
Laila tergugu di tempat, ingin rasa dia menolak perintah ibu mertuanya. Tapi dia tahu sudah terlalu lama dia membuat ibu mertuanya yang sangat baik itu menunggu kesiapannya.
Hanya untuk tes kesuburan, Laila berusaha meyakinkan dirinya sendiri kalau dia pasti bisa melewati semuanya. Menepis semua rasa takutnya, akhirnya kepala Laila terangguk juga.
"Baiklah, Bu."
Satu kata yang sudah di tunggu Bu Hana selama satu Minggu lamanya akhirnya terlontar juga. Tanpa banyak kata Bu Hana langsung memeluk anak menantunya itu dan menjatuhkan kecupan di kepalanya yang tertutup jilbab.
"Ibu yakin kamu kuat, ibu akan telepon halim dan memintanya pulang untuk mengantar kita. Yakinlah semua pasti tak semenakutkan yang selama ini kamu pikirkan."
Laila mengangguk samar, dan membiarkan ibu mertuanya beranjak keluar untuk menelpon sang anak yang adalah suaminya, yang selama beberapa hari ini juga tak luput dari kecemasan karena dirinya.
"Ah, maafkan aku, Mas ... Bu ... kalian jadi ikut kerepotan karna aku yang terlalu penakut dan baperan," gumam Laila sembari memakan satu potong kue yang tadi di bawa Bu Hana.
****
"Kamu beneran sudah siap kan, dek?" tanya Halim memastikan sekali lagi kesiapan istrinya sebelum mereka berangkat.
Laila yang tengah duduk di pinggir tempat tidur menunggu sang suami bersiap hanya mengangguk pasrah, toh dia juga tak ingin mengulur waktu lagi untuk bisa mengetahui yang sebenarnya kenapa dia dan suaminya tak kunjung memiliki anak.
"Insyaallah, Laila siap Mas. Ayo kita berangkat," gumam Laila sembari melangkah lebih dulu meninggalkan Halim di belakangnya.
Halim melangkah terburu-buru menyusul istrinya, dan tampak di sana sudah ada Bu Hana yang menunggu di teras rumahnya. Raut wajah teduhnya seolah melambai menenangkan hati Laila yang kembali di landa gelisah.
"Tenanglah, kamu harus yakin dan pikirkan hal yang positif saja ya." Bu Hana mendekat dan merangkul pundak menantunya.
Laila menarik nafas dalam dan mengangguk seraya mengulas senyum simpul. Meyakinkan dirinya kalau semuanya pasti baik baik saja.
Perjalanan menuju rumah sakit memakan waktu kurang lebih dua puluh menit lamanya, selama itu tak ada satupun dari mereka yang membuka suara. Semua sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Terlebih Laila, berkali kali dia tampak menggigit kukunya gelisah. Dalam hatinya tak henti dia merapal doa agar hasil pemeriksaannya nanti akan sesuai dengan yang mereka harapkan.
Ckiiiitt
Setelah dua puluh menit yang menegangkan, kini mereka kembali akan di hadapan pada situasi yang tak jauh berbeda menegangkannya dari yang tadi. Bahkan dapat di katakan kalau ini adalah puncaknya.
__ADS_1
"Kami mau tes kesuburan, Dok."
Kata itu keluar dengan lancar dari bibir Halim, pria yang cambangnya mulai tumbuh tipis itu mengatakannya dengan tenang dan datar seolah tidak membawa beban apa apa.
Namun berbeda dengan Laila, ingin sekali rasanya saat ini dia menghilang dari hadapan dokter yang menatapnya lekat itu dan tak mengalami semua drama kehidupan ini.
"Apa sebelumnya ada riwayat penyakit seperti kista atau miom?" tanya dokter itu masih dengan tatapan mata lekat ke arah Laila.
Laila menunduk, rasa takut mulai menjalari tubuhnya. Namun dengan sigap Halim melingkarkan tangannya ke pundak Laila dan mengusapnya perlahan. Mengalirkan kekuatan lewat sentuhan tangannya.
"Bu? Apa ibu mendengar saya? Ini penting untuk keperluan pemeriksaan," timpal dokter itu lagi, sembari agak menunduk agar bisa melihat raut wajah Laila yang menunduk.
Laila akhirnya mau mengangkat sedikit wajahnya, menatap Halim di sebelahnya yang mengangguk seolah memberinya semangat.
"Say ... saya tidak tahu, Dok. Saya tidak pernah periksa," cicit Laila yang akhirnya bisa mengeluarkan suaranya juga walau hanya berupa bisikan.
Dokter wanita yang tampak sudah sangat berpengalaman itu tersenyum tipis, lalu bangkit berdiri dari kursi kerjanya.
"Baiklah, kalau begitu kita mulai saja pemeriksaannya. Untuk bapak silahkan ke sana ya, akan ada perawat yang membantu mengambil sampel sp*rma untuk pemeriksaan nantinya," tunjuk sang dokter pada seorang perawat yang kini tengah berdiri di tepi pintu.
Perawat perempuan yang mengenakan jilbab itu tampak tersenyum ramah padanya, sembari mempersilahkan Halim untuk masuk dan menyerahkan sebuah wadah kecil untuknya nanti menampung sel sp*rma nya.
Walau sebenarnya ragu dan sedikit malu, Halim akhirnya menuruti saja apa yang di beritahukan perawat tersebut. Meninggalkan Laila yang kini menjalankan proses pemeriksaan dengan di dampingi langsung oleh sang dokter. Sedang Bu Hana menunggu dengan setia di depan ruangan pemeriksaan.
Setelah tiga puluh menit berlalu, kini Halim dan Laila kembali duduk di depan sang dokter. Yang terlihat tengah sibuk dengan hasil pemeriksaan di depannya. Keningnya berkerenyit membuat laila semakin takut mendengar hasilnya nanti.
Halim memeluknya, kembali memberinya kekuatan agar bisa lebih tenang.
"Bagaimana ... hasilnya, dok?" tanya Halim, setelah beberapa saat berlalu dan dokter itu belum juga mengatakan apapun.
Dokter itu mendesah berat, meletakan kertas hasil pemeriksaan di atas meja dan menatap ke dua sejoli tersebut. Yang juga sama menatapnya dengan tatapan tegang.
"Hah, saya ... turut prihatin Pak, Bu."
"Apa maksud, dokter?" sela Laila dengan dada bergemuruh kencang, dari bahasanya Laila sudah bisa menebak kalau pasti ada yang tidak beres dengan salah satu di antara dia dan suaminya yang membuat mereka belum juga di karuniai buah hati yang telah sejak awal mereka nantikan.
__ADS_1
Dokter itu menatap Halim dan Laila bergantian, seakan berat untuk mengatakan semuanya.
"Katakan saja, Dok. Insyaallah kami siap dengan segala hasilnya," tukas Halim berusaha membesarkan hati jikalau memang ada yang salah dengan mereka atau salah satu dari mereka.
Selang beberapa tarikan nafas, dokter itu mulai menjawab walau rasanya bibirnya seolah enggan bergerak.
"Hasil pemeriksaan ibu dan bapak ... "
Dokter itu menggantung kalimatnya, menatap lagi wajah tegang Laila dan Halim dengan penuh simpati. Membuat genderang di dada Laila semakin tertabuh dengan kencangnya. Hingga hampir membuatnya sesak nafas.
"Katakan, dok jangan setengah setengah." Halim mendesak dengan wajah kesal.
"Dari sini bisa kita ketahui kalau ... Bu Laila mengidap miom di rahimnya, itu juga yang membuat ibu dan bapak belum jua di karuniai buah hati hingga saat ini," gumam sang dokter dengan suara pelan namun jelas.
Jedeeerrrrrrr
Kabar yang baru saja di terima Halim dan Laila serasa bagaikan petir yang menyambar kepala mereka. Bahkan Halim dan Laila sempat termangu beberapa saat sebelumnya akhirnya Laila jatuh pingsan dan tak sadarkan diri di pelukan Halim.
****
"Ahahahha, hihihi."
Suara cekikikan anak anak kecil membangunkan Laila dari tidurnya, dia merasa baru saja bangun tidur di atas sebuah dipan indah beralaskan beludru yang sangat lembut.
Laila bangkit, mengedarkan pandangannya ke segala arah seakan mencari sumber suara anak anak yang baru saja mengganggu tidurnya.
"Halo, siapa di sana?" seru Laila sembari memutar tubuhnya memindai ruangan berwarna cerah di sekitarnya. Laila bahkan tidak ingat itu tempat apa, hanya harum pewangi ruangan beraroma lavender yang menjadi kesukaannya memenuhi tempat itu membuatnya nyaman sekali berada di sana.
"Hihihi, Mama aku di sini.".
. Suara anak kecil itu kembali terdengar, namun tak kunjung menampakkan rupanya. Namun bukannya takut, Laila justru penasaran dan memilih turun dari dipan tersebut dan melangkah menapaki lantai ruangan yang beralaskan karpet bulu lembut.
Saat kakinya baru saja menapaki karpet bulu tersebut, tiba tiba sepasang tangan mungil memeluk kakinya dari belakang.
"Aku di sini, Mama. Aku akan lahir dari orang terdekat Mama, tapi ... tidak bisa keluar dari perut Mama."
__ADS_1
Laila terjingkat kaget, terlebih saat anak perempuan berambut panjang dengan poni rata itu menatap tepat ke matanya ada gelenyar aneh yang tak bisa Laila jelaskan.
Tapi apa katanya tadi? Tidak bisa keluar dari perutnya? Apa itu artinya?