
* Ini masih bagian flashback ya.
"Kamu siapa?" bentak Fatur mencoba tampak tak takut, sebagai anak kecil yang baru berusia hampir enam tahun bocah ini lumayan bernyali.
Mungkin keturunan dari bapaknya yang juga punya nyali besar buat selingkuh sama adik iparnya sendiri, eh.
Bu Leha masih tampak bersabar, dengan senyum yang di manis maniskan dia beringsut mendekat pada Fatur dan Farah yang berlindung di belakangnya.
"Kan sudah eyang bilang, ini eyang kamu eyangnya Fatur sama Farah juga. Sama kayak Oma Ambar," ucap Bu Leha lagi.
"Mau apa ke sini?" tak habis akal, Fatur mencoba mengulur waktu sampai Bu Ambar keluar dari kamar mandi dan kembali ke teras.
Bu Leha menoleh ke belakang dimana Hans sudah bersiaga dengan karung di tangannya, Bu Leha tampak berkedip beberapa kali dan di balas anggukan oleh Hans.
"Siapa om om yang mukanya ancur itu?" ucap Fatur lagi, entah terlalu jujur karna masih bocah atau sengaja mengatai Hans yang seketika mendelik mendengar ucapannya.
"Heh, bocah! Jaga ucapanmu ya!" bentaknya marah.
Bu Leha menoleh dan melotot pada Hans.
"Hans!" bentaknya, bertujuan agar Hans bisa lebih bersabar.
Namun sayangnya iq yang rendah dari seorang pemuda bernama Hans itu membuatnya tak mengerti arti bentakan Bu Leha, baginya emosinya lebih penting untuk di turuti saat ini tak peduli ada rencana yang sudah mereka susun sebelumnya.
"Dasar anak kecil nggak tahu di untung!" bentak Hans lagi sambil menghempaskan karung besar di tangannya dan berjalan ke arah Fatur dengan tatapan tajam.
.
Namun sedikit jua Fatur tak gentar malah matanya balas menatap Hans dengan tak kalah tajamnya.
"Berhenti, Hans!" seru Bu Leha tertahan, karna tak ingin aksinya dan anaknya ini sampai ketahuan warga apalagi Bu Ambar yang dia tahu tengah berada di dalam rumah.
"Halah, bocah kurang ajar kayak gini memang pantas di beri pelajaran, Ma. Jangan cuma di culik saja, kalo perlu dia kita siksa sekalian!" ucap Hans tanpa mengalihkan tatapannya dari Fatur.
Mendengar ucapan Hans, Farah yang berada di belakang Fatur langsung memeluk sang Kakak dari belakang dengan air mata sudah memenuhi wajahnya.
__ADS_1
"Fatur, Farah takut." Farah berbisik lirih.
Fatur menoleh sekilas, mengelus tangan Farah yang berada di perutnya dan kembali menatap tajam Hans tanpa rasa takut sedikitpun.
"Jangan beraninya sama anak kecil, om. Apa nggak malu?" ucap Fatur lagi benar benar menjatuhkan harga diri Hans sejauh yang dia tahu dalam otaknya yang dangkal itu.
"Kamu!" Hans menuding telunjuknya di depan wajah Fatur, namun cepat Bu Leha meraih tangan Hans agar tak meneruskan niatnya yang bisa menggagalkan rencana mereka yang sudah di susun rapi sejak beberapa hari yang lalu selama mereka menggelandang di jalanan karna tak punya rumah.
"Berhenti, Hans! Kamu mau merusak rencana kita hah?" sergah Bu Leha dengan geraman tertahan.
Hans benar benar berang, nafasnya naik turun menahan emosi yang sudah berada di ubun ubunnya.
Tak lama terdengar suara guyuran air dari dalam rumah dan di susul suara pintu kamar mandi yang terbuka.
Mendengar adanya kesempatan Farah langsung menjerit sekuat tenaga meminta pertolongan.
"Omaaaa! Tolong! Ada orang jahat!" teriknya menggelegar.
Hans yang terkejut menjadi kalap, hingga tanpa sadar dia langsung melayangkan pukulan ke arah kepala Farah yang menoleh ke pintu.
"Aaakkkkk!" seru Farah tertahan saat pukulan yang keras itu mendarat di bagian belakang kepalanya dan membuatnya langsung jatuh tersungkur hingga menubruk kotak mainan yang terbuat dari anyaman rotan di hadapannya.
Gabruk
Brukkk
Mainan beserta tubuh Farah tersungkur bersamaan, Fatur terkejut dan langsung menarik tubuh adiknya ke dalam pangkuannya.
"Farah! Omaa! Tolong!" serunya pula membuat Hans semakin kalap di buatnya .
Hingga walau sudah di tahan oleh Bu Leha, Hans tetap bergerak tak terkendali dan memukul pula tubuh Fatur. Namun hanya bagian punggung dekat lengannya yang kena, namun lumayan membuat Fatur meringis kesakitan saat pukulan orang dewasa itu mendarat di tubuh nya yang tak sebanding.
Mendengar teriakkan dua cucunya gegas Bu Ambar yang sudah mengamankan perutnya langsung berlari menuju ke teras. Dan betapa terkejutnya dia saat mendapati Bu Leha dan Hans di sana dengan tangan Hans masih terambang di udara usai memukul Fatur tadi.
"Apa yang kalian lakukan di sini hah? " bentak Bu Ambar marah, terlebih saat melihat Farah terbaring di atas karpet dengan mainan berserakan di sekitarnya membuat Bu Ambar naik pitam.
__ADS_1
"M- Mbak ... ka- kami ... Kami bisa jelaskan."
"Mau apa kalian ke sini hah? Apa yang sudah kalian lakukan pada cucuku! Katakan! Atau aku akan menelepon polisi sekarang juga!" hardik Bu Ambar bertambah marah.
.
Bu Leha bergetar, nyalinya selalu ciut jika berhadapan dengan Kakak sepupunya itu. Bu Leha menarik tubuh Hans untuk mundur, hingga hampir mencapai pagar jika saja Bu Ambar tak bergerak cepat untuk menutup dan mengunci pagar tersebut walau sebenarnya kuncinya tak di jegrekkan.
Namun karna panik tentu saja Bu Leha dan Hans tak menyadari itu.
"M- Mbak ... tolong jangan marah, Mbak. Kami ... kami hanya berniat silaturahmi saja kok," ucap Bu Leha masih mencoba membela diri .
"Bohong, Oma. Om ini saja tadi bilang kalau mereka mau culik Fatur sama Farah terus mau di siksa, Oma.". Fatur menyela membuat Bu Leha semakin takut dengan akibatnya.
"Benar begitu?" sentak Bu Ambar lagi, matanya tajam menatap kedua manusia di depannya.
Terlihat dari sudut ekor matanya Farah baru saja bangun di bangunkan oleh Fatur, Bu Ambar mengira bocah cantik itu sudah baik baik saja tanpa tahu ada bahaya yang sedang mengintai di tubuhnya.
"Ma- maaf, Mbak. Kami ... kami bisa jelaskan," cicit Bu Leha lagi, kakinya mulai terasa bergetar demi melihat kemarahan yang membara di mata kakak sepupunya itu.
Bu Ambar tampak menyeringai.
"Baik, jelaskan di dalam."
Bu Ambar melangkah mendahului Bu Leha dan Hans, menuntun si kembar agar ikut masuk ke dalam rumah.
"Sekarang jelaskan!" sentak Bu Ambar lagi sembari memangku Farah dan mendudukkan Fatur di sebelahnya.
"Jadi, begini Mbak. Kami datang ke sini untuk minta bantuan, kan Mbak tahu setelah rumah kami di sita dan di jual paksa kami tidak punya tempat tinggal lagi, uang yang ada pun sudah terpakai untuk menutup hutang di bank yang beberapa waktu lalu aku pinjam. Apa boleh kami sementara menumpang di sini, Mbak? Di rumah Dara kan tidak boleh, kalau begitu kami di sini saja ya, Mbak. Kita kan keluarga." Bu Leha mulai mengeluarkan jurus bujukannya yang terdengar sangat tidak tahu malu itu , bahkan tanpa rasa bersalah sedikit pun dia mengatakan hal itu setelah apa yang anaknya lakukan terhadap si kembar.
Bu Ambar tampak hendak menjawab saat tiba tiba Farah menyambar ucapannya.
"Kenapa nenek ini bohong? Bukannya tadi bilangnya mau menculik kami? Kata oom ini juga kami ini lebih baik di siksa, Oma.". Farah mengadu membuat Bu Leha mendelikkan matanya.
"Heh, sembarangan ngomong kamu ya!" bentaknya pada Farah dan reflek bergerak untuk mencubit lengan bocah itu.
__ADS_1
"Huaaaa!" tangisan Farah menggema seiring dengan masuknya Zaki dan Dara yang entah sejak kapan berdiri di depan rumah.