
(Jengukin neng Dara dulu, kasian udah lama di anggurin si pelakor biar dulu menikmati rumah barunya)
Di kantor Pak Jatmika, kebetulan pagi itu setelah mengantar si kembar ke sekolah Dara menyempatkan ke kantor Bapaknya, beliau memintanya menemuinya karna ingin menyampaikan sesuatu.
"Permisi, apa Tuan Miko ada di kantornya?" tanya Dara pada resepsionis yang kali ini mengikat rambutnya menjadi satu ke belakang itu.
"Mbak Dara ya?" tanyanya setelah memindai wajah Dara yang tampak tak asing.
Dara mengangguk, dan resepsionis itu mempersilahkan Dara langsung menuju lift khusus.
"Silahkan, Mbak. Sudah di tunggu Bapak di kantornya."
Dara mengangguk dan mengucapkan terima kasih, kemudian kembali mengayunkan langkahnya menuju lift yang akan langsung membawanya menuju lantai dimana kantor Pak Jatmika berada.
"Hah, bisa bisanya petani sawit punya kantor Segede gini," kekeh Dara yang masih saja terus mengagumi keindahan pemandangan dari kaca lift yang tembus pandang hingga semua pemandangan dan bawah terlihat begitu jelas.
Namun yang memiliki fobia ketinggian lebih baik jangan naik, karna bisa menyebabkan panic attack.
"Assalamu'alaikum," ucap Dara sambil membuka pintu kantor Pak Jatmika yang hingga saat ini belum ada yang tau kalau Pak Jatmika adalah Bapak kandung Dara.
Para karyawan Bapaknya hanya tau kalau Dara memiliki hubungan bisnis dengan bos mereka yang di ketahui memiliki cabang usaha di berbagai bidang itu.
"Wa'alaikumsalam, akhirnya anak cantik Bapak sampai juga." Pak Jatmika merentangkan tangannya untuk bisa memeluk Dara.
Mereka berpelukan beberapa saat, hingga Dara melepas pelukannya dari tubuh kokoh Bapaknya.
"Bapak ada apa, kok tiba-tiba nyuruh Dara kesini?" tanya Dara sambil duduk di sofa ruangan di ikuti Pak Jatmika.
" Begini, Bapak mau infestasi di butik kamu."
"Apa? Investasi?" sentak Dara kaget, karna dirinya yang selama ini selalu berdiri sendiri ini tidak pernah menyangka akan ada pihak yang menawarkan kerja sama padanya, walau itu Bapaknya sendiri Dara bahkan tidak terpikir hingga ke sana.
__ADS_1
Pak Jatmika mengangguk mantab. "Iya, memangnya salah? Kok kamu sepertinya kaget sekali?"
Dara mengatur ekspresinya dan menarik nafas panjang lebih dahulu sebelum melanjutkan pembicaraannya.
"Tapi ... tapi ... kenapa?"
Pak Jatmika tergelak. "Ya karna keuntungan Dara. Masa begitu aja nggak ngerti sih? Butik kamu itu ramai, dan mulai di kenal banyak orang, pasti banyak keuntungan yang bisa di peroleh kalau kamu bisa buat konveksi sendiri."
Mata Dara semakin membeliak lebar. "Apa? Kon- konveksi?"
"Iya, konveksi sendiri. Brand kamu sendiri, masa kamu nggak terpikirkan sampai sana sih? Padahal butik kamu itu terkenal banget loh." Pak Jatmika membeberkan apa yang di ketahuinya .
Sambil menikmati kopi paginya, Pak Jatmika menanti jawaban Dara yang tampak masih syok itu.
"Gimana? Jangan kelamaan mikir, kesempatan nggak datang dua kali loh. Ini waktunya kamu sukses dan buktikan sama mantan suami kamu yang mata keranjang itu kalau kamu lebih bisa maju walau tanpa dia."
Dara tampak mencerna ucapan terakhir Bapaknya, rasanya apa yang di katakan Pak Jatmika ada benarnya juga. Walau tidak mendendam tapi Dara juga ingin mantan suami dan adiknya yang pelakor itu melihat bagaimana dia bisa sukses tanpa adanya bayang bayang mereka yang ternyata selama ini menjadi benalu di hidupnya.
"Ahh, eh gimana gimana, Paak?" tanya Dara gelagapan.
Pak Jatmika menarik nafas. "Ya gimana keputusan kamu? Mau atau nggak kerja sama dengan Bapak? Bapak sih tinggal nunggu keputusan kamu aja, nanti kalo yes tinggal Bapak minta di Halim yang urus semuanya."
Mendengar nama Halim di sebut, Dara sontak teringat bagaimana semalam si kembar merengek padanya minta agar Halim menjadi Papa baru mereka. Bahkan lucunya lagi, Fatur juga meminta Zaki untuk menjadi Papanya sekaligus karna ingin memiliki keduanya menjadi Papa pengganti Fatan. Seolah mereka berdua sudah benar-benar lupa dengan Papa kandungnya.
"Ya ampun, melamun lagi? Kamu itu kenapa sih, Dara? Kok Bapak perhatikan dari tadi melamun terus?" desak Pak Jatmika senewen.
Dara terkekeh dan berpindah tempat duduk ke sebelah Bapaknya. Melendot manja di lengan sang Bapak yang sejak dulu selalu memanjakannya itu.
"Iya, iya, Pak. Dara setuju kalau harus kerja sama dengan Bapak. Bapak benar, Dara harus buktikan sama Mas Fatan dan Indi kalau Dara bakalan bisa sukses tanpa mereka." Mata Dara tampak bersinar penuh tekad yang membara.
Pan Jatmika mengelus kepala Dara yang bersandar di bahunya dengan lembut, bertahun tahun lamanya dia merindukan momen ini, dan baru sekarang bisa terlaksana setelah semua kondisinya sudah berbeda. Tapi tak masalah asalkan putri kesayangannya ini masih berada di sampingnya dan di bawah pengawasannya walau tanpa di ketahui Dara sendiri.
__ADS_1
"Ya, Bapak akan dukung kamu sepenuhnya. Percaya sama Bapak, mereka pasti akan menyesal pernah berkhianat sama kamu."
Dara mengangguk yakin, dalam hatinya tekad itu sudah bulat, hanya tinggal menunggu di eksekusi saja.
"Terima kasih masih selalu menjadi yang terbaik dan terhebat untuk Dara, Pak. Selamanya Dara nggak akan lupa semua kebaikan Bapak, cuma Bapak yang mau menolong saat Dara terpuruk seperti ini. Semoga Gusti Allah yang balas semuanya ya, Pak." Dara mengeratkan pelukannya di tubuh Pak Jatmika.
Pak Jatmika balas memeluknya dan menjatuhkan sebuah kecupan kasih sayang di kening putrinya itu.
Ceklek.
"Permisi, Bos Miko. Ada berkas yang perlu di tanda tangani segera."
Sekretaris Pak Jatmika masuk di saat yang tidak tepat. Saat Pak Jatmika baru saja melepas ciumannya di kening Dara. Hingga sekretaris itupun melongo dan tak bisa berkata-kata.
Cepat Dara melepas pelukannya di tubuh sang Bapak, begitu Pak Jatmika yang langsung memperbaiki posisinya. Namun hal itu justru memantik kesalah pahaman lebih jauh lagi di benak sekretaris itu.
Kini Pak Jatmika malah tampak seperti seorang pedofil yang tertangkap basah sedang memeluk kekasihnya yang masih di bawah umur. Padahal tak ada yang tau kalau Dara adalah anak kandung Pak Jatmika.
"Ekhemm! Kemarikan berkasnya." Pak Jatmika berdiri dan memperbaiki jasnya.
Dara menepuk jidatnya menyadari perilaku Pak Jatmika itu justru akan membuat salah paham lebih parah lagi.
" I- iya, Pak." Sekretaris itu mendekat dan memberikan secarik kertas beserta map lengkap dengan pulpen di atasnya.
Sesekali matanya melirik Dara yang kini tampak menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Karena kesal dengan kelakuan Pak Jatmika yang tidak kunjung menjelaskan status mereka pada bawahannya.
"Ini, silahkan kamu keluar. Lain kali kalau kamu mau masuk biasakan ketuk pintu lebih dulu, jangan asal nyelonong aja," ketus Pak Jatmika pada sekretaris nya itu.
"I- iya, baik Pak. Maaf sebelumnya," sahut sekretaris itu dengan gugup. Dan setelahnya dia langsung melipir keluar ruangan dan menutup kembali pintunya rapat.
Dara membuka wajahnya dan menatap berang pada Pak Jatmika.
__ADS_1
"Kenapa tadi nggak langsung aja Bapak bilang kalau Dara ini sebenernya anak Bapak? Kalau nantinya sekretaris itu malah nyebarin berita yang nggak-nggak gimana? Bisa di cap perempuan nggak bener Dara, Pak!" amuk Dara sambil berkacak pinggang di hadapan Pak Jatmika yang kini hanya terpana lama.