
"Siapa yang datang, Bun?" bisik Dara yang belum paham sepenuhnya situasi sekarang.
Bu Ambar menepuk jidatnya. "Duh, belum paham rupanya ini anak."
Dara nyengir saja di katakan demikian oleh ibu mertuanya, kemudian meletakan bayinya di atas ranjang karna sudah terlelap tidur.
"Ya sudah, ayo kita lihat sama sama ke depan. Kalo filing bunda bener sih, pasti dia yang datang." Bu ambar langsung menarik tangan Dara setelah dia selesai meletakkan bayinya dan menyelimutinya.
Kening Dara langsung berkerut dalam.
"Dia siapa sih, Bun? Beneran Dara belum paham," tukas Dara kebingungan.
"Haish, kita lihat saja dulu. Berdoa saja semoga bukan orang yang bunda pikirkan. Yah walaupun kemungkinannya sudah satu banding seribu ini pasti dia sih," celoteh Bu Ambar seraya berjalan beriringan dengan Dara menuju pintu depan yang masih terdengar terus di ketuk.
Tok
Tok
Tok
" Permisi," ucap seseorang di luar sana.
Bu Ambar langsung memasang wajah masam, lalu menahan tangan Dara tepat sebelum mereka mencapai ambang pintu.
"Kenapa, Bun? Itu ada orang di luar," ucap Dara dengan polosnya.
"Iya, bunda tahu tapi kamu harus dengarkan ini dulu."
Dara pun memasang telinganya a baik baik bersiap mendengar titah ibu mertuanya itu.
"Kalau nanti yang di depan ternyata Bu Zaenab atau anaknya, kamu jangan bicara apa apa biar bunda saja yang menghadapi mereka. Terus kamu juga jangan langsung kasihan akan apapun yang nanti bakalan mereka ceritakan, oke?"
Setelah menimbang sejenak akhirnya Dara pun setuju, pikirnya toh apa juga cerita yang akan mereka bawa nantinya.
__ADS_1
"Oke, Bun." Dara mengacungkan jempolnya.
Bu Ambar menggangguk, lalu membukakan pintu.
Tampak di depan sana seorang perempuan yang Dara tahu sebagai anak bungsu Bu Zaenab yang sangat jarang pulang ke rumahnya, perempuan manis yang usianya berada di bawah Dara itu tampak tersenyum sungkan.
"Ada apa ya?" tanya Bu Ambar tanpa basa basi.
Sesaat Zulfa tampak kebingungan, lalu menoleh ke arah rumahnya. Dan sedetik kemudian kembali menunduk di hadapan Bu Ambar, seperti takut hendak menyampaikan niatnya datang ke sana.
"Maaf, tapi kami sedang sibuk di dalam. Kalau kamu datang cuma buat iseng dan mengganggu sebaiknya kamu pergi saja," pungkas Bu Ambar kesal sambil bergerak hendak menutup pintu rumah kembali.
"Ah, tunggu," sela Zulfa cepat, tangannya terulur ke depan seolah meminta Bu Ambar untuk tidak menutup pintu rumahnya.
"Katakanlah, ada perlu apa kamu datang ke sini? Apa karna di suruh oleh ibumu itu?" ucap Bu Ambar lagi setelah tanpa sengaja melirik ke arah rumah Bu Zaenab dan mendapatinya tengah mengintip ke mari melalui celah daun daunan bunganya.
Zulfa menunduk lagi, lalu menyampaikan maksud kedatangannya dengan suara yang sangat pelan, hingga Bu Ambar harus mendekatkan telinganya ke depan untuk bisa mendengar suara Zulfa.
"Saya mau minta tolong, Bu kunci rumah kami di bawa oleh bapak. Dan baik ponsel saya maupun ibu sama sama kehabisan daya, apa boleh kami menumpang mengisi daya ponsel kami di sini?"
"Baiklah, silahkan. Mana ponselnya? Biar saya yang cas kan di dalam, nanti setelah penuh akan saya berikan ke kamu di rumah sebelah," ujar Bu Ambar menadahkan tangannya meminta ponsel Zulfa.
Tapi Zulfa justru meremas jemarinya dengan gerakan gelisah. " Ponselnya ada di rumah, Bu sebentar saya ambil dulu ya."
Bu Ambar mengangguk. "Ya sudah, sana ambil."
Setelah itu Zulfa pun bergegas dari tempatnya a dan berlari kecil menuju ke rumah Pak Jamal. Bu Ambar dan Dara masih memandanginya dari rumah, tak lama terdengar seperti suara suara gaduh yang asalnya tentu saja dari rumah sebelah.
Sepertinya Bu Zaenab tengah memarahi Zulfa saat ini.
"Bunda, tadi kenapa bicaranya ketus sekali sama si Zulfa? Kasihan tahu, Bun dia kan nggak salah aapa apa sama kita," ucap Dara tak tega.
Bu Ambar menoleh dan menatap wajah sendu menantunya yang memang selalu mudah kasihan dengan orang lain itu.
__ADS_1
"Tidak apa, hanya sekedar berjaga jaga supaya tidak ada lagi orang orang yang ingin memanfaatkan keluarga kita karna di kira terlalu mudah menaruh simpati. Sudah kamu pokoknya tidak usah protes dan nurut saja sama bunda ya, bunda nggak akan nyakitin anak itu kok cuma sekedar ingin terlihat garang aja," kekeh Bu Ambar yang malah menganggap semua itu adalah goyunan, padahal dia tidak tahu kalau tadi zulfa sudah gemetar akibat ulahnya yang berkata ketus terus menerus padanya.
"Ya sudahlah kalau begitu, dara masuk saja ya Bun. Pegel semua rasanya badan Dara," pamit Dara yang merasa tak akan mungkin menang beradu argumen dengan ibu meetuanya itu.
"Ya sudah sana, nanti biar bunda saja yang urus mereka. Takutnya nanti malah kalau kamu ada mereka malah menyasar kamu lagi buat di manfaatkan. Abisnya kamu itu lembek sekali sih," pungkas bu Ambar pada akhirnya, posisinya masih berdiri di ambang pintu menunggu zulfa yang berkata akan kembali lagi setelah mengambil ponselnya di rumah.
Dara tak mau ikut campur terlalu jauh dan lebih memilih masuk kembali ke dalam kamarnya, dan merebahkan tubuhnya di samping bayinya lalu memejamkan matanya yang mendadak terasa berat.
Lelah berdiri, Bu Ambar mengambil kursi teras dan duduk di sana. Sembari menikmati angin Sepoi Sepoi yang meniup kulit tubuhnya yang tak tertutup pakaian.
Tak lama tampak dua sosok tubuh berjalan di bawah sinar matahari sore menuju rumahnya, selewatnya mereka dari pagar pembatas tahulah Bu Ambar kalau itu adalah orang yang tengah di nantinya.
Bu Zaenab dan Zulfa, melangkah dengan bergandengan tangan dengan wajah zulfa yang tampak begitu terpaksa.
"Permisi, maaf lama Bu. Ini ponselnya yang mau di isi saya," ujar Bu Zaenab mewakili Zulfa yang malah lebih banyak diam tertunduk saja.
Sementara Bu Zaenab malah dengan pedenya langsung naik ke teras rumah walau belum di persilahkan oleh Bu Ambar. Belum lagi jejak kakinya yang berdebu itu kini tampak mengotori lantai keramik putih yang sebelumnya bersih karna setiap hari di pel oleh Bu Ambar.
"Oh iya, siniin ponselnya biar saya cas kan di dalam." Bu Ambar menerima dua buah ponsel itu dan berdiri dari tempat duduknya.
Namun saat melihat lantai teras yang kotor karna jejak kaki Bu Zaenab, rasanya Bu Ambar ingin berteriak saat itu juga di depan wajah Bu Zaenab yang kini malah cengengesan tak berdosa di tempatnya itu.
Zulfa yang menyadari arti tatapan Bu Ambar seketika menegang, dia langsung mengurungkan niatnya untuk naik pula ke teras walau dia yakin kakinya sudah bersih karna sudah sempat mencucinya di keran depan rumahnya tadi.
"B- Bu ... ibu," panggil zulfa memberi isyarat pada Bu Zaenab.
Bu Zaenab menoleh dan menggerakkan kepalanya seolah bertanya, ada apa?
Zulfa menunjuk arah lantai dengan lirikan matanya, dan Bu Zaenab langsung mengikuti arah pandangan anaknya itu. Dan dapat di tebak betapa terkejutnya dia mendapati jejak kakinya yang kotor telah membentuk bekas di lantai putih teras tersebut.
"Ma ti aku," desis Bu Zaenab kalut.
Sementara di tempatnya berdiri Bu Ambar dengan wajah yang memerah menahan amarah langsung buka suara terhadap kejadian tak terduga di depan matanya itu.
__ADS_1
" Segera kalian bersihkan teras ini, saya tidak mau tahu. Setelah saya keluar nanti saya mau lantai teras saya sudah kembali bersih seperti semula. Kalian mengerti? Atau kalau tidak ...."