
"Ada apa, Bu di depan?" tanya Indi saat Bu Maryam masuk dengan membawa nampan berisi sarapan untuknya dan Farah yang tampak anteng bermain dengan si bayi.
Bu Maryam duduk di lantai, mendesah dengan raut wajah sedih yang tak di buat buat.
"Bu, ada apa? Kenapa muka ibu sedih begitu?" cecar Indi tak sabar.
"Hah, Fatur ...."
"Kenapa Fatur, Bu?" sela Indi tak sabar, mendadak jantungnya berdebar tak karuan.
"Kecelakaan," gumam Bu Maryam singkat, dengan air mata menetes di pipinya.
Mata Indi membola. "Apa, Bu? Fatur kecelakaan? Lalu sekarang bagaimana kondisinya, Bu? Apa sudah di bawa ke rumah sakit? Apa yang luka, Bu? Bagaimana bisa?"
Bu Maryam tampak menggeleng lemah. "Entahlah, ibu juga tidak tahu bagaimana kejadiannya. Tadi waktu ibu ke sana Fatur sudah dalam keadaan pingsan di bawa pulang ke rumah."
Indi tampak tercenung, raut wajah dan sorot matanya menampakkan penyesalan.
"Ya sudah, ibu mau ke depan dulu ya bawa teh buat Dara. Kasian dari tadi Mbak mu itu nangis terus," imbuh Bu Maryam sembari beranjak bangkit dan berlalu keluar kamar.
Indi masih tercenung sampai suara renyah Farah membuyarkan lamunannya.
"Tante, dedek bayinya lucu sekali ya. Farah mau punya adek bayi kayak begini juga. Adek bayinya cewek kan, Tante?"
.
Farah tampak bahagia sekali menyampaikan hal tersebut, bahkan matanya sampai sipit sebab lebarnya senyuman di wajahnya.
Indi mengangguk haru. "Iya, sayang dedek bayinya perempuan. Sama Kayam Farah, nanti kan Farah bakalan punya juga dedek bayi dari Mama Dara."
Tapi reaksi Farah justru tidak terduga, Farah menggeleng dengan bibir mencebik.
"Adik bayi di perut Mama Dara belum tentu perempuan juga, Tante. Kan mendingan dedek bayinya Tante Indi, sudah pasti perempuan sama kayak Farah, bisa di ajak main boneka dan rumah rumahan kalau pun nanti dedek di perut Mama Dara laki laki kan Farah masih punya dedek bayinya Tante Indi," tutur Farah dengan polosnya.
Air mata Indi lolos begitu saja dari pelupuk matanya, dia tak menyangka ada kasih sayang yang begitu tulus untuk anaknya yang lebih sering menjadi bahan cemoohan orang orang itu karna lahir melalui jalur SC dan di umur yang belum seharusnya lahir.
"Tante Indi, boleh nggak kalau adik bayinya buat Farah aja?". celetuk Farah tiba tiba.
****
Laporan ke kantor polisi sudah selesai di buat, dari rumah sakit Zaki langsung di minta ke kantor polisi guna memasukkan laporan lebih lanjut, dan juga kesaksian dari beberapa warga juga di minta untuk mempercepat pencarian akan pelaku yang menghilang setelah melakukan tabrak lari tersebut.
__ADS_1
Untungnya kondisi Pak Jamal tidak separah yang terlihat, hanya terlalu banyak kehabisan darah sebab luka di kepalanya. Namun sudah bisa ditangani dan di beri donor yang tepat di waktu yang cepat pula. Hingga nyawa pria paruh baya itu bisa lekas di selamatkan.
"Pak RT, terima kasih atas bantuannya. Nanti kalau ada perkembangan terbaru tolong kabari saya ya, Pak. Saya harus mengecek kondisi anak dan istri saya di rumah," pamit Zaki pada Pak RT dan trio bapak bapak yang terus mengikuti dan membantu ini dan itu sejak tadi.
Pak RT mengangguk dan melepas kepergian Zaki di depan pelataran kantor polisi.
****
Tok
Tok
Tok
"Mbak, ini Indi Mbak".
Indi mengetuk pintu kamar Dara, sejak tadi tak nampak Dara keluar kamar. Padahal hari sudah beranjak sore dan anak anak sudah tenang di ajak main Elis ke taman.
Tok
Tok
Tok
Beberapa waktu kemudian karena tak mendapat jawaban, Indi berniat untuk kembali saja ke kamarnya. Terlebih sakit di perutnya mulai kembali terasa mengganggu.
Tapi baru saja berjalan beberapa langkah tersebut suara kunci pintu yang di putar dua kali di susul pintu kamar Dara yang terbuka.
Ceklek.
Beberapa detik Indi mematung, menunggu Dara akan keluar dan menemuinya. Tapi lagi lagi nihil, bahkan Dara tak keluar sekedar untuk bertanya, sepertinya Dara hanya membukakan pintu dan kembali ke dalam.
Menarik nafas dalam, Indi memberanikan diri untuk masuk ke dalam kamar Dara.
Klik
Indi membuka pintunya lebih lebar, ruangan yang setiap sudutnya sudah berubah tampilannya menyambut Indi.
Indi tersenyum miring, kelebat ingatan melintas di benaknya tentang bagaimana dulu dia menghancurkan rumah tangga Dara di dalam kamar tersebut dengan tidak tahu malunya.
"Masuklah, In." terdengar suara Dara dari dalam sana, Indi tersentak dari lamunannya dan berjalan pelan masuk ke dalam.
__ADS_1
Dara tampak duduk di depan jendela, matanya terlihat sembab dengan sorot mata yang sayu.
"M- Mbak, aku ... aku ...."
"Iya, In. Sepertinya itu lebih baik," gumam Dara seolah tahu apa yang hendak di ucapkan Indi.
Indi terkesiap, menatap Dara dengan sorot mata penuh tanya.
Dara menoleh, dan balas menatap mata Indi lekat. "Mbak tidak memaksa Fatur, itu artinya ... hah ... Mbak minta maaf, In."
Indi menunduk dalam, perlahan kepalanya mengangguk lemah.
"Iya, Mbak. Kalau begitu, terima kasih atas tumpangannya dan kebaikan Mbak Indi dan Ibu pamit ya, Mbak."
Indi berbalik, menghapus air mata di sudut matanya dan melangkah keluar dari kamar itu.
"Tunggu, Indi." Dara menyela.
Langkah Indi berhenti, namun tak berbalik.
"Kalian mau kemana?" tanya Dara lagi, terdengar lebih dekat sebab Dara beranjak dari duduknya dan berjalan mendekati Indi.
Indi menggeleng lemah. " Entahlah, Mbak nanti saja Indi pikirkan."
"Yang terpenting kami keluar saja dulu dari sini, agar Fatur tidak merasa di sepelekan," imbuhnya lagi.
Dara menggamit tangan Indi, membuat Indi spontan menoleh padanya.
"Mbak sudah siapkan tempat untuk kalian, dan Mbak harap kamu jangan menolak."
****
"Mbak, ini serius tempatnya? Ini berapa biaya sewanya, Mbak?" cecar Indi saat Dara membawanya ke sebuah rumah yang dia ketahui sebagai rumah Bu Leha dan Hans yang sudah di beli oleh salah satu kolega Pak Jatmika.
"Kamu nggak usah cemas biaya sewanya, Mbak sudah bayarkan untuk satu tahun ke depan. Kebetulan yang beli rumah ini masih temannya bapak, jadi di kasih harga sewa murah. Kamu tenang aja ya, maaf karna Mbak nggak bisa nampung kamu dan ibu di rumah. Mbak ... nggak mau Fatur sampai celaka," papar Dara sendu.
"Harusnya Indi yang minta maaf, Mbak gara gara Indi datang ...."
"Sudah lah nggak usah di bahas, sekarang kita pulang dulu jemput ibu dan si kecil ya. Sekalian bawa barang barang kalian ke rumah ini, semoga kalian betah ya di sini. Karna masih cukup dekat dari rumah Mbak kalau butuh apa apa jadi kamu bisa ke rumah," tutur Dara lagi.
"Terima kasih, Mbak. Dari dulu Mbak selalu baik sama Indi dan ibu walaupun kami sudah jahat sama Mbak. Mbak benar benar bak malaikat," isak Indi sembari memeluk erat tubuh Dara.
__ADS_1
"Mbak bukan malaikat, In. Mbak hanya ingat pesan almarhum bapak untuk selalu menyayangi kalian."