
Indi terhenyak mundur, hingga tanpa sadar menabrak pinggiran kursi ruang tamu. Wajahnya pias melihat bagaimana tajamnya mata Fatan menghujam matanya, mata itu berkilat tidak seperti milik Fatan, Indi tau itu.
"Si ... siapa kamu?" cicit Indi ketakutan, pasalnya saat ini Bu Maryam tengah bertandang ke rumah Bu Sukri untuk mengembalikan selimut yang kemarin sempat mereka pinjam.
Fatan menyeringai, perlahan langkah semakin mendekat ke arah Indi. Indi tak bisa berlari, tubuhnya seakan terpatri di tempat. Dia gemetar, dengan air mata mulai berkumpul di ujung netranya.
"Katakan, siapa kamu! Dimana suamiku? Kembalikan suamiku!" bentak Indi mencoba lebih berani.
"Bukankah aku suamimu?" desis Fatan sambil mendekatkan wajahnya pada Indi, deru nafas berbau bangkai menyeruak membuat Indi ingin muntah di buatnya.
Suara nenek tua itu masih menguasai Fatan, Indi bingung apa yang seharusnya kini dia lakukan. Sesal sempat menghampiri Indi kenapa dia dulu tak pernah mau jika di ajak oelh Dara untuk pergi mengaji dan madrasah, kini bahkan untuk membaca sebuah surah pendek pun dia terbata bata, bagaimana bisa dia mengusir makhluk yang ada di tubuh Fatan itu.
"Pergi, ku mohon pergilah. Jangan ganggu aku, aku tidak pernah mengganggumu." Indi menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
"Kalau begitu ... berhenti lah bersikap seperti kaulah penguasa segalanya. Jika bisa pun, pergilah dari kehidupan putraku. Dia ... tak pantas untukmu."
Brugh
Indi membuka mata ketika mendengar suara seperti orang terjatuh, dan betapa terkejutnya ia ketika mendapati Fatan sudah terkulai lemas di lantai dengan wajah pucat dan tubuh sedingin es.
Indi cepat memburu Fatan dan meletakkan kepalanya ke pangkuannya.
"Mas, Mas Fatan! Mas bangun, Mas." Indi mulai menangis.
Ceklek
Pintu utama terbuka dengan Bu Maryam yang tampak baru saja pulang dengan dua buah kantong plastik di tangannya. Sepertinya pemberian dari Bu Sukri yang memang baik hati itu.
"Ya Allah, Indi! Fatan kenapa?" Bu Maryam gegas mendekat dan meletakkan bawaannya sembarangan.
Indi menggeleng dengan air mata bercucuran. " Indi juga nggak tau, Bu."
Indi ingin menceritakan perihal sesuatu yang sebelumnya terjadi pada Fatan, namun dia takut Bu Maryam tidak akan percaya dan malah menganggapnya halu. Maka Indi memilih untuk bungkam dan menyimpan hal itu terlebih dahulu.
Bu Maryam tampak berlari ke kamarnya, dan tak lama keluar kembali sambil membawa sebuah botol minyak angin cap kapak.
"Pakai ini." Bu Maryam menyodorkan botol kecil itu pada Indi.
Indi menerimanya dan mulai mengoleskan ke hidung dan telapak kaki Fatan yang dingin sambil terus memanggil namanya.
__ADS_1
"Fatan, Fatan ... bangun, Tan. Kamu kenapa? Indi, tadi sebelum pingsan Fatan kenapa?" cecar Bu Maryam dengan raut tak kalah cemas dengan Indi.
Indi masih menggeleng, karna tak ingin membeberkan perihal suara wanita tua itu pada ibunya.
"Indi juga nggak tau, Bu. Pas Indi keluar dari kamar Mas Fatan sudah terkapar di sini." Indi berbohong.
Bu Maryam menarik nafas dalam, dan tak lagi bertanya karna merasa Indi tak akan jujur padanya. Jadi dia memilih untuk membuat Fatan sadar saja, dengan mengusap tangan dan mengoleskan minyak angin di telinga dan ujung hidung Fatan.
Untunglah tak lama setelah itu, Fatan tampak mulai sadar. Dia mengerang sambil memegangi kepalanya yang terasa sangat pusing, bahkan perutnya juga serasa di aduk aduk.
"Aarrtghhhhhhh!" erang Fatan sambil berusaha bangkit.
Indi memapah tubuh Fatan dan membantunya duduk di sebelahnya sambil tetap bersandar di tubuhnya.
"Mas, kamu nggak papa? Kamu kenapa bisa pingsan?" tanya Indi berpura tak tahu walau kini Bu Maryam tampak menatapnya tajam.
Fatan menggeleng untuk memperjelas pandangannya yang masih buram, juga untuk mengusir rasa pusing yang tak henti mendera kepalanya.
"Sebentar, ibu ambilkan air minum." Bu Maryam beranjak menuju dapur dan kembali tak lama setelahnya dengan segelas air putih di tangannya.
"Ini, beri minum dulu suamimu. Sepertinya dia masih bingung," tukas Bu Maryam menyuruh Indi.
Indi mengangguk, dan menerima gelas itu setelahnya dia membantu Fatan untuk minum secara perlahan.
Sepertinya itu efek dari masuknya makhluk tak kasat mata dalam tubuhnya tadi. Tapi tentu saja tak ada yang tahu karna Indi enggan bercerita. Bahkan dia terlalu takut hanya untuk mengingatnya.
"Mas, tarik nafas ... buang ... tarik nafas ... buang. Gimana? Udah tenang?" tanya Indi setelah Fatan mengikuti instruksinya.
Fatan mengangguk dan mulai bisa bernafas lebih lega, dan duduknya mulai lebih tegak.
"Ada apa ini?" tanyanya bingung.
Bu Maryam menatap Indi penuh tanya.
"Kamu tadi pingsan, Mas. Memangnya kamu sebelum ini kenapa? Kok tiba tiba pulang pingsan sih?" tanya Indi menutupi kegugupannya karna di tatap Bu Maryam sedemikian rupa.
Fatan tampak terdiam, matanya menatap kosong ke depan.
"Tadi ... Mas, di ajak intan ke makam ayah dan ibu," gumam Fatan lirih, namun Indi masih dapat mendengarnya.
__ADS_1
"Apa, Mas? Kamu pergi berdua sama perempuan gatal itu?" ucap Indi meninggi, namun Bu Maryam cepat menyenggol lengannya sambil melotot.
Indi terkesiap dan langsung menutup mulutnya. "Ah, ma- maksud aku ... emmm kamu kenapa bisa pergi berdua saja sama dia, Mas?"
Fatan menggeleng pelan." Entahlah, Mas juga nggak paham kenapa bisa menurut saja sama Intan. Dia bilang mau mengajak Mas ziarah ke makam orang tua Mas. Tapi sampai di sana dia malah membakar kemenyan dan merapal mantra-mantra aneh, dan setelah itu Mas nggak ingat apa apa lagi."
Bulu kuduk Indi berdiri, dengan wajah ketakutan dia beradu pandang dengan Bu Maryam yang juga mulai merasakan hal yang sama.
****
Hari beranjak pagi, Bu Maryam sejak pagi sudah sibuk di dapur rumah hendak menyiapkan sarapan untuk mereka semua. Entah kenapa sejak kejadian kemarin Bu Maryam jadi sangat sulit untuk tidur dan selalu merasa tak nyaman, jadilah sejak habis subuh dia sudah menyibukkan diri di dapur dan sekitar rumah untuk mengusir kebosanan.
"Huekkkk ... hueeekkkk."
Tiba tiba Indi berlari dari kamarnya menuju kamar mandi yang berada di dekat dapur, rambutnya bahkan masih acak-acakan dengan piyama tidur yang tampak sama semrawutnya dengan rambutnya.
"Indi, kamu kenapa?" teriak Bu Maryam dari depan pintu kamar mandi, menunggu dengan tak sabar apa yang terjadi pada putri kesayangannya itu.
Ceklek
Pintu kamar mandi terbuka, Indi dengan wajah pucat dan mata yang berair keluar dari sana.
"Perut Indi mual, Bu. Nggak enak banget," keluhnya sambil duduk di meja makan dan meraih segelas air minum, bahkan air itupun terasa pahit di mulutnya.
Indi merasa enek, tapi karna tenggorokannya begitu kering terpaksa dia menghabiskan air putih itu walau sambil menahan nafasnya.
"Kamu masuk angin kayaknya, coba minta Fatan beliin obat sana." Bu Maryam berucap santai sambil membuka tutup magiccom yang nasinya baru saja matang untuk mengaduk nasi di dalamnya.
Bau nasi yang baru matang itu menguar, membuat Indi merasa perutnya kembali di aduk aduk.
"Uhhhh ... hueeeekkk ... huueeekkkk. Bu, tutup itu magiccomnya!" jerit Indi frustasi karena mual yang mendera membuatnya tak bisa merasa nyaman barang sebentar saja.
Bu Maryam menuruti perkataan Indi dan kembali menyusul putrinya yang kini sudah berada di dalam kamar mandi kembali.
"In, kapan terakhir kamu haid?" tanya Bu Maryam tanpa basa basi.
Indi yang tengah membasuh mulutnya itu tampak berpikir.
"Kayanya terakhir bulan lalu, Bu. Tapi inikan baru awal bulan, wajarlah kalo Indi belum dapat haid lagi."
__ADS_1
"Jangan anggap sepele, coba kamu periksa. Ibu rasa ... sepertinya kamu hamil."
"Apa, Bu? Hamil?" sahut Indi dengan mata berbinar senang.