TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 68. RESMI BERCERAI.


__ADS_3

Bulan berlalu tanpa terasa, hari ini adalah sidang putusan terakhir akan gugatan perceraian Dara kepada Fatan. Tak butuh waktu lama, karna Dara selalu tak menghendaki Fatan datang maka permohonannya lebih cepat di kabulkan.


 Hari ini Dara hanya perlu datang untuk mendengar paku itu di ketuk sebagai tanda berakhirnya hubungannya dan ayah dari anak kembarnya tersebut.


"Dara, apa ... Mas boleh hadir kali ini?" tanya Fatan saat melihat Dara tengah bersiap di ruang keluarga sambil menemani si kembar menunggu Elis datang.


 Dara menoleh sekilas dan kembali sibuk dengan ponselnya.


"Terserah, jika kamu masih sanggup untuk mendengar palu itu berbunyi nanti, silahkan saja. Aku tidak melarang, hanya saja tolong jangan persulit jalan perpisahan kita," tegas Dara tanpa bisa di bantah.


 Fatan menekan ludah, bahkan kini anak-anak tidak lagi berlari menyongsong dirinya saat melihat dia ada di dekat mereka. Bahkan kini menoleh saja tidak, si kembar lebih asik menyusun puzzlenya ketimbang memperhatikan dirinya.


"Baiklah," sahut Fatan lemas sembari berlalu dari hadapan Dara.


 Sekelumit rasa kasihan bercokol di benak Dara, namun dia segera menepisnya dengan mengingat semua perlakuan tak senonoh suaminya itu dengan adiknya sendiri.


 Luka ini bahkan masih terasa berdarah kini, jadi dengan sekuat hati Dara memantabkan tekadnya untuk berpisah. Sedalam apapun perasaan yang masih dia miliki untuk Fatan, dia tak peduli. Hatinya lelah, sangat lelah.


 Elis datang dengan tergopoh-gopoh, wajahnya masih tampak kusut dengan rambut yang di cepol asal-asalan.


"Assalamu'alaikum, Mbak." Elis meraih tangan Dara dan menyalaminya.


 Dahi Dara mengernyit. "Wa'alaikumsalam, kamu kenapa, Lis?"


"Elis telat bangun, Mbak. Soalnya semalam jagain Mbak Laila yang tiba-tiba pingsan di rumah gara-gara magh nya kambuh," jelas Elis sambil memperbaiki ikatan rambutnya agar lebih rapi.


"Sekarang gimana kondisinya?" Dara penasaran.


"Alhamdulillah udah enakan, Mbak. Udah di kasih obat juga sama Pak dokter baru yang tinggal di depan rumah kami itu, yang tugas di pustu dekat sini itu. Sekarang Mbak Laila ya cuma tiduran aja di rumah belum kuat ngapa-ngapain."


"Alhamdulillah kalau udah enakan, semoga Bu guru Laila cepet sembuh ya," tukas Dara melambungkan doa setulus hatinya.


 Elis mengamini nya dan mulai menggiring si kembar untuk mandi, dan dengan telaten menyiapkan mereka untuk bersiap ke sekolah.


"Ayo, Lis. Kita bareng aja, kebetulan saya mau bawa mobil," ujar s


Dara saat melihat anak-anaknya sudah rapi dan siap berangkat sekolah.


"Yeyy, naik mobil Mama." Fatur bersorak.

__ADS_1


 "Tapikan mobil Mama bukannya masuk bengkel?" celetuk Farah yang ternyata masih mengingat kejadian kemarin saat Dara tanpa sengaja menabrak gerobak seorang pedagang cilok dan membuat mobil barunya lecet hingga harus di bawa ke bengkel untungnya Zaki melihat dan mau mengantarkan mereka pulang dan juga menelponkan petugas bengkel untuk menjemput mobil Dara.


"Haduh, iya Mama lupa sayang." Dara menepuk jidatnya sambil tersenyum miris.


 Fatur dan Farah ikut-ikutan menepuk jidatnya. "Cape deh."


 Elis melihat dua anak asuhnya itu dan kemudian menatap Dara sambil nyengir kuda.


Tin


Tin


 Terdengar suara klakson mobil dari arah depan, gegas Dara dan Elis menuju ke depan dan tampaklah mobil Zaki di sana.


"Dara, ayo cepetan bunda antar." Bu Ambar membuka kaca mobil dan berseru pada Dara.


 Dara tertegun sesaat, namun segera tersadar saat Fatur berlari ke arah mobil dan langsung naik begitu saja.


"Yeyyy, naik mobil om baik lagi!" serunya girang bukan kepalang.


 Bu Ambar membuka pintu bagian belakang dan membantu Fatur untuk naik. (Gerbangnya udah di buka tadi sama Elis, soalnya dia yang paling di percaya Dara di rumah itu)


"Udah, repot apa sih? Wong bunda nggak ngerasa di repotin kok, yang nyetir juga Zaki bukan bunda," kekeh Bu Ambar seraya mengusap kepala Fatur yang sudah duduk nyaman di sampingnya sambil meminum susu kotak pemberiannya.


 Karena hari sudah semakin beranjak siang, maka Dara tak punya pilihan lain selain kembali menumpang mobil Zaki, Bu Ambar memaksanya duduk di kursi depan bersisian dengan Zaki sedangkan anak-anak dan Elis di kursi belakang bersamanya.


 Mereka mengantar si kembar terlebih dulu ke sekolahnya dan langsung melaju menuju bengkel mobil dimana mobil Dara kemarin di bawa.


"Tukang cilok yang kemarin gimana ya kabarnya?" celetuk Bu Ambar saat mengingat si tukang cilok yang di tabrak Dara dan meminta ganti rugi sebanyak dua juta, padahal gerobaknya sama sekali tidak lecet hanya terdorong sedikit.


"Kayaknya lagi bikin syukuran di rumahnya, Bun." Zaki menyahut sambil menahan tawa.


"Abisnya Dara terlalu baik sih, masa gerobaknya nggak kenapa-kenapa juga malah tetap di kasih itu uang dua juta," kekeh Bu Ambar.


 Wajah Dara tersipu malu, memang kemarin dia memberikan begitu saja yang dua juta yang di minta tukang cilok yang menjadi korban itu, padahal gerobaknya hanya terdorong maju dan mobil Dara lah yang lecet. Namun karna rasa bertanggung jawab akhirnya Dara yang harus keluar uang.


"Anggap aja sedekah, bun," sahut Dara membela diri padahal kalau bisa dia ingin secepatnya menghilang dari hadapan kedua manusia itu.


 Sesampainya di bengkel dan hendak mengambil mobilnya, Dara yang baru akan membayar tagihannya langsung di serobot oleh Zaki yang malah menyodorkan kartu miliknya pada petugas kasir.

__ADS_1


"Pake yang ini aja," selanya dan menyerahkan kembali kartu ATM milik Dara.


"Tapi, Zaki."


"Anggap aja sedekah," sahutnya enteng sambil memasukkan lagi kartunya ke dalam dompet dan melenggang santai menuju keluar.


 Dara masih terpana saat menyadari waktu terus berputar dan hampir tiba waktunya sidang di buka.


 Dengan kecepatan sedang Dara mengendarai mobil yang baru saja dia beli kemarin dengan kes, menggunakan uang tabungannya selama menikah dengan Fatan. Padahal mobil yang biasa di gunakan Fatan masih ada di garasi, dia enggan memakainya karna di sana sudah ternoda oleh indi.


"Dara," panggil seseorang dari arah belakang saat Dara baru saja keluar dari mobilnya di depan gedung pengadilan agama.


"Kamu Mas?" sahut Dara cuek saat melihat Fatan berlari kecil ke arahnya, Dara memang sengaja tidak mengunci kembali gerbang saat tadi pergi keluar karena dia ingin melihat apakah Fatan akan benar-benar datang. Dan rupanya, di sinilah mereka sekarang.


"Aku naik ojek, mau pakai mobil tapi kuncinya kan kamu yang pegang," jelas Fatan tanpa di minta.


 Dara manggut-manggut, pantas saja Fatan tiba hampir berbarengan dengan nya rupanya karena naik ojek.


 Tanpa mempedulikan Fatan, Dara langsung saja masuk ke gedung pengadilan dan di arahkan oleh petugas ke sebuah ruangan besar tempatnya selama ini mendengar semua putusan hakim hingga hari ini finalnya akan di putuskan.


Fatan mengekori Dara karna masih belum paham seluk beluk pengadilan tersebut. Saat masuk ke dalam ruangan ternyata sudah ada beberapa orang di sana.


 Sidang berjalan lancar, Fatan sama sekali tidak menuntut apapun akan semua gugatan yang di minta oleh Dara, selain harta gono gini berupa mobil yang di pakai Fatan yang akan di jual dan di hasilnya di bagi dua karna rumah itu adalah hadiah pernikahan dari almarhum orang tua Fatan untuk Dara.


"Dengan ini, maka saya nyatakan kalau saudara Fatan dan saudari Dara resmi bercerai."


Tok


Tok


Tok


 Palu sudah di ketuk, air mata menetes dari sudut mata Dara. Semua kenangan indah dan manis yang pernah mereka jalani berputar bak kaset di kepalanya. Tahun-tahun yang mereka lalui bersama, kehadiran si kembar, kehidupan yang aman dan tenteram kini semua hanyalah tinggal kenangan. Ah, andai saja tidak ada percikan cinta dari sang pelakor, pastilah semua ini tak akan pernah ada.


"Dara, maafin Mas ya kalau selama ini selalu bikin kamu marah dan sakit hati. Semoga ke depannya kamu bakalan lebih bahagia, tanpa Mas di sana," gumam Fatan sambil menyodorkan tangannya untuk berjabatan dengan Dara.


 Dara mendongak dan membiarkan air matanya terlihat oleh Fatan, biarkan lelaki itu tau betapa besar luka yang sudah dia goreskan. Dara menerima jabatan tangan itu, dan langsung pergi meninggalkan Fatan di sana. Sungguh hatinya belum siap di hadapan akan kondisi ini, namun keadaan jualah yang memaksa.


"Bungamu mungkin layu, tapi percayalah akan ada tunas baru yang akan menggantikannya." Seseorang menyodorkan selembar tisu di samping wajah Dara, senyum manisnya membuat dunia Dara seolah berhenti berputar.

__ADS_1


__ADS_2