TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 179. HILANG!


__ADS_3

*Banyak yang ga suka karakter Dara yang katanya sok malaikat dan sok baik, tapi maaf ya reader di dunia nyata aja ada manusia berhati malaikat kaya gitu ya. Inara contohnya, dan yang bener bener jahat itu juga ada. Tapi sayangnya author hanya buat cerita ini kaya kehidupan sehari hari yang ada di sekitar author aja. Kalian ga percaya yang sifatnya begitu ada di sini? Sok atuh main ke tempatnya author nanti ku kasih tahu orangnya. Vibesnya adem banget sampe kalian pasti pengen Deket sama beliau, dan itu inspirasi karakter si Dara ini.


 Oke jadi biar nggak bosen kira intip yang lagi liburan ke Tiongkok aja dulu yuk. Ciao.


 Pagi yang cerah menyambut Bu Hana yang baru saja terbangun dari tidurnya yang nyenyak dan indah, mimpinya untuk bertemu Chanyeol dan ngobrol tentang tanaman janda bolong pun akhirnya kesampaian. Walau hanya dalam mimpi tapi setidaknya itu membuatnya begitu bahagia.


 Bu Hana menyibak tirai yang menutupi jendela kaca besar di hotel tempatnya menginap, hotel bintang lima yang menyediakan berbagai fasilitas yang siap memanjakan para pelanggannya.


"Ah, nyamannya." Bu Hana bergumam kala sinar lembut sang Surya di negri orang itu menyinari wajahnya.


"Kira kira alamat rumah pribadi Chanyeol dimana ya? Jadi pengen kenalan sama pembantunya," kekeh Bu Hana bicara sendiri.


 Setelah menyantap sarapan pagi yang di bawakan oleh seorang petugas hotel, Bu Hana hendak bersiap keluar hotel dan mulia berburu keramik cantik yang akan dia bawa pulang ke tanah air, sebagai mana tujuan utamanya.


 Saat tengah asik berjalan di lobi sambil memandang ponsel guna bertukar kabar dengan sang menantu yang katanya sudah memakai kado darinya itu, Bu Hana sampai tak memperhatikan jalan dan di sebuah belokan kakinya selip menyebabkan kakinya hilang keseimbangan.


"Huahhh!" seru Bu Hana kaget saat tubuhnya terhuyung dan jatuh ke belakang.


Syuuuyttt


 Satu detik,


 Dua detik,


 Tiga detik,


 Hingga sepuluh detik lamanya Bu Hana menghitung namun tak kunjung tubuh rampingnya jatuh ke lantai, malah seolah tergantung di udara bebas.

__ADS_1


 Memberanikan membuka mata, Bu Hana berharap saat ini ada pria bermata sipit yang akan menolongnya. Membayangkannya sudah membuat Bu Hana tersenyum senyum sendiri.


"Hei, kenapa senyum senyum begitu. Betah sekali kayaknya di pegangin sama saya?" celetuk sebuah suara yang sangat terasa familiar di telinga Bu Hana.


 Sontak Bu Hana melebarkan matanya dan bangkit berdiri dari tumpuan pria yang tak lain dan tak bukan adalah Pak Jatmika.


 Lelaki paruh abad yang rambutnya tampak sudah di cat hitam itu tersenyum manis, lalu membantu Bu Hana berdiri tegak.


"Kamu?" sentak Bu Hana yang tampak kesal, bagaimana tidak semua khayalannya akan pria sipit, hidung mancung dan putih bersih layaknya Chanyeol kini luluh lantak dengan hadirnya Pak Jatmika di sana.


"Kenapa kaget begitu sih? Kan saya juga punya tiket ke mari, ya sudah mending saaya pergi saja sekalian liburan." Pak Jatmika membela diri sebelum Bu Hana menyemburkan api kemarahnnya.


 Bu Hana menelan amarahnya, dia harus tetap terlihat slay di tempat warga asing itu jika ingin di lihat anggun. Jadi kali ini Bu Hana membiarkan Pak Jatmika begitu saja dan melangkah pergi dari hadapannya.


"Hah, kenapa sih nggak di negara sendiri nggak di negara orang ketemunya dia lagi dia lagi. Capek akutuh!" omel Bu Hana di tengah jalan yang dia lewati, untungnya orang orang yang lewat di sana tidak mengerti apa yang dia bicarakan.


"Cuci mata dulu kali ya, kayanya enak lihat lihat makanan yang sering di jadikan konten sama utuber utuber itu," gumam Bu Hana sambil membelokkan langkah kakinya menuju pelataran besar sebuah mall ternama.


 Sebuah tempat luas dengan berbagai macam jenis makanan khas kota itu menyambut Bu Hana, makanan makanan yang selama ini hanya dia lihat di video video mukbang orang orang terkenal kini ada di depan matanya. Bu Hana hampir kalap, terlebih dengan banyaknya uang yang dia bawa membuatnya ingin membeli semua.


"Jangan banyak banyak, emang yakin perutnya muat? Nanti bingung lagi kalau nggak habis."


 Bu Hana yang tengah asik mengambil makanan kemasan di rak langsung menoleh dan wajahnya berubah masam saat mendapati siapa yang ada di sampingnya.


"Ngapain sih kamu ngikutin saya ha? Saya itu ke sini pengen jalan jalan, cuci mata! Bukannya lihat penampakan melulu!" sentak Bu Hana kesal lalu langsung hendak berlalu dari hadapan Pak Jatmika yang hanya senyam senyum tidak jelas.


 "Saya nggak tahu jalan di sini, pake maps juga saya bingung. Dari pada saya bengong aja di hotel mending saya ngikutin kamu, lumayan bisa tahu tempat tempat kayak gini," kekeh Pak Jatmika sambil terus membuntuti langkah Bu Hana, bahkan ikut ikutan mengambil beberapa jenis makanan tanpa melihat harganya.

__ADS_1


 Bu Hana hanya melirik sinis, lalu tanpa kata dia berjalan lagi tanpa mempedulikan pak Jatmika yang terus mengintilinya.


 Setelah mengambil beberapa jenis makanan yang sering dia lihat muncul di video terkenal yang sering dia lihat, Bu Hana melangkah menuju kasir dan meletakan semua belanjaannya di sana. Pak Jatmika ikut nimbrung dengan meletakkan barang belanjaannya juga, hanya beberapa mungkin karna dia bingung apa yang ingin di ambilnya.


"Apa ini jadi satu belanjaannya?" tanya sang penjaga kasir perempuan itu dalam bahasa Inggris, karna kebetulan dia mahir dan mengenali dua orang di depannya sebagai orang asing.


 "Ti ..."


"Iya, iya satukan saja." Pak Jatmika yang menjawab dan Bu Hana hanya bisa melengos kesal.


 Penjaga kasir itu menyebutkan sejumlah harga, Bu Hana dengan tenang merogoh tasnya untuk mengambil uang dari sana.


 Beberapa saat mengublek ublek tasnya wajah Bu Hana yang semula tenang kini tampak berubah panik, bahkan tanpa malu dia menumpahkan semua isi tasnya ke atas meja kasir guna mencari sesuatu yang sangat penting, dompetnya sudah menghilang!


"Ada apa?" tanya pak Jatmika pelan, sedangkan di penjaga kasir sudah menatap Bu Hana seolah ingin menerkamnya.


 Bu Hana menggeleng panik. "Dompet saya hilang!" gumamnya dengan air mata mulai turun di pipi putihnya.


 Pak Jatmika berdehem, lalu langsung saja mengeluarkan beberapa lembar uang yang sudah dia tukarkan sesuai mata uang negara itu lalu menyerahkannya pada kasir itu.


"Ini kembalian anda, selamat menikmati dan silahkan kembali lagi," gumam si kasir masih berusaha tampak ramah walau tatap matanya tak bisa memungkiri betapa dia mulai kesal.


 Pak Jatmika membantu Bu Hana membereskan isi tasnya yang tadi dia tumpahkan di atas meja kasir, dan membimbingnya menuju ke beberapa kursi dan meja yang tampak berjejer di depan sana.


 Bu Hana menurut saja, lalu menghempaskan tubuhnya di atas kursi dengan wajah kesal bin jengkel.


"Ini semua pasti gara gara kamu, Jat! Dari dulu kamu itu bawa sial saja kalau dekat saya!" umpat Bu Hana membuat Pak Jatmika sontak membulatkan matanya.

__ADS_1


__ADS_2