TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 25. SESI CURHAT


__ADS_3

"Jawab, Bu. Apa yang selama ini kalian tutupi dari Dara? Apa masalah Dara yang bukan anak kandung kalian? Tenang saja kalau itu Dara bahkan sudah tau sejak lama," desak Dara tak sabar karena Bu Maryam tak kunjung buka mulut dan hanya diam bersedekap dada di tempatnya.


"Nduk, sudah. Bapak mohon sudah," pinta Pak Bagyo dengan nafas tersengal sembari memegangi dadanya yang mulai terasa sakit.


"Nggak, Pak. Ibu sudah menyulut api, dan sekarang ibu juga yang harusnya memadamkan!" protes Dara.


"Bu, sudah. Hentikan semua ini, jangan buat semuanya main runyam! Bapak capek, jangan terus-terusan bertingkah seperti anak kecil begitu!" marah Pak Bagyo pada istrinya, walau lemah tapi sangat kentara dari nada suaranya kalau saat ini beliau tengah marah.


Bu Maryam menggedikkan bahunya sambil berlalu keluar ruangan.


"Yah terserah lah, toh bukan urusanku lagi juga," ketus Bu Maryam sebelum tubuhnya tak tampak lagi di pandangan, terhalang oleh pintu ruangan yang tertutup dengan kasar karena ulahnya.


Dara mengatur nafasnya agar kembali tenang, setelahnya membantu Pak Bagyo untuk kembali ke posisi berbaringnya. Dan memastikan sang bapak nyaman.


"Bapak mau makan?" tawar Dara mengalihkan pembicaraan, dan teringat tadi ibunya mengatakan kalau mereka belum makan sebab tak punya uang.


Pak Bagyo mengangguk pelan, "sudah, Nduk. Tadi makan jatah dari rumah sakit."


Dara mengusap kepala bapaknya dengan penuh kasih sayang,  dan lagi-lagi air matanya jatuh tanpa permisi.


"Dara sayang sekali sama bapak," lirih Dara merebahkan kepalanya ke samping tubuh Pak Bagyo.


"Bapak juga sayang sekali sama kamu, Nduk. Maaf kalau Bapak sering ngerepotin kamu dan suamimu," desah Pak Bagyo sembari mengelus lembut kepala Dara yang masih tertutup jilbab.


"Dara pesenin makanan ya, Pak. Kan biasanya makanan rumah sakit rasanya hambar, nggak enak di makan. Sebentar Dara pesen nasi goreng kesukaan bapak ya," tukas Dara sambil merogoh tasnya untuk mengambil ponsel dan mulai mencari aplikasi ojol untuk memesan makanan.


Pak Bagyo hanya mengangguk pasrah, benar apa yang di katakan Dara jatah makanan rumah sakit memang tidaklah enak. Namun Pak Bagyo terpaksa memakannya karena sejak pagi Bu Maryam bahkan sama sekali tidak memasak apapun karena dia tak mempunyai uang untuk di berikan padanya agar bisa ikut arisan. Jadilah akhirnya Pak Bagyo yang kelaparan dan sedang tak enak badan itu jatuh tergelincir saat memakai kamar mandi.


"Udah, Pak. Nasi goreng ati ampela kesukaan Bapak sebentar lagi sampai, kita tunggu sebentar ya Pak. Sambil ngobrol-ngobrol, kangen Dara curhat sama Bapak," tukas Dara memperbaiki posisi duduknya agar bisa lebih dekat ke arah pembaringan Pak Bagyo.


"Terima kasih ya, Nduk. Kamu memang paling mengerti Bapak, ya ayo kalo mau curhat. Bapak juga kangen sekali denger cerita kamu," kekeh Pak Bagyo pelan.


Dara mengambil tangan Pak Bagyo dan membawanya ke pipinya, sembari tersenyum lebar penuh kerinduan.

__ADS_1


"Dara lagi gelisah, Pak. Nggak tau kenapa belakangan ini bawaannya perasaan Dara aneh mulu," ucap Dara memulai sesi curhatnya.


"Aneh kenapa, Nduk? Apa kamu berantem sama suamimu?" tanya Pak Bagyo lembut.


Dara menggeleng pelan, "nggak, Pak. Dara sama Mas Fatan nggak berantem, tapi rasanya kok kayak ada yang aneh aja setiap Dara liat gelagat Mas Fatan belakangan ini."


"Apa ada yang kamu curigai?"


"Entahlah, Pak. Semua juga akan tampak mencurigakan kalau kitanya mau curiga iya kan?" tukas Dara menghela nafas berat.


"Apa semuanya di mulai sejak Indi tinggal sama kalian?" tebak Pak Bagyo.


Mata Dara membulat lebar, dia bahkan tak pernah lagi berpikir aneh-aneh tentang adiknya tersebut. Namun entah kenapa mendengar opini bapaknya kali ini membawa sesuatu yang berbeda di hati kecil Dara. Ada sesuatu yang serasa tesentil di sana.


"Apa tebakan Bapak benar, Nduk?" tanya Pak Bagyo lagi karena tak kunjung mendapat jawaban dari Dara.


Ting


Notifikasi di ponsel Dara berbunyi.


Pak Bagyo menatap arah kepergian Dara dengan tatapan nanar.


"Semoga apa yang Bapak takutkan nggak akan pernah terjadi di dalam rumah tangga mu, Nduk. Kamu sangat baik, bahkan terlalu baik untuk menerima rasa sakit itu," gumam Pak Bagyo lirih.


"Semoga adikmu itu nggak akan bertindak macam-macam lagi setelah ikut kamu, tingkah polahnya dulu sudah cukup membuat Bapak spot jantung karena ulahnya. Bapak harap kali ini dia bisa berubah dan mulai belajar menjadi wanita baik-baik seperti kamu, walau pun dia pun bukan darah daging Bapak,"


Mata Pak Bagyo terpejam perlahan, mengiringi jatuhnya bulir bening itu dari matanya.


Ceklek


Pintu ruangan rawat Pak Bagyo terbuka, di susul dengan wajah Dara yang tampak sumringah menenteng sebuah kantong plastik berisi tiga porsi nasi goreng untuk mereka.


"Bapak, nasi goreng sudah sampai," ucap Dara riang.

__ADS_1


Pak Bagyo gegas menghapus sisa air mata di matanya dan tersenyum kecil sambil berusaha duduk.


Dara melihat itu dan langsung meletakkan plastik yang di bawanya untuk kemudian membantu bapaknya duduk dengan nyaman.


"Bapak abis nangis? Bapak udah laper banget ya? Yuk makan dulu yuk, Dara suapin ya, Pak." Dara mengusap jejak air mata di pipi Pak Bagyo dan beranjak membawa seporsi nasi goreng yang di bungkus sterofoam itu menuju ke Pak Bagyo.


"Makasih ya, Nduk." Pak Bagyo menatap Dara dengan mata berbinar.


"Dara suapin ya, Pak. Ayo buka mulutnya." Dara mengangkat sendok setinggi mulut Pak Bagyo dan menyuapkan nasi goreng itu dengan rapi.


"Enak nggak, Pak?" tanyanya.


Pak Bagyo mengangguk pelan.


"Iya enak, coba kamu juga cicipin," pinta Pak Bagyo sambil mengambil alih sendok plastik dari tangan Dara dan bergantian menyuapinya.


"Masyaallah, Pak. Rasanya bahkan masih sama kayak sepuluh tahun lalu waktu kita pertama kali beli nasi goreng ini ya kan? Padahal tadi penjualnya udah bukan yang dulu lo, Pak."


Pak Bagyo terkekeh pelan.


"Resep itu bisa di turunkan, begitu juga sikap dan sifat," terang Pak Bagyo tenang.


Dara tampak memikirkan arti ucapan sang bapak, dan merekamnya dengan jelas di kepalanya. Kalau tidak juga ketemu maksudnya malam ini, maka besok dia akan cari di gugel.


"Jangan pernah menjadi ibu yang jelek perangainya bagi anak-anakmu, Nduk. Ingat pepatah buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Maka ajarkan anak-anak kalian bersikap baik dan tentu saja kamu dan suamimu pun harus bisa memberi contoh yang baik buat mereka berdua. Turunkan resep menjalani hidup dengan baik pada mereka," nasihat Pak Bagyo yang langsung meresap ke hati Dara untuk di ingat dan di kenangnya sepenuh jiwa.


Dara mengangguk sambil tersenyum senang, walau batinnya sejak tadi terus saja merasa gelisah tanpa alasan. Namun nasihat dari bapaknya ada obat penenang paling mujarab.


Dara terus menyuapi Pak Bagyo dengan sabar, perlahan wajah Pak Bagyo yang sejak tadi tampak pucat dan lesu kini mulai memerah dan bersemangat.


Braaakkk


Pintu ruangan terbuka dengan keras, membuat Dara yang sedang makan setelah habis menyuapi bapaknya ikut terlonjak kaget. Begitupun Pak Bagyo yang baru saja memejamkan mata di atas pembaringannya.

__ADS_1


"Dasar anak nggak berguna, kurang ajar!" sergah Bu Maryam sambil menuding ke arah Dara.


__ADS_2