TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 80. KADO MISTERIUS 2.


__ADS_3

Perlahan Indi menyobek kertas kado bercorak motif batik itu dan membukanya perlahan, sebuah kotak bekas susu anak tampak menyembul dari sana. Namun indi yakin kalau isinya bukan susu anak seperti kotaknya.


"Duh, jadi deg degan sih?" gumam Indi tersenyum senyum sendiri.


 Beberapa kali di gerakkan kotak itu seperti mengeluarkan suara seperti ada beberapa barang yang saling bertabrakan di dalamnya.


"Indi!" panggil Bu Maryam yang entah sejak kapan rimbanya tiba tiba sudah ada di ambang pintu kamarnya yang memang tidak di tutup itu.


 Indi berdecak. "Apa sih, Bu? Ngagetin aja tau nggak?"


 Bu Maryam masuk dengan tak sabar dan ikut duduk di hadapan Indi.


"Gimana isi kadonya? Apa? Ibu udah kepo berat tau dari tadi soalnya dari sekian banyaknya orang yang datang di kampung ini, cuma gadis itu loh yang ngasihnya kado. Amplop tebal gitu mendingan," sungut Bu Maryam tak bersyukur.


 Karna dia tau kalau orang kampung amplopnya biasanya isinya banyak, tidak seperti di tempatnya yang jika isi amplop paling banyak hanya duit ungu sudah bagus. Jika di kampung ini bisa sampai beberapa lembar merah di balik satu amplop. Tapi tetap harus di catat dan di kembalikan setelah nanti jika di pemberi juga mempunyai hajat atau acara di rumahnya.


 Indi menunjukkan kotak persegi itu yang bahkan belum di buka olehnya.


"Belum ini loh, tunggu aja di situ kalo ibu penasaran. Indi juga penasaran soalnya," sahut Indi.


 Bu Maryam mengangguk dan menunggu dengan tak sabar, karena Indi membuka kotak itu seperti akan mendapat hal yang paling luar biasa saja. Padahal dalam hati Bu Maryam sudah mencibir pastilah isinya tak lebih dari barang murahan.


Sreekk


 Kotak terbuka, beberapa benda tampak keluar dari sana dan berhamburan di atas kasur.


 Mata Indi membola melihat benda benda itu, di tambah Bu Maryam yang sampai berjingkat ngeri karenanya.


"Hih, anak gadis kok udah paham begituan?" lirihnya sambil menjauh, tapi matanya masih tetap memindai barang barang yang ada di atas kasur Indi itu.


"Bu, ini ...."

__ADS_1


 Indi menggantung kalimatnya dengan mata melotot ke arah ibunya.


"Jangan di buang, In. Lumayan buat kamu sama Fatan, manatau berguna buat bisa lekas punya anak. Hihihi, ibu juga pengen gendong bayi lagi," kekeh Bu Maryam sambil melipir keluar kamar karna rasa penasarannya sudah terobati.


 Indi mencebik dan duduk di antara barang barang pemberian Intan. Di sana terserak beberapa buah bungkusan berwarna hitam bertuliskan magic, beberapa botol gel pelumas berwarna biru, juga ada bungkusan berisi plastik elastis warna warni tapi ujungnya tampak sudah di beri lubang, dan parahnya lagi ada beberapa kertas dengan tulisan seperti link untuk menuju suatu website.


 Karna penasaran dengan link itu, Indi pun meraih ponselnya dan mulai mengetik kode link tersebut.


"Astaga, anak siapa sih ini?" kesal Indi saat melihat dengan mata kepalanya sendiri isi dari link tersebut kini yang menampilkan berbagai macam pilihan video berdurasi beragam yang menampakkan adegan dewasa dengan tulisan warning.


 Indi menepuk jidat. "Jangan kira anak jaman sekarang sepolos penampilannya ya, netijen."


****


 Di kediaman Dara.


 Dara melepas handuk yang melilit di kepalanya, dia baru saja mandi setelah menghadiri pertemuan dengan para staff dan karyawan Bapaknya di kantor. Rasanya seluruh tubuhnya panas dan lengket setelah melihat langsung wajah wajah yang sudah bergosip tentangnya. Mengharuskan rencananya dan Pak Jatmika untuk merahasiakan saja hubungan kekeluargaan mereka menjadi berantakan, kini semua karyawan tahu dan jujur Dara tak begitu menyukai itu.


 Hari ini si kembar berada di sekolah sendiri, karna Elis izin ingin pergi ke acara pernikahan temannya jadi dia tidak bisa masuk kerja untuk mengasuh si kembar.


 Rasa cemas mulai merongrong benak Dara, ia mencoba menelpon Bu guru Laila namun ternyata nomor teleponnya tidak aktif. Tak habis akal, Dara mencoba lagi menelpon guru anaknya yang lain.


"Assalamualaikum, Bu. Apa si kembar masih ada di sekolah? Soalnya ini kan sudah lewat waktunya pulang tapi anak-anak belum pulang." Dara langsung bertanya begitu telepon di angkat.


"Wa'alaikumsalam, Bu Dara. Iya tadi saya yang mau anterin si kembar pulang karena kan kata mereka Elis nggak ada hari ini, tapi pas saya sama si kembar udah mau berangkat ada beberapa anak yang ngejekin si kembar. Terus Farah nangis, dan Fatur langsung maju belain adiknya. Tapi malah Fatur yang di buli mereka, saya aja sampe nggak di denger loh sama anak anak itu,untung aja tadi ada yang jemput si kembar dan dia juga yang belain si kembar tadi di depan teman temannya yang lain." Guru itu menyahut tegas menceritakan semua yang di ketahuinya pada Dara.


 Dara mengigit bibir bawahnya karena semakin cemas." Terus sekarang si kembar kemana, Bu? Apa masih ada sama Bu guru?".


"Maaf, Bu Dara. Tapi si kembar tadi pilih ikut pulang sama orang yang bantuin mereka. Kayaknya sih mereka emang udah kenal, si kembar juga kayak manja banget sama dia jadi ya saya percaya aja."


"Nama orangnya siapa ibu guru tau nggak?" cecar Dara semakin gundah.

__ADS_1


"Wah, iya ya saya lupa tanya tadi Bu Dara. Soalnya sehabis itu dia langsung bawa si kembar masuk ke mobil, dan anehnya si kembar nurut aja malah mereka ketawa ketawa, begitu saya tanya katanya Fatur itu calon papanya mereka."


  Rasa hati Dara semakin tak karuan, dia juga jadi kesal dengan guru dari anaknya tersebut, bagaimana bisa di melepas muridnya pergi dengan orang lain hanya karna mereka tampak akrab. Kan bisa saja orang itu justru punya niat jahat dengan membawa anak anaknya.


"Ya sudah Bu, saya mau cari sendiri anak anak saya."


 Dara mematikan sambungan teleponnya dengan perasaan tak menentu, setelah menyambar jilbab instan besarnya di balik pintu Dara keluar dan menyambar kunci motor di atas nakas.


 Tapi belum sempat pergi, terdenger deru mesin mobil berhenti di muka rumahnya, Dara menoleh dan mendapati mobil yang dia kenal ada di sana.


"Mama!" seru si kembar berbarengan sambil beranjak turun dari mobil.


. Dara menghembuskan nafas lega, dan turun dari motornya untuk menyambut kedua buah hatinya.


"Mama, kami tadi di ejek sama teman teman." Fatur dan Farah memeluk Dara dan menumpahkan kekecewaan mereka.


 Dara mengecup kening kedua anaknya dan mengelus pipi mereka.


"Di ejek gimana, Nak?"


 Fatur melerai pelukannya dari Dara dan mulai bicara serius.


"Kata mereka Fatur sama Farah nggak punya Papa, Papanya di ambil pelakor."


"Farah mau punya Papa lagi, Ma. Farah nggak mau di ejekkin lagi," tangis Farah kembali pecah dan Fatur langsung memeluknya .


 Dara kebingungan mengatasi permintaan anak anaknya, namun Fatur malah berujar sambil menunjuk mobil yang masih terparkir di depan rumah Dara.


"Gimana kalo om itu jadi Papa kami, Ma? Tadi Fatur udah tanya dan om nya katanya mau. Dia juga mau tinggal di sini bareng kita, dan nggak akan bawa Tante Indi ke sini kayak Papa Fatan."


 Dara menoleh ke arah mobil, dan terpana begitu kaca depan mobil terbuka, menampakkan siapa pengemudinya.

__ADS_1


__ADS_2