
*Ziva POV
~bukan inginku begini, tapi semua yang terlontar dari bibir manis yang selalu mengecam itu meruntuhkan semua cinta di dalam jiwa. Nestapa yang terpendam selama berwindu lamanya kini termuntahkan tanpa ada penghalang dari nya.
Maaf, jiwa. Terlalu lama aku menbuatmu dalam kesengsaraan dengan selalu mengalah, maaf jiwa.
Ku janjikan setelah ini kan kita raih bahagia, telah terlalu lama kita berjuang di dalam lubang nestapa.
****
Ziva melangkah meninggalkan Bu Zaenab seorang diri di ruang depan, tanpa mau menoleh lagi ke arah ibunya itu.
Bu Zaenab yang sadar di tinggalkan seorang diri pada akhirnya pun mulai menangis, hatinya sakit karna kata kata penolakan Ziva atas dirinya rupanya benar benar benar sakit melukai hatinya. Namun bukan Bu Zaenab namanya jika dia akan langsung sadar akan semua kesalahannya dan mau mengakuinya.
Bu Zaenab cepat menghapus air matanya dan melangkah dengan langkah lebar menuju kamar dimana suaminya tadi juga di bawa ke sana.
Ceklek
Pintu terbuka di hadapan Bu Zaenab, langkahnya mantab membawa tubuh tambunnya masuk ke dalam sana. Memindai kondisi kamar yang selama beberapa waktu terakhir ini menjadi tempat a beristirahat melepas penat.
Di atas ranjang, Bu Zaenab mendapati tubuh Pak Jamal terbaring lemah, matanya tertutup dengan selimut menutupi hampir seluruh bagian tubuhnya kecuali kepala. Sesekali terdengar erangan dari bibir Pak Jamal yang mungkin saja tidak di sadarinya.
"Huh, dasar tua bangka banyak tingkah," dengus Bu Zaenab seraya berlalu.
__ADS_1
Bu Zaenab mengayunkan langkah mendekati lemari pakaian, membukanya dan mengeluarkan sebuah tas besar dari sana. Tas yang dia gunakan untuk memuat pakaian dan beberapa barang miliknya.
Bu Zaenab memeriksa terlebih- dahulu isinya sebelum akhirnya mengangkatnya keluar dari kamar itu.
Melewati kamar Ziva, tak lagi terdengar suara tangisan bayi dari dalam sana. Walau kamar yang di tempati Ziva tak menggunakan pintu, namun tirai penutupnya tersibak menutupi seluruh bagian pintu. Terdengar pula suara orang tengah bercengkrama di dalam sana. Mungkin Ziva dengan Amar yang tengah mendiskusikan sesuatu di sana.
Tak mau ambil peduli walau sebenarnya dirinya sangat ingin menggendong sang cucu sekali lagi, namun pada akhirnya Bu Zaenab kembali kalah oleh ego dan rasa gengsinya yang tinggi. Dengan langkah pasti, Bu Zaenab keluar dari rumah itu, berbekal sebuah kertas berisi alamat rumah suami Zulfa, Bu Zaenab nekat pergi walau tanpa bekal yang memadai. Tanpa pamit, tanpa salam dan tanpa memberi tahu siapapun, toh pikirnya semua juga akan tahu nanti setelah Ziva bicara. Ziva yang mengusirnya, bukan dia yang ingin pergi sendiri, jadi pikir Bu Zaenab saat ini posisinya aman .
"Huh, baru punya rumah kontrakan aja sombongnya minta ampun. Bisa bisanya dia mengusir ibunya dari sana, awas saja kalau nanti butuh bantuan. Walaupun dia datang sambil menangis darah nggak akan aku bantu sedikit pun. Anak nggak tahu di untung, nggak tahu diri, huh kenapa lah dulu aku melahirkan dia," omel Bu Zaenab masih tak henti hentinya marah pada Ziva yang mungkin saja saat ini sudah bisa tidur tenang dan nyenyak setelah kepergiannya.
Lalu lalang kendaraan membawa terbang debu debu jalanan ke tepian, Bu Zaenab yang sejak tadi berjalan menyusuri trotoar terbatuk batuk karna asap dan debu yang memasuki hidungnya.
"Uhuk, uhuk. Aduh, banyaknya debu ini. Hah, dimana lagi ini alamatnya, mana aku nggak tahu ini ada di mana. Bagaimana ya kira kira sekarang?" desah Bu Zaenab mulai putus asa.
Lelah terus menerus mengitari jalan, akhirnya Bu Zaenab memilih beristirahat dan duduk di sebuah halte yang sepertinya tidak lagi beroperasi. Di sana juga tampak beberapa orang yang tengah duduk sembari bercanda dengan teman temannya.
"Permisi, dek." Bu zaenab mencoba mencari jalan keluar dari masalahnya dengan mendekati anak anak muda yang tengah nongkrong itu.
" Ada apa, Bu?" tanya salah satu dari mereka sembari memutar tubuhnya menatap Bu Zaenab dari ujung kaki hingga ujung kepala.
"Ini, ibu mau tanya apaa kalian ada yang tahu alamat ini?" ucap Bu Zaenab sembari menyodorkan kertas bertuliskan alamat rumah Zulfa yang kemarin dia dapatkan darinya. Karna menurut Zulfa kini dia di belikan rumah baru oleh sang suami berbeda daerah dengan rumah lama mereka yang sebelumnya.
Anak anak muda itu berebutan hendak melihat alamat di kertas yang di tujukan bu Zaenab. Sejurus kemudian salah satu dari mereka berdiri dengan kaki panjangnya yang membuat tubuhnya menjadi lebih tinggi ketimbang Bu Zaenab.
__ADS_1
"Saya tahu, ibu mau ke sini. Ke alamat ini." tanyanya pada Bu Zaenab.
Bu Zaenab mengangguk berulang kali, merasa mendapat angin segar lewat tawaran anak muda yang usianya masih kisaran belasan tahun itu.
"Iya iya, apa kamu bisa tunjukan jalannya?" tanya Bu Zaenab.
Anak muda itu menatap ke arah teman temannya sekilas, lalu kembali beralih pada Bu Zaenab.
"Saya antar saja, Bu. Biar cepat," pungkasnya membuat Bu Zaenab semakin bersemangat.
"Benar kah? Akh syukurlah kalau begitu," ucap Bu Zaenab senang.
Anak muda itu segera naik ke atas sebuah motor metik yang sebagian rupanya sudah di modifikasi. Suaranya pun tak nyaman di dengar, namun Bu zaenab tak memperdulikannya yang terpenting baginya saat ini dia bisa sampai ke rumah anaknya yang satu lagi walau harus menahan bising dari knalpot motor itu sepanjang jalan.
"Saya agak ngebut ya, Bu supaya lebih cepat sampai. Nanti ini lewat jalan tikus juga soalnya," ucap anak muda berambut pirang itu pada bu Zaenab yang kini sudah duduk di boncengannya dan berpegangan pada bagian belakang besi motor.
Walau agak cemas karna baru kali ini naik motor yang rupa dan bentuknya setidak meyakinkan itu, Bu zaenab pasrah saja toh pikirnya ini tak akan lama dan dia akan segera sampai ke rumah Zulfa yang dalam bayangannya pasti lah bagus dan megah.
Perjalanan sudah memakan waktu hampir setengah jam, namun belum ada tanda tanda akan sampai. Terlebih kini di kiri dan kanan mereka adalah perkebunan karet yang sunyi dan rapat. Tak tampak rumah penduduk lagi di sana, sekitarnya semua penuh dengan pohon karet saja.
"Kita ada di mana? Apa iya mau ke rumah anak saya harus melewati perkebunan ini dulu?" tanya Bu Zaenab mulai cemas.
"Sudah diamlah, jangan banyak tanya." Anak muda di depannya kini mulai menjawab dengan ketus.
__ADS_1
Bu Zaenab semakin gemetar, terlebih kala melihat di depan sana tanaman karet itu semakin rapat dan keadaan semakin gelap tertutup daun daun pepohonan yang besar..