TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 70. ASAL TUDUH.


__ADS_3

"Oh iya dong, kami akan menikah. Dan Mas Fatan akan jadi suamiku. Hahah emang enak jadi janda?" ejek Indi tak berperasaan.


Plaakkk


 Lagi, Dara yang kesal menumpahkan kekesalannya dengan menampar Indi, tak ada yang melerai, Bu Maryam dan Fatan pun hanya diam.


"Mbak! Kamu!"


"Berani mengatai aku sekali lagi , akan aku gali kuburan untukmu. Paham kamu? Gundik?" cerca Dara yang sudah merasa tak perlu menjaga perasaan siapapun.


"Memangnya kenapa? Bukankah benar yang ku bilang itu ha? Setelah ini status kita akan berbeda, kamu jadi janda dan aku yang akan jadi istri hahahha." Indi masih saja tertawa besar di atas semuanya.


 Dara mencebik. "Ya tentu, bahkan setelah ini status sosial kita pun akan berbeda. Selamat kamu sudah mendapatkan sampah yang sudah ku buang. Nikmatlah! Dan jangan pernah datang ke rumahku lagi untuk alasan apapun!"


 Indi tertawa. "Hahahah, bilang saja kau takut terpesona kembali dengan Mas Fatan sedangkan nantinya dia kan resmi menjadi milikku."


"Tcih!" Dara meludah di depan wajah Indi, hingga wajah cantik yang sejak tadi tak berhenti tertawa itu kini penuh dengan air salivanya.


"Apa-apaan kamu, Mbak?" dengus Indi kesal.


 Kini giliran Dara yang tergelak. "Kau tidak pantas bicara seperti itu padaku, rasakan dulu kehidupan keras bersamanya baru kau bisa berbangga. Jangan berpikir kehidupan yang aku dapatkan sekarang itu semua berkat dia ya, bukan sama sekali! Dan ingat satu hal lagi, aku tidak pernah memungut sampah yang sudah ku buang!"


 Indi berdecak kesal kemudian berjalan menuju keran air taman dan membukanya untuk membasuh wajahnya.


"Sudahlah kalian, berhenti bertengkar nggak enak sama tetangga," cetus Bu Maryam yang sejak tadi hanya diam menyaksikan, ingin membela pun dia takut malah jadi sasaran kemarahan salah satunya nanti.


 Rupanya Bu Maryam sudah tak seberani dulu, mungkin keberaniannya menyusut di makan usia.


"Bukannya anak ibu yang dari tadi selalu menyulut api? Aku cuma berupaya meniupnya agar padam kok, ketimbang nanti kalian yang harus terbakar sebab ulahnya," saut Dara dengan santainya.


 Dara menjatuhkan bobot tubuhnya di atas kursi teras, menatap semua barang bawaan mereka yang tergeletak di depannya.


"Kalian mau bawa semua ini pakai apa?" celetuk Dara kebingungan.


 Fatan tampak menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, sambil menyengir lebar.

__ADS_1


"Ya pake mobil lah!" Indi menyela. "Kan mobilnya Mas Fatan ada di garasi itu."


 Dahi Dara mengernyit. " Sepertinya ada yang belum kamu ceritakan ke anak ini, Mas. Lihatlah dia jadi seperti wanita halu."


 Fatan mendesah lirih. " Maaf, Dara. Tapi ... Mas memang rencana mau bawa mobil itu, karna kan rumah lama almarhum orang tua Mas letaknya lumayan jauh dari sini. Bakalan susah bawa ibu dan Indi juga barang-barang ini kalo nggak pake mobil."


"Kan itu mobil kamu, Mas. Kenapa harus izin sih?" ketus Indi tak senang.


 Tapi Fatan maupun Dara tak mengindahkan.


"Aku nggak setuju, Mas. Mobil itu adalah harta Gono gini yang harus di bagi dua antara kamu dan aku. Masih ada hak aku di sana, dan aku nggak ikhlas hak ku di pakai lagi oleh perempuan berbulu serigala ini," sindir Daraa telak.


 Indi ingin membalas, namun Bu Maryam dengan cepat menahannya. Masalahnya tak akan kelar jika Indi terus menerus ikut campur.


"Lalu ... kami harus pakai apa, Dara? Tolonglah kali ini saja, setelah itu nanti Mas akan jual mobilnya dan berikan separuh uangnya buat kamu," pinta Fatan memelas.


 Dara menimbang sejenak ucapan Fatan. Lalu akhirnya satu ide muncul di kepalanya.


"Bagaimana kalau aku berikan langsung separuh harga mobil ini untuk kamu, Mas?"


 Mata Fatan membelalak lebar, dengan raut wajah tak percaya.


 Dara tersenyum miring, rupanya selama ini Fatan memang hanya tau Dara hanya mendapat uang dari pemberiannya saja. Dan sangat pintar menabung hingga bisa tetap tenang saat dia tak lagi bekerja dan di ambang perceraian.


 Tapi, baguslah dengan begitu artinya semua usaha Dara yang dia rahasiakan semuanya masih aman tanpa ketahuan. Entah apa jadinya kalau mereka semua tau tentang butik itu, mungkin kini Dara hidup di tengah para penjilat.


"Dara?" panggil Fatan membuyarkan lamunannya.


 Dara terkesiap dan langsung membuka tasnya.


"Halah, bilang aja cuma mau nyombong makanya segala melamun. Pasti lagi mikirin mau minjem dana pinjol gimana lagi biar bisa bayarin separuh harga mobil. Halah, Mbak ... Mbak. Kamu itu nggak akan bisa hidup kalo nggak di nafkahi Mas Fatan kali, gitu aja kok sok sokan minta cerai," oceh Indi kembali menghina.


 Dara yang geram langsung saja meraup segepok uang yang tadi sempat dia ambil di bank, tujuannya memang untuk di berikan ke Fatan karena dia tak percaya jika lelaki itu yang akan menjual mobilnya. Bisa-bisa nanti di korupsi.


Pokkk

__ADS_1


 Dara menabok bibir lemes Indi dengan uang itu, segepok uang bernilai hampir lima puluh juta mampir di bibir. Biar uang juga pasti rasanya tetap sakit.


 Indi mengaduh dan memegangi bibirnya yang terasa Jontor.


"Rasain! Makanya punya mulut itu di jaga! Aku bukan kamu ya, yang tiap mau uang taunya cuma minta."


 Dara melengos dan beralih memberikan uang itu pada Fatan.


"Ini, itu baru separuhnya. Kekurangannya bakalan aku transfer setelah nanti mobil ini laku.. setidaknya sekarang kamu punya uang untuk membiayai calon istri baru kamu dan ibu. Ah ya, jangan lupa. Simpan uangnya baik-baik, karna kita tidak tahu tuyul sekarang banyak yang berambut soalnya," sindir Dara lagi.


  Indi tampak ingin melawan lagi, namun dengan sigap Bu Maryam mencekalnya dan menutup mulutnya. Jadi Indi hanya bisa melotot saja menatap Dara yang kini melenggang santai masuk ke dalam rumahnya.


"Awas kamu, Mbak. Aku akan buktikan kalau kehidupan aku dan Mas Fatan nanti bisa lebih bahagia dari pada kamu!" hardik Indi sambil menendang pintu rumah yang sudah di tutup rapat oleh Dara.


 Tak ada jawaban, sepertinya Dara lebih memilih tidur ketimbang meladeni Indi yang mencak-mencak seperti kesetanan.


"Sudahlah, ayo kita pergi." Fatan mengangkat tas ransel dan koper miliknya lalu hendak berjalan menuju keluar gerbang rumah untuk memesan taksi online.


"Mas, kok kamu bawa koper kamu sendiri sih?" rengek Indi di buat semanja mungkin.


 Memuakkan.


 Fatan melengos. "Kamu bukan anak kecil, In. Kamu bisa kan bawa sendiri? Aku mau pesan taksi dulu."


 Fatan berjalan mendahului mereka, dan berdiri di tepi jalan dengan mata fokus ke layar ponselnya.


"Aahhh, di suruh bawa sendiri? Mana berat begini lagi," keluh Indi sambil berusaha mengangkat tas ransel dan dua koper miliknya yang entah isinya apa. Mungkin semua isi kamarnya sebelumnya dia bawa, seperti ranjang dan kamar mandinya sekalian.


"Makanya tadi bawa seperlunya dulu saja, kamu sih ngeyel segala semua mau di bawa. Mana banyak barang yang nggak penting lagi," gerutu Bu Maryam sambil berjalan meninggalkan Indi menuju ke tempat Fatan.


 Indi mencebik dan menghentakkan kakinya ke tanah, namun dengan bersusah payah akhirnya dia bisa membawa semua bawaannya ke tepi jalan menunggu bersama Fatan dan Bu Maryam.


"Gimana, Mas?" tanyaa Indi setelah setengah jam menunggu di tengah terik matahari.


 Fatan menghela nafas lelah, keringat bercucuran dari keningnya menetes membasahi jalan aspal panas di depan mereka. Padahal hanya jalanan komplek namun rasanya panas sekali.

__ADS_1


"Nggak ada taksi online yang bisa sampai ke tempat yang mau kita tuju, mau nggak mau kita harus sewa travel."


 Mata Indi mendelik. "Apa, Mas? Sewa travel? Memangnya sejauh apa tempatnya?"


__ADS_2