
Elis tergelak. "Ah, bukan Elis, Mbak. Tapi ini nih, si jomblo satu ini akhirnya di lamar. Uhhh, romantis banget lagi Mbak lamarannya. Pake sandal Mbak tahu, bukan pake bunga sama cincin lagi."
Dara membolakan matanya sambil menatap Laila yang kini tampak salah tingkah kembali setelah di goda oleh Elis.
"Wah, Mbak Laila mau nikah? Sudah di lamar? Alhamdulillah, selamat ya. Ngomong ngomong siapa pria beruntung yang sudah bisa meluluhkan hati Mbak Laila dengan sepasang sandal?" tanya Dara dengan mata berbinar sedangkan Fatur hanya melongo karna tak mengerti apa yang di bicarakan para wanita dewasa itu.
Laila berbalik dan menatap Dara, namun saat baru akan menjawab Elis langsung menyela.
"Eits, Mbak Dara jangan salah. Jangan kira Elis bilang sandal langsung di kira sandal jepit biasa ya, Mbak."
"Terus sandal yang gimana dong? Tapi tadi kamu bilangnya cuma sandal," protes Dara tak sabar.
Elis mengerling penuh arti dan mengangkat sedikit bagian bawah gaun yang masih di kenakan oleh Laila karna belum sempat berganti pakaian.
"Tuh, Mbak liat sendiri." Elis terkekeh sambil menunjuk bagian kaki Laila yang kini terbuka.
"Waaww ... itu sepatu kaca branded. Luar biasa, limited edition loh itu. Kayaknya yang mau jadi calon suaminya Mbak Laila orang terpandang ya," ujar Dara takjub.
Laila langsung menarik bagian gaunnya yang masih berada di tangan Elis dan menutup wajahnya karena malu.
"Ah, ng- nggak kok, Mbak Dara. Elis cuma suka melebih lebihkan ini."
Elis mencebik. "Huh, gayanya malu malu padahal tadi aja berbunga bunga."
Laila semakin menutup wajahnya karena malu yang tak terkira, apa lagi kini di ruangan itu tak hanya ada mereka dan Dara tapi juga masih ada Zaki, Pak Jatmika, Bu Ambar dan juga si kembar yang menatap mereka dengan bingung.
"Mama, Mama ... Mama sama Mbak Elis dan Bu guru Laila ngomongin apa sih?" protes Fatur karna sejak tadi merasa di cuekin.
Dara terkekeh dan mengangkat tubuh gembul anaknya ke atas ranjang Elis dan mendudukkannya di sana.
"Bukan apa apa, Sayang. Mama sama Mbak Elis dan Bu guru cuma lagi ngomongin kalau Bu guru mau menikah," jawab Dara sabar.
"Apa? Menikah? Kayak Mama sama papa Zaki tadi ya?" tanya Fatur polos.
Dara menatap Zaki sekilas dan tersenyum.
"Iya, kayak gitu."
__ADS_1
"Terus Mbak Elis juga?" tanya Fatur belum puas.
Elis cepat cepat menyambar ucapan bocah tampan itu, karna takut dikira beneran.
"Eh, nooo! Bukan Mbak, Fatur sayang. Cuma Bu guru Laila, kalo Mbak mah masih lama. Hilal jodohnya juga belum ada," kekeh Elis sambil mengelus rambut Fatur gemas.
"Sama Halim aja, El." Zaki menimpali.
Laila sontak menatap Zaki horor sedangkan Elis tampak tertawa sumbang sambil menatap Zaki dengan mata berkedip kedip.
"Lho? Kenapa mata kamu, El? Kelilipan batu bata ya?" tanya Zaki yang tak mengerti arti kode kode Elis itu.
Elis mencebik. "Duh, Pak Zaki ini gimana sih? Masa nggak paham. Pak Halim itu ya orang yang ngelamar Mbak Laila, masa iya malah dijodohin sama Elis. Terus nanti Mbak Laila gimana?" ketusnya.
Zaki terbengong melompong, begitu pula Bu Ambar dan Zaki yang belum mengetahui fakta itu.
Sedangkan Dara dan Pak Jatmika yang merasa misi mereka akhirnya berhasil saling pandang dengan jempol teracung.
"Apa? Halim ngelamar Laila?" seru Zaki dan Bu Ambar hampir bersamaan.
"Mbak, ini baju ganti ...."
Halim menjeda kalimatnya karna kaget banyak orang yang ada di ruangan itu dan tengah menatap lurus padanya.
"Loh, ada apa ini?" tanya Halim sok polos.
Laila sendiri semakin menutup wajahnya dengan kain khimarnya, agar tak ada yang tahu betapa merahnya wajah itu saat ini. Terlebih saat Halim membawakan paper bag yang dia tahu isinya adalah pakaian ganti untuknya.
"Ecieeee calon manten!" seru semua yang ada di ruangan itu menggoda Halim.
Halim terpana sesaat, dan ketika sadar dia langsung menutup pintu ruangan rapat rapat. Dan berlari ke tengah tengah mereka.
"Tunggu dulu, tunggu. Ini ... ini ...." Halim mengangkat kedua tangannya dengan tampak sok polos tapi naif miliknya itu.
Pak Jatmika yang sudah tak sabar langsung bangkit dan merangkul pundak asisten pribadinya itu.
" Good job, Son. Sekarang kamu sukses membuktikan kalau kamu sudah bukan jomblo karatan lagi, katakan kamu mau pesta pernikahan dimana dan seperti apa? Atau saya tanya langsung sama calon istri kamu supaya dia yang pilih?" papar Pak Jatmika memberi pilihan.
__ADS_1
Tapi Halim malah tampak kelimpungan dan menggerakkan gerakkan tangannya ke kiri dan ke kanan.
"Tapi ... tapi."
"Halah sudah nggak usah sok jaim kamu, bilang aja seneng kok. Segala sok mau nolak, padahal biasanya juga minta," kekeh Pak Jatmika menoyor kepala Halim.
"Iya, Mas Halim. Udah terima aja hadiah dari bapak. Jarang jarang loh ada bos sebaik bapak tuh, yang mau biayain acara pernikahan asistennya. Tunggu apa lagi, gas kan lah." Zaki menimpali.
"Iya, Mas Halim. Terima aja, kami juga siap kok jadi tim suksesnya," sambung Dara tak mau kalah mengompori Halim.
"Iya, le. Mumpung bunda juga lagi seneng ini, karna pernikahan anak bunda sekalian saja kalau kalian mau menikah. Biar nanti bunda kasih springbed buat kadonya, kan berkesan itu buat malam pertama," sahut Bu Ambar ikut pula menimpali dan memancing gelak tawa semua orang.
Tapi bukannya senang Halim justru tampak semakin kebingungan, sesekali matanya menatap ke arah Laila yang kini malah diam seribu bahasa.
"Tapi, tapi, saya nggak bisa." Halim menatap mereka semua satu persatu.
Dahi Pak Jatmika berkerut dalam mendengar pernyataan Halim yang jomplang itu.
"Maksud kamu? Jangan sampai saya potong gaji kamu bulan ini dan bulan depan ya, Halim. Jangan main main sama saya," tegas Pak Jatmika senewen karna merasa di permainkan.
Halim nyengir kuda dan membentuk dua jari nya menjadi bentuk huruf V.
"Bu- bukan begitu, Bos. Saya seneng sekali Bos berniat membantu saya, apalagi semua yang ada di sini mendukung. Cuma masalahnya ...."
Halim kembali menggantung kalimatnya sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, matanya sesekali masih menatap Laila.
"Masalahnya apa? Cepet dong ah, di kira lagi kuis apa," gerutu Pak Jatmika sambil mengacak rambut Halim yang tingginya tak melebihi telinganya itu.
"Masalahnya ...."
Halim kembali menjeda kalimatnya, membuat mereka semua deg degan sekaligus geram dengan tingkahnya.
"Halim, saya ...." Pak Jatmika yang sudah tak sabar hendak melepas rangkulannya di pundak Halim dan baru saja akan mengatakan untuk memotong gajinya.
Namun Halim yang sadar situasi segera menangkap lagi tangan Pak Jatmika dan menjatuhkan diri di bawah kakinya dengan wajah menghiba.
"Masalahnya lamaran saya belum di terima, Bos! Jadi gimana saya mau nikah!"
__ADS_1