
"Eemmgghhhh, emmggghhh. Aaahhhh, legaaaa ...," desah Fatan setelah menuntaskan hajatnya yang sudah sejak tadi di tahan.
"Terima kasih ya. Kamu pasti lelah melayani aku setiap malam, tolong jangan bilang-bilang istriku ya. Nanti aku nggak boleh lagi makan malam," gumam Fatan sembari mengambil gayung dan mulai menyiram area perineumnya.
Dilanjutkan dengan menyiram si kloset yang setiap malam selalu setia menemani curhatan malamnya setiap dia sakit perut.
Setelah memastikan kloset kembali bersih, Fatan melambai pada si kloset dan keluar dari kamar mandi.
"Fuuuh, plong sekali perutku. Sekarang sudah bisa nampung mie rebus lagi," kekeh Fatan sambil berjalan menuju dapur.
Saat tengah asik merebus mie beserta sebutir telur di panci, Fatan di kejutkan dengan suara langkah kaki yang mendekat ke arahnya. Suasana yang remang karena hanya lampu dapur yang menyala membuat bulu kuduk Fatan merinding.
"Hhrrrmmmm," terdengar suara menggeram lirih di iringi langkah kaki yang semakin mendekat ke dapur.
Fatan bergerak waspada, mengacungkan sutil yang dipakainya memasak mie ke arah pintu dapur.
"Siapa?" tegur Fatan yang tampak mulai ketakutan.
Tampak sekilas siluet seseorang dengan balutan baju putih kusam di dekat pintu dapur. Fatan semakin merinding bahkan hampir saja melempar sutil di tangannya karena ketakutan.
"Ini aku, Mas." Indi muncul dari balik pintu dengan wajah menggunakan masker dan handuk di kepalanya, berwarna putih dengan gambar beruang coklat.
Fatan menghembuskan nafas lega, badannya yang tadi tegang kini lemas dan melorot ke lantai.
"Bikin kaget aja sih, In? Kamu ngapain ke dapur malem-malem?" dengus Fatan sambil berdiri untuk mematikan kompor.
Tampak disana mie yang di masaknya sudah mengembang karena terlalu lama di masak.
"Indi mau ambil minum, Mas. Sekalian mau mandi ini, abisnya gerah. Niatnya mandi tadi waktu pulang tapi malah ketiduran," sahut Indi seraya membuka kulkas dan mengambil air dingin dari sana.
"Gara-gara kamu mie Mas jadi ngembang nih, lagian kenapa pake bersuara aneh kayak gitu sih? Kan orang jadi salah paham," desah Fatan menyayangkan mie yang masih mengepul tapi sudah menjadi sebesar cacing itu.
Melihatnya membuat Fatan begidik, namun hendak di buang rasanya sayang.
"Tenggorokan ku sakit, Mas. Ini baru aja minum kan, itu kenapa Mas?" tanya Indi sambil berjalan mendekati Fatan dan berhenti di belakang bahunya.
__ADS_1
Indi tampaknya sengaja berdiri di sana dan bernafas di ceruk leher Fatan.
"Oooh, mienya ngembang," ujar Indi lirih. Sengaja membuat suaranya lembut mendesah, berharap Fatan bisa tergoda olehnya.
"Gara-gara kamu sih," gerutu Fatan sambil membawa mie itu ke meja makan.
Indi membuntuti Fatan, merasa saat itu adalah saat yang tepat untuk bisa mendekati kakak iparnya yang sudah berhari-hari mengganggu pikirannya karena sebuah rasa yang salah.
"Aku masakin lagi mau, Mas?" tawar Indi sembari duduk tak jauh dari Fatan.
Fatan melirik sekilas dengan alis terangkat, sedikit salah fokus dengan pakaian yang di kenakan Indi saat ini. Sebuah piyama tidur pendek dengan dalaman celana short pas badan berwarna hitam. Di tambah handuk putih yang melingkupi bahunya membuat Fatan panas dingin melihatnya.
"B ... boleh, kalau kamu mau," jawab Fatan kikuk.
Sudah payah Fatan menekan salivanya, entah kenapa dadanya jadi bergemuruh secara tiba-tiba.
"Aku masakin lagi ya," gumam Indi sambil memamerkan senyum manisnya, dan suara yang sengaja di buat mendayu-dayu.
Fatan mengangguk dalam diam, sedangkan Indi bergegas menuju dapur untuk memasakkan lagi mie untuk Fatan.
'Aku tau ini salah, tapi berdekatan sama Mas Fatan benar-benar jadi candu buat aku. Jantung yang berdebar ini, senyum yang nggak pernah pudar setiap melihat mukanya, dan rasa bahagia bisa ngobrol dengan Mas Fatan ini sudah cukup jadi bukti kalau aku juga cinta sama suami Mbak ku. Maafin aku, Mbak Dara. Aku ... juga cinta Mas Fatan,' batin Indi sambil memasak mie untuk Fatan.
"Udah jadi," celetuk Indi sambil membawa semangkuk mie yang masih mengepul ke meja makan, lengkap dengan irisan cabe, telur dan sebotol air mineral dingin.
"Makasih ya," ujar Fatan tersenyum senang.
"Makasih doang? Bayar dong," kekeh Indi melancarkan godaannya.
Fatan yang baru saja menyuap sesendok kuah mie ke mulutnya langsung berhenti dan menatap Indi penuh tanya.
"Bayar? Berapa?" tanya Fatan dengan polosnya, karena berfikir bayar yang di maksud Indi adalah nilai tukar uang.
" Bukan, bukan pake uang," desah Indi lirih.
Fatan semakin kebingungan di buatnya, bahkan kini mie di depannya tampak tak lagi membangkitkan selera.
__ADS_1
"Terus?"
Indi tersenyum dan mendekat, lebih dekat sampai hembusan nafasnya dapat di rasakan oleh Fatan.
"Dengan ini ...," bisik Indi lirih.
Setelahnya dengan perlahan dia menempelkan bibirnya di bibir Fatan, rasa dan aroma kuah mie yang tadi dihirup Fatan kini turut terasa di bibir Indi.
Merasa tak ada penolakan dari Fatan, Indi melanjutkan ciumannya. Semakin dalam dan dalam, Fatan terhanyut sampai lupa kalau saat ini yang ada di depannya bukanlah istrinya. Matanya perlahan terpejam menikmati ciuman liat Indi, bahkan tanpa sadar tangannya bergerak menekan leher Indi dan memperdalam ciuman mereka.
Kejadian itu terjadi cukup lama, sampai akhirnya Fatan tersadar dan mendorong tubuh Indi sampai terjengkang ke belakang.
"Stop, In. Ini salah! Ini nggak bener. Kita nggak boleh kaya gini, ini nggak bener!" dengus Fatan frustasi.
Fatan berdiri, mengacak rambutnya kasar dan mulai mengusap-usap bibirnya kasar. Padahal tadi dialah yang begitu menikmati. Indi bangkit berdiri dan bergegas memeluk Fatan dari belakang, dia bertahan sekuat tenaga walaupun Fatan tampak berusaha melepasnya.
"Nggak, Mas. Ini nggak salah, aku cinta sama kamu, Mas. Dan ini wajar terjadi di antara orang yang saling mencinta," kilah Indi.
Fatan menyentak pelukan Indi dengan kasar sampai Indi kembali terdorong mundu ke belakang.
"Berhenti! Jangan kayak gini, Dek. Inget kamu masih muda, masa depan kamu masih panjang. Jangan rusak masa depan kamu dengan bersikap begini," geram Fatan mulai kesal, walaupun untuk berteriak dan memaki Indi dia sama sekali tak tega.
Indi kembali berjalan mendekati Fatan, namun dengan sigap Fatan mundur menjauh ke belakang.
"Berhenti di situ!" larang Fatan sambil mengangkat kelima jarinya ke depan.
" Apa yang salah, Mas. Aku hanya menyampaikan ras cinta aku ke orang yang aku cintai, dan orang itu kamu," ucap Indi memaksa.
Fatan menggeleng lemah.
"Nggak, Dek. Ini salah, kita nggak boleh kayak gini. Tolong ngerti," tolak Fatan.
"Nggak! Mas nggak berhak ngelarang aku! Biar bagaimanapun, aku akan perjuangkan cinta aku!" geram Indi tak mau kalah.
"Tapi ...."
__ADS_1
Belum sempat Fatan menjawab, suara dari arah ruang keluarga membuatnya kembali panik. Begitu pula dengan Indi.
"Mas Fatan! Kamu ngapain?"