
Perjalanan menuju rumah sakit terasa sangat romantis bagi Bu Hana, karna Pak Jatmika tak pernah segan untuk sekedar berhentilah sebentar dan membelikannya bunga atau makanan kecil agar dia tidak bosan.
Belum lagi perlakuannya yang lembut dan sopan semakin membuat Bu Hana kagum dan semua rasa benci yang dulu pernah dia rasakan pada pak Jatmika hilang sirna tak berbekas.
"Cuacanya dari enak ya, Dek." Pak Jatmika bergumam sembari memperhatikan arah luar dari samping jendela kemudi.
Bu Hana mengernyit heran. "enak gimana, Mas maksudnya?"
"Iya, enak. Abisnya ada bidadari dari tadi senyum terus," kekeh Pak Jatmika mengundang tawa Bu Hana pula.
Wajah Bu Hana kembali memerah, di alihkannya pandangan dari Pak Jatmika agar tak semakin malu.
"Gombal, inget umur Mas. Sudah bukan masanya buat kita begitu ah," protes Bu Hana yang sama sekali tak di gubris Pak Jatmika.
Pak Jatmika justru sangat senang melihat raut wajah malu malu meong dari wajah Bu Hana, tampak sangat lucu dan menggemaskan di matanya. Sangat cocok dengan tubuh Bu Hana yang bisa di bilang imut dan langsing.
"Nanti pernikahan kita mau di laksanakan di mana?" celetuk Pak Jatmika tiba tiba.
Bu Hana mendelik, tak menyangka Pak Jatmika akan langsung membahas hal itu. Padahal dia saja belum memikirkannya, eh sudah sih tapi belum sampai ke kapan dan dimana akan di laksanakan.
"Kenapa Mas tanya sama saya?" Bu haa kebingungan.
"Ya karena perempuan biasanya banyak maunya, harus begini harus begitu makanya akan lebih baik kalau membiarkan perempuan yang memilih. Itu akan lebih efektif dan mempersingkat waktu," tukas Pak Jatmika lembut, sangat kebapakan.
Bu Hana manggut-manggut paham. "Oooh, begitu kalau itu m .... Apa tidak sebaiknya kita acara sederhana saja? Sudah tua ini, kenapa juga harus pake pesta mewah? Buang buang uang dan tenaga, mending uangnya buat kita kasih ke cucu kita dan sisanya buat liburan lagi ke Cappadocia."
Pak Jatmika tertawa pelan mendengar permintaan terasa Bu Hana. "Pemikiran yang matang, baiklah saya akan turuti semua kemauan dek Hana. Setelah menikah nanti, kota ke Cappadocia, oke?".
"Deal," kekeh Bu Hana pula, serasa mimpi terbang melayang di udara dia saat ini. Tak pernah Bu Hana memimpikan bisa ada di posisi ini sekarang, sebab di dalam pikirannya yang dia doktrin untuk dirinya sendiri selama ini, semua lelaki itu pengecut dan semaunya sendiri. Itu juga yang membuat Bu Hana enggan menikah dan memilih mengadopsi seorang anak dari panti asuhan, pindah tempat tinggal lalu mengaku janda agar tak ada lagi yang usil terhadap kehidupannya.
"Kita sudah sampai," celetuk Pak Jatmika.
Mobil berhenti, Bu Hana celingukan melihat dimana keberadaan mereka saat ini.
"Kita dimana, Mas? Bukannya mau ke rumah sakit?" tanya Bu hana sembari mengikuti Pak Jatmika yang sudah keluar dari dalam mobil.
Pak Jatmika menunjuk sebuah toko besar di depannya dengan sumringah. "Tadi kamu yang minta kita beli kado dulu untuk cucu kita, ya sudah Mas mampir ke sini dulu."
Bu Hana ber oh ria lalu mengikuti langkah Pak Jatmika masuk ke dalam toko tersebut.
Sebuah toko peralatan bayi yang sangat lengkap dan bagus terpampang di depan sana, hampir saja membuat Bu Hana kalap karna terlalu bersemangat. Barang barang bayi yang terbaru dan terbaik ada di sana. Yang pastinya akan membuat ibu ibu baru atau calon ibu dan ayah kelabakan untuk membelinya.
"Wuuuaaahhhhh, lengkap dan bagus sekali tokonya, Mas." Bu Hana berseru girang, ya sebabkan moodnya perempuan itu belanja gaes. Nggak peduli umur kalau udah di ajak belanja apalagi niatnya borong rasanya pengen tinggal di toko dua hari dua malam ya nggak sih.
Pak Jatmika mengulas senyum. "Dek Hana pilihlah, mana saja yang akan kita berikan pada anaknya Dara, cucu kita. Mas mau beli minum dulu di sebelah ya."
Bu Hana mengangguk dan mulai mengitari toko itu untuk memilih apa yang sekiranya cocok untuk bayi yang kata Pak Jatmika berjenis kelamin perempuan itu. Semakin lebar senyum Bu Hana sebab barang barang untuk bayi perempuan tentunya lebih menarik dan penuh pernak pernik yang cantik dan memanjakan mata.
"Selamat datang, Ibu ada yang bisa saya bantu?" Sapa seorang gadis berkerudung navy yang memakai seragam berlogo toko tersebut.
Bu Hana tersenyum ramah padanya. "Ah iya, saya mau cari kado buat cucu saya."
"Ah, baik ibu. Ibu mau yang sudah di rangkai di dalam hampers atau mau pilih sendiri? Nanti bisa kami pakaikan hampers jika mau untuk kado," ujar gadis itu tak kalah ramah.
Bu Hana mengangguk dengan antusias. "Wah, boleh boleh iya saya mau. Tapi lebih baik kita lihat yang sudah jadi dulu, siapa tahu ada yang cocok sama saya."
Gadis berkerudung itu mengangguk ramah, dan menggerakkan tangannya mempersilahkan bu Hana berjalan ke bagian kanan.
Beberapa set hampers untuk bayi perempuan menjadi sasaran Bu Hana, hampers yang isinya sudah lengkap untuk satu set pakaian dan ada juga yang lengkap dengan handuk atau selimut bayinya menjadi pilihan Bu Hana. Namun itu belum cukup membuatnya puas, belum pernah mempunyai bayi dan anak perempuan benar benar menbuatnya kalap dalam membeli kado yang akan di peruntukkan bagi bayi Dara dan Zaki.
"Wah, selera ibu memang benar benar bagus. Apa ini untuk bayi yang spesial?" tanya sang gadis berkerudung yang sejak tadi dengan sabar menunggunya belanja.
__ADS_1
Bu Hana tertawa pelan. " Iya, ini untuk cucu saya. Apa segini cukup? Ah rasanya saya ingin memborong lebih banyak lagi, barang di sini bagus bagus."
"Alhamdulillah kalau begitu, Bu. Tapi ... jbu serius ini semua buat cucu ibu? Ah padahal tadi saya pikir ibu belum punya cucu, wajah ibu terlihat lebih muda untuk itu ," sahut si gadis itu tersipu.
"Ah kamu terlalu melebih lebihkan, saya ini sudah tua kok.". Bu Hana merendah.
"Tidak, saya serius wajah ibu terlihat masih muda," seloroh gadis itu lagi.
"Ah kamu bisa saja, tapi ... terima kasih ya."
Bu Hana kembali menyusuri toko tersebut, memilih beberapa barang lagi yang menarik di matanya. Pernak pernik anak perempuan yang bahkan dia baru tahu kalau itu ada. Ah, sungguh hidup sendiri tanpa pernah merawat bayi membuatnya sekatrok itu. Bu Hana tertawa sendiri menyadari kekonyolannya.
"Ngomong ngomong, apa ibu bisa sekalian pilihkan kado yang bagus juga untuk saya?" celetuk gadis itu tiba tiba saat Bu Hana tengah memilih boneka boneka lucu di etalase khusus.
Bu Hana berbalik dan menatapnya heran. " Untuk apa? Anak kamu?"
Gadis itu tergelak. "Apa saya kelihatan sudah tua? Padahal saya bahkan belum menikah."
"Ah, maaf kalau begitu. Maksud saya bukan begitu," tukas Bu Hana tak enak.
"Tidak apa, Bu saya mengerti.".
"Lalu, kamu mau kado buat siapa? Bayinya laki laki atau perempuan?" tanya Bu Hana.
"Untuk bos saya, Bu. Kebetulan dia baru melahirkan, saya ingin memberi kado yang bagus untuk bayinya. Karna selama saya bekerja di sini, beliau selalu memperlakukan saya dengan baik," sahut di gadis.
Bu Hana mengangguk senang. "Baiklah, saya akan bantu. Apa bayinya laki laki?"
"Tidak, Bu bayinya perempuan."
"Wah, sama kalau begitu ya. Baiklah saya akan bantu pilihkan," gumam Bu Hana sumringah.
Beberapa set hampers dan pernak pernik lain milik Bu Hana sudah di bungkus cantik, demikian pula dengan kado yang di minta di gadis untuk di carikan, dan pilihannya jatuh pada salah satu dari dua set hampers yang dh pilihkan Bu Hana.
Bu Hana menoleh dan mengangguk. "Ya? Oh kebetulan sekali sudah selesai, lihatlah. Apa ada yang kurang? Atau Mas ingin menambahkannya lagi?"
Pak Jatmika memeriksa isi dari kantong berisi hampers cantik tersebut dan tersenyum.
"Sudah sempurna, ayo kita berangkat. Minumnya sudah saya taruh di mobil," ujar Pak Jatmika.
"Baiklah, pergilah duluan. Saya sedang menunggu kembalian," balas Bu Hana yang di jawab anggukan saja oleh Pak Jatmika sembari melenggang pergi menuju parkiran.
Setelah menerima kembaliannya Bu Hana langsung menyusul Pak Jatmika, rupanya pria yang rambutnya tidak tampak beruban karna di semir itu telah menunggunya dengan membukakan pintu samping mobil .
"Maaf membuat Mas menunggu lama," ujar Bu Hana sembari memasukkan lebih dulu barang belanjaannya ke dalam mobil.
"Menunggu hatimu terbuka sekian tahun lamanya saja saya sanggup, apalagi hanya sekedar menunggu beberapa menit di depan pintu begini? Kecillah itu buat saya, paling cuma kepanasan saja kok," kekeh Pak Jatmika sembari menutup pintu mobil di sisi Bu Hana dan masuk lewat pintu satunya.
"Itu minumannya, silahkan di minum calon makmunku." Pak Jatmika terkekeh lagi.
Bu Hana meliriknya sekilas dan mengulum senyum. "apa sih, Mas? Sudah nggak pantes ah."
"Menurut saya pantas saja kok," kilah Pak Jatmika sembari menjalankan mobilnya perlahan membelah jalan raya.
Bu Hana tak menjawab lagi, memilih mengambil minuman dengan merk berwarna merah itu dan menikmati isinya. Manis dan menyegarkan, Bu Hana bertekad dalam hatinya akan kembali ke sana untuk membeli minuman itu lagi nanti.
Perjalanan menuju rumah sakit terasa menyenangkan, dengan gombalan dan ocehan Pak Jatmika yang terkadang absurd lumayan membuat Bu Hana terhibur. Tidak seperti sebelum sebelumnya yang selalu kesal setiap melihat Pak Jatmika muncul di hadapannya. Itulah namanya yang pepatah bilang jangan benci terlalu banyak karena benci dan cinta itu bedanya setipis tisu di bagi tujuh.
Sesampainya di rumah sakit, Bu Hana dan Pak Jatmika langsung menuju ke ruangan yang sudah di beri tahu oleh Dara sebelumnya. Tak sulit mencarinya karena masih terletak di lantai satu rumah sakit, tak perlu kesana kemari naik turun tangga dan lift untuk mencapainya.
"Assalamu'alaikum," ucap Pak Jatmika dan Bu Hana berbarengan.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam."
"Bapak? Bu Hana? Ayo masuk," sapa Dara sumringah, dia tampak tengah menimang bayinya di dalam gendongan, sedang kan Zaki tengah berbaring mengeloni si kembar yang tampak juga tertidur di kasur khusus untuk penunggu pasien.
"Ya ampun, lucunya cucu Oma." Bu Hana masuk lalu langsung menatap takjub pada bayi yang ada di dalam gendongan Dara.
"Alhamdulillah, Bu. Rejeki," sahut Dara merendah.
"Dara, ini dari bapak dan Bu Hana." Pak Jatmika meletakan barang bawaan mereka di dekat ranjang Dara, lalu berdiri di samping ranjang sng putri untuk melihat cucu ketiganya yang tengah terlelap setelah puas menyusu itu.
"Ya ampun, bapak sama ibu repot repot segala. Tapi, makasih banyak loh ya Pak, Bu. Semoga di balas berkali lipat sama Gusti Allah SWT."
"Amiin, amin." Pak Jatmika dan Bu Hana menyahut berbarengan.
Dara menoleh ke arah suaminya, hendak memintanya untuk membelikan sesuatu untuk sang bapak dan Bu Hana. Namun tampaknya ayah baru itu juga turut tertidur sembari mengeloni si kembar, sedangkan Elis tadi berpamitan untuk mengecek behel giginya sebentar di poli gigi yang juga ada di rumah sakit tersebut.
"Pak, Bu maaf ya belum bisa ngasih suguhan. Mas Zaki tidur kayaknya, Elis lagi keluar tadi," ucap Dara dengan raut wajah tak enak.
"Hah, nggak papa sudah. Kamu sendiri sudah makan belum?" timpal pak Jatmika yang langsung di angguki oleh Bu Hana.
"Sudah kok, Pak. Tapi kalau boleh Dara masih mau makan lagi kok," kekeh Dara tanpa merasa bersalah, toh dia tengah meminta pada bapaknya bukan pada orang lain.
Pak Jatmika mengacak rambut anaknya itu dengan gemas. "Sudah punya anak tiga pun masih aja manja."
Dara tertawa pelan karna tak ingin sampai membangunkan bayinya yang tengah terlelap.
"Ya sudah, biar bapak pesankan. Kamu mau makan apa anak manja?"
Dara berpikir sejenak. "Nasi soto kayaknya enak ya, Pak? Bu Hana mau juga itu pasti."
"Ah nggak, saya sudah makan. Dara saja yang di pesankan," tolak Bu Hana.
Pak Jatmika mengering ke arahnya. " Kalau di pesankan cincin kawin saja mau nggak, dek Hana?"
"Mau, eh apa?" Wajah Bu Hana seketika memerah.
Dara tergelak menyaksikannya, sedang Pak Jatmika juga tampak senyum senyum penuh arti sambil sesekali melirik Bu Hana.
"Sudah sudah, ah kalian ini bikin saya malu. Dara, sini ibu pengen gendong bayi kamu boleh?" tanya Bu Hana sembari mengulurkan tangannya hendak meminta bayi Dara.
Dara tersenyum dan mengangguk. "Boleh ,Bu. Semoga lekas nular biar bisa punya cucu lagi ya, Bu," ucap Dara tulus, sembari mengaminkan sendiri dalam hati agar laila bisa lekas memberikan keturunan untuk suami dan ibu mertuanya itu yang sebentar lagi akan jadi ibu tiri Dara pula.
Bu Hana mengaminkan lalu membawa bayi Dara menjauh karena tak ingin menjadi bahan godaaan bapak dan anak itu lagi.
Namun rupanya gurauan mereka tadi sempat membangunkan Zaki yang memang tak sengaja terlelap. Zaki langsung bangun dan perlahan bangkit dari sisi anak-anaknya, berusaha agar mereka tidak terbangun.
"Pak? Kapan datang? Maaf saya ketiduran." Zaki mengulurkan tangannya hendak menyalami Pak Jatmika.
"Baru saja, tidak apa apa kok. kamu pasti capek mengurus ini dan itu, terima kasih ya karena sudah menjaga anak bapak yang manja ini dengan baik." Pak Jatmika mengulas senyum.
Zaki mengangguk pelan, lalu berlalu menuju kamar mandi sekedar untuk membasuh wajahnya yang terasa masih ngantuk.
Usai dari kamar mandi, terdengar suara ketukan di pintu ruang rawat Dara.
Tok
Tok
Tok
"Permisi."
__ADS_1
"Ya? Sebentar," ucap Zaki melangkah membuka pintu.
"Loh? Bu zaenab? Ngapain ibu ada di sini? Dan ibu tahu darimana kalah istri saya di rawat di sini?" seru Zaki kaget.