
"Ah, coba cek ke sana aja ah. Manatau pak bos nyariin aku," gumam Halim sembari beranjak bangkit dari tempat duduknya.
"Mau kemana, Mas?" suara lembut Laila mengagetkannya, cepat Halim berbalik dan tersenyum.
"Mau ke rumah ibu sebentar, kayaknya ada Pak bos di sana," sahut Halim apa adanya.
Laila tersenyum dan mengangguk.
Namun baru saja hendak memakai sandalnya, sebuah tangan halus nan lentik menahan pergerakan Halim.
Laila berdiri di dekatnya masih dengan senyum manisnya yang membuat Halim diabetes setiap hari, hingga dia terpaksa mengurangi konsumsi gula sejak menikah, dasar pengantin baru.
"Laila ikut deh, Mas. Pengen ngobrol sama ibu," ucap Laila lembut.
Halim mengangguk setuju, lalu bersama mereka pun menyebarangi jalan menuju ke rumah yang sebelumnya di tempati Halim dan Bu Hana tapi kini hanya di tempati Bu Hana saja itu.
"Assa ...."
"Gila kamu ya!"
Salam yang baru saja hendak keluar dari bibir Halim terpaksa terputus, karna suara bentakan yang cukup nyaring dari dalam rumah minimalis itu.
Halim dan Laila saling pandang, namun tak terlontar sepatah katapun dari bibir mereka. Mereka malah fokus mendengarkan suara yang terdengar dari dalam rumah.
"Hana, dengarkan dulu ... maksud saya bukan begitu," ucap seseorang yang di kenal Halim sebagai suara Pak Jatmika.
Kening Halim berkerut, ada urusan apa sang bos dengan sang ibu sampai harus bertamu di waktu senja menjelang seperti ini. Mana tidak mengabarinya lebih dulu lagi, huh Halim merasa di remehkan.
"Sudah, tak ada lagi yang perlu saya dengar! Sekarang tolong keluar dari rumah saya, sudah hampir maghrib tidak sepantasnya ada tamu di rumah saat maghrib apalagi kita bukan muhrim," tegas Bu Hana sambil membuka lebih lebar pintu utama rumah yang sebenarnya sudah terbuka itu.
"Tapi, Hana ...."
"Saya bilang keluar dari rumah saya!" geram Bu Hana lagi, masih belum menyadari adanya Halim dan Laila yang kini berdiri di bawah jemuran melihat adegan romantis di depannya.
"Tapi, Hana ...."
Pak Jatmika tampak keluar dan berdiri berhadapan dengan Bu Hana yang melotot.
__ADS_1
"Tapi apa lagi sih? Apa ucapan saya kurang jelas? Apa perlu saya pinjam toa masjid untuk bicara sama kamu supaya kamu dengar?" bentak Bu Hana senewen.
Pak Jatmika menggeleng sambil menggoyangkan tangannya ke kiri dan ke kanan.
"Bukan ,bukan begitu maksud saya."
"Terus apa? Dasar orang tua bau tanah!" umpat Bu Hana yang tak bisa lagi menahan sabarnya, rasanya dia ingin mengacak-acak wajah pria tua di depannya itu saat ini juga. Kalau saja pria tua itu bukan orang kaya yang bisa menyewa pengacara sekelas Hotman Paris mungkin cakar cakaran sudah berlaku untuk mengusirnya.
Halim dan Laila saling pandang lalu menutup mulutnya masing-masing untuk menahan tawa yang rasanya sudah akan meledak itu. Hingga pipi masing-masing menjadi menggelembung seperti balon.
"Heh, saya tanya terus apa? Kenapa malah bengong di sini sih? Saya nggak punya hutang ya sama kamu, Jat. Jangan bikin saya di pandang salah paham dong sama warga yang lain." Bu Hana masih tak berhenti mengomel, rasanya dia ingin sekali menendang pria tua di hadapannya itu dengan tumitnya agar lekas melayang ke planet lain.
Pak Jatmika tampak terkesiap.
"Ah, maksud saya tadi itu ini kan rumah pemberian saya dan namanya juga masih atas nama saya. Jadi kalau kamu mau rumah ini jadi punya kamu ya kamu harus terima syarat saya tadi," kekeh Pak Jatmika dengan nada canda.
Namun Bu Hana yang sudah terlanjur kesal tak tertarik sama sekali malah membelalakkan matanya menatap tajam Pak Jatmika.
"Nggak! Nggak sudi saya! Sudah sana kamu pulang, saya mau mandi!" sentak Bu Hana sambil mendorong tubuh Pak Jatmika keluar dan menutup pintunya dengan agak kasar, karna kalo terlalu bar bar bisa bisa nanti pintunya lepas di buat Bu Hana.
Brakkk
Pak Jatmika jatuh di lantai teras depan rumah lalu meringis memegangi pinggangnya yang terasa bergeser ke samping itu.
"Aduhhh, begini banget sih nasib orang kaya kayak saya," keluhnya sambil berusaha bangkit berdiri walau sambil tertatih dan berpegangan dengan apapun yang ada di sana.
Namun karna tak memperhatikan apa yang di pakainya sebagai pegangan Pak Jatmika salah memegang dan membuat pot bunga kesayangan Bu Hana jatuh ke lantai.
Braakkk
"Hadddooohhh, pinggangku!" jerit Pak Jatmika yang terjatuh untuk yang ke dua kali, teriakannya yang membahana membuat Bu Hana yang baru saja meraih handuk kembali keluar dari goanya, eh maksudnya rumahnya.
Kalau kalian tanya kemana Halim dan Laila, mereka masih asik nonton adegan itu dari bawah jemuran sambil ngemil kembang kantil, kayak di bioskop.
Brakkk
Pintu rumah kembali di buka oleh bu Hana, dan betapa kagetnya dia saat mendapati Pak Jatmika terkapar di antara serpihan pot bunga dan tanah pupuknya yang berserakan.
__ADS_1
"Ya Allah!" seru Bu Hana dengan wajah cemas .
Sadar Bu Hana kembali dengan wajah khawatir, Pak Jatmika sengaja memasang wajah memelas sembari memegangi pinggangnya yang memang kesakitan itu, jadi bentukan wajahnya lumayan meyakinkan lah untuk mendapat perhatian sedikit. Tapi sayangnya, saat Bu Hana melangkah mendekat dan Pak Jatmika sudah bersiap untuk di tolong dengan menjulurkan tangannya, Bu Hana malah melangkah melewatinya dan memungut bunga aster kesayangannya yang sudah tertumpuk tanah dan pecahan pot keramiknya.
"Ya Allah, Lili sayang. Kamu nggak papa, Nak?" seru Bu Hana sambil berdiri dan membawa bunga aster yang mempunyai dua mahkota bunga itu masuk ke dalam rumah melewati Pak Jatmika yang masih terkapar di sana dengan wajah melongo.
Brakkk
Bu Hana kembali menutup pintu, menutup harapan Pak Jatmika pula untuk mendapatkan pertolongan atau setidaknya sekedar perhatian darinya.
"Ya ampun, itu kan bunga aster kenapa di panggil lili?" gumam Pak Jatmika sambil kembali berupaya bangkit sendiri.
Brak
Pintu kembali terbuka tepat saat Pak Jatmika baru saja berhasil berdiri walau dengan sebelah tangannya memegangi pinggang yang ngilu.
Halim dan Laila semakin menikmati tontonan ya dengan mengambil kembang kantil lebih banyak lagi, seperti menonton bagian scene menegangkan di sebuah film laga.
Kepala Bu Hana mendadak menyembul dari balik pintu, dengan tatapan horor dia melempar tatapan tajam pada Pak Jatmika yang salah tingkah.
"Kamu!" tunjuk Bu Hana ke depan wajah Pak Jatmika yang kebingungan. " Bereskan itu semua, enak saja sudah bikin berantakan malah mau pergi gitu aja."
Pak Jatmika menelan ludah dengan susah payah, dan tanpa kata dia hanya mengangguk anggukan kepalanya pasrah. Toh dia sudah kalah telak kali ini.
"Dan satu lagi!" sentak Bu Hana sebelum menutup pintu rumahnya lagi.
"Apa?" tanya Pak Jatmika sembari meringis nyeri.
"Kamu ganti pot keramik yang persis kayak yang kamu pecahkan itu, itu mahal tau!"
Pak Jatmika melempar pandangan ke arah pot keramik yang kini sudah tak berbentuk itu, dan lagi lagi dengan pasrah hanya mengangguk mengiyakan.
"Tapi kamu harus beli langsung di tempat pengrajinnya, yang original!" titah Bu Hana lagi.
"Baiklah, katakan saja alamatnya di mana."
" Tiongkok."
__ADS_1
"Apa?" seru Pak Jatmika terkejut.
.