
Sesampainya di rumah sakit sesuai surat rujukan dari bidan di kampung, gegas Bu Maryam dan Fatan yang memang hanya berdua membawa Indi ke kota memanggil perawat dan membantu mengangkat tubuh indi ke atas brankar.
"Tolong, tolong selamatkan anak saya, suster." Bu Maryam berkata memohon pada suster yang kini membantu mendorong brankar Indi menuju ke ruang gawat darurat.
"Sebentar ya, Bu. Biar pasien di periksa lebih dulu," ucap suster itu sesampainya di depan ruangan UGD dan bergegas menutup pintunya dari dalam, meninggalkan Bu Maryam dan Fatan di luar.
"Bu, cepat telpon lagi Daranya. Bilang kalau kita sudah sampai, nanti siapa yang mau bayar biayanya kalo ibu nggak telpon?" desak Fatan tanpa nada lembut sama sekali, bahkan terkesan menyuruh nyuruh seperti pada pembantunya saja.
Namun karna kondisinya yang tidak memungkinkan untuk berdebat, akhirnya Bu Maryam mengalah saja dan langsung mengabari Dara kalau mereka sudah sampai, dan Dara berjanji akan segera menyusul ke rumah sakit tersebut secepatnya.
"Gimana?" sambar Fatan setelah Bu Maryam selesai menelpon.
"Sebentar lagi dia ke sini sama suaminya," sahut Bu Maryam singkat.
Fatan tampak menghela nafas lega. "Hah, syukurlah setidaknya masih ada yang peduli sama nasib kita."
Bu Maryam menghenyakkan tubuhnya ke atas kursi tunggu, dengan dada berdebar menunggu keputusan dokter akan anaknya yang kini tengah berjuang antara hidup dan mati.
"Semua ini gara gara kamu, Fatan." Bu Maryam menggeram lirih, namun masih cukup terdengar oleh Fatan.
Kening Fatan tampak berkerut dalam. "Maksud ibu apa bicara begitu?"
"Kamu itu tidak punya perasaan, di saat kondisi indi tidak baik baik saja. Bisa bisanya kamu malah bilang kalau mau menikah lagi, dimana isi kepala kamu itu hah?" bentak Bu Maryam mulai marah, teringat olehnya perkataan Indi di dalam kamar tadi saat Fatan keluar untuk menelpon bidan.
"Mas Fatan mau menikah lagi, Bu. Dan parahnya lagi, dia berniat menikahi intan," ucap Indi kala itu dengan berlinang air mata dan menahan sakit yang luar biasa di perutnya.
"Loh, kenapa jadi saya yang di salahkan? Memangnya apa hubungannya?" ucap Fatan sama sekali tak merasa bersalah, bahkan terkesan menantang.
Bu Maryam menatap menantunya itu nyalang, jika bukan karena dokter yang memeriksa Indi sudah keluar dari ruangan maka bisa jadi saat Bu Maryam sudah menjadikan Fatan perkedel.
"Keluarga pasien?" ucap dokter itu.
__ADS_1
Gegas Bu Maryam dan Fatan menghambur menghampiri dokter itu.
" Bagaimana kondisi anak saya, Dok?" cecar Bu Maryam tak sabar.
"Kondisi pasien lumayan mengkhawatirkan, sebab itu kami butuh persetujuan keluarga serta tanda tangannya untuk melakukan tindakan operasi secepatnya," ucap dokter itu cepat dengan wajah tak kalah panik.
"Lakukan apapun, dok. Selamatkan anak saya," desak Bu Maryam tak sabar, air mata sudah kembali membasahi pipi tuanya.
" Baiklah, kalau begitu mari ikut saya untuk menanda tangani berkas persetujuannya, sebab operasi ini bisa saja beresiko tinggi nantinya," pungkas dokter itu memperingati.
Bu Maryam mengangguk paham, lalu berjalan beriringan dengan Fatan guna membuntuti langkah dokter lelaki yang seperti seusia Bu Maryam itu.
"Dok, maaf kira kira berapa rincian biaya untuk operasi anak saya?" tanya Bu Maryam usai membubuhkan tanda tangannya di atas kertas bermaterai yang tak sempat dia baca itu, sebab Fatan sebagai suami malah tak mau menanda tanganinya karna takut di suruh membayar nantinya.
Dokter itu tampak berpikir sesaat, lalu menghembuskan nafas dalam. "Mungkin bisa mencapai puluhan juta, Bu. Tapi, apalah artinya uang jika nyawa yang jadi taruhan bukan?"
Mata Bu Maryam tampak terbelalak, mulutnya menganga saking kagetnya dengan jumlah perkiraan biaya untuk operasi Indi, itu pun baru perkiraan. Entah, tak terbayang di benaknya berapa banyak nanti mereka akan terjerat hutang piutang dengan Dara.
Dokter itu bangkit di ikuti Bu Maryam dan Fatan menuju keluar ruangan. Wajah nelangsa tampak bergelantungan di raut Bu Maryam, sedangkan Fatan wajahnya tampak bingung namun tak sedikit jua berusaha mencari solusi, membiarkan mertuanya berpikir sendiri sejak tadi.
Entah kekhawatiran sungguhan atau hanya pura pura yang dia tunjukkan sejak tadi tak ada yang tahu.
Beruntung, di tengah kegelisahan itu Bu Maryam melihat Dara dan Zaki tengah berjalan cepat menuju ke arah mereka. Dengan mata penuh kabut, Bu Maryam menyambut Dara dan memeluknya erat sekali.
"Kamu datang, nak? Terima kasih karna masih peduli pada kami," bisik Bu Maryam di sela pelukan mereka.
"Iya Bu, sama sama. Bagaimana kondisi Indi?" tanya Dara setelah melerai pelukannya.
Bu Maryam menyusut sudut matanya dengan ujung jilbab lusuhnya. "Kata dokter, Indi harus operasi. Kondisinya sudah sangat mengkhawatirkan."
"Lalu? Apa sekarang operasinya sudah di mulai?" tanya Dara saat menangkap raut kesedihan dari wajah Bu Maryam.
__ADS_1
Terlihat Bu Maryam menggeleng. " Belum, dokter bilang tindakan operasi baru akan di lakukan setelah kami melunasi biaya operasinya lebih dulu."
Dara mengangguk paham, lalu menoleh pada sang suami dan membiarkan Zaki berjalan menuju ke meja administrasi guna melunasi biaya operasinya indi.
"Maafkan ibu karna hanya datang saat butuh bantuan begini ya, Nduk. Sebetulnya ibu malu sekali harus merepotkan kamu dan suamimu begini," gumam Bu Maryam dengan mendung di wajahnya yang semakin tampak menebal.
Dara menggeleng dan menggenggam tangan Bu Maryam erat.
"Nggak usah di pikirkan, Bu. Dara ikhlas bantuin kalian."
"Nggak, nak. mana boleh begitu, semua biaya yang kamu keluarkan hari ini nanti di catat biarkan ibu menggantinya nanti walaupun dengan cara di cicil ya, nak. Jangan menolak, jangan buat ibu semakin merasa bersalah sama kamu." Bu Maryam membujuk Dara dengan mata berkaca-kaca.
Pada akhirnya Dara mengangguk setuju, walau sebenarnya tak terlalu dia pikirkan kapan dan bagaimana Bu Maryam akan mengembalikan uangnya. Baginya yang terpenting adalah nyawa Indi bisa di selamatkan termasuk bayi di kandungannya.
Setelah pembayaran di konfirmasi, para perawat gegas membawa brankar Indi menuju ke ruang operasi. Kondisi Indi yang lemah terlihat semakin lemah saja sekarang, bahkan jika sebelumnya masih terdengar suara rintihannya kali ini bahkan Indi tak sanggup untuk sekedar bersuara, membuka mata pun sudah terasa berat baginya.
"Indi, kamu yang kuat ya. Bertahan ya, Nak jangan tinggalin ibu. Demi ibu demi anak kamu , bertahan ya, Nak. Kuat ya," bisik Bu Maryam di telinga Indi sembari mendorong brankarnya menuju ke ruang operasi.
Indi tak merespon membuat Bu Maryam takut setengah mati, lalu Bu Maryam menoleh pada Dara tatap matanya seolah menyiratkan inginnya agar Dara Sudi berbicara pada sang adik sebelum dia masuk ke ruang operasi.
"Tunggu sebentar, sus.". Dara berkata cepat sebelum brankar memasuki ruangan operasi.
"Ada apa, Mbak. Tolong jangan terlalu lama karna pasien butuh tindakan cepat," sambar suster berseragam hijau dengan masker dan penutup kepala senada itu .
" Tidak, saya hanya ingin bicara sebentar dengan adik saya. Saya janji hanya satu menit."
Suster itu mengangguk dengan terpaksa, dan Dara pun maju mendekat ke arah telinga Indi dan berbisik lirih di sana.
"Bertahanlah, Dek. Yang kuat, Mbak menunggu kamu di sini, Mbak sudah memaafkan kamu, kembalilah dengan selamat nanti kita bawa bayi kita main ke taman sama sama ya," bisiknya dengan berlinang air mata, sembari mengusap perutnya yang kini mulai terasa berdenyut karna adanya kehidupan pula di sana.
Dan sekilas terlihat oleh Dara kalau kelopak mata Indi bergerak, dan jemarinya yang ada di genggaman tangan Dara pun seolah merespon walau pelan sekali, sebelum akhirnya tubuh diam Indi di bawa masuk ke ruang operasi, berjuang antara hidup dan matinya untuk membawa sang anak hidup di dunia.
__ADS_1