
Kita tinggalkan sejenak kebahagiaan Halim dan Laila yang masih jadi manten baru dan juga Zaki - Dara yang sedang menikmati masa masa kehamilannya.
Kita bergeser sejenak menilik kehidupan Indi, Fatan dan Bu Maryam yang hampir terlupakan karna authornya mageran ini.
Di kampung Fatan.
"Mas, tokennya habis kamu tolong belikan ya." Indi berjalan pelan mendekati Fatan yang kini tampak tengah sibuk dengan ponselnya.
Perutnya yang membuncit karna sudah memasuki bulan ke tujuh ke hamilan membuat Indi semakin sulit bergerak.
"Mas nggak ada uang," sahut Fatan singkat, padat dan jelas.
Indi mendesah berat, bukan kali pertamanya sejak kembali dari rumah Pak Jatmika beberapa bulan lalu, sifat Fatan malah menjadi semakin dingin padanya. Terlebih sejak sulitnya mendapatkan pekerjaan di kampung tersebut membuat Fatan tak jarang menjadi uring-uringan, dan malah pernah pula sampai tak pulang ke rumah.
"Terus kita gimana, Mas? Beras di dapur juga hampir habis, belum lagi yang lain lain. Untuk calon anak kita yang sebentar lagi akan lahir juga kita belum punya persiapan apa apa loh, Mas." Indi mulai mengeluh mengeluarkan semua unek-unek di kepalanya, tangannya bergerak pelan mengelus perut yang kini terasa di tendang lembut dari dalam itu.
Fatan mendengus, meletakkan ponselnya ke atas meja dan menatap Indi dengan tatapan tajamnya.
"Terus mau kamu apa?" dengusnya.
Indi menunduk tak berani menatap wajah Fatan yang tampak mulai emosi itu.
"A- aku, aku ... cuma mau kamu kerja, Mas. Supaya kebutuhan kita bisa terpenuhi, mau sampai kapan kamu cuma diam di rumah dan mengharapkan uang dari ibu."
Ya, semenjak kembali Fatan memang belum mendapat pekerjaan lagi. Usaha yang semula akan di rintisnya di desa berujung bangkrut karena tak adanya skill dalam diri Fatan. Hingga akhirnya Bu Maryam yang sudah tua lah yang harus turun tangan menjadi buruh cuci gosok di rumah para tetangga yang sibuk dengan kebun dan ladangnya dan tak sempat melakukannya, itu pun hanya mendapat upah tak seberapa dan selalunya habis untuk kebutuhan hidup mereka sehari-hari.
"Kerja apa, Indi? Kamu kan lihat sendiri di desa ini bahkan nggak ada yang bisa di lakukan. Semua orang mengerjakan sawah dan ladangnya sendiri, nggak ada yang butuh bantuan. Jadi Mas harus apa? Harus bagaimana? Kamu itu tahunya mengeluh saja! Coba kamu contoh Dara! Dia itu mandiri, punya usaha dan tidak semata mata mengandalkan uang dari suami!" bentak Fatan malah marah marah dan beranjak meninggalkan Indi sendiri di teras depan rumah.
__ADS_1
Memilih masuk ke dalam rumah dan kembali berbaring di atas kasurnya kamar, tanpa memikirkan ucapan Indi atau kondisi rumah itu selanjutnya. Semua dia serahkan pada sang mertua yang kini harus mati matian berjuang seorang diri.
"Bodo amatlah, males aku mikirinnya. Orang aku bisanya kerja kantoran kok malah di suruh ngebajak sawah, ya ogah lah aku." Fatan ngedumel sendiri di dalam kamarnya dan kembali lagi sibuk dengan ponselnya, melihat video-video tidak penting yang lewat di beranda aplikasi hitamnya.
Indi masih terduduk terpekur di teras, merenungi nasib yang seakan tak lagi berpihak padanya. Kehilangan kepercayaan orang orang sejak ketahuan kalau dirinya adalah seorang pelakor di rumah tangga kakaknya sendiri, kehilangan pendidikan karena terlalu terpukau dengan indahnya perselingkuhannya dengan Fatan dulu, kehilangan kehidupan yang dia inginkan karena memilih Fatan ketimbang Zaki yang jelas jelas lebih segalanya dari Fatan dahulu. Dan kini semua itu justru di miliki oleh Dara sebagai istri Zaki.
Indi menghembuskan nafas panjang, rasa sesak memenuhi batinnya, tapi dia bisa apa? Menolak malang pun tak sanggup di lakukannya, selain menerima dan menjalani takdir yang sudah di pilihnya sendiri itu.
Saat tengah asik melamun, tampak Bu Maryam baru saja pulang dari rumah tetangga, pakaiannya tampak basah sebagian mungkin karna air cucian. Bu Maryam berjalan tergopoh-gopoh agar bisa lekas sampai ke rumah.
"Assalamu'alaikum," ucapnya terdengar lelah, lalu langsung saja bergegas naik ke teras dan duduk selonjoran di sana.
"Wa'alaikumsalam, capek ya, Bu?" tanya Indi sambil beranjak berpindah tempat duduk ke dekat ibunya dan mulai memijat tengkuknya.
"Lumayan, in. Yah, namanya juga kerja kasar, mana ada yang nggak capek. Kerja di depan laptop aja ada capeknya kan?" ucap Bu Maryam berusaha tersenyum walau nafasnya nampak tersengal.
"Fatan mana, in?" tanya Bu Maryam setelah beberapa saat saling diam.
"Ada, Bu. Di dalam," sahut Indi dengan perasaan tak enak, karna sebab Fatan tidak bekerja kini ibunya lah yang harus memikul beban hidup mereka seorang diri, karna dirinya sedang hamil besar dan tak mungkin ikut bekerja.
"Belum dapat kerja juga?" tanya Bu Maryam lagi, terdengar sangat pelan dan hati-hati mungkin karna tak ingin menyinggung perasaan sang putri yang tengah hamil itu.
Indi menggeleng pelan.
"Belum, bu."
Bu Maryam hanya bisa mendesah berat, hatinya sebenarnya mencelos entah bagaimana lagi caranya menyadarkan sang menantu yang sudah terlalu terlena dengan menjadi pengangguran itu.
__ADS_1
"Padahal sawah dan ladang peninggalan orang tuanya ada di ujung desa sana, kenapa nggak di coba di garap supaya menghasilkan?" celetuk Bu Maryam.
Sontak mata Indi membulat mendengarnya, karna kabar itu baru di ketahuinya sekarang.
"Loh, Bu? Bukannya kata Mas Fatan semua peninggalan orang tuanya sudah di jual?"
Bu Maryam menggeleng.
"Nggak, in. Sawah dan ladang yang itu masih ada, ibu juga baru tahu di kasih tahu Bu Sukri tadi. Awalnya ibu juga kaget mendengarnya, sebab Fatan nggak pernah cerita ya kan?"
Indi tertegun, jantungnya bergemuruh mendengar pengakuan ibunya.
"Untuk apa Mas Fatan menyembunyikan itu semua dari kita, Bu? Bukankah malah bagus kalau dia ternyata masih punya warisan? Jadi harusnya hidup kita nggak susah begini?" keluh Indi kecewa.
"Entahlah, coba nanti kamu tanyakan baik-baik sama Fatan. Tapi usahakan jangan marah marah, supaya dia mau jujur." Bu Maryam bangkit hendak masuk ke dalam rumah, guna membersihkan tubuhnya yang sudah terasa lengket karena menjadi buruh cuci gosok sejak pagi.
Sepeninggalan Bu Maryam, Indi kembali terpekur di tempatnya menatap kosong jalanan di depannya yang basah oleh guyuran air hujan pagi tadi.
"Eh, ada pelakor lagi melamun? Merenungi nasib hidup ya?" ledek intan, anak Pak Sukri dan Bu Sukri yang sejak awal memang sangat tak suka dengan Indi itu.
Indi menoleh cepat dan balas menatap tajam gadis cantik dengan rambut terurai panjang itu.
"Jaga ucapanmu ya, Intan! Masih gadis tadi sukanya menghina orang! Pantas saja sampai sekarang nggak laku-laku!" hardik Indi berang.
Intan tampaknya tak terpengaruh, malah dengan langkah kemayu dia berjalan mendekati pagar rumah tersebut dan bersandar di sana layaknya seorang model.
"Ya gimana ya? Namanya yang aku inginkan jadi suamiku itu masih jadi suamimu sih, Mbak. Makanya kamu lepasin dong Mas Fatan, atau kalau nggak izinkan dia punya istri lagi, yaitu aku."
__ADS_1