
Malam sebelumnya di rumah Fatan Dara.
"El, badan saya pegal-pegal. Saya mau istirahat dulu ya, tolong jaga anak-anak," ujar Fatan setelah dokter yang memeriksa si kembar pulang.
"Iya, Pak. Saya akan jaga si kembar dengan baik," ucap Elis tersenyum sembari menyuapi si kembar makan.
Fatan mengangguk samar dan beranjak meninggalkan Elis dan si kembar yang sudah kembali aktif bermain.
"Oh ya, El." Fatan berbalik, "kalau Dara telepon, entah kapan. Jangan bilang kali si kembar sempat pingsan gara-gara obat tidur yang di kasih Indi ya. Saya nggak mau mereka nanti malah jadi berantem, lagi pula si kembar sudah baik-baik saja."
"Ba- baik, Pak." Elis mengangguk patuh walau batinnya bertentangan dengan permintaan Fatan.
Namun mau bagaimana lagi, dia di sana hanya bekerja. Urusan hal yang terjadi di dalam rumah itu bukanlah ranahnya untuk ikut campur, jadi Elis memilih menurut saja ketimbang harus terkena masalah nantinya.
Blam
Fatan menutup pintu kamarnya pelan.
"Mbak Elis," panggil Fatur pelan.
Elis mendekat sembari tersenyum manis dan menyuapkan sesendok makanan ke mulut Fatur kemudian bergantian ke Farah.
"Ada apa, anak ganteng?" tanyanya lembut.
"Papa sama Tante Indi ada hubungan apa? Kenapa mereka sering deket-deketan kalo nggak ada Mama?" tanya Fatur polos.
Elis gelagapan tak menyangka bocah seumur Fatur bisa bertanya pertanyaan seperti barusan.
"A- apa? Kok Fatur ngomongnya gitu? Kan Papa sama Tante kalian itu juga saudara jadi wajar dong kalo deket?" kilah Elis.
Farah menggelengkan kepalanya, membuat rambut panjangnya berkibar.
"Nggak, Mbak Elis. Saudara itu kayak Farah sama Fatur, bukan kayak Papa dan Tante."
"Iya bener, lagi pula masa kalo saudara main cium-cium kaya anak kecil begitu. Padahal kata Mama kalo sudah besar nggak boleh sembarangan cium orang, Fatur sama Farah aja nggak boleh sembarangan cium orang," protes Fatur membantah.
Elis menggigit bibir bawahnya, dia lupa kalau saat ini tengah berhadapan dengan dua anak super kritis dan tidak akan berhenti bertanya sampai mendapat jawaban yang memuaskan mereka.
"Ehhheeemmm ... gimana kalau nanti kalo Mama pulang kalian tanya langsung sama Mama? Eh, tapi bakal lebih cepat kalau besok aja kalian tanya langsung sama Papa atau Tante kalian. Eh, tapi ...." Elis menggumam lirih, menyadari kalau dari semua pilihan yang di berikannya tidak ada satupun yang aman untuk di coba.
__ADS_1
Jika si kembar bertanya pada salah satu dari orang di keluarganya perihal hal itu, tentu saja secara tidak langsung Elis sudah menyulut api pertengkaran di keluarga tersebut.
Kini Elis dalam dilema besar, hendak menjawab lagi tapi takut malah semakin merembet kemana-mana. Tidak di jawab takutnya si kembar malah akan mencari jawaban ke orang lain di rumahnya atau parahnya ke tetangga.
"Mbak Elis? Kok malah diem sih?" desak Fatur tak sabar, bahkan kini dia dan Farah mulai mengguncang kaki Elis agar lekas menjawab.
"Ehh, anu ... aduuhhh gimana ya. Ya Mbak juga nggak tau anak-anak," sahut Elis akhirnya.
Fatur dan Farah melepaskan kaki Elis dan mengerucutkan bibirnya sepanjang yang mereka bisa. Dengan tangan terlipat di dada khas ngambeknya anak kecil.
"Ah, Mbak Elis nggak seru!" protes Farah membalikkan badannya membelakangi Elis, begitu pula dengan Fatur yang ikut ikutan membelakangi Elis.
Kini Elis kelimpungan karena di musuhi dua anak asuhnya bersamaan. Saat tengah berusaha membujuk Fatur dan Farah terdengar gerbang rumah di buka di susul pintu rumah yang turut terbuka. Menampakkan wajah cantik Indi yang tengah tersenyum lebar dengan dua kantong mainan di tangannya.
"Halo keponakannya Tante! Coba liat Tante bawain apa?" seru Indi dari depan pintu.
Si kembar menoleh dan segera bangkit berlarian menuju Indi dengan wajah sumringah.
"Yeeeyyyy mobil remote!" seru Fatur girang sambil mengeluarkan sebuah kotak berisi mainan mobil remote control terbaru dan membongkarnya di lantai.
"Yeee Farah dapat boneka beruang!" seru Farah pula dan mengangkat tinggi boneka beruang berukuran sedang dengan warna pink cantik ke atas kepalanya.
Si kembar berlarian menuju kamarnya dan mulai bermain bersama di sana. Sedangkan Indi berjalan angkuh mendekati Elis.
"Ku kira sepinter apa pengasuh yang di pilih Mbak Dara buat ngasuh si kembar. Ternyata nggak lebih dari perempuan tonggos yang bodoh dan nggak berpendidikan. Masa ngatasin anak-anak ngambek aja nggak bisa, dasar nggak becus!" sindir Indi sembari mendekatnya wajahnya ke wajah Elis.
Elis menunduk tak berani menjawab, memendam semua rasa sakitnya di dada.
Indi memundurkan tubuhnya dengan kedua tangan bersedekap di dada.
"Sekarang anak-anak sudah sibuk sama mainannya, dan sekarang juga tugas kamu buat jagain mereka sebaik-baiknya. Jangan biarin mereka mendekat ke kamar Mas Fatan atau kamar aku di sana, atau mereka akan melihat hal yang nggak seharusnya mereka lihat. Dan akibatnya? Yah harusnya kamu tau sendiri kan?"
"I- iya, Mbak." Elis menunduk semakin dalam, tak berani menatap wajah Indi yang ada di hadapannya.
Elis butuh uang, dan dia tak ingin kehilangan pekerjaannya karena hal ini.
"Dan satu lagi." Indi mencondongkan tubuh ke arah Elis, "kalau kamu melihat hal yang bertentangan sama naluri kamu di rumah ini. Tutup mulut kamu! Kalau sampai hal itu tersebar ke luar, kamu orang pertama yang akan aku cari dan hancurkan! Paham kamu?"
Lagi lagi Elis mengangguk cepat dan sedikit memundurkan tubuhnya ke belakang.
__ADS_1
"I- iya, Mbak. E- Elis paham."
Indi tersenyum miring. "Bagus! Sekarang pergi ke kamar si kembar dan temani mereka main. Jangan sampai mereka keluar kamar atau ...."
"Mbak Elis!" teriakan Fatur memutus perkataan Indi, Fatur berlari menuju ke arah mereka sambil memeluk mobilannya.
Indi cepat-cepat mengubah ekspresinya menjadi tersenyum manis di depan Fatur.
"Ada apa, Nak?" tanya Elis lembut.
"Fatur sama Farah mau tidur di depan TV. Mau main sepuasnya sampai ketiduran sambil nonton kartun, boleh ya?" pinta Fatur memelas.
Elis menatap Indi seakan meminta persetujuan karena tadi Indi berkata untuk tidak membiarkan anak-anak keluar kamar.
Indi mendesah. "Ya sudah, tapi ingat! Cuma di situ saja, jangan biarkan mereka keliaran kemana-mana."
Elis mengangguk dan bergegas membawa Fatur menuju kamar untuk mengambil kasur lipat sebagai alas tidur mereka.
"Merepotkan!" dengus Indi sembari menuju ke kamar Fatan dan masuk begitu saja tanpa izin.
Hal di luar nalar kembali terjadi, berjam-jam mereka bergulat dalam peluh tanpa rasa bersalah secuil pun. Sampai akhirnya sebuah dering ponsel menghentikan kegiatan mereka.
Indi masuk ke dalam selimut, menutupi seluruh tubuhnya sampai kepala.
"Siapa yang tidur di belakang kamu, Mas?" seruan Dara terdengar sampai ke telinga Indi dengan cepat dia berguling dan akhirnya jatuh ke lantai dengan wajahnya mendarat lebih dulu.
"Mbak Dara s*al!" umpatnya lirih.
Fatan masih bercakap-cakap dengan Dara di telpon, Indi yang kesal akhirnya bangkit dan dengan santainya berjalan di belakang Fatan.
"Mas itu apa hitam-hitam di belakang kamu?" seruan Dara lagi lagi sampai ke telinga Indi. Tampak Fatan berbalik dalam ruangan remang itu, Indi yang memang sengaja menampakkan diri untuk mengerjai Dara terkikik geli sambil naik ke atas kasur dan duduk di atas tubuh Fatan.
Fatan tampak panik saat Indi mulai bertingkah lagi di bagian bawahnya sedangkan saat ini wajahnya bisa terlihat jelas oleh Dara di layar ponsel.
Keringat dingin keluar dari pori-pori kulit Fatan saat Indi dengan bersemangat menaik turunkan tangannya di organ vitalnya membuat Fatan tak tahan dan akhirnya memilih mengakhiri sesi video callnya dengan sang istri tercinta dan lebih memilih menggarap Indi kembali.
"Dasar nakal! Kamu benar-benar luar biasa, Indi," bisik Fatan di sela-sela kegiatan panas mereka yang entah sudah beberapa kalinya hari itu.
Indi begitu menikmati setiap sentuhan haram kakak iparnya, merasa menang karna sudah berhasil memiliki Fatan pula.
__ADS_1
Tanpa mereka sadari sebuah kabar luar biasa sudah menanti mereka di esok hari.