TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 147. SADAR.


__ADS_3

"Apa maksud kamu bicara seperti itu, Fatan?" sergah Bu Maryam kesal, terlebih saat menatap wajah menantunya yang kini terlihat pongah itu.


"Ya tentu saja bukan? Aku! Aku juga di rugikan karena sebab ibu dan Indi, yang dengan tidak tahu malunya dulu menggodaku saat masih berstatus Kakak iparnya," seru Fatan pula.


"Di rugikan bagaimana yang kamu maksud, Mas?" kini giliran Dara yang bertanya.


 Fatan tersenyum miring sembari memegangi lengannya yang di tutup perban karna dia takut tusukan jarum yang menembus uratnya.


"Tentu saja, karena dia aku sampai harus kehilangan pekerjaan, anak anak, harta, dan terlebih lagi ... aku harus kehilangan seorang istri sebaik kamu," cicitnya melunak.


.


 Dara mendesah pelan, dia mengalihkan pandangannya pada Bu Maryam yang tampak tertegun mendengar pengakuan Fatan.


"Bukankah itu pilihan kamu sendiri, Mas? Tidak ada yang memaksa mu untuk menerima godaan Indi, tidak ada juga yang menyuruhmu untuk membalas semua perlakuannya pada mu dulu. Bahkan menikahinya juga adalah pilihanmu bukan? Lalu kenapa sekarang kamu seolah menyesal dengan pilihan yang kamu buat sendiri itu?" cecar Dara mulai kesall.


"Karena ... karna kamu tak pernah berubah, Dara. Kamu masih lah Dara yang aku kenal dulu, yang baik hati, lembut dan berhati bak malaikat. Tidak ada perempuan di dunia ini yang bisa menyaingi kamu."


 Dara berdecak, rona kekesalan tampak jelas di wajah cantiknya.


"Berhentilah menggombal, Mas. Maaf tapi itu tidak akan mempan untukku, aku sudah berubah, aku bukan Dara yang kamu kenal lagi, aku sudah istri orang sekarang itu yang perlu kamu ingat, dan juga aku sangat mencintai suamiku, dia hidupku, dan aku juga sedang mengandung buah hati kami. Jadi ... ketimbang mulai bicara yang tidak tidak lebih baik kamu rubah sikap gampanganmu itu dan lebih perhatian lah pada anak dan istrimu yang saat ini tengah terbaring lemah menunggu semangat dan kasih sayang dari kamu, Mas! Sadar!" papar Dara panjang lebar, membuat Fatan tertunduk diam mendengarnya.


"Tapi, Dara. Tak bisakah ...."


"Tidak bisa, Mas. Maaf," potong Dara cepat, sebelum Fatan sempat menyelesaikan ucapannya.


 Fatan terdiam, tak lagi mencoba bicara. Namun tak ada yang tahu apa yang saat ini tengah di pikirannya, apa mencerna ucapan Dara tadi atau malah memikirkan hal gila lainnya tak ada yang tahu.


 Dara berbalik pada Bu Maryam setelah berusaha menetralkan kemarahannya. Dia merogoh tasnya dan mengeluarkan beberapa lembar uang merah lalu di selipkan di tangan Bu Maryam.


"Ya Allah, untuk apa ini, Nak?" tanya Bu Maryam bingung.


"Buat makan ibu sama Indi, sama buat jaga jaga kalau ada sesuatu yang perlu di beli. Dara mau pulang dulu ya, Bu. Mau lihat kondisi si kembar," pungkas Dara cepat.


 Belum sempat Bu Maryam menahan Dara sudah lebih dulu melangkah meninggalkan koridor, melewati Fatan dengan lirikan tajam seakan bisa menelannya bulat-bulat.


 Sepeninggalan Dara, seorang suster datang menemui Bu Maryam dan Fatan.


"Maaf, keluarga pasien atas nama Indi?" ucapnya.


 Bu Maryam lekas mengangguk lalu berdiri di hadapan suster itu.


"Ada apa, sus?"

__ADS_1


"Pasien baru saja sadar, dan memanggil manggil seseorang dengan nama Fatan."


  Bu Maryam menoleh ke belakang dimana Fatan berdiri diam.


"Heh, suami tidak berguna! Kamu tidak denger barusan suster bilang apa?" bentaknya kesal.


 Fatan menoleh. "Apa?"


 Bu Maryam hanya bisa mendengus kesal lalu berjalan mendahului suster itu.


"Ayo kita pergi saja, sus. Kalau anak itu tidak mau lagi melihat kondisi istrinya, saya sumpahin dia jadi gembel di sini."


 Suster yang kebingungan itu hanya menurut saja saat Bu Maryam melangkah melewati Fatan, dia memimpin jalann menunjukan dimana saat indi sudah di pindahkan ke ruang rawat.


"Silahkan, ibu.".


 Suster itu membuka pintu lalu meninggalkan Bu Maryam di sana, pelan Bu Maryam mengayunkan langkahnya masuk ke dalam ruangan berbau obat itu. Di sana di atas sebuah ranjang rawat tampak tubuh lemah Indi terbaring sambil sesekali menggunakan sesuatu.


 Bu Maryam mendekat, menggenggam tangan Indi hingga mata yang tertutup itu perlahan mulai membuka.


"Mas Fatan ...," rintih Indi pelan sekali.


 Bu Maryam mengusap air matanya, mendudukkan tubuhnya di atas kursi dan tersenyum menatap sang putri yang berhasil selamat setelah perjuangan panjangnya.


"Dimana Mas Fatan, Bu."


.


 Bu Maryam hanya mendesah saat yang pertama kali di tanyakan Indi hanyalah sang suami yang sudah menorehkan luka di hatinya itu.


"Kamu nggak mau tanya kondisi anakmu dulu, Nak?" Bu Maryam coba bersabar dengan mengingatkan Indi akan sang bayi yang kini masih terbaring di inkubator.


"Mas Fatan, Bu. Dimana dia? Dia harus lihat bayi kami, pasti dia senang dan akan mengurungkan niatnya untuk menikah lagi, Bu."


 Tes..


Setetes air jatuh ke tangan tua Bu Maryam, Bu Maryam mendongak dan mendapati mata Indi basah sepenuhnya.


 Kesedihan itu perlahan menjalarinya pula, hingga tanpa sadar Bu Maryam juga ikut menangis.


"Kenapa kamu masih terus menanyakan dia setelah apa yang dia perbuat sama kamu, Indi?"


"Karna Indi masih mencintai Mas Fatan, Bu." Indi menjawab pelan, namun terdengar bagai petir yang menyambar di telinga Bu Maryam.

__ADS_1


 Bu Maryam tersenyum getir, enggan sudah bibir tuanya untuk menjawab. Sejak dulu, Indi adalah seorang yang keras kepala dan tidak bisa di cegah, jadi Bu Maryam memilih bungkam, walau dia tahu itu pilihan yang bisa saja salah.


"Indi," ucap Fatan yang ternyata tadi mengikuti Bu Maryam, dan sempat mendengar pembicaraan Bu Maryam dan Indi sebelumnya.


"Mas," lirih Indi sambil berusaha mengangkat tangannya hendak mencapai Fatan.


 Fatan mendekat, memegang tangan Indi lalu menghujani keningnya dengan ciuman.


"Terima kasih," bisik Fatan. "Terima kasih karna sudah begitu mencintai Mas, padahal selama ini Mas sangat jarang bersikap baik padamu," ucapnya lagi.


 Indi mengangguk lemah. "Anak kita, apa kamu sudah lihat anak kita, Mas?"


 Fatan mengangguk, genangan air mulai terbentuk di pelupuk matanya.


"Sudah, dia cantik ... seperti kamu."


 Sudut bibir Indi tertarik, membentuk sebuah lengkungan yang tak begitu lebar.


"Dia perempuan?"


 Fatan kembali mengangguk.


 Namun binar mata Indi perlahan redup, tatapan sendu dia tunjukkan pada Fatan.


"Apa kamu kecewa, Mas?"


 Kening Fatan membentuk kerutan kerutan dalam. "Kecewa? Kecewa untuk apa?"


"Apa kamu berkeinginan untuk punya anak laki laki?"


 "Kenapa kamu bilang begitu, Sayang?" tanya Fatan menghadirkan gelenyar aneh dan hati Indi yang selama ini hanya selalu menyimpan duka karena perlakuan kasar Fatan padanya itu.


"Jangan bilang begitu, Indi. Laki laki atau perempuan sama saja, yang penting anak kamu tidak kurang satu apapun," sela Bu Maryam yang tak suka mendengar Indi seolah membandingkan.


"Tapi ... bukankah anakku prematur, Bu?" Indi menatap Bu Maryam dengan mendung di wajahnya.


 "Iya, tapi bukan berarti dia tidak sempurna bukan? Hanya perlu sedikit lagi waktu untuk mematangkan fisiknya, bukan berarti dia tidak sempurna."


"Ibu benar, Sayang. Mas juga tidak meminta untuk punya anak laki laki, anak perempuan pun sama saja apalagi kalau dia cantik seperti kamu, Mas sangat bersyukur memiliki kalian," timpal Fatan.


 Haru menyelimuti hati Indi, air mata menetes dari matanya namun bukan air mata kesedihan lagi, kali ini hanya bahagia yang ada di hatinya.


 Air mata Fatan turut menetes, serta merta tubuhnya bergerak memeluk tubuh istrinya.

__ADS_1


"Mas berjanji akan berubah, demi kalian. Kamu dan anak kita," bisiknya tulus.


__ADS_2