TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 141. DI JODOHKAN.


__ADS_3

Pranggg


"Ada apa Indi?" tanya Bu Maryam sambil berjalan tergopoh-gopoh menuju ke tempat Indi berada.


 Indi mencoba berjongkok untuk membersihkan pecahan piring yang bari saja lepas dari tangannya. Tapi karna pikirannya tak tenang pecahan beling itu malah melukai tangannya.


"Aww, ah perih," desisnya sambil meniup jarinya yang kini berdarah itu.


 "Kamu kenapa, Nak? Ya Allah, tangan kamu berdarah!" seru Bu Maryam kaget dan gegas berlari menuju lemari untuk mengambil plaster yang kebetulan masih tersisa di sana.


 Bu Maryam meniup luka Indi, membersihkannya dengan kain basah lalu menutupnya dengan plaster karna mereka tak punya cairan pembersih luka.


 Bu Maryam tampak mendesah berat.


"Kamu kenapa, Nak? Kok piringnya sampai jatuh?" tanya Bu Maryam sambil mengambil alih pecahan beling itu dari tangan Indi yang satunya dan membersihkannya. Sedang Indi sudah berpindah duduk kembali ke kursi.


"Gelap, Bu." Indi menjawab sekenanya, memang kondisi rumah mereka saat ini gelap, walau ada pencahayaan dari sebatang lilin yang di beli Bu Maryam tadi, namun sama sekali tak membuat ruangan menjadi lebih terang malah lebih terkesan suram dan angker.


"Loh, kok kamu nangis? Sakit banget ya, lukanya?" Bu Maryam yang baru kembali dari membuang pecahan piring itu menyentuh pundak Indi, tatapan mata cemasnya tak bisa di lihat oleh Indi karna suasana yang temaram.


"Iya, Bu. Perih," Isak Indi, namun sebenarnya bukan hanya sakit di jarinya saja yang diaa rasakan tapi juga sakit di hatinya yang tak bisa dia jelaskan.


 Bu Maryam meraih tangan Indi, kemudian meniupnya beberapa saat. Namun tangisan Indi bukannya mereda malah semakin tergugu, membuat Bu Maryam kebingungan.


"Indi, Indi kamu kenapa, Nak? Cerita sama ibu." Bu Maryam mengusap pundak sang putri.


"Indi nggak tahu, Bu. Tapi rasanya hati Indi nggak enak dari tadi, makanya bawaannya mau nangis," jelas Indi menyampaikan apa yang di rasakannya.


 "Itu juga gara garanya kamu sampe jatuhin piring?" selidik Bu Maryam.


 Indi mengangguk membenarkan.


"Iya, Bu. Indi teringat Mas Fatan, perasaan Indi nggak enak terus piringnya malah jatuh," jelasnya lagi.


 Bu Maryam mendesah, perasaanya pun sejak tadi sudah tak enak namun dia tak mengatakan apapun pada sang anak karena tak ingin Indi cemas. Tapi justru ternyata perasaan tak enak itu kini juga di rasakan oleh Indi.

__ADS_1


"Kira kira Mas Fatan sekarang pergi kemana ya, Bu?" tanyaa Indi masih dengan isakan lirihnya.


 Bu Maryam hanya mampu menggelengkan kepalanya.


" Entahlah, dia bisa di mana saja kamu kan tahu sendiri bagaimana suamimu," ucap Bu Maryam hati hati.


 Indi mengusap air matanya dengan ujung baju lusuhnya, baju yang entah bagaimana sudah memudar warnanya padahal baju tidur itu adalah salah satu dari barang seserahan Zaki padanya dulu dan belinya pun di butik terkenal. Mungkin saja karena kualitas air yang tidak bagus di kampung itu membuat pakaian jadi cepat buruk .


 "Ya sudah, jangan terlalu di pikirkan. Sekarang kita makan saja, kamu pasti sudah lapar kan?" Bu Maryam mengambilkan piring yang lain untuk Indi dan mulai mengisinya dengan nasi yang teksturnya keras, karna hanya itulah beras dengan harga paling murah di kampung mereka.


 Tak lupa Bu Maryam juga memasukkan dua potong tempe dan tahu ke dalam piring Indi, lalu memberikannya ke hadapan Indi.


"Terima kasih, Bu." Indi menerima piring itu dengan tatapan nanar.


 Bu Maryam mengangguk, miris sekali dia melihat isi dari piring itu. Padahal sebelumnya tak pernah mereka sampai harus makan dengan lauk yang benar benar sangat seadanya itu. Bahkan telur pun sulit untuk mereka beli karena harganya yang terus melambung.


 Indi mengambil sesuap kecil nasi dan tahu untuk di masukkan ke mulutnya. Namun Bu Maryam cepat menahannya karna teringat sesuatu.


"Tunggu dulu, in."


 Bu Maryam beranjak, mencari cari sesuatu di dalam plastik bungkusan bekas membeli lilin tadi dan mengambil sesuatu dari dalamnya.


"Apa itu, Bu?" tanya Indi penasaran.


"Kecap, tadi di kasih sama yang punya warung. Katanya sudah mau kadaluarsa jadi di kasih ke kita, lumayan masih ada sisa seminggu lagi tanggalnya."


 Indi tersenyum miris saat Bu Maryam menuangkan sedikit kecap kemasan dua ribuan berwarna putih kehitaman itu ke piringnya. Baunya masih seperti kecap biasanya, namun saat di suapkan ke mulutnya bau tengik mulai sedikit menyeruak.


****


 Kembali ke rumah Pak Sukri.


"Sudah selesai, Tan?" tanya Bu Sukri sambil menilik ke dapur, dimana Fatan tadi di tinggalkan seorang diri untuk mengurus semua piring kotor bekas makan mereka semua.


 Fatan berbalik dan mencuci tangannya di bawah kucuran air.

__ADS_1


"Sudah, Bu. Sudah saya cuci semuanya," sahut Fatan.


 Bu Sukri mendekat lalu menelisik semua piring dan gelas juga mangkuk yang baru saja di cuci Fatan.


 Tangannya bergerak menyentuh permukaan piring dan manggut-manggut tanpa kata. Membuat jantung Fatan terasa berdisko di buatnya.


'kenapa malah jadi kayak lagi di tes buat jadi pembantu gini sih?" keluh Fatan di dalam hati sambil menatap Bu Sukri dengan tatapan entah.


"Ya sudah, bagus. Sekarang ayo ke depan, saya sama bapak mau bicara serius sama kamu."


 Tanpa mengucapkan terima kasih sama sekali, Bu Sukri berjalan mendahului Fatan untuk menuju ke ruang tamu rumahnya. Di sana sudah ada Pak Sukri juga intan yang tampak sibuk memainkan ponselnya dan tak mempedulikan sekitar, persis remaja labil.


"Eh, Tan. Sudah beres ya? Sini duduk dulu, bapak mau ngomong," sambut Pak Sukri sambil menunjuk kursi di hadapannya yang bersebelahan dengan Intan.


 Fatan mengangguk, lalu duduk di tempat yang di tunjuk dengan bingung.


"A- ada apa ya, Pak? Kok kayaknya penting sekali, sampai dari kemarin bapak mengundang saya datang ?" tanya Fatan yang sudah tak bisa membendung rasa ingin tahunya.


 Pak Sukri berdehem keras sambil menatap Intan tajam.


 Intan terlihat melengos, sambil mendesah keras dia meletakkan ponselnya ke pengakuan dan memasang wajah jutek pada sang bapak.


"Jadi begini, Nak Fatan." Pak Sukri kembali berhenti, membuat Fatan bertanya tanya tentang maksud di balik panggilan Nak yang baru saja di sematkan Pak Sukri padanya tadi.


 Setelah beberapa helaaan nafas, Pak Sukri kembali meneruskan ucapannya.


"Apa ... kebun dan sawah kamu di ujung desa itu masih atas nama kamu?"


 Mata Fatan sontak terbelalak, demi mendengar perkataan Pak Sukri barusan.


"Memangnya kenapa, Pak?" selidik Fatan mulai curiga, sebab jangankan orang lain bahkan mertua dan istrinya pun tidak dia beri tahu tentang kebun dan sawah itu yang dia percayakan kepengurusannya pada orang lain yang tidak di ketahui orang lain.


 Pak Sukri tampak tersenyum kecil, sedangkan Bu Sukri terlihat saling tatap dengan aneh dengan Intan yang kini merubah posisi duduknya menjadi lebih tegak.


"Tidak apa-apa, bapak hanya berpikir untuk menjadikan Intan istri kamu, apa kamu bersedia? Tidak apa walaupun hanya istri ke dua, sebab bapak hanya percaya sama kamu saja untuk menjadi menantu bapak dan ibu."

__ADS_1


 Fatan melotot mendengar perkataan Pak Sukri, pikirnya melayang heran namun tak satu jawaban jua dia temukan untuk menjadi alasan Pak Sukri menjodohkan intan dengan dirinya.


__ADS_2