
Zaki menatap lekat wajah bundanya, dan segaris senyuman lebar terbentuk di wajahnya yang biasanya selalu dingin dan datar itu.
"Gelang dan cincin itu, pertanda kalau Dara menerima lamaran aku, Bun."
Mata Bu Ambar membulat, dan perlahan senyuman terbentuk pula di wajah yang mulai di hiasi keriput itu.
Dia menatap Zaki dan Dara bergantian, seolah meminta Dara untuk menegaskan semuanya.
"Iya, Bun. Dara menerima lamaran Zaki dan bunda," tukas Dara menyahuti.
Bu Ambar meneteskan air mata bahagia, tanpa aba aba dia menjatuhkan diri ke atas karpet yang ada di bawah sofa dan bersujud syukur di sana.
"Ya Allah, terima kasih, ya Allah. Akhirnya Engkau membukakan hati Dara agar mau menerima lamaran dari Zaki, terima kasih ya Allah. Semua ini adalah berkat karunia-Mu ya Allah." Bu Ambar mengucapkannya sambil bersujud di atas karpet tebal itu.
Zaki mendekati Bu Ambar dan duduk di sebelahnya. Begitu pula Dara yang kini memilih ikut duduk di bawah, menghormati yang lebih tua.
Bu Ambar bangkit dari posisi bersujudnya dan terkejut melihat zaki dan Dara berada di bawah bersamanya.
"Loh, kalian kenapa ikut duduk di sini?" tanyanya heran.
"Bunda di bawah, nggak sopan namanya kalau kami ada di atas," celetuk Zaki.
Bu Ambar manggut-manggut, karna sudah malas untuk kembali naik ke atas sofa maka mereka memilih melanjutkan pembicaraannya mereka di atas karpet tebal itu saja.
"Karena Dara sudah menerima lamarannya, bagaimana kalau langsung kita tentukan saja tanggal pernikahannya?" celetuk Bu Ambar tiba tiba.
"Ah, tunggu Bun." Dara menyela.
Bu Ambar menoleh dan menatapnya penuh tanya. "Ya, Dara? Ada apa? Ada yang mau kamu sampaikan dulu?"
Dara mengangguk. "Zaki belum melamar saya langsung ke bapak saya."
"Apa? Bapak?" seru Bu Ambar tertahan, karna setahunya Bapaknya Dara dan Indi kan sudah meningga sebelum dulu Zaki menikahi Indi.
__ADS_1
Dara mengangguk dan mulai menjelaskan. "Iya, saya masih punya Bapak. Bapak kandung lebih tepatnya, karna Pak Bagyo itu adalah Bapak angkat saya, selama ini Bapak kandung saya menitipkan saya pada almarhum Pak Bagyo dan beliau menghilang sekian lamanya. Memberikan tanggung jawab atas saya pada Pak Bagyo, tapi beberapa waktu belakangan, beliau kembali dan itu juga yang membuat saya ingin hal sepenting ini di sampaikan juga dengan baik padanya."
Bu Ambar dan Zaki mengangguk paham. "Baiklah, dimana rumah Bapak kamu sekarang, Dara? Supaya besok bunda dan Zaki bisa ke sana untuk membahas semua ini lebih dalam."
"Sekarang beliau tinggal di jalan Xx, rumahnya nomor 24 dengan cat kuning gading." sahut Dara menjelaskan.
Bu Ambar meminta Zaki mencatat alamat itu di ponselnya, dan kemudian kembali pada Dara.
"Tapi, kamu yakinkan untuk menerima lamaran kami? Jadi nanti tugas Zaki hanya untuk mengambil hati bapakmu saja, dan bunda harap semuanya bisa berjalan mulus."
Dara mengangguk malu, dan menundukkan wajahnya yang tersipu.
Tak lama setelah itu, Bu Ambar dan Zaki pamit pulang. Dara dan Elis mengantarkan mereka hingga ke teras agar tak ada timbul fitnah. Setelah mobil Zaki menjauh, barulah ke duanya masuk ke dalam rumah untuk beristirahat, mengingat hari yang sudah larut malam. Elis sendiri di minta Dara menginap untuk menemaninya dan si kembar.
****
Ke esokan harinya.
"Mau kemana kamu, Zaki. Pagi pagi begini sudah rapi?" tanya Bu Ambar saat melihat putranya yang sudah bersih dan rapi dalam balutan kemeja dan jas kerja berwarna hitam.
"Ada pertemuan penting dengan klien, Bun. Dan siangnya ada jadwal ngajar juga di kampus, habis itu baru deh bisa cari cari alamat rumah bapaknya Dara."
Bu Ambar tampak manggut-manggut dengan tak sabar. "Ya ya, kamu benar, kamu harus gerak cepat untuk mencari dan mendapatkan hati Bapaknya Dara. Supaya kalian bisa lekas menikah, duh ... Bunda itu rasanya nggak sabar sekali pengen bisa serumah sama Dara dan memasak bareng sama dia."
"Iya, Bun. Iya, doakan saja yang terbaik untuk anakmu ini ya, Bun." Zaki berkata halus.
Bu Ambar menepuk pelan pundak Zaki. "Tentu saja, bunda akan selalu mendoakan yang terbaik dari yang paling baik untuk kamu, Nak. Semoga benar kalian berjodoh hingga ke surga ya."
"Amiiinnn," sahut Zaki sambil menangkup kedua tangannya ke wajah.
Setelahnya mereka pun melanjutkan sarapan dalam diam, hingga semua makanan di piringnya tandas dan Zaki pun berpamitan pada bundanya.
"Zaki berangkat dulu ya, Bun. Doakan anakmu ini selamat selalu dan bisa membahagiakan bunda," pinta Zaki sambil mencium tangan bundanya takdzim.
__ADS_1
Bu Ambar tersenyum, betapa bersyukurnya dia mempunyai anak sebaik Zaki.
"Insyaallah, Nak. Doa bunda selalu menyertaimu, pergilah ... hati hati di jalan ya."
Zaki mengangguk, setelah mengucapkan salam dia langsung berangkat dengan mobilnya.
Tin
Tin
Zaki menekan klakson dua kali sebagai pertanda pada sang bunda setiap berangkat dan pulang dari berpergian.
Bu Ambar melambaikan tangan mengiringi kepergian anaknya, terselip doa agar semua cita cita anaknya bisa di ijabah oleh sang pemilik kehidupan.
Setelah beberapa saat berkendara, ponsel Zaki berdering. Zaki pun menepikan mobilnya untuk bisa menerima telepon.
"Assalamu'alaikum," ucap zaki setelah telepon tersambung.
"Wa'alaikumsalam, dengan Bapak Zaki?" ucap seseorang di balik telepon.
"Iya, saya sendiri. Dengan siapa ya?" tanya Zaki yang merasa asing dengan suara di telpon tersebut.
"Saya asisten Tuan Miko, yang akan bertemu dengan anda pagi ini. Hanya saja ada kendala yang terjadi hingga membuat kami tidak bisa pergi ke tempat yang sudah di tentukan. Tuan Miko sekarang masih berada di rumah sakit karna insiden yang kami alami. Katanya bisakah kalau pertemuannya di lakukan di kantor kami?"
"Innalilahi wa innailaihi rojiuun, Tuan Miko kecelakaan? Apa lukanya parah hingga harus ke rumah sakit? Ya ya tentu saja tidak apa. Kirim saja alamat kantornya saya akan datang ke sana?" tukas Zaki.
"Baiklah, sebaiknya nanti saja kita bahas semuanya di kantor. Saya tutup dulu, saya akan kirim alamatnya sekarang, assalamualaikum." Sang asisten menutup telepon setelah mendengar jawaban salam dari Zaki. Dan tak lama sebuah pesan berisi titik lokasi masuk ke aplikasi pesan singkatnya.
Zaki membukanya dan langsung membelokkan mobilnya menuju arah kanan sesuai instruksi di maps tersebut. Hingga tiga puluh menit kemudian sampailah ia di sebuah pelataran gedung perkantoran yang luar biasa besar.
"Bos saya sudah menunggu di kantornya, jika anda sudah sampai katakan pada resepsionis nama anda maka nanti akan di arahkan ke tempat bos menunggu."
Sebuah pesan singkat masuk ke dalam aplikasi hijau milik Zaki, dengan segera dia turun dari mobil dan menuju meja resepsionis, namun betapa terkejutnya ia ketika mendapati seseorang yang saat ini menghuni hatinya ada di hadapannya pula. Walau posisinya membelakangi Zaki.
__ADS_1
"Dara," panggil Zaki, membuat wanita cantik dengan jilbab dan gamis lebarnya itu berbalik dan menatap Zaki. Namun anehnya saat Zaki mendekatinya wajah Dara justru menyiratkan sebuah ketakutan.
"Ada apa?"