TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 241.


__ADS_3

Dara melangkah ringan sembari mendorong kereta bayinya yang kini tampak kembali terlelap. Sembari memandang sekitar , dara berniat mampir ke lapak kue dan sarapan pagi milik Indi untuk membeli beberapa makanan di sana. Namun kala melintasi rumah Pak Jamal, tetangganya yang beberapa waktu terakhir ini lebih banyak menghabiskan waktu di rumah anaknya, Dara lumayan terkejut melihat seonggok tubuh terbaring tak berdaya di depan pintu yang tertutup.


"Loh? Bukannya itu Bu Zaenab? Kenapa bentuknya seperti itu? Bu Zaenab bukan ya? Tapi kok ... besar sekali sih?" gumam Dara menerka nerka sembari memperhatikan objek yang menyita perhatiannya itu dengan lebih seksama.


 Setelah beberapa saat tampak tak ada pergerakan berarti dari seonggok tubuh yang di lihat Dara itu, hingga akhirnya Dara memberanikan diri untuk masuk melalui pintu pagar rumah Pak Jamal yang memang tidak di kunci dan mendekati seonggok tubuh yang kelihatannya masih bernafas itu.


"Bu? Bu Zaenab?" panggil Dara memastikan, namun setelah beberapa kali Dara mencoba menggoyangkan tubuh tambun itu tak kunjung ada sahutan darinya.


"Apa Bu Zaenab pingsan ya? Tapi kok ada di sini? Bukannya Bu Zaenab sudah lama nggak pulang ke sini?" gumam Dara pelan.


 Karna tak ada juga respon dari Bu Zaenab, akhirnya Dara memilih keluar dari teras rumah itu dan berjalan kembali ke kereta bayinya, apalagi si bayi rupanya sudah gelisah dan merengek sejak tadi.


"Cup, cup, cup sayang. Ini mama di sini, Nak. Kita ke rumah Tante indi sekarang ya, maaf ya Mama lama ya." Dara berusaha menghibur bayinya, di ambilnya tubuh mungil itu lalu di gendongnya dalam posisi dagu si bayi berada di pundaknya. Sekali lagi Dara memindai ke arah teras Pak Jamal, dan tubuh Bu Zaenab masih dalam posisinya semula di sana. seolah sama sekali tak terganggu dengan suara bising apapun di sekitarnya.


 Dara mendesah pelan lalu mulai mendorong kereta bayinya ke arah rumah Indi yang hanya berbeda blok saja dengan rumahnya.


"Wah, sepertinya lagi rame. Alhamdulillah dagangannya Indi laris manis terus sepertinya." Dara mengulas senyum melihat lapak jualan Indi yang di penuhi ibu ibu yang mayoritas adalah istri para pengusaha di perumahan mereka. Dan sudah barang tentu saja mereka tak akan membeli sedikit saja kue, tentunya akan membeli lumayan banyak untuk sekedar cemilan atau di makan bersama keluarga.


"Rame ya, in?" sapa Dara pada Indi yang masih tampak kewalahan melayani pembeli seorang diri, sebab bu Maryam dia minta untuk menjaga anaknya yang kini sudah berusia hampir satu tahun itu di teras rumah sana.


 Indi menoleh sejenak dan langsung tersenyum sumringah melihat kedatangan Dara.


"Eh, Mbak? Iya, ini lagi rame tapi sebentar lagi selesai kok. Mbak Dara masuk aja, tunggu di teras sama ibu ya." Indi menyahut.


 Dara mengangguk dan memilih berjalan menuju teras dimana Bu Maryam dan Inara tengah bermain dan sarapan bersama di sana.

__ADS_1


"Assalamualaikum," ucap Dara seraya naik ke lantai teras.


"Wa'alaikumsalam, eh ada Tante Dara, dek. Sama dedek bayi juga, tumben sekelia main ke sini? Udah beresan ya di rumah?" sahut Bu Maryam sambil menyuapi Inara dengan makanan bayi.


 Dara tersenyum dan mengangguk. "Iya, Bu. Ada bunda di rumah, tapi dari pagi memang sudah di kerjakan semua kok."


 Bu Maryam mengangguk paham. "Ooh, begitu. Beruntung sekali kamu itu, Nak punya mertua yang baik dan pengertian seperti Bu Ambar. Maaf sekali ya, dulu ibu sempat bersitegang sama beliau, dan sampai sekarang rasanya masih segan mau berjumpa."


 Bu Maryam menatap bayi Dara dengan tatapan sendu, teringat olehnya dulu saat bayi itu lahir, dia dan Bu Ambar sampai bersikukuh karna memperebutkan hak untuk mengurus Dara dan si bayi dengan keyakinan masing-masing.


 Namun kini Bu Maryam sedikit banyak bersyukur karna selama di rawat dan urus oleh Bu Ambar, Dara dan bayinya tampak selalu sehat dan ceria. Tak pernah sekalipun Bu Maryam mendengar kalau baik Dara maupun bayinya sampai sakit atau terkena baby blues, atau hal lainnya yang biasa di alami ibu dan bayi pasca melahirkan. Semua terawat dengan baik dan benar di tangan Bu Ambar.


"Tidak apa apa, Bu semua sudah berlalu, biarlah menjadi pelajaran untuk kita semua ya, Bu. Dara juga sangat berterima kasih sama bunda, sebab berkat bunda Dara bisa belajar banyak tentang bagaimana menjadi ibu yang sebenarnya. Tidak lagi hanya sekedar terima bersih saja," pungkas Dara dengan tatapan menerawang.


 Cukup lama saling diam sambil memperhatikan orang orang yang membeli di lapak kue dan sarapan pagi Indi, beberapa orang sudah mulai pulang dan hanya tersisa beberapa yang masih sibuk memilih kue kue basah di meja sana.


"Dara," panggil Bu Maryam pelan, sembari membantu Inara berbaring di atas bantal dan memegang dot di tangannya.


 "Ya, Bu?" Dara menoleh dan tersenyum.


"Sampaikan permintaan maaf ibu sama ibu mertuamu ya," pinta Bu Maryam.


  Sekilas Dara menatap Bu Maryam dengan tatapan tak percaya, namun sedetik kemudian dia mengangguk mengiyakan.


"Tentu saja, Bu tapi bukankah lebih baik kalau ibu sendiri yang bicara dengan bunda langsung?"

__ADS_1


 Bu Maryam menggeleng lemah. "Ibu masih segan, nanti saja setelah beberapa waktu dan ibu lebih siap baru ibu temui langsung beliau, yang penting sekarang kamu sampaikan dulu pesan ibu tadi."


"Baiklah, Bu."


**


"Mbak, ini silahkan di makan." Indi menyodorkan sepiring kue yang masih tersisa di lapak jualannya, setelah itu dia ikut duduk di samping Dara dan perlahan mengambil alih bayi mungil Dara dari pengakuannya agar Dara bisa leluasa memakan kuenya.


"Sudah habis ya, in?" tanya Dara seraya mengambil satu potong kue dan memakannya.


 Indi yang baru saja menciumi bayi Dara menurunkan si bayi ke pelukannya.


"Masih ada sedikit, Mbak. Kalau nggak habis yang nanti di makan sendiri saja," kekeh Indi terdengar lepas, setelah beberapa waktu terakhir inilah kali pertama Dara kembali melihat sosok adiknya yang dulu, Indi yang ceria dan periang juga cantik dan terawat. Kini semua kembali ada di dirinya, setelah semua kejadian yang terjadi dan membuatnya menjadi stress dan tampak lebih tua dari pada usianya.


" Kalau begitu bungkusan saja semuanya, In. Biar Mbak yang borong, mau mbak bawa pulang buat di makan sama bunda," titah Dara membangkitkan semangat di dalam dada Indi yang memang tengah berbahagia itu.


 "Boleh, Mbak sebentar Indi bungkus ya." Indi menyerahkan kembali bayi Dara dalam dekapannya lalu beranjak membungkus semua sisa kue yang ada di lapaknya.


 "Berapa semuanya, In?" tanya Dara yang masih duduk di teras.


 Setelah menghitung semuanya, Indi pun menjawab. " Tiga puluh delapan ribu, Mbak. Bayar tiga puluh ribu aja."


 Indi hendak berbalik dengan membawa seplastik penuh kue itu ke tempat dara, namun tubuhnya tiba tiba menegang melihat seseorang yang menatapnya dari kejauhan dengan tatapan kosong, rambut panjang kusam yang menutupi kepalanya tampak berurai terbawa angin hingga menutupi wajah yang berdebu.


"I- itu kan ...."

__ADS_1


__ADS_2