
"Lagi apa, Pak?" tanya salah satu karyawan kafe yang tak sengaja melihat Zaki tengah memperhatikan Indi dari balik tembok.
Zaki terkejut dan gelagapan.
"Ah, eh hmmm ... nggak, nggak ngapa-ngapain. Kamu sendiri ngapain di sini? Terus yang jaga kasir siapa?" tanya Zaki pada sang kasir, Sita namanya. Gadis cantik bertubuh mungil dan berjilbab yang diam-diam menaruh rasa padanya.
"Hehe, kebelet Pak. Makanya saya ini kau ke belakang, permisi ya, Pak. Maaf saya buru-buru ini," tandas Sita sambil berlalu melewati Zaki dan berjalan lurus ke toilet dapur.
Zaki mengembuskan nafas lega, kemudian dengan santai melenggang menuju luar kafe. Hendak memeriksa apartemen miliknya yang sudah beberapa hari di biarkan kosong, karena dia pulang ke perumahan yang juga baru di belinya.
Di dapur.
"Tcih, anak baru aja sok kecakepan." Sita menyindir Indi dengan suara keras, sengaja agar Indi mendengar suaranya.
Indi yang mendengar tak tinggal diam, meninggalkan pekerjaannya dia melangkah mendekat pada Sita yang berdiri di depan pintu toilet.
"Maksudnya apa ya?" sinis Indi yang memiliki tubuh lebih tinggi daripada Sita.
Sita bahkan sampai harus mendongak untuk bisa membalas tatapan sinis Indi.
"Selain sok kecakepan ternyata kamu lumayan oon juga ya," sindir Sita lagi.
Indi memutar bola matanya malas, mencoba tidak terpancing walau saat ini dadanya sudah bergemuruh penuh amarah.
"Tolong nggak usah berputar-putar, jelasin aja mau mu apa, Senior!" tegas Indi menyilangkan tangan di dada, sedikitpun tidak merasa takut pada karyawan lama yang bertugas sebagai kasur tersebut.
Sita berang, dengan menunjuk wajah Indi dia mulai menggeram.
"Jauh-jauh kamu dari Pak Zaki! Dia itu calon kekasihku, cuma aku yang boleh deket-deket sama dia. Paham kamu?"
Indi mencebik meremehkan, tatapan tajam Sita sama sekali tidak menciutkan nyalinya.
Para koki yang sedang membuat pesanan pun tampak acuh, sama sekali tidak tertarik dengan perseteruan mereka.
"Memangnya kamu siapa ngelarang-ngelarang aku, hm? Bos di sini bukan kamu kan? Walaupun kamu senior tapi bukan berarti wewenangmu sampai sejauh itu," tekan Indi sambil menunduk mendekati wajah Sita.
"Dasar pelac*r!" maki Sita tak terima.
Plak
Sita tersungkur di depan pintu toilet, memegangi pipinya yang terasa panas karena tamparan Indi yang cukup keras.
"Jaga mulut kotormu itu! Sebaiknya kamu berkaca sebelum mulai menghakimi orang lain. Dan untuk urusan Zaki, terserah kamu mau anggap dia apa. Aku nggak peduli, dan satu yang harus kamu ingat baik-baik di otak kecilmu itu! Aku dan Zaki tidak ada hubungan apa-apa, jangan terlalu merendahkan diri dengan bersikap seperti barusan." Indi berlalu dari hadapan Sita, mengambil tasnya dan keluar dari kafe.
Beberapa koki tampak menertawai Sita dengan sembunyi-sembunyi, membuat Sita malu sekaligus kesal karenanya.
Dengan menghentakkan kaki, Sita kembali ke meja kasir.
__ADS_1
"Awas kamu, Indi! Tunggu pembalasanku!" desisnya sambil menatap tajam Indi yang pergi dengan motornya.
****
Di rumah Dara.
"Assalamu'alaikum, Mas?" Dara menelpon Fatan di kantornya.
"Wa'alaikumsalam, ada apa bidadari surgaku?" sahut Fatan lembut.
Dara tersipu sambil memperbaiki hijab lebarnya dengan posisi ponsel berada di meja rias.
"Mas bisa pulang? Hari ini kerjanya nggak sampe sore kan?" tanya Dara sambil menyapu lisptik tipis ke bibirnya.
"Bisa, memangnya ada apa Sayang? Kok nggak biasanya,"
Selesai dengan ritualnya Dara meraih ponsel dan berjalan pelan menuju ranjang, kemudian duduk di sana.
"Aku mau ke arisan komplek, anak-anak belum pulang. Makanya aku telpon Mas,"
Fatan menjawab lembut.
"Ooh begitu, baiklah Sayangku. Mas pulang sekarang ya, ada yang mau di titip?"
Dara tampak berpikir sejenak seraya mengetuk-ngetuk dagunya dengan telunjuk.
"Siap ratuku, setengah jam lagi Mas sampai. Tunggu ya," sahut Fatan sambil menutup sambungan telepon.
Dara tersenyum senang, tak hentinya bersyukur karna di anugerahi suami sepengertian Fatan. Tak pernah sekalipun Fatan pulang ke rumah tanpa membawa buah tangan untuknya dan anak-anak walaupun hanya berupa cemilan murah pinggir jalan yang di temuinya.
"Semoga hubungan kami selalu dilindungi oleh- Mu, ya Allah," doa Dara penuh harap.
Sesuai janjinya, tiga puluh menit kemudian mobil yang dikendarai Fatan sudah memasuki garasi rumah.
Dara berlari menuju pintu Deon dan menyambut suaminya yang masih terlihat tampan walau bajunya tampak kusut.
"Alhamdulillah, Mas udah sampe." Dara mencium tangan Fatan dan seperti biasa Fatan akan mengecup kepala istrinya dengan penuh kasih sayang. Sungguh rumah tangga yang sakinah idaman semua orang.
"Alhamdulillah, Mas bisa sampai rumah dengan selamat. Semua pasti berkat doa kamu, Sayang," jawab Fatan lembut.
Tak pernah sekalipun selama pernikahan mereka Fatan berkata keras atau meninggikan suaranya kepada Dara dan anak-anaknya. Sungguh definisi suami sempurna idaman semua wanita.
"Kamu mau langsung berangkat atau mau makan martabaknya dulu, Sayang? Mumpung masih anget loh ini," tawar Fatan sambil membuka bungkusan martabak.
Memang benar, martabak yang masih mengepul itu tampak benar-benar menggiurkan. Dara lekas duduk di sebelah suaminya dan mengambil sepotong martabak.
"Luar biasa!" Dara mengacungkan jempolnya, kemudian melihat jam yang melingkar di tangannya.
__ADS_1
"Mas, maaf ya. Kayaknya aku harus berangkat sekarang, udah telat ini kayaknya," pamit Dara sambil mengambil tas tangannya di atas meja.
"Mau Mas anter?"
"Nggak usah, Mas. Deket kok cuma di belakang sini aja, aku jalan aja ya Mas sambil nyegerin mata. Udah lama nggak keliling komplek soalnya," tukas Dara sambil berjalan menuju keluar rumah.
Fatan mengangguk pasrah dan membiarkan istrinya pergi sendiri sesuai keinginannya.
Tak berapa lama, terdengar deru sepeda motor memasuki garasi. Fatan mengernyit dan melihat jam tangannya.
"Assalamu'alaikum," ucap Indi sambil masuk ke dalam rumah.
Fatan semakin heran saat melihat Indi berjalan dengan kaki pincang, dan tampak darah merembes di betisnya yang hanya tertutup celana legging pas badan dengan atasan tunik selutut.
"Wa'alaikumsalam, kamu kenapa In?" tanya Fatan sambil bergegas membantu memapah Indi duduk di kursi.
"Aww, awww sakit Mas," desis Indi meringis menahan pedih di kakinya.
"Ini kenapa bisa berdarah gini?" tanya Fatan cemas seraya merogoh ke bawah meja dan meraih sebuah kotak p3k.
"Tadi pas Indi lagi beli cilok di pinggir jalan Indi di serempet motor, Mas. Orangnya kabur gitu aja, tapi apesnya Indi malah masuk ke selokan. Kaki aku berdarah, baju aku basah tadi sampe di ketawain sama mamang ciloknya, untung masih di tolongin," sungut Indi kesal saat mengingat keapesannya tadi.
"Jadi ini baju kamu basah semua dong, emang nggak dingin? Mau ganti baju dulu?" ujar Fatan.
Indi menggeleng lemah.
"Nanti aja, Mas. Oh ya, Mbak Dara mana?"
"Barusan pergi ke arisan katanya, kamu sendiri bukannya kuliah siang? Kok malah pulang?"
Indi manggut-manggut sekilas.
"Niatnya emang mau berangkat kuliah, cuma ya karna apes begini mood jadi berantakan ya mending pulang. Mas juga jam segini udah di rumah?" heran Indi pula.
"Besok weekend, jadi hari ini bisa pulang cepet. Ya udah mana sini kaki kamu, biar di obatin dulu. Nanti infeksi lagi," tandas Fatan sambil mengambil kapas dan betadine.
Indi mengangkat sebelah kakinya, dan dengan cekatan Fatan langsung meletakkan kaki Indi di pangkuannya. Mengangkat legging yang di pakainya sampai luka lecet itu mulai terlihat.
Tak tampak kecanggungan sedikitpun di wajah Fatan, namun berbeda dengan Indi yang wajahnya mulai bersemu merah dan jantungnya berdegup kencang. Apalagi menyadari keadaan rumah yang sunyi pertanda si kembar pun belum pulang dan mereka hanya berdua saja di rumah.
"Ah, perih Mas. Pelan-pelan,"desis Indi menahan perih. Bahkan tanpa sengaja tangannya menahan pergerakan tangan Fatan yang sedang memberikan betadine di lukanya.
Tangan mereka bersentuhan, begitu tatapan mata yang mulai saling mengunci satu sama lain. Jantung Indi berdegup semakin kencang, begitu pula Fatan yang entah kenapa malah ikut terhanyut dalam tatapan sayu adik iparnya itu. Setan mulai berbisik di telinga mereka, menjadikan yang sebelumnya biasa saja mulai tampak indah dan menarik di pandangan Fatan.
Baju dan jilbabnya yang basah membuat Indi kini tampak begitu seksi di matanya, padahal sebelumnya hal ini tak pernah dia rasakan selain dengan istrinya. Perlahan namun pasti kepala Indi mulai mendekat ke arah Fatan, tak ada suara maupun penolakan. Semakin dekat dan akhirnya kedua bibir itupun bertemu, dalam rasa dan kondisi yang salah.
"Aku menyukaimu, Mas."Indi berbisik di telinga Fatan.
__ADS_1