
Hari yang di tunggu pun tiba, Zaki sudah bersiap di rumahnya tampak gagah dengan setelan pakaian casual berupa kemeja biru langit berpadu celana bahan berwarna hitam. Hanya tinggal mengenakan sepatu santai sembari menunggu bundanya bersiap.
"Zak, Dara sama si kembar sudah di telpon?" tanya Bu Ambar dari dalam kamarnya.
"Sudah, Bun. Katanya Mbak Dara sama anak anak pergi duluan soalnya mau beli buah tangan buat Pak Jatmika dulu." sahut Zaki sambil tangannya tetap sibuk memasang kaos kaki pendek di kakinya yang bersih.
"Ya sudah, kalau gitu ayo berangkat. Bunda sudah nggak sabar ini mau bahas pernikahan kalian." Bu Ambar tampak sudah berdiri di ambang pintu kamarnya dengan bersemangat.
Gamis biru navy cantik yang sangat kontras dengan kulit Bu Ambar yang putih berpadu sempurna dengan jilbab berwarna moca muda yang membalut kepalanya. Tak ada perhiasan yang berlebihan kecuali sebuah cincin kecil yang merupakan peninggalan dari almarhum suami Bu Ambar, ayahnya Zaki yang sudah lama berpulang.
Zaki menyelesaikan proses memasang sepatunya dan dengan mengulas senyum percaya diri dia melangkah mantab menuju mobil dan membukakan pintu untuk malaikat hidupnya itu.
"Halah, sudah belajar so swit rupanya anak ini," kekeh Bu Ambar sambil naik ke dalam mobil yang pintunya sudah di bukakan Zaki.
Zaki ikut terkekeh, dan berputar menuju pintu mobil yang satu lagi untuk segera berangkat menuju rumah Pak Jatmika mengingat hari sudah semakin sore.
Beberapa lama di perjalanan, Zaki di minta bunda nya untuk berhenti sejenak di depan sebuah gerai buah.
"Kita beli buah dulu buat calon mertua kamu, hihi anggap aja sogokan," seloroh bu Ambar sambil turun dari mobil dan menuju tukang buah yang tokonya tampak cukup bersih dan lengkap itu.
Zaki geleng-geleng kepala sambil tersenyum. "Ada ada aja sih, bunda. Masa sogokan katanya, di kata Mbak Dara barang apa."
Setelah lima belas menit menunggu, Bu Ambar akhirnya kembali sambil membawa banyak sekalia macam buah di dalam beberapa kantong plastik dan juga satu yang di bentuk seperti parcel besar.
"Zaki! Tolongin ini bawanya!" seru Bu Ambar yang mulai merasa kewalahan.
__ADS_1
Pemilik toko ingin membantu, namun rupanya tokonya tiba tiba ramai di kunjungi pelanggan hingga membuatnya tidak bisa menolong Bu Ambar membawakan belanjaannya.
Zaki bergegas turun dan cepat mengambil alih parcel buah besar itu dari tangan bundanya.
"Ya ampun, Bun. Jadi daritadi lama itu bungkusin ini?" tanya Zaki setelah parcel sukses masuk ke bagian kursi penumpang.
Bu Ambar meletakkan sisa barang bawaannya ke bagasi belakang, dan menutup pintunya.
"Ya nggak, itu tadi bunda nggak sengaja liat jadi sekalian beli. Bunda lama tadi karna ketemu temen lama, ternyata dia yang punya toko buah ini. Dia jualan sama suaminya, itu yang lagi jaga di depan. Beruntungnya juga tadi bunda beli agak banyak malah di kasih diskon ya udah Bunda ambil aja parcel besar itu sekalian, buat balas kebaikannya." Bu Ambar menjelaskan.
Zaki hanya ber oh ria dan mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju rumah Pak Jatmika. Zaki sedikit menaikkan kecepatan mobilnya karena hari semakin beranjak menuju gelap.
"Lumayan jauh juga rumahnya ya, Zak." Bu Ambar membuang pandangan ke arah luar.
"Iya, Bun. Harusnya tadi kita berangkat agak lebih cepat, biar nggak Maghrib di jalan gini," sahut Zaki tetap fokus pada kemudinya.
"Ya ampun , Bun. Di terima aja belom lamarannya," kekeh Zaki walau hatinya mulai berdesir seiring semakin dekatnya jarak menuju rumah Pak Jatmika.
"Bunda doakan semoga di terima."
"Amiiinnn," sahut Zaki keras.
Setelah beberapa menit berlalu, mereka akhirnya sampai di depan rumah Pak Jatmika, Zaki menekan klakson dan sebentar kemudian pintu gerbang yang tinggi dan megah itu pun terbuka.
Tampak wajah yang sangat di kenal Zaki semenjak bekerja sama dengan Pak Jatmika di sana. Ya, siapa lagi kalau bukan di jones Halim yang saat ini sedang patah hati karna pujaan hatinya ada yang melamar, mungkin dia lupa kalau dia kemarin yang mendoakan Dara supaya lekas di lamar orang. Setelah doanya terkabul, malah dia yang kelimpungan sendiri.
__ADS_1
"Mas Halim," sapa Zaki saat mobilnya melewati sisi tubuh Halim yang masih setia memegangi pagar.
"Y." Halim menjawab acuh, dan langsung menutup pintu gerbang kembali setelah mobil Zaki masuk sepenuhnya.
Halim bergegas masuk lewat pintu garasi dan menutupnya agak keras, persis seperti ibu ibu yang lagi ngambek sama suaminya gara gara nggak di belikan kuota.
Zaki dan Bu Ambar tak begitu memperhatikan tingkah Halim, dan langsung menuju pintu utama dimana Pak Jatmika sudah menunggu di sana bersama si kembar yang tampak sangat cantik dan tampan.
"Om baik!" seru ke duanya dan langsung menghambur memeluk Zaki.
"Mari masuk, Bu silahkan masuk." Pak Jatmika mempersilahkan mereka masuk dengan ramah, tak ada raut wajah dingin seperti saat dia berada di kantor.
Zaki dan Bu Ambar mengangguk dan mengikuti langkah Pak Jatmika masuk ke dalam rumah besar itu, dengan si kembar yang masih berada di gendongan Zaki. Sengaja Pak Jatmika tidak meminta si kembar untuk turun karna ingin melihat sendiri seberapa sabar calon menantunya itu menghadapi ke dua cucu kembarnya.
"Assalamu'alaikum," sapa Bu Ambar saat melihat Dara yang tengah sibuk berkutat di meja makan, sedang menyiapkan makan malam untuk mereka.
"Wa'alaikumsalam," Dara mendongak dan mengulas senyum lebar sambil berjalan mendekati Bu Ambar yang beberapa waktu terakhir ini sudah sangat akrab dengannya.
"Ya ampun, Fatur Farah kok minta gendong berdua gitu sih? Kasian dong Om zakinya berat, sayang." ucap Dara saat melihat kelakuan dua anaknya yang bergelayut manja di tubuh Zaki. Satu di kiri dan satu di kanan.
Pak Jatmika turut memindainya dan seulas senyum puas terukir di wajahnya.
"Nggak papa, Mbak. Nggak terlalu berat kok," kilah Zaki yang memang tidak merasa keberatan harus menggendong dua bocah itu sekaligus.
Zaki yang rajin nge-gym dan fitness itu tentu saja tidak merasa keberatan, karna sudah sering mengangkat beban yang bahkan lebih berat ketimbang dua calon anaknya itu.
__ADS_1
"Udah, udah, Mas. Taruh di kursi aja anak anak, kasihan ah. Fatur, Farah duduk di kursi yang anak pintar," bujuk Dara lagi, dan kali ini si kembar menurut kemudian turun dari gendongan Zaki dan duduk manis di meja makan.
"Sepertinya ... adzan Maghrib sudah berkumandang. Bagaimana kalau kita sholat berjamaah dulu?" ajak Pak Jatmika sambil menatap Zaki penuh arti.