TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 105. KONDISI ELIS.


__ADS_3

 Akhirnya acara pernikahan yang meriah dan mewah itu berakhir dengan sukses dan lancar, sampai akhir acara tak ada lagi desas desus tentang Bu Maryam yang sebelumnya membuat gaduh berhembus walau hanya sekilas.


 Setelah melepas semua pakaian dan riasan pengantin di wajahnya, Dara lekas berganti dengan gamis katun polos berwarna hitam dan hijab instan senada untuk gegas ke rumah sakit untuk melihat kondisi Elis.


"Sayang, lalu ibu kamu gimana?" tanya Zaki setelah mereka siap di mobil Zaki hendak menyusul Pak Jatmika dan Bu Ambar yang sudah pergi lebih dahulu ke rumah sakit.


"Sudahlah, sekarang Elis lebih penting. Mereka tidak akan mati walau hanya satu malam di biarkan di kamar itu, Mas." Dara menjawab cepat dengan mata terus fokus ke layar ponsel.


 Dara tengah menanyakan kabar Elis pada salah seorang anak buahnya yang di tugaskan mengantar Elis dan Laila ke rumah sakit tadi siang.


"Hufff ...." Dara mendesah lega setelah mendapat kabar kalau kondisi Elis sudah stabil dan Elis pun kini sudah sadar walau belum bisa banyak bergerak.


"Mama, Mbak Elis nggak bakalan pergi kan?" tanya Fatur yang memaksa ikut dengan mereka sambil berdiri di belakang jok kursi mamanya.


 Dara memutar tubuhnya dan mengelus lembut pipi Fatur yang matanya tampak basah itu, sepertinya dia sangat sedih melihat kondisi Elis yang sampai harus di bawa ke rumah sakit siang tadi.


"Insyaallah, Fatur tenang saja ya. Barusan Mama dapat kabar kalau Mbak Elis sudah baik baik saja kok," sahut Dara menenangkan.


 Farah yang duduk di samping Fatur ikut berdiri, secercah binar harapan berkelip di mata keduanya.


"Benarkah, Mama? Mbak Elis baik baik aja?" ucapnya bersemangat sambil mengusap sudut matanya yang berair.


 Dara mengangguk pasti dan si kembar langsung bersorak di kursinya masing-masing.


"Yeeeyyyy, Mbak Elis nggak papa. Habis ini kita bawa Mbak Elis pulang ke rumah kita aja ya, Mama. Supaya Fatur sama Farah bisa gantian rawat Mbak Elis kayak dulu Mbak Elis rawat kita waktu sakit," pinta Fatur dengan tatapan menghiba.


 Dara menatap Zaki sejenak seakan meminta persetujuan, walau bagaimanapun sekarang dia sudah punya seorang imam lagi yang harus di ajak berdiskusi sebelum mengambil keputusan apapun.


 Zaki yang sadar tengah di tatap pun, menoleh sekilas dan tersenyum sembari menganggukkan kepalanya.


 Dara turut tersenyum dan menatap dua buah hatinya yang tengah menanti jawaban dengan penuh harap.

__ADS_1


"Mama?" desak Farah dengan mata puppy eyes nya.


 Dara tertawa kecil karena gemas dan mengangguk mengiyakan.


"Yeeeyyyy!" si kembar kembali bersorak girang dan kondisi bahagia itu terus berlanjut hingga mereka sampai ke rumah sakit.


 Dara berlarian di sepanjang koridor rumah sakit, mencari cari dimana ruangan Elis di rawat sesuai yang dia ketahui dari pesan singkat yang di kirim bapaknya yang sudah sampai lebih dulu.


 Walau sudah mengetahui kondisi terkini Elis dari anak buahnya namun Dara belum puas jika belum melihatnya secara langsung. Si kembar dan Zaki pun tak kalah hebohnya dan mencoba menyaingi lari Dara walau niat mereka sebenarnya bercanda.


 Sesampainya didepan depan sebuah ruangan dengan nama yang sama dengan yang di katakan Pak Jatmika di pesan, Dara berhenti dan mengetuk pintunya.


"Assalamu'alaikum," ucap Dara sambil membuka pintu di ikuti suami dan anak-anaknya di belakang.


"Wa'alaikumsalam," sahut mereka yang ada di dalam sana sambil tersenyum menyambut keluarga kecil yang baru saja resmi itu.


"Elis," desis Dara dengan mata berkaca-kaca, dia berlari dan memeluk Elis yang kini tampak sudah lebih segar setelah di beri obat oleh dokter.


"Kamu gimana? Masih ada yang sakit? Apa kamu mau sesuatu?" cecar Dara sambil melerai pelukannya dan menatap Elis dari ujung rambut sampai ujung kakinya.


 Elis menggeleng walau kepalanya masih terasa nyeri dan agak pusing, namun Elis tak mau membuat Dara terlalu cemas dengan kondisinya.


"Nggak papa kok, Mbak. Elis baik baik aja kok," sahutnya mencoba tenang.


 Laila sendiri yang duduk di sisi sebelah kiri Elis tak sanggup membendung tangisnya, dia masih trauma melihat begitu banyak darah yang keluar dari kepala Elis saat di bawa ke rumah sakit. Bahkan Laila menyaksikan sendiri saat jarum khusus itu menembus kulit sang adik untuk membuatnya bersatu kembali.


"Apa kondisinya ada yang mengkhawatirkan? Kenapa Bu guru Laila menangis?" tanya Dara kembali merasa cemas.


Elis menatap sang kakak dan menyentuh lengannya. Sontak Laila langsung menghapus air matanya dan tersenyum menatap Dara.


"Ah, nggak kok, Mbak Dara. Saya ... saya cuma masih terbayang bayang pas Elis di jahit tadi, saya nggak tega, saya takut." Laila mencoba menjelaskan.

__ADS_1


"Biasalah Mbak Laila ini, Mbak. Orangnya telalu lembut, dan nggak tegaan. Sedangkan Elis aja nggak papa kok, malah Mbak Laila mulu dari tadi yang nangis," kekeh Elis mencoba nampak baik baik saja walau jahitan di kepalanya mulai terasa nyut nyutan juga.


 Dara mengangguk percaya dan akhirnya menyampaikan keinginan ke dua anaknya untuk membawa Elis ke rumah mereka untuk di rawat hingga sembuh.


"Ah, jangan ah, Mbak. Nanti malah merepotkan, Elis kan harusnya di rumah Mbak itu kerja, bukan malah di urusin," tolak Elis halus.


 Namun Fatur yang mendengarnya tak terima dan berjalan cepat menuju ranjang Elis dan memegang tangannya.


"Mbak Elis jangan gitu, Fatur sama Farah juga mau rawat Mbak Elis kayak Mbak Elis rawat kami. Pokoknya Mbak Elis harus mau, kalau nggak Fatur sama Farah nggak mau lagi temenan sama Mbak Elis!"


 Elis terkekeh dan mengacak rambut anak laki laki tampan itu.


"Bukan gitu, Fatur sayang. Tapi ...."


"Pokoknya Mbak Elis harus mau, kalau Mbak Elis nolak terus nanti Farah nangis loh," ancam Farah pula sambil berpura pura menangis.


 Elis semakin terkekeh melihat tingkah dia anak asuhnya itu.


"Bukan gitu anak anak, kalau Mbak Elis nginep di rumah Fatur sama Farah, Bu guru Laila siapa temennya?"


 Fatur dan Farah kompak menatap Laila yang kini malah tampak salah tingkah karna duo kembar itu menatapnya dengan tajam.


"E- eh, kok ... kok jadi Mbak sih, El?" protes Laila sambil berusaha menghindari tatapan si kembar.


 "Iya, Lis. Biasanya juga kalau kamu nginep di rumah Mbak, Bu guru Laila nggak papa tuh." Dara ikut membujuk.


 Elis mengerling penuh arti dengan senyum yang teramat manis di bibirnya.


"Kali ini beda, Mbak. Akan ada acara besar di rumah, jadi Elis harus selalu stay sama Mbak Laila."


 Mata Dara membelalak lebar, dan menutup mulutnya dengan tatapan tak percaya.

__ADS_1


"Oh ya? Acara apa? Elis mau di lamar ya? Sama siapa?" cecarnya penasaran.


__ADS_2