang. Dia memang aneh, suka bikin masalah dan membuat penumpang berhenti di jalan kayak gini. Sudah sering kali, dan seringnya dia bakalan melakukan itu ketika ada di tempat sepi. Saya aja kaget tadi bos bilang penumpang di bawa sama dia padahal harusnya kalian perginya sama saya, dia bahkan nggak ada nelpon kami sama sekali mengabari mobilnya terperosok untuk minta bantuan. Kalau bukan karna GPS yang ada di mobilnya, mungkin kami nggak akan pernah tau kalau dia lagi lagi bertingkah seperti itu."
Degh