
Elis baru saja sampai di rumah di antar oleh Zaki atas permintaan Dara, karna tak mungkin juga membiarkan Elis pulang sendiri walau jarak rumah mereka yang dekat.
Setelah memastikan Elis sampai di rumah, Zaki gegas mengunjungi Halim yang rumahnya hanya terpaut jalan saja di depan rumah Laila dan Elis.
"Assalamu'alaikum," ucapnya tenang sambil memindai teras rumah Halim yang bersih dan rapi, ada dua buah kursi teras minimalis di depannya dan sebuah jemuran pakaian berbahan besi dengan sepasang baju basah di atasnya
"Wa'alaikumsalam," sahut seseorang dari dalam.
Krieeettt
Pintu yang sepertinya sudah lumayan lama tidak di lumasi itu berbunyi syahdu memecah keheningan siang itu.
"Eh, Pak Zaki?" ucap Halim yang hanya mengenakan sarung untuk menutupi bawah tubuhnya sedangkan tubuh atasnya dia biarkan terbuka menampakkan perutnya yang tidak sispek-sispek amat juga sebenarnya.
"Mas Halim, lagi sibuk ya?" tanya Zaki sambil mengikuti langkah Halim untuk duduk di kursi teras, menikmati angin sepoi-sepoi basah dari cipratan air tetangga yang entah apa maksudnya malah nyiram rumput di tengah hari buta.
"Yah, beginilah, Pak Zaki. Di bilang sibuk ya nggak, di bilang nggak sibuk ya nggak juga," kekeh Halim ambigu.
"Ah, Mas Halim bisa aja." Zaki terkekeh.
Beberapa saat mereka diam, hanya suara musik dangdut tetangga tak ada akhlak itu yang menghiasi suasana panas nan lembab di sekitar. Adzan Zuhur mulai berkumandang, dan suara musik tetangga mulai bercampur dengan suara teriakan seorang wanita yang ngomel ngomel tak jelas rimbanya sebelum akhirnya suara musik itu hilang di telan lubang hitam di angkasa.
Dari tempatnya duduk, Zaki bisa melihat teras rumah Laila yang tampak lengang. Rumah yang sederhana namun apik nan cantik, dengan berbagai macam bunga dan pohon mangga dan jambu di halaman menambah kesan sejuk dan nyaman di rumah itu.
Saat tengah asik melihat rumah Laila, tampak sang pemilik rumah keluar sambil membawa sebuah keranjang dan berjalan ke bawah pohon mangga yang kini memang tengah berbuah lebat sekali.
"Mas Halim, Pak Zaki." Laila menyapa Halim dan Zaki yang juga tengah menatapnya karna tak ada objek lain yang bisa di lihat.
"Iya, Mbak Laila. Lagi apa itu?" sahut Zaki, sedangkan Halim hanya diam mematung lebih tepatnya terpana pada Laila yang siang itu tampak bersinar di bawah cahaya matahari.
.
Gamis warna Fuchsia yang di kenakannya menambah aura kecantikan seorang Laila -- di mata Halim seorang --
Laila tersenyum lembut sambil menunjuk ke atas pohon mangga yang bisa di bilang kuntet itu, karna tinggi pohon utamanya bahkan tidak melebihi kepala Laila.
__ADS_1
"Mau petik mangga, Pak. Pak Zaki mau? Biar bisa bawain buat Mbak Dara juga sama si kembar di rumah. Biasanya si kembar suka banget loh mangga ini," sahut Laila.
Mata Zaki tampak berbinar, dan tanpa pikir panjang dia langsung bangkit berdiri dan berlari menuju ke rumah Laila, tepatnya ke bawah pohon mangganya.
"Mau, Mbak. Saya boleh bantuin ambil mangganya?" tawar Zaki.
Laila mengangguk dan memberikan keranjang rotan itu kepada Zaki.
Halim yang tak terima calon istrinya di dekati pria lain walau dia tahu pria itu menantu bosnya dan sudah punya istri, namun tetap saja namanya cemburu tidak pernah pandang bulu bukan? Mau itu bulu ayam, bulu kambing, bulu angsa, bulu babi, bulukan , eh.
"Mbak Laila! Saya juga mau!" seru Halim sambil berlari menuju ke halaman rumah Laila, larinya cepat sekali sampai tidak sadar kalau dia saat ini hanya memakai sarung dan lupa memakai dalaman karna habis mencuci bajunya sendiri yang basah terkena siraman rohani tetangga Dara tadi.
"Mas Halim hati ha ...."
Gedubrakkk
Belum sempat lagi Laila menyelesaikan ucapannya, Halim sudah jatuh tersungkur karena tersandung sarung yang di pakainya. Dan yang lebih memalukannya lagi, sarung itu kini melorot hingga ke lututnya.
"Mas Halim, sarungnya ...," desis Zaki sambil menunjuk ke bagian bawah Halim saat pria itu bangkit berdiri sambil memegangi kepala yang terasa benjol karna menghantam bumi.
Laila cepat berlari masuk ke dalam rumah, selain malu dia juga harus menjaga matanya dari noda noda dosa.
Laila menutup pintu, Halim yang teringat dengan kondisi sarungnya langsung sontak menoleh ke bawah dan matanya seketika melotot.
"Aaaaaaa, tidaaakkkkkkkkkk!" serunya seraya berlari terbirit-birit masuk ke dalam rumahnya.
Zaki tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya yang terasa kejang.
"Ahahahahahahhahahahahahahhahahah, ya ampun sakit perutku." Zaki tergelak tanpa henti, hingga mengundang rasa penasaran Elis yang saat itu tengah duduk santai sambil nonton TV.
"Pak Zaki!" serunya melongok dari pintu yang di buka sedikit.
Zaki menoleh, meredakaj tawanya yang rasanya nanggung.
"Ada apa?" sambung Elis lagi.
__ADS_1
Zakki menyusut air mata yang sempat menetes di sudut matanya karna terlalu banyak tertawa.
"Ah, nggak, Lis. Itu ... hahahha, tadi hahahaha ... Ya Allah nggak kuat," kekeh Zaki kembali melanjutkan tawanya yang kembali mendera.
Elis menggaruk kepalanya bingung, namun tak lama kemudian tampak Halim kembali keluar dari rumahnya kali ini sudah dengan pakaian lengkap. Tapi bukannya enak di lihat, Halim malah membuat Zaki semakin parah saja tertawanya, sampai ngik ngik di bawah pohon mangga.
"Kenapa lagi sih?" tanya Halim sewot, dan dengan pedenya dia berjalan ala tentara melangkah menuju ke tempat Zaki.
Elis sendiri juga menahan tawa di teras rumahnya, sedang Zaki kini sudah sampai sesak nafas karna terlalu banyak tertawa.
"Astaghfirullah, Mas Halim! Itu daster siapa?" seru Elis tak tahan lagi.
Halim langsung tersadar dan menatap pakaian yang di pakainya.
"Astaghfirullah! Emaaaaakkkkkk! Kenapa dasternya di masukin koper Halim sih?" seru Halim frustasi, sambil mengacak rambutnya dan berlari masuk ke dalam rumah kembali.
Padahal sekecang apapun dia berteriak dan marah marah, ibunya tak akan mendengar. Wong ibunya aja tidak tinggal di sana kok.
****
Sementara itu di tempat lain.
"Kita sampe kapan ya di sini?" ucap Indi sambil mengusap usap perut buncitnya.
Bu Maryam mencebik kesal.
"Ya nggak tahu, wong authornya aja lupa sama kita kok. Gimana ceritanya kita bisa keluar dari sini? Ini aja ibu nahan ber*k dari kemarin nggak bisa di keluarin. Wong nggak ada di bikinin scene-nya."
"Dasar author pelit," ketus Fatan pula, sambil menggeser piring bekas makannya dengan kaki.
"Mas, nggak boleh ngomong gitu. Nanti kalo authornya marah bisa bisa kita di kurung di sini sampe aku lahiran loh," nasehat Indi sambil mengelus lembut tangan suaminya.
Fatan mendengus.
"Aku janji nih, kalo nanti kita bisa keluar dari sini. Bakalan aku santet si author. Abisnya nyebelin banget, bisa bisanya malah cuma kisahnya Dara sama sikap gajenya si Halim aja yang di ketik mulu. Ku sumpahin itu author gajinya gede!"
__ADS_1
"Amiiin, " sahut Bu Maryam dan Indi tulus.
*Nb: hanya sekedar intermezzo:-*