
"Tapi kenapa, Mbak? Apa karna Mbak masih mencintai Mas Fatan? Mbak lupa apa yang Mas Fatan dan Indi sudah lakukan pada kita?" desak Zaki.
Dara menggeleng. "Bukan, bukan karena itu, Zaki."
"Lantas?"
"Tapi ... karena kamu lebih muda dari Mbak. Mbak hanya ... hanya merasa minder jika harus bersanding dengan berondong seperti mu, nanti apa kata ibu ibu tetangga," ujar Dara malu.
Zaki mengulum senyum tipis. "Jadi ... sebenarnya artinya Mbak mau menerima ku kan?"
Dara membuang wajahnya malu, menyembunyikan semburat merah yang sudah sangat lama tak muncul di sana.
"Mbak? Kenapa harus malu begitu sih? Biasanya juga ceplas ceplos aja ngomongnya." Zaki terkekeh sambil merogoh kantongnya dan mengeluarkan sesuatu dari sana.
"Apa sih, nggak usah norak kamu ya. Saya nggak lagi malu kok, lagi pengen lihat ke sini aja," dalih Dara yang justru membuatnya terlihat konyol.
Zaki menutup mulutnya dan menahan tawa, setelahnya dia berjongkok di hadapan Dara. Dengan gagah, menunjukkan sebuah cincin berlian di dalam kotak berwarna merah di hadapan Dara.
"Mbak, lihat sini," pintanya lembut.
Dara menoleh, dan betapa terkejutnya dia melihat cincin itu dan posisi Zaki yang persis prosesi lamaran di film Drakor yang dia tonton.
"Za ... Zaki, ini ...." Dara tidak mampu meneruskan kalimatnya, seluruh hatinya di penuhi bunga yang tiba tiba bermekaran.
"Dara, Will you marry me?" tanya Zaki dengan suara selembut sutra.
__ADS_1
Dara menutup mulutnya tak percaya, matanya berkaca-kaca seolah kejadian di depannya adalah hal yang tidak nyata. Dara bahkan tak sadar saat Zaki langsung mengambil jemari lentiknya dan memakaikan cincin berlian itu di sana.
"Kamu tidak perlu menjawab iya, Mbak. Anak anak sudah menjawabnya untuk mu, jadi di sini tugas Mbak hanya menerima terutama nanti saat aku akan membawa bunda kembali ke sini untuk melamar Mbak secara resmi."
Dara semakin kehilangan kata kata di buatnya, rasanya dia tak sanggup untuk sekedar menyanggah atau menolak permintaan Zaki. Tapi hati kecilnya juga merasakan perasaan nyaman itu sendiri, walau hingga kini selalu dia tutupi karna merasa tak pantas.
"Ah ya, satu lagi. Ini juga ada titipan dari bunda untuk Mbak, katanya kalau Mbak bersedia menerima lamaran kami ... tolong pakai ini di acara nanti, namun jika tidak tolong di simpan baik-baik sebagai tanda silaturahmi kita." Zaki kembali mengambil tangan Dara dan memakaikan sebuah gelang emas model serut di tangannya yang indah.
Gelang itu semakin tampak memperindah tangan Dara, apalagi dengan adanya cincin berlian yang melingkar di jari manisnya. Membuat tampilan Dara tampak semakin paripurna.
Walau Dara sendiri kini bingung harus berkata apa.
"Mbak, terima kasih untuk kesempatan yang berkenan kamu berikan ini. Tidak usah menunggu waktu lama, seminggu lagi Zaki akan kembali bersama Bunda ke sini untuk melamar Mbak, selama itu Mbak bisa mengambil waktu yang cukup untuk memikirkan semuanya matang matang. Yang jelas, aku tidak masalah dengan apapun status Mbak Dara dan apa perkataan orang. Bagiku yang penting bisa berada di dekat kalian dan melindungi kalian dalam ikatan yang halal itu sudah cukup."
Zaki bangkit minta diri, dan berjanji akan kembali lagi saat Minggu sudah berganti.
****
Di rumah Zaki.
"Zaki, gimana? Sukses?" tanya Bu Ambar tak sabar sambil menarik tangan anaknya untuk duduk di sampingnya.
"Alhamdulillah, Bun. Cuma Mbak Dara sepertinya masih ingin memikirkannya lagi, jadi Zaki memberinya waktu satu Minggu, semoga saja selama itu Mbak Dara bisa berpikir lebih jernih dan bisa mengambil keputusan yang tepat." Zaki menghela nafas panjang dan menghembuskannya perlahan, ternyata hanya dengan membicarakannya Dara saja sudah bisa membuat jantungnya berdebar tak karuan.
Bu Ambar tampak memasang wajah senang. "Alhamdulillah, semoga Dara mau menerima pinangan kamu, Nak. Bunda akan selalu doakan agar kalian berjodoh. Rasanya bunda sudah tidak sabar rumah ini bisa ramai dengan suara tawanya si kembar."
__ADS_1
"Apa bunda benar benar menyayangi si kembar? Mereka satu satunya semangat Mbak Dara saat ini, Bun. Jangan cuma sayang sesaat dan setelah itu nanti bunda lupa sama mereka. Kaya di film film itu, setelah nanti di kasih cucu kandung cucu sambungnya di lupakan, amit amit begitu, Bun." Zaki mengambil gelas air mineral kemasan di atas meja dan meminumnya.
Bu Ambar mencebik. "Kamu kita bunda ini sejahat itu? Apa pernah bunda melakukan seperti yang kamu bilang itu ha? Dasar anak nakal, bisa bisanya dia menuduh bundanya sendiri seperti itu. Mau kamu nggak bunda lamarkan nanti si Dara buat kamu?"
Zaki tampak menyengir kuda, menampakkan barisan gigi kelincinya dengan satu gingsul di sisi kanan giginya. Tampak manis dan mempesona sekali di wajahnya.
"Jangan ngambek begitu dong, bunda yang cantiknya nggak ketulungan. Masa begitu aja marah sih?"
Bu Ambar semakin menggeser duduknya menjauh dari Zaki, sambil melipat tangan di dada dan membuang muka dari Zaki.
"Huh, bodoamat. Bunda pokoknya mau nanti kamu bawa si kembar ke sini, bunda kangen sama mereka. Biar Dara juga bisa fokus kerjanya sampai nanti kamu yang akan menafkahi mereka kalau Dara menerima lamaran kamu. Sekarang kita harus meringankan beban Dara dengan membantu menjaga anak anaknya, soalnya kan katanya pengasuhnya lagi cuti."
Zaki tampak manggut-manggut. "Okelah, bun. Nanti coba Zaki bilang ke Mbak Dara apa boleh kalau si kembar main di sini buat nemenin bunda, soalnya habis ini Zaki juga masih ada rapat sama pemilihan grup M. Semoga saja Zaki menang tender dan bisa buat ajak si kembar dan mamanya jalan jalan"
Senyum mengembang di bibir Zaki membayangkan jalan jalan bersama Dara dan si kembar seperti sebuah keluarga kecil yang bahagia.
Tapi semua hayalan itu buyar ketika Bu Ambar meraup wajahnya dengan satu tangan.
"Sadar, mimpi jangan di siang bolong begini. Dia itu belum resmi istrimu, segala mimpi mau bawa jalan jalan. Si kembar aja dulu kalo mau, mamanya nanti tunggu setelah para saksi bilang sah!" omel Bu Ambar sambil bangkit dari posisi duduknya dan berlalu menuju kamarnya sendiri. Melanjutkan kegiatannya nonton Drakor kesukaannya.
Sementara itu di rumah Dara.
Dara tengah duduk sendiri di depan jendela kamarnya, tempat dimana dulu dia dan Fatan sering menghabiskan waktu untuk bercerita bersama. Entah kenapa belakangan ini kenangan demi kenangan indah kembali menyeruak menyerbu batinnya. Bukan karena dia masih cinta, tapi karena hatinya mulai goyah antara kebencian dan kecenderungan ingin menggantikan semuanya dengan yang baru dan berbeda dari biasanya.
Dara mengelus cincin berlian pemberian Zaki sambil menatap jauh ke depan.
__ADS_1
"Haruskah ku terima pinangan ini? Atau terus sendiri merawat anak-anak? Membiarkan diri hilang di telan terpaan angin kenangan yang selalu datang tanpa ampun?"