TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)

TABIR (Pelakor Itu Ternyata Adikku)
BAB 197. INGIN KEMBALI.


__ADS_3

"A- anu, anu ... sebenarnya ...." Fatan tergagap tak bisa menjawab pertanyaan Bu Maryam, apalagi Bu Maryam menatapnya dengan tatapan setajam silet.


 Bu Maryam melangkah mendekat, dengan tatapan mata tak berkedip menghujam ke mata pria yang masih resmi menjadi menantunya itu.


"B- Bu ... Bu ..., Aku aku ...."


"Apa?" bentak Bu Maryam setelah sampai di depan muka Fatan, wajahnya tepat berada di depan muka Fatan yang mendadak pucat pasi BS mayat.


"Ada siapa, Bu?" tanya Indi yang mendengar suara ribut dari arah dapur dan memutuskan untuk melihat apa yang terjadi di depan.


 Kakinya melangkah mendekat, dan agak terjingkat kaget saat mendapati Fatan ada di depan rumahnya. Dengan kondisi yang masih sama seperti kemarin saat dia pergi dari rumah Indi, bahkan pakaian yang di pakainya pun masih sama.


 Indi jadi sanksi kalau Intan mengurusnya dengan baik, masa baju saja tidak berganti sejak kemarin.


"Mau apa kamu ke sini lagi, Mas? Bukannya kamu harusnya sedang bersenang-senang dengan istri barumu itu?" sindir Indi dengan telak.


 Fatan terkesiap, namun apa yang di katakan Indi memang benar adanya. Jika saja kalau bukan karna ke egoisan Bu sukri dan intan tentu saat ini Fatan tak akan ada di sini lagi.


"Pergilah, Fatan. Jangan lagi bawa masalah mu pada kami, biarkan kami hidup tenang tanpa kamu. Bahkan akan lebih baik kalau kamu talak Indi sekarang juga, supaya tidak ada lagi urusan di antara kita selain anak kalian," tukas Bu Maryam yang sudah tak nyaman dengan keberadaan Fatan di rumah tersebut.


 Malas saja jika tiba tiba bala tentaranya yang julid itu akan datang lagi dan sok berkuasa di rumah tersebut. Kalau ingat saat itu rasanya Bu Maryam jadi ingin main dukun untuk memberi mereka pelajaran.


"Tapi, tapi ... Saya nggak bisa ,Bu.". Suara Fatan mulai terdengar memelas, bahkan kini tangannya tampak memegangi perutnya yang mendadak berbunyi cukup nyaring.


Krrruuuucccccuuuuukkkkkk

__ADS_1


 Wajah Fatan memerah, terlebih suara perutnya yang nyaring itu pasti akan di dengar langsung oleh Indi dan ibunya. Fatah menunduk dalam, tak berani mengangkat wajahnya menatap Indi dan ibunya.


 Indi mendesah pelan, terselip rasa tak tega di hatinya melihat kondisi pria yang masih sah menjadi suaminya itu. Karna tanpa Fatan berkata apa apa pun Indi tahu kalau intan dan ibunya sama sekali tidak memperlakukannya dengan baik.


"Kamu belum makan, Mas?" tanya Indi datar.


 Bu Maryam menatap Indi dengan tatapan tak suka, karna dia tahu pastilah anaknya itu luluh hanya karna melihat keadaan Fatan yang lumayan memprihatinkan saat ini.


"Indi," sela Bu Maryam memberi kode Indi.


 Tapi Indi malah menggeleng pelan dan memegang jemari ibunya. "walau bagaimanapun Mas Fatan masih suami Indi, bu."


 Fatan mengangkat wajah, seolah mendapat angin segar dari ucapan Indi barusan.


 Bu Maryam melengos, lalu berbalik dan berjalan menjauh.


 Bu Maryam menghilang di balik pintu kamar utama, dimana bayi Indi tengah terlelap di sana. Lalu terdengar suara pintu yang di tutup dan di kunci dari dalam, tampaknya Bu Maryam benar benar sudah sangat tidak menyukai Fatan. Dia bahkan sampai lupa kalau tengah merendam mie bihun di dapur yang mungkin saat ini sudah mengembang karna terlalu lama di biarkan.


"Ayo masuk, Mas." Indi melangkah mendahului Fatan memasuki rumah dan langsung menuju dapur guna melanjutkan kegiatannya memasak yang tadi sempat tertunda.


 Dengan sungkan Fatan membuntuti langkah Indi, perih hatinya saat melihat tubuh wanita yang dulu di pujanya dan membuat dia rela meninggalkan wanita sebaik Dara itu mulai kurus dan tak terawat. Tekanan batin dan kesengsaraan yang di berikannyalah penyebab semuanya, Fatan tahu pasti akan hal itu. Di tambah lagi kenyataan yang harus Indi terima saat ini kalau Fatan sudah menikah lagi, tentu hati wanita yang sudah melahirkan seorang anak untuknya itu sangat lah terluka.


 Tapi lihatlah dia, kini dia bahkan masih begitu perhatian dengan dirinya yang di biarkan kelaparan dan terlunta lunta di jalan oleh Bu Sukri dan Intan yang licik.


"Lauknya belum matang, kamu makan pake telur ceplok dulu ya, Mas."

__ADS_1


 Ucapan Indi membuyarkan lamunan Fatan, dan dengan segan Fatan mengangguk. Perutnya yang sudah sangat melilit tak punya pilihan untuk memilih apa saja yang akan masuk ke dalamnya yang penting makanan. Bahkan walaupun saat ini hanya akan memberinya nasi dan garam pasti dia akan terima yang penting perutnya terisi lebih dulu.


 Sepiring nasi hangat dengan lauk telur ceplok berserta kecap sudah tersaji di depan Fatan, tak lupa Indi juga meletakkan secangkir air putih di sana sebagai pelengkap makan untuk Fatan.


 Mata Fatan mendadak berkabut, teringat olehnya saat dulu mereka tidak punya apa apa bahkan untuk bisa makan telur pun sangat sulit untuk membelinya. Dia mendongak, menatapnya Indi yang memasang wajah datar di depannya.


"Terima kasih, In. Terima kasih," gugu Fatan sembari mengusap lelehan air mata yang tak sengaja jatuh dari sudut matanya.


"Makanlah, Mas. Setelah itu kamu bisa ceritakan apa yang terjadi," gumam Indi pelan.


 Fatan mengangguk, karna perutnya sudah sangat lapar dia melahap makanan dengan lauk sederhana itu dengan nikmatnya. Bahkan Indi sempat menambahkan nasi ke piringnya karena Fatan tampak belum kenyang hanya dengan satu piring nasi.


 Beberapa menit berlalu, kini piring di hadapan Fatah telah tandas isinya. Setelah menghabiskan satu gelas besar air Fatan memulai ceritanya dengan Indi.


"Sekali lagi Mas berterima kasih sama kamu, In. Bahkan setelah semua luka yang Mas kasih buat kamu, kamu masih mau berbaik hati memberi Mas makan."


 Indi menghela nafas panjang. "Aku sadar diri , Mas. Mungkin saja ini semua balasan dari perbuatan ku dulu yang dengan tak tahu malunya merusak rumah tangga kakak ku sendiri dengan merebut kamu. Kalau teringat itu, rasanya sekarang aku nggak punya muka untuk marah, sedang kesalahanku sendiri mungkin lebih besar dari pada itu."


"Sudahlah, kita tidak perlu lagi membahas masa lalu. Semua yang sudah berlalu anggaplah sebagai pelajaran hidup yang berharga. Maafkan Mas yang lagi lagi sudah membuat hati kamu terluka, tapi sungguh ini pun bukanlah keinginan Mas, In. Mas berani bersumpah," ungkap Fatan dengan mata berkaca-kaca, menatap Indi dengan lekat seolah berharap wanita yang telah mengisi relung hatinya itu bisa percaya padanya.


"Lantas siapa yang harus aku percaya, Mas? Semua yang terjadi sudah menjadi bukti. Lagi pula aku tak akan punya kuasa untuk menolak kalaupun itu terjadi di depan aku bukan? Aku bukan siapa siapa, Mas. Hanya wanita miskin yang masih berharap ada setitik rejeki untuk aku membesarkan anakku. Untuk urusan yang lain, aku sudah berserah pada yang Maha Kuasa. Agar di tunjukkan jalan terbaiknya, aku tidak mau ikut campur lagi, Mas terserah kalian." Indi menjabarkan panjang lebar yang saat ini di rasakannya.


 Dan semua itu terdengar bagai tamparan bagi Fatan, yang walau sengaja atau tidak pernah menganggap Indi dan bayi yang di kandungnya sebagai beban.


"Apa kamu tak ingin tahu bagaimana Mas bisa sampai di sini saat ini, In? Mungkin saja setelah Mas ceritakan semuanya kamu akan bisa mengambil kesimpulan baru?" tanya Fatan penuh harap.

__ADS_1


 Indi melirik Fatan sekilas, tatapan tulus yang terpancar dari mata lelaki itu membuatnya ingin sekali percaya. Tapi, logikanya jualah yang melarang.


"Katakan saja, apa itu. Masalah percaya atau tidak, biar kita tentukan di belakang," pungkas Indi pasrah.


__ADS_2