TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 31. PULANG KE RUMAH.


__ADS_3

Seminggu sudah berlalu sejak meninggalnya Pak Bagyo, namun masih saja membawa kesedihan mendalam di hati seluruh keluarga yang di tinggalkan kecuali Bu Maryam.


Sejak hari pertama meninggalnya suaminya hingga tahlilan hari ke tujuh, tak tampak sama sekali Bu Maryam menangis atau sekedar memasang ekspresi sedih karna di tinggal suaminya menghadap sang pencipta.


Kini, Dara dan keluarga kecilnya dengan berat hati harus kembali pulang ke rumah mereka, meninggalkan Bu Maryam seorang diri. Karna tuntutan pekerjaan dan sekolah si kembar yang sudah menanti.


"Sudah jangan sedih terus, Mbak." Indi memeluk Dara yang sejak tadi hanya melamun sambil melihat keluar mobil.


Dara menatap Indi dan memaksakan senyum di bibirnya. "Nggak kok, In. Mbak cuma keinget ibu, kenapa ya ibu nggak mau ikut sama kita?"


"Kan ibu sudah bilang, Mbak. Kalo ibu lebih suka di kampung, kan katanya biar deket sama makam Bapak, biar sawah dan ladangnya ada yang ngurus juga," gumam Indi bersandar kembali ke jok mobilnya di belakang Dara.


"Iya sih, cuma kok aneh aja rasanya. Dari awal Bapak meninggal ... ibu bahkan nggak nangis loh, Dek. Masa sewaktu kita tawarin buat tinggal bareng kita alasannya malah bilang mau deket sama makamnya Bapak," bantah Dara tak setuju.


"Ya ... mungkin aja sebenarnya ibu itu sedih dan nangis sendirian, Mbak. Nggak di tunjukin sama kita supaya kita nggak ikut berlarut-larut sedihnya. Kan bisa jadi begitu," tukas Indi berargumen.


"Iya, Dek. Bisa jadi kamu bener, yah semoga saja ibu bener-bener berubah sekarang. Dan semoga kebun dan ladang juga sawah warisan Bapak bisa beliau kelola dengan baik," pungkas Dara berharap.


"Amiinnn," sahut Indi perlahan.


****


Sesampainya mereka di rumah, hari sudah gelap karna tadi mereka berangkat saat hari sudah siang dari kampung. Perjalanan selama hampir 5 jam membuat mereka semua lumayan kelelahan.


"Mbak, saya langsung bawa anak-anak ke kamar ya. Kayaknya mereka udah ngantuk," ujar Elis seraya menuntun si kembar yang tampak mengucek matanya lelah.


Dara mengangguk. "Iya, Lis. Mbak minta tolong ya. Rasanya badan Mbak capek sekali."


Elis mengangguk dan berlalu bersama si kembar menuju kamar mereka.


"Mbak, aku juga langsung ke kamar ya. Nanti baju-baju kotornya taruh aja di keranjang, besok biar aku yang cuci, Mbak pasti masih capek banget kan?" Indi memegang bahu Dara lembut.


Dara mengambil tangan Indi yang bertengger di bahunya dan menepuknya pelan.

__ADS_1


"Makasih banyak ya, Dek. Mbak bersyukur sekali ada kamu di sini, jadinya beban Mbak berkurang sedikit."  Dara mendekatkan jari telunjuk dan jempolnya sambil mengerling ke Indi.


Indi mengerucutkan bibirnya. "Iih, iya-iya besok-besok aku belajar ngerjain yang lain selain cuci piring sama cuci baju."


Dara tersenyum walau masih tampak getir dan mengelus kepala Indi penuh kasih sayang. Betapa hubungan baik yang dahulu di ajarkan sang bapak padanya begitu merasuk hingga sekarang. Bahkan tak sekalipun Dara mendendam walau terkadang Indi bersikap semena-mena padanya walau sangat jarang terjadi.


"Tuh kan malah nangis lagi, udah dong Mbak. Aku ikutan sedih nanti." Indi memeluk Dara erat.


Dara tertawa dalam tangisnya. "Nggak, Mbak kok cuma merasa kalau mata kamu itu mirip sekali sama Bapak. Dan melihatnya bikin rasa rindu Mbak ke Bapak sedikit terobati."


Indi melepas pelukan Dara dan menghapus air matanya.


"Kalau begitu nanti aku akan pelototin Mbak setiap hari, biar Mbak nggak nangis lagi gara-gara rindu sama Bapak. Ya udah ya, Mbak. Aku mau cepet mandi terus tidur, ngantuk banget ini. Mbak juga istirahat ya besok lagi nangis-nangisnya."


Indi segera masuk ke rumah setelah mendapat anggukan dari Dara.


"Ayo kita masuk, Sayang." Kini giliran Fatan yang menarik tangan sang istri untuk masuk ke kamar setelah meletakkan semua barang bawaan mereka ke dalam rumah.


Dara menurut dan mengikuti tarikan tangan suaminya menuju ke dalam.


Fatan menggaruk tengkuknya sambil tertawa sumbang.


"Ya gimana ya, Sayang? Kamu sih kalo Mas di rumah nggak pernah boleh bantu kerjaan kamu kayak nyapu atau ngepel, ya jadinya Mas bingung caranya," kilah Fatan cengengesan.


"Kan ada Indi?" Dara mengerutkan keningnya.


Fatan tampak terkesiap dan bingung untuk menjawab pertanyaan Dara.


"Ah, eh ... emmm In- Indi ... Indi kemarin jadwalnya padat, Sayang. Kuliah terus kerja sering lembur di suruh si Zaki jadi dia pulang ke rumah udah malem banget, makanya nggak sempet bebersih," ucap Fatan gugup.


Dara mengangguk mempercayai, walau hatinya sedikit kesal karna melihat rumahnya yang sudah seperti kapal pecah dengan berbagai barang berserakan di mana-mana.


"Udah, Sayang. Besok kita beres-beres sama-sama ya, biar besok Mas minta cuti buat bantuin kamu di rumah." Fatan merangkul pundak Dara dan membawanya menuju kamar agar tak terus menerus uring-uringan.

__ADS_1


****


Pagi tiba, namun sejak matahari belum terbit Dara tampak sudah sangat sibuk membereskan dapurnya yang benar-benar kotor dan berantakan. Entah apa yang sudah di lakukan suami dan adiknya di dapur itu sejak dirinya pergi.


Padahal baru 10 hari, dan bentuk rumah itu sudah mirip rumah hantu.


"Kayaknya Mas Fatan sama Indi masak onta di dapur ini, bisa-bisanya sampe sekotor ini dapurku ya Allah!" gerutu Dara sambil terus menggosok wajan penggorengan yang luar biasa berlemak.


"Nih, nih ... bekas rendang onta sama biawak goreng ini pasti nih! Sampe setebel aspal lemaknya!" sambung Dara belum selesai dengan omelannya.


Krompyang! Bruak!


Terdengar suara gaduh dari ruangan laundry pribadi yang terdapat di sebelah kamar mandi. Dara gegas mencuci tangannya yang penuh busa sabun dan berlari kecil menuju tempat laundry.


"Astaghfirullah!" seru Dara kaget.


Tampak di sana toples sabun cuci bubuk yang biasa tertata rapi di atas rak kini menggelinding di lantai dengan isi berhamburan kemana-mana.


"Ma- maaf, Mbak. Tadi tangan aku licin jadinya pas mau ambil sabun malah ...," gumam Indi sambil tersenyum kecil dengan mata menatap tak enak ke arah Dara.


Dara menepuk jidatnya berulang kali. "Kalau belum bisa kenapa maksain, Dek? Kan bisa minta tolong, Mbak?"


Indi tampak gelisah, terlihat dari gerak-geriknya yang tampak tak bisa tenang.


"Ya- ya gimana mau minta tolong, Mbak aja tadi lagi sibuk ngomel di dapur. Jangankan Indi, kecoa aja mungkin takut Mbak deketin Mbak kalo lagi ngomel begitu."


Dara berjalan mendekati tumpukan sabun cuci yang berhamburan di lantai dan mulai memungutinya.


"Udah ini biar Mbak aja yang ngelanjutin, kamu ngerjain yang lain aja sana."


"Ya udah Indi tinggal ya, Mbak. Maaf udah ngerepotin," tukas Indi sambil berjalan keluar ruangan laundry.


Dara tak menjawab hanya kepalanya saja yang mengangguk samar.

__ADS_1


"Yes!" lirih Indi sambil merentangkan tangannya ke atas ke bawah.


Setelahnya dengan mata berbinar senang dia membalas lambaian tangan seseorang yang tampak menunggunya tak jauh dari sana.


__ADS_2