TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 33. BERUBAH.


__ADS_3

"Kamu mau pergi, Dek?" selidik Dara menghentikan langkahnya.


 Indi kembali cengengesan. "I- iya, Mbak. Boleh kan? Mumpung libur."


"Sama siapa?"


"Hmmmm sama ... sama...."


"Sama siapa?" desak Dara mulai curiga.


 Indi nyengir lebar kemudian menundukkan kepalanya malu. "Mas Zaki."


 Dara menahan tawanya, tiba-tiba semua kesal di hatinya luruh saat mendengar Indi menyebut Zaki dengan sebutan Mas.


"Ooohhhhhh ...," cicit Dara ber oh ria sambil manggut-manggut kecil.


 Indi menghentakkan kakinya kesal. "Iiih udah dong, Mbak. Jahil banget sih, ya udah aku pergi ya."


"Eh tunggu," sela Dara.


 Indi mengehentikan langkahnya yang sudah hendak berputar menuju pintu keluar rumah.


"Apa, Mbak? Cepetan nanti Mas Zaki kelamaan nunggunya."


 Dara mendekat dan menempelkan selembar uang merah ke tangan Indi.


"Buat jajan, jangan kebiasaan minta traktir laki-laki apalagi kalau belum halal. Nanti kalo berantem dia minta balikin lagi duit yang dia pake selama deket sama kamu," seloroh Dara tertawa kecil.


 Dengan senang hati Indi menerima uang yang di berikan Dara untuknya.


"Makasih ya, Mbak ku sayang." Indi memeluk Dara dan mencium pipi kanan kirinya.


"Iya, udah gih sana. Katanya takut Mamas nya nunggu lama," ledek Dara lebih lanjut.


 Indi mengangguk dan berbalik hendak keluar, namun kembali lagi sambil memelototkan matanya ke arah Dara.


"Mbak, Mbak lihat sini dulu." Indi menarik tangan Dara.


 Dara mengerutkan keningnya melihat tingkah aneh Indi. "Apa sih, Dek? Itu matamu kenapa? Kelilipan kecoa?"


 Indi menghempas tangan Dara pelan dengan bibir mencebik. "Ish, kan katanya mataku mirip mata Bapak. Kan manatau nanti Mbak tiba-tiba kangen Bapak, jadi mending sekarang aja liat mataku. Oh! Atau aku foto aja mataku terus kirim ke Mbak? Bentar."

__ADS_1


 Indi mengeluarkan ponselnya dan mengarahkan kamera selfi sedekat mungkin ke matanya.


 Dara menjauhkan ponsel Indi dari matanya. "Aish, apaan sih kamu. Jangan aneh-aneh deh, udah gih sana pergi. Nanti di tinggal nangessss."


"Huuh, ya udah kalo nggak mau." Indi memanyunkan bibirnya dan kembali melangkah pergi.


"Pulangnya jangan malem-malem!" seru Dara sebelum Indi memasuki mobil Zaki.


 Indi melongokkan kepalanya dan menyahut. "Nggak, Mbak. Palingan ya subuh atau pagi."


"Indi!" geram Dara sambil melongok pula lewat jendela.


"Bercanda, Mbakkkkk!" seru Indi terkekeh.


 Indi melambaikan tangannya setelah mobil mulai melaju dan membunyikan klakson dua kali saat melintasi jendela tempat Dara berdiri.


"Duh, anak itu. Dari dulu selalu bikin spot jantung," gumam Dara mengenang masa kecilnya dengan Indi.


 Dimana Indi yang sejak dulu banyak tingkah selalu saja bisa membuat jantungnya hampir copot karna kelakuannya.


"Mama kenapa melamun?" tanya Farah yang menghampiri Dara di jendela.


 Dara terkesiap kaget karna tengah melamun.


"Itu buahnya sudah di kupas semua sama Mbak Elis, tapi Mama malah diem aja di sini." Farah menunjuk ke arah tikar yang tadi di bentangkan Dara untuk mereka duduk lesehan.


 Dara menepuk jidatnya pelan. "Ah, iya. Maaf ya sayang, gara-gara Tante Indi Mama jadi lupa kita mau ngerujak, yuk kita bikin bumbunya yuk."


 Dara menuntun Farah kembali duduk dan mulai meracik bumbu yang sudah di siapkan di ulekan.


"Nah, sudah siap. Buat Farah ini bumbu lutis manisnya ya, Nak." Dara menyodorkan semangkok bumbu rujak tanpa cabai ke depan Farah.


"Terima kasih, Mama." Farah menerimanya sambil tersenyum senang.


 Mereka menikmati rujaknya sambil bercanda ria dan sesekali tertawa terbahak-bahak saat menceritakan hal yang lucu. Elis sengaja memancing Dara dengan humor agar Dara tak terus bersedih saat teringat almarhum Pak Bagyo.


 Hari semakin sore, terlalu asik bercengkrama sambil menikmati rujak membuat mereka bahkan sampai lupa waktu.


"Assalamu'alaikum," ucap Fatan yang baru saja pulang dari kantor dan mendengar suara ribut di dapur.


"Wa'alaikumsalam," jawab mereka serentak.

__ADS_1


"Papa!" Si kembar langsung menghambur memeluk Fatan, dan Fatan menciumi mereka berdua satu per satu.


"Loh, kamu udah pulang, Mas? Ini udah sore ya? Ya ampun, Lis. Kita lupa waktu," ucap Dara panik, karna belum menyiapkan apapun untuk makan malam keluarganya.


"Iya, Mbak. Maaf ya Mbak gara-gara Elis banyak.omong dari tadi," ucap Elis sambil bergegas membantu Dara membereskan piring dan mangkok serta barang lainnya yang tadi mereka pakai merujak.


 Tidak seperti biasanya, kali ini Fatan hanya menatap Dara dengan datar.


 Dara yang menyadari itu langsung meminta Elis membawa si kembar untuk mandi dan mendekati suaminya yang kini berpindah duduk di meja makan.


"Tumben kamu ceroboh hari ini? Masa bisa suami mau pulang kerja kamu nggak nyiapin apa-apa?" ucap Fatan tenang namun begitu menusuk hati Dara.


"Kamu marah, Mas?" desis Dara hampir menangis, karna sejak pertama menikah Fatan sama sekali tida pernah berkata sedingin itu padanya.


 Fatan hanya menarik nafas dan beranjak sendiri mengambil sebotol minuman dingin di kulkas dan kembali lagi ke kursinya semula.


"Mas nggak marah, cuma heran aja."


"Tapi kata-katamu itu dingin banget, Mas. Ini bukan sifat kamu! Aku kenal kamu udah lama, Mas. Sekarang jujur aja apa kamu marah sama aku karna aku belum siapin apapun buat nyambut kamu pulang?" oceh Dara berurai air mata.


 Fatan melirik Dara sekilas, namun karna tak tega melihat air mata Dara akhirnya Fatan memilih diam dan menunduk di meja makan.


Dara yang merasa tak di hargai akhirnya langsung pergi dengan hati perih. "Aneh kamu, Mas," ucapnya sebelum menjauh.


 Brakk


 Dara membanting pintu kamar sekuat tenaga, hatinya perih dan sakit. Padahal baru saja beberapa hari dia di tinggal pergi bapaknya tercinta. Rasa sedihnya masih terasa dan kini malah bertambah dengan sikap Fatan yang tiba-tiba menjadi aneh.


"Ada apa ini, Ya Allah? Kenapa dengan suamiku?" desis Dara lirih.


 Hatinya tak karuan, padahal Fatan sama sekali tidak melakukan hal yang aneh. Hanya sekedar teguran biasa mungkin karna dia terlalu lelah di kantor dan saat pulang tidak di sambut dengan baik, maka membuatnya bersikap seperti itu.


 Tapi tidak di pikiran Dara, saking tidak pernahnya di perlakukan sedingin itu oleh Fatan membuatnya langsung terluka dan menangis sesenggukan di atas bantal.


"Apa ini?" Padahal Mas Fatan belum tentu betulan marah, kan bisa jadi Mas Fatan cuma lagi capek. Tapi kenapa air mata ini nggak mau berhenti?" keluh Dara beranjak duduk dan melihat pantulan bayangannya di cermin.


"Tempo hari sewaktu vc Mas Fatan di kamar ini, ada bayangan orang lewat di belakangnya. Apa itu beneran orang? Atau cuma halusinasiku aja? Kalau beneran orang, apa mungkin suamiku ...."


 Dara menggantung ucapannya, tiba-tiba merasa takut dengan asumsinya sendiri.


 Dara mencoba tersenyum sembari terus menatap cermin besar di depannya. Tapi senyum itu tampak aneh dengan genangan air mata yang terus mengalir di pipinya.

__ADS_1


"Nggak kan? Pasti nggak kan? Ini cuma perasaan aku aja kan?" bulu kuduk Dara berdiri melihat pemandangan di belangnya, yang bahkan lebih mengerikan dari pada hantu.


__ADS_2