TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 198. KABUR.


__ADS_3

 Yang terjadi sebelumnya.


 Di hotel.


"Ada apa, Bu? Kenapa teriak teriak begitu sih?" seru intan yang terkejut mendengar pekikan sang ibu di depan pintu kamarnya.


 Bu Sukri merangsek masuk ke dalam kamar intan dan Fatan, dengan mata melotot dia menatap ke dua sejoli yang baru menikah dengan terpaksa itu.


"Bapakmu," gumam Bu Sukri gugup.


 "Apa, Bu? Intan nggak denger, mbok ya yang kuat gitu loh ngomongnya, tadi aja jerit jerit kok." Intan menekuk wajahnya.


 Bu Sukri menarik nafas dengan rakus, seakan ingin menghabiskannya seorang diri.


"Bu, cepetan jangan bikin penasaran Kenapa sih? Kenapa bapak ha?" desak Intan tak sabar.


 Fatan diam saja menyaksikan perdebatan-perdebatan ibu dan anak itu, toh kalaupun dia buka suara tak akan di dengar sama sekali. Di sini posisinya tak lebih dari sekedar pembantu yang hanya harus menuruti perintah tuannya dan bukan untuk menyampaikan pendapat akan apapun itu.


"Bapakmu ngamuk, kita harus pulang sekarang juga." Bu sukri berkata dengan sedikit menjerit getir, membuat intan seketika berdiri tegang mendengarnya.


"Apa? Ngamuk? Tapi kenapa, Bu? Apa yang barusan telpon itu ibu bapak ya? Apa katanya Bu?" cecar intan yang tak sabar ingin tahu cerita lengkapnya.


 Bu Sukri menutup matanya karna bingung bagian mana yang harus dia jawab lebih dulu dari pertanyaan intan.

__ADS_1


 "Bu, buruan kasih tahu diem mulu sih." Intan mulai kesal.


"Diam dulu kamu!" sergah Bu Sukri yang kesal terus menerus di tekan oleh anaknya sendiri. Padahal saat ini pikirannya sendiri sedang buntu karna tak bisa berpikir jernih.


 Intan diam, memilih untuk menjatuhkan kembali bobot tubuhnya di atas kasur bersebelahan dengan Fatan yang hanya diam menyimak.


"Tadi yang telpon tetangga kita, Katanya bapakmu ngamuk ngamuk di kebun kita. Semua tanaman tanaman di hancurin dan juga dia katanya pergi ke rumah juragan tanah itu, sambil bawa golok katanya. Ibu takut banget, Nak." Bu Sukri mulai bercerita dengan tubuh gemetar.


 Terlebih saat dia teringat akan apa yang sudah dilakukannya dengan rentenir me sum itu, semakin membuatnya tak bisa tenang. takut kalau sampai suaminya tahu semua rahasianya itu. Tak bisa di bayangkan bagaimana marahnya Pak Sukri jika tahu istri yang sangat di cintanya sejak dulu bermain gila dengan seorang pria buncit dan bau. Hanya demi harta.


"Memangnya kenapa bapak bisa ngamuk ngamuk begitu, Bu? Terus apa juga urusannya sama juragan rentenir tua yang buncit itu?" tanya intan yang tak tahu apa yang tengah terjadi.


 Bu Sukri tampak pias, dia lupa kalau tak ada yang tahu skandalnya dengan si tua Bangka rentenir itu. Bisa habis reputasinya jika sampai Intan tahu kalau Bu sukri sudah pernah menjadi bahan percobaan si pria tua yang buncit itu.


"Sudah jangan banyak tanya, sekarang juga kita pulang. Ibu nggak mau kalau sampai bapakmu kenapa kenapa, tahu sendiri kan tua bangka rentenir itu punya tukang pukul segitu banyaknya?"


 Singkatnya, kini mereka sudah cek out dari hotel yang bahkan belum sempat mereka nikmati fasilitasnya itu. Di dalam mobil, Fatan mulai mengarahkan ke arah kampung mereka dengan kecepatan lumayan tinggi karena desakan dari Bu sukri juga yang ingin cepat sampai.


 Wajah pias Bu Sukri dan pergerakannya yang gelisah membuat Fatan sudah bisa menebak pastilah ibu mertuanya itu sudah membuat sebuah kesalahan yang di rahasiakan. Apalagi wajah Bu Sukri yang pias semakin memperjelas semuanya. Namun Fatan memilih diam, toh dia tak akan bisa berbuat apa apa kalaupun dia tahu apa itu. Dia tak punya kekuatan apapun saat ini selain bertahan.


  Aset warisan tanahnya yang di katakan Bu Sukri masih ada pada keluarga mereka menjadi taruhannya jika Fatah berani berbuat di luar batas, apalagi ikut campur urusan mereka. Itu jugalah yang membuat Fatan hanya bisa diam dan menahan diri ketimbang harus kehilangan warisan dari orang tuanya yang mungkin saja akan bisa menjadi bekal masa tuanya nanti. Walau sejujurnya Fatan belum tahu berapa banyaknya.


"Stop, stop! Berhenti dulu!" seru Bu Sukri dari kursi belakang dimana dia duduk seorang diri, sejak tadi matanya tak lepas menatap ke arah ponsel di tangannya. Dan kelihatannya dia baru saja mendapat kabar terbaru akan kondisi di kampungnya.

__ADS_1


 Wajah Bu Sukri semakin pias, saat ini mereka tengah berada di perbatasan yang akan membawa mereka kembali ke desanya.


"Fatan, kamu turun. Bawa juga barang barang kamu."


 Perintah Bu Sukri tiba tiba, membuat Fatan dan intan sontak menoleh ke arahnya.


"Tapi kenapa, Bu? Toh Mas Fatan nggak ada masalah apa apa kok malah di suruh turun. Terus yang mau nyupirin kita siapa?" dengus intan yang melempar tatapan tak setuju dari sorot matanya.


 Bu Sukri berdecak, lalu menatap Intan dengan mata melotot.


"Turuti saja apa kata ibu, kalau mau selamat. Kalian nggak tau apa yang sudah terjadi di kampung, sekarang juga turuti kata kata ibu, Fatan! Turun dan bawa barang barang kamu."


 "Tapi saya harus kemana, Bu?" tanya Fatan bingung, apalagi tempat mereka berhenti saat ini adalah tempat yang lumayan sepi yang masih berupa perkebunan milik warga. Untuk sampai ke pemukiman mungkin butuh waktu setengah jam itupun kalau menggunakan mobil.


"Iya, Bu. Jangan aneh aneh deh masa Mas Fatan di suruh turun di sini. Di sini itu loh sepi." Intan berkata lagi.


 Bu Sukri tak segan menepuk lengan Intan agar diam, lalu menggoyang tangannya di udara.


 "Terserah kamu mau kemana sekarang, ibu nggak peduli. ibu sudah cukup pusing dengan masalah ibu, lebih baik sekarang kamu turun dan pergi. Nanti kabari saja kamu ada di mana," tandas Bu sukri memaksa.


 Singkatnya akhirnya Fatan turun dan mulai menapaki jalanan berbatu itu dengan bingung, apalagi saat ini dia sama sekali tak di beri pegangan uang. Seolah di buang begitu saja oleh Bu Sukri dan Intan. Seperti kucing tua penyakitan yang tak di inginkan lagi, di biarkan sebatang kara hingga maut nanti akan menjemputnya di antah berantah.


"Ibu tega sekali sih?" dengus intan setelah Bu Sukri berpindah ke kursi kemudi dan mulai menjalankan mobil dengan terburu-buru.

__ADS_1


 Rupanya wanita tua itu lumayan pandai juga membawa mobil, mungkin karna di masa mudanya dulu sering menyetir mobil sawit orang.


"Sudah, diam kamu intan! Kamu nggak mau kan kalau sampai Fatan tahu apa yang terjadi. Bisa bisa dia akan langsung menceraikan kamu. Sekarang juga kita kabur, tidak aman bagi kita buat pulang ke kampung sekarang. Kamu tahu? Bapakmu mau membunuh ibu."


__ADS_2